Setelah seharian penuh aku kembali bekerja, rasa letih dan penat yang kurasakan. Namun, semua rasa itu terbayar dengan suntikan dana yang diberikan oleh opah Carlos Sebastian. Aku masih belum bisa sepenuhnya mempercayai hal ini bisa terjadi, layaknya seperti kejatuhan durian runtuh.
Aroma sabun mandi yang menyegarkan, membuai seluruh tubuhku. Kupejamkan kedua mataku, untuk menikmati sentuhan air hangat. Tubuhku begitu rileks, melepaskan semua beban dalam hidupku. Rasa bahagia yang tak terkira, kini ada dalam genggamanku.
Aku harus bangkit dari keterpurukan, untuk membalas semua perbuatan mereka yang telah menyakitiku. Menjadi awal yang baik di hari pertamaku kembali bekerja, sungguh keberuntungan sedang berpihak kepadaku.
Namun, aku masih tak habis pikir dengan opah Carlos Sebastian. Bagaimana bisa beliau dengan mudahnya menggelontorkan dana sebesar itu? Padahal, kalau dipikir-pikir, kenapa dana itu tidak diberikan kepada cucunya, Justin Sebastian? Atau kepada perusahaan yang lebih besar dan berjaya dari pada perusahaanku.
Ah, sudahlah. Untuk apa aku pusing memikirkan hal itu? Semua yang telah terjadi hari ini, mungkin satu bukti Tuhan telah berpihak kepadaku. Aku harus percaya, bahwa Tuhan adalah maha baik dan pengasih terhadap hamba-hambanya.
Banyak rencana ke depan yang harus aku susun. Mulai dari pengembangan dana perusahaan untuk jumlah biaya produksi, agar keuntungan yang didapat akan semakin besar dan meningkat. Membuat system kerja lembur di hari libur bagi pegawai dengan menaikan upah yang pantas. Meningkatkan kualitas barang hasil produksi yang lebih baik dan bermutu dari sebelumnya, agar konsumen pun lebih tertarik dengan produk yang kami keluarkan. Dan yang terakhir, aku ingin melihat kehancuran perusahaan Marco Fernandes.
Setelah hampir dua jam aku berendam air hangat, aku pun beranjak dari bathtub. Aku membilas tubuhku dengan air shower yang dingin mengguyur seluruh tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kini, aku sudah mengenakan pakaian casual yang nyaman, sambil mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Lalu, aku memoles wajah tipis-tipis dengan skincare andalanku dan memoles sedikit lipstick di bibirku, depan cermin besar di kamarku.
Senyuman di bibirku merekah indah, menyadari diri ini memiliki wajah yang lumayan cantik. Ah, tidak. Bahkan, tidak hanya lumayan cantik. Tapi, sangat cantik. Percaya diri sangat boleh, bukan? Kenapa harus minder, kalau memang diri ini cantik?
Marco, memang pria brengs3k yang tidak pernah bersyukur. Kalau dipikir-pikir, kurang apa diriku dibandingkan dengan adik tiriku itu? Sudah wajahnya pas-pasan, tidak memiliki pekerjaan. Terlebih lagi dengan tubuhnya yang kerempeng itu. Apa yang bisa dibanggakan, coba? Dasar, laki-laki buta!
Tak henti-hentinya aku merutuki perlakuan bodoh Marco yang telah berselingkuh dengan adik tiriku itu. Sejujurnya, aku masih belum bisa terima dengan pengkhianatan mereka.
“Shitte! Lupakan mereka, Areta. Ingat, kamu harus balas dendam atas perbuatan jahat mereka kepadamu!”
***
Di dapur.
Tempo hari, aku menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan pokok di super market terdekat dari apartemenku. Isi kulkasku sudah penuh dengan ikan, ayam, daging, sayur, telur dan buah-buahan segar. Jadi, aku bisa memasak makanan kesukaanku dengan menu pilihan yang masih lengkap.
Kurang lebih hampir satu jam setengah, aku berkutat di dapur dengan bahan-bahan makanan mentah yang aku masak. Akhirnya, satu mangkuk sup ayam dan satu piring omlet keju sudah tersaji di meja makanku.
Bau harum masakanku begitu menggoda, hingga aku berkali-kali menelan salivaku sendiri saking ingin cepat-cepat menyantapnya. Oh, sungguh lidahku sudah tidak sabar ingin bergoyang untuk menghabiskannya.
Sebenarnya, aku bisa saja meminta asisten rumah tanggaku yang setia untuk keluar dari rumah ayahku itu, lalu bekerja denganku di sini. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot memasak sendiri, bila aku pulang kerja begini. Namun, aku tak ingin membuatnya mendapatkan masalah, bila mereka tahu jika aku yang sudah menyuruhnya keluar dari sana.
Ya, asisten rumah tanggaku yang sering aku panggil Bik Maya itu, sudah bekerja di rumah sejak dari aku lahir ke dunia. Beliaulah yang menjadi pengganti mendiang ibuku selama ini, mengajarkan banyak hal yang tidak aku mengerti hingga kehidupan yang penuh dengan perjuangan. Beliau yang selalu melindungiku, bila ibu dan adik tiriku berbuat jahat kepadaku.
Hal yang paling aku sukai saat bersama Bik Maya, ikut belajar memasak dan mencicipi hasil masakannya selagi masih panas. Membayangkan itu semua, tak sadar air mataku menetes. Sungguh sangat cengeng sekali diriku ini. Pantaslah pria itu pernah mengejekku dengan sebutan cengeng.
“Bik Maya…,” gumamku lirih sambil menghapus lembut air mataku yang membasahi wajah. Rupanya, aku memang sedang merindukan dirinya. Merindukan nasehat dan pelukan Bik Maya yang mendamaikan bathinku.
Ding dong!
Bunyi bel pintu apartemenku memekik keras. Sontak saja aku menoleh ke arah pintu sambil memikirkan siapa yang datang. Apa mungkin itu Justin Sebastian? Atau juga Tony? Dari pada penasaran, lebih baik aku langsung melihatnya sendiri.
“M-marco….?”
Kedua bola mataku sampai melotot, saat melihat wajah siapa yang muncul di layar monitor intercom. “Ck, untuk apa lagi b4jingan itu ke sini? Dasar, tak punya malu!” rutukku mengumpat lirih, dengan kedua tanganku mengepal kuat.
“Aku tahu, kamu sudah melihatku, Areta. Please, buka pintunya!” Marco berkata dengan suara sedang yang nampak sambil tersenyum di layar monitor intercom.
Aku tak menyahuti seruannya. Tak minat untuk bertemu lagi dengan pria br3ngsek macam dirinya.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk menemuimu lebih lama lagi, Areta. Celine, pasti curiga. Please, buka pintunya!” Marco nampak memohon.
‘Ck, aku tidak perduli! Lagipula, siapa suruh dia ke sini?’ gumamku menggerutu.
“ARETA! PLEASE, BUKA PINTUNYA!” Marko berteriak sangat keras kali ini. Mungkin, dia sudah merasa kesal dengan sikapku yang seperti ini.
Aku pun tak mau kalah, membalasnya dengan teriak lebih keras lagi. “AKU TIDAK MAU LAGI BERTEMU DENGANMU, BAJING4N. PERGI, SANA! JANGAN PERNAH KAMU INJAKAN KAKIMU DI SINI LAGI!” usirku dengan penuh emosi.
Nampak dalam layar monitor, Marco mengusap wajahnya dengan frustasi, sambil menyugar rambutnya kesal. Aku tersenyum puas, melihatnya seperti itu. Namun, detik berikutnya, Marco nampak berkata dengan suara lembut.
“Andai kamu tahu, Areta. Kenapa aku sampai bers3lingkuh dan mengkhianatimu? Itu, karena….” Ucapan Marco nampak terjeda. Padahal, aku masih menunggu penasaran apa yang ingin dia katakan.
Marco nampak menjauhkan wajahnya dari depan layar monitor, sambil merogoh kantong celananya. Lalu, dia pun terlihat mengeluarkan ponsel miliknya yang sepertinya sedang menerima panggilan.
Benar saja, Marco nampak menekan layar ponselnya sambil mendekatkannya di depan telinga. Setelah itu, dia nampak tergesah-gesah meninggalkan pintu kamar apartementku.
Aku pun bergegas membuka pintu, untuk membuang rasa penasaran yang terakhir Marco ucapkan tadi. Tapi, sangat disayangkan, Marco sudah terlanjur masuk ke dalam lift.
Aku membuang napas kasar, sambil menggerutu. Kedatangan Marco, membuat mood makanku jadi berantakan. Namun, disaat aku hendak menutup pintu, tiba-tiba daun pintunya terasa berat dan sulit didorong. Aku mundur, lalu memasang wajah ketus, sambil berkacak pinggang. Aku yakin, Marco kembali menemuiku setelah selesai menerima panggilan telponnya tadi.
“Alasan apa lagi yang ingin kamu jelaskan kepadaku, Marco? Sebenarnya apa yang aku tidak tahu darimu, huh?!” tanyaku bernada marah, ketika daun pintu itu bergerak pelan.
Namun, betapa terkejutnya aku, disaat pintu itu terbuka lebar. Bukan wajah Marco yang nampak di hadapanku, melainkan wajah Justin Sebastian.
Deg!
“T-tuan Justin Sebastian….,” gumamku lirih dengan jantung berdebar kencang.