Sepanjang pertemuan ini, semua mata hampir terfocus ke arah aku dan opah Carlos Sebastian dengan raut wajah tak percaya. Aku yakin, mereka tidak menyangka bahwa aku adalah cucu menantunya.
Aku yang menyadari hal itu, berusaha bersikap professional layaknya seorang pemimpin yang berwibawa. Setiap kata yang dilontarkan oleh opah Carlos Sebastian, membuat kagum banyak orang. Termasuk aku, tentunya.
Aku yang hanya satu kali pernah bertemu singkat dengan beliau pun tak pernah mengira, jika sikap opah Carlos Sebastian begitu ramah dan bersahaja terhadapku. Terlebih lagi saat beliau menyatakan dengan jelas, kalau aku adalah cucu mantu kesayangannya.
Netra Tony dan para manager yang sepertinya menunjukkan sebuah penjelasan atas ucapan beliau kepadaku, membuatku hanya bisa mengulas senyuman penuh arti. Aku hanya bisa pasrah dengan semua sikap yang ditunjukan oleh opah Carlos Sebastian di hadapan Tony dan yang lainnya.
Opah Carlos Sebastian menginvestasikan sahamnya di perusahaanku dengan nilai sepuluh miliar Dolar. Tak tanggung-tanggung, kontrak kerja sama ini akan berlangsung kurang lebih untuk sepuluh tahun ke depan.
Aku dan semua pegawaiku cukup tercengang dengan hal tersebut. Sebuah impian banyak orang yang menjadi kenyataan, mendapatkan investor besar kelas kakap seperti opah Carlos Sebastian.
Siapa yang tak mengenal sosok opah Carlos Sebastian di dunia bisnis dan industry perusahaan, salah satu orang terkaya dengan asset miliaran Dolar yang dimilikinya. Namun, tak banyak yang tahu wajah asli dan kehidupannya selama ini.
Ya, aku sering kali mendengar nama opah Carlos Sebastian dalam setiap kesempatan bertemu dengan para pembisnis dan klien, beberapa bulan yang lalu. Namun, dari sebagian mereka, hanya tahu namanya saja, tanpa pernah bertemu dan melihat langsung wajahnya seperti apa.
Profil wajah beliau di sosial media, sangat tertutup dan rahasia. Hanya namanya saja yang terkenal di jagat maya, sebagai salah satu orang yang berhasil membangun bisnis perusahaan puluhan tahun lamanya hingga maju pesat di kota London ini.
Aku dan perusahaan ini, salah satu orang yang beruntung mendapatkan suntikan dana langsung dari opah Carlos Sebastian. Dalam sekejap, perusahaan peninggalan mendiang ibuku akan setara dengan perusahaan ayahku dan perusahaan mantan calon suamiku. Bahkan, bisa jadi lebih unggul di atas mereka.
Hampir satu jam lamanya pertemuan ini berlangsung dengan sangat singkat dan padat. Jamuan makan siang pun telah tersaji di ruangan yang sudah dipersiapkan khusus untuk tamu investor besar seperti ini.
Kami menikmati hidangan lezat tersebut, sambil berbincang santai. Selepas makan siang, opah Carlos Sebastian dan para pengikutnya pun segera berpamitan.
“Opah, selalu menunggu kedatanganmu di rumah, Nak Areta,” ucap opah Carlos Sebastian setelah berpamitan sambil mengusap lembut kepalaku. Aku hanya bisa meringis lirih sambil mengangguk kecil dengan perasaan bersalah.
“Opah, sangat menantikan bayi itu hadir di rahimmu, Sayang,” bisiknya lirih sambil menunjuk ke arah perut rampingku.
Deg!
Jantungku tersentak lirih, dengan kedua bola mataku yang membulat sempurna dikejutkan oleh apa yang diucapkan opah Carlos Sebastian. Refleks, aku melongo dengan mulut terbuka saking kagetnya dengan hal demikian.
Tanpa kusadari, opah Carlos Sebastian sudah berlalu pergi dengan para pengikutnya menaiki mobil mewahnya yang tak banyak orang mampu untuk memilikinya. Bisa dikatakan, mobil yang hanya diproduksi dalam jumlah limited edition.
Tony menyenggol lenganku, hingga aku tersadar dari lamunan. “Lambaikan tanganmu, Nona Areta!” serunya sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai menjauh pergi.
Sontak saja aku dengan cepat melakukan apa yang Tony katakan sambil menutup mulutku yang terbuka tadi. Aku masih shock dengan apa yang aku dengar dari mulut opah Carlos Sebastian, hingga membuat aku termangu beberapa saat.
Setelah kepergian opah Carlos Sebastian dan para pengikutnya, Tony hendak menarik tanganku untuk pergi dari tempatku berdiri. Namun, aku buru-buru mencegahnya untuk sementara waktu. “Tunggu, Tony! Aku harus memberi intruksi dulu untuk semua staf manager yang ikut meeting tadi.”
“Fine! Lima menit,” ucapnya sambil melirik arloji di tangannya.
Aku mengangguk kecil sambil memutar tubuhku untuk menghadap para pegawaiku yang berdiri tak jauh dariku. Dengan suara lantang dan tegas, aku meminta semua staf manager yang mendengar dan melihat apa yang baru saja terjadi, untuk tidak menyebarluaskan berita ini di sosial media. Cukup orang-orang dalam saja yang tahu, soal hubungan aku dan opah Carlos Sebastian. Aku tidak ingin sampai semua orang salah paham dengan pernikahan pura-puraku dengan Justin Sebastian.
Aku sangat merasa bersalah sekali dengan kejadian ini. Aku pun tidak ingin sampai opah Carlos Sebastian kembali terkena serangan jantung, bila mengetahui kebohongan apa yang dilakukan oleh cucunya tersebut.
Para pegawaiku nampak mengangguk patuh dan menerima perintahku. Setelah itu, semua kembali bekerja ke ruangannya masing-masing.
***
“Apa yang Tuan Carlos Sebastian bisikan kepadamu, hingga membuatmu sampai melongo seperti tadi, Nona Areta?” tanya Tony menyelidik. “Apakah Tuan Carlos Sebastian ini, kakek dari pria yang kamu bilang seorang g!golo itu, huem?” tebaknya seolah meyakinkanku jika apa yang dia tanyakan itu benar adanya.
Aku bergeming seperkian detik. Lalu meringis salah tingkah di hadapannya. Pertanyaan Tony sangat tepat dan langsung bisa membaca dengan cepat, apa yang aku ceritakan pagi tadi kepadanya.
Tony nampak menggeleng lirih sambil terkekeh di depanku dalam beberapa saat. Namun, aku tak kunjung menjawabnya. Kendati demikian, Tony tak menyerah untuk kembali bertanya kepadaku.
“Apa menurutmu pria yang kamu anggap g!golo itu, sungguh-sungguh seorang g!golo, Nona Areta?” Satu pertanyaan Tony yang membuat dahiku mengernyit. “Aku kok, merasa tidak yakin dengan hal itu. Tidak mungkin seorang Tuan Carlos Sebastian, akan membiarkan Cucunya bekerja sebagai pria bayaran. Hal yang mustahil menurutku.” Tony nampak sekali tidak percaya dengan kenyataan yang dia dapati setelah melihat dengan jelas sikap opah Carlos Sebastian tadi terhadapku.
Apa yang dikatakan oleh Tony, bisa jadi memang benar. Aku pun sempat berpikiran seperti itu. Namun, sepengetahuanku pada saat melihat pertemuan mereka pada waktu itu, sangat jelas keduanya seperti orang yang saling bermusuhan dan bersebrangan arah. Aku mendengar, pria itu selalu berkata kepada opah Carlos Sebastian, agar jangan mencampuri urusannya lagi setelah dia memenuhi permintaannya.
"Bagaimana menurutmu, Nona Areta? Apakah yang aku katakan sangat masuk akal, huem?" desak Tony seakan memaksaku untuk yakin dengan apa yang dia katakan.
Aku tak tahu harus menjawab apa.Hanya gelengan kepala dengan mengedikan bahuku sebagai reaksi yang aku berikan. Sungguh aku pun sebenarnya curiga dengan pekerjaan Justin yang sebenarnya. Bagaimana mungkin, pria setampan dan sekaya Justin Sebastian melakukan pekerjaan seperti itu?
"Siapa nama pria itu, Nona Areta? Aku akan segera menyelidiki identitas asli pekerjaannya.Aku sangat penasaran, kenapa dia bisa menjadi pria bayaranmu hingga menjadikanmu istri pura-puranya di depan Tuan Carlos Sebastian yang luar biasa itu?"
Glek!
Sontak aku tercekat dengan lontaran pertanyaan Tony kepadaku. Aku pun tak bisa lagi menyembunyikan status nama Justin Sebastian pada Tony. Akhirnya, aku pun menjawab semua pertanyaannya. Karena, aku juga penasaran dengan pekerjaan Justin Sebastian yang sebenarnya.