Investor Besar

1390 Words
Pagi ini, aku kembali beraktivitas seperti sedia kala. Aku mencoba untuk melupakan semua yang telah terjadi selama satu minggu terakhir ini. Pandangan mata para staf dan pegawaiku nampak terkejut, saat melihat kedatanganku yang baru saja turun dari mobilku. Kendati begitu, mereka pun segera memberi hormat dengan kepala tertunduk dan menyambutku seramah mungkin. “Selamat pagi, Nona Areta! Selamat bekerja kembali,” ucap mereka bergantian. Tanpa menghentikan langkahku, aku mengulas senyum tipis kepada mereka semua, dengan anggukan kepala. Sebagai CEO di perusahaan ini, aku harus tetap menempatkan diri dan menjaga wibawa di hadapan semua staf dan pegawaiku. Meskipun berita yang menggegerkan itu pasti sudah tersebar luas di seluruh penjuru kota dan sosial media, aku tetap bersikap seperti biasanya. Aku tidak perduli, dengan apa yang mereka pikirkan tentangku. Semua orang mungkin akan salah paham dengan apa yang aku lakukan, jika tak mengalaminya sendiri. Bagaimana bisa gadis sepertiku direndahkan seperti itu, hingga semua berbalik menyerangku? Kekuasaan yang dimiliki oleh ayahku, mampu memutarbalikan keadaan. Aku yang tidak bersalah dengan membongkar kesalahan mantan tunangan dan adik tiriku yang berselingkuh, malah dituduh menyebarkan aib keluarga. Lelucon macam apa, semua itu? Pengkhianatan mengalahkan kebenaran. Perselingkuhan malah mendapatkan dukungan dan pembelaan. Sungguh tak masuk akal. Ya, semua yang telah terjadi tak lepas dari keputusan yang telah diambil oleh ayahku. Beliau mudah termakan hasutan mantan tunanganku yang bermulut manis. Aib keluarga, menjadi senjata andalannya. Terlihat orang kepercayaanku yang mengurusi sementara perusahaan peninggalan mendiang ibuku, dengan wajah sumringah menghampiriku. “Akhirnya, Nona Areta telah kembali ke kantor. Inilah yang selalu aku nantikan,” ucap Tony sambil merangkul pundakku tanpa malu. “Aish, singkirkan tanganmu, Tony! Apa kamu tak memiliki rasa malu di depan semua staf dan pegawaiku, huh?” rutukku mengurai tangannya agar lepas dari atas pundakku. Tony terkekeh pelan, dengan apa yang aku katakan. Aku hanya geleng-geleng kepala, melihatnya. Kami masuk ke dalam lift khusus, langsung menuju lantai ruanganku. Tatapan Tony ke arahku, seperti sedang menyimpan banyak pertanyaan yang siap diajukan. Karena, sejak peristiwa yang terjadi, aku tak memberi kesempatan kepadanya untuk menemuiku. Aku malah menugaskan dirinya untuk menggantikan posisiku sementara di perusahaan. Aku memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapannya. Aku yakin, dia sangat kesal dengan sikapku yang seperti itu. Dan, benar saja terdengar dengusan lirih dari bibirnya. *** Di dalam ruangan kerjaku. “Siapa sebenarnya pria dewasa yang bersamamu di apartemen, Nona Areta?” Aku belum sempat mendaratkan bok0ngku di kursi, satu pertanyaan sudah terlontar dari mulut Tony. Aku mematung, bingung harus menjawabnya apa. “Kamu tidak bisa lagi menghindari pertanyaanku, Nona Areta. Satu minggu, adalah waktu yang cukup lama untuk kamu bungkam masalah ini. Kamu membongkar perselingkuhan Marco dan Celine. Tapi, kamu sendiri ketahuan berduaan di apartemen dengan pria dewasa yang sepertinya tak berbeda jauh dengan usia mantan calon suamimu itu.” Aku memutar tubuhku untuk menghadap ke arah Tony. Akhirnya, aku pun tak bisa terus menghindari pertanyaannya. Sebagai orang kepercayaanku, Tony berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun menceritakan semuanya yang aku alami kepada Tony. Mulai dari menerima pesan misterius dari nomor yang tak dikenal, lalu membuktikan semua pesan tersebut. Hingga pada akhirnya aku menyewa seorang pria bayaran yang ternyata telah menjebakku hingga aku mengikuti kemauannya untuk menjadi istri pura-pura. Namun, aku tak menyebutkan nama dan identitas asli pria tersebut kepadanya. Reaksi Tony cukup tercengang dengan apa yang aku ceritakan kepadanya. Sepanjang bercerita, Tony nampak menyimak dengan baik apa yang aku katakan. “Terus, sampai kapan kamu akan menjadi istri pura-pura g!golo itu, Nona?” “Enam bulan,” jawabku jujur. Ya, surat kontrak yang diberikan oleh Justin tempo hari, sudah masuk ke dalam e-mailku. Di sana aku bisa membaca dengan jelas surat kontrak pernikahan pura-pura kami yang sudah ditandatangani olehnya. Namun, sampai hari ini aku belum kunjung membalasnya dan membubuhkan tandatangan secara digital di e-mail tersebut. Tony nampak mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. “Apa keuntungan yang kamu dapatkan dari pernikahan pura-pura itu, Nona?” Aku mengedikan bahu lirih. Tak tahu keuntungan apa yang kudapat. Yang pasti, saat itu aku terpaksa harus mengikuti kemauannya. Karena, kunci mobilku ada di tangannya. Aku tak ada pilihan lain, selain mengikuti apa yang dikatakannya. “Jika tidak ada hal yang menguntungkan, untuk apa juga diteruskan? Lebih baik, batalkan saja perjanjian kontraknya, Nona.” Pikiran Tony cukup masuk akal dan bisa diterima. Dalam hal ini, aku memang tidak mendapatkan keuntungan dalam hal apa pun. Sebaliknya, g!golo itulah yang mengambil keuntungan dariku. Dia memanfaatkanku untuk sebuah sandiwara yang penuh kebohongan terhadap kakeknya dengan cara curang seperti ini. “Aku belum menandatanganinya. Apa yang harus dibatalkan, heum?” “Oh, kalau begitu, Nona Areta tidak terikat dengan perjanjian pernikahan pura-pura itu dong. Jadi, perjanjian tersebut tidak SAH.” Tony menaikan satu alisnya, sambil mengikis jarak ke arahku. Refleks, aku memundurkan wajahku untuk menjaga jarak. “Huem…,” gumamku lirih dengan anggukan kecil. Namun, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika opah Carlos Sebastian mengetahui hal ini? Aku pun cukup khawatir dengan kesehatan jantungnya, ketika Justin sedikit bercerita mengenai dirinya yang harus melakukan kebohongan semua ini. Tony nampak mangut-mangut sambil tersenyum tipis. Kemudian duduk di sofa dengan santai. Aku pun menarik kursi kebesaranku, yang sudah seminggu ini tak aku duduki. Mulai hari ini, aku berjanji dengan diriku sendiri, jika aku adalah wanita kuat dan hebat. Aku akan berdiri sendiri, membangun dan memajukan perusahaan milik mendiang ibuku. Meskipun perusahaan mendiang ibuku tak sebesar perusahaan ayahku. Namun, aku harus tetap bisa bersaing sehat dengan perusahaannya. Apalagi dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya di kota London ini. “Semua hasil meeting seminggu yang lalu, sudah aku rekap di buku laporan. Jika masih ada yang belum Nona mengerti, silahkan ajukan pertanyaan sekarang juga. Pukul sebelas siang nanti, ada salah satu investor besar yang ingin mengajak kerja sama dengan perusahaan, Nona,” jelas Tony dengan wajah serius. Aku hanya mengangguk kecil, sambil meraih buku laporan yang ada di samping laptopku. Satu-persatu, aku mulai membaca dan mempelajarinya dengan teliti. *** Tony sedang bersiap-siap untuk menyambut kedatangan investor besar. Begitu juga dengan para staf dan administrasi yang sudah diarahkan untuk melakukan persiapan yang tak jauh berbeda. Semua ruangan mencakup keseluruhan, nampak tertata rapi dan bersih. Setiap unit bagian departemen, melakukan bersih-bersih dan penataan ruangannya masing-masing. Begitulah cara persiapan menyambut investor kami, agar mereka bersedia menanamkan sahamnya di perusahaan. Sebenarnya, gladi resik ini sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Aku yang masih larut dalam kesedihan saat itu, tak ikut terlibat dalam persiapan penyambutan ini. Sementara aku hanya bisa termenung, memikirkan bagaimana caranya agar tidak bertemu dengan investor besar tersebut. Gugup! Sangat jelas aku begitu gugup saat ini. Bagaimana tidak, salah satu nama investor besar itu merupakan seseorang yang jelas mengenalku. Padahal, moment ini yang sangat dinantikan oleh setiap perusahaan, ketika bisa bekerja sama dengan perusahaan beliau. Namun, degup jantungku begitu keras, layaknya seperti orang yang sedang ketakutan untuk bertemu. Tony yang sedang berdiri tak jauh dariku, berkali-kali melirik heran ke arahku. Sepertinya, dia sedang memperhatikan sikap dan gerak-gerikku. Pria satu itu, memang sangat peka bila melihat hal aneh dalam diriku. Terlebih lagi dalam soal hubungan asmaraku dengan mantan calon suamiku dulu. Ya, berkali-kali Tony selalu memperingatiku untuk selalu waspada dan tidak terlalu bucin pada Marco. Namun, aku tak pernah mendengarkan peringatannya sama sekali akan hal itu. Dan, hanya sesal yang aku dapati saat ini. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nona Areta? Ruangan sedingin ini, mengapa membuatmu bisa berkeringat seperti ini?” tanya Tony menyelidik. Aku terkesiap, tak bisa berkata-kata. Hanya gelengan kepala yang bisa aku lakukan di hadapannya. Tony tak lagi bertanya, lalu mengulurkan sapu tangannya ke arahku untuk mengusap dahiku. Namun, aku buru-buru mengambil alih sapu tangannya. “Aku bisa lap sendiri, Tony,” ucapku lirih. “Okay.” Tony mengangguk kecil sambil menjauhkan tangannya dari wajahku. Tak berselang lama, tamu yang sangat dinantikan pun telah tiba. Aku dan Tony berbaris rapi, sejajar dengan para staf manager untuk menyambut kedatangan investor besar tersebut. Deg! Jantungku tersentak keras, kala melihat siapa sosok yang baru saja turun dari mobil mewah keluaran terbaru tahun ini. Aku pun hanya bisa bergeming, dengan tubuh membeku. Ternyata, apa yang aku pikirkan sungguh benar terjadi, opah Carlos Sebastianlah investor besar tersebut. Tony dan para staf manager menyapa dengan ramah kedatangan opah Carlos Sebastian dengan beberapa orang pengikutnya. Sementara diriku hanya tersenyum kikuk tak bisa berkata-kata. “Hallo, Cucu mantuku, Nak Areta. Bagaimana kabarmu, Sayang?” sapa opah Carlos Sebastian, tiba-tiba merangkulku. Sontak saja, Tony dan semua para staf manager nampak terkejut dengan pernyataan opah Carlos Sebastian kepadaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD