Aku cukup tersentak lirih dengan suara lantang ayah yang berteriak marah kepadaku atas apa yang aku lakukan. “Daddy…,” Refleks, aku melepaskan tangan dari ujung gaun ibu tiriku.
Ibu tiriku nampak menghela napas lega sambil tersenyum licik, kemudian berbisik lirih di samping telingaku. “Mari kita lihat, siapa yang akan tersingkir dari rumah ini? Aku atau kamu, gadis pembawa si4l.”
Aku memutar bola mata malas, sambil menggertakan gigi gerahamku dengan geram. Ibu tiriku sedang memberikan taruhan kepadaku, dengan penuh rasa percaya dirinya yang tinggi. Dia sangat piawai bermain sandiwara di hadapan ayahku. Dalam sekejap, raut wajahnya bisa berubah seperti orang yang teraniaya. Dan, dalam sekejap pula, raut wajahnya bisa berubah sinis dan angkuh.
“Sayang…, jangan marahi Nak Areta! Saya yang salah. Saya yang….” Terdengar suara ibu tiriku yang buru-buru menghampiri ayahku dengan suara yang seolah merasa dirinyalah yang bersalah. Namun, suara ayahku langsung memotong ucapannya.
“Cukup, Clarisa! Sudah cukup kamu membela anak tidak tahu diri ini. Aku yang melihat sendiri bagaimana perlakuan buruknya terhadapmu. Jadi, tidak perlu lagi kamu menutupi kesalahannya kepadaku.”
Deg!
Betapa sakitnya hatiku mendengar ucapan ayah kandungku seperti itu. Aku pun dengan cepat memutar tubuhku untuk pembelaan diri yang sudah membuat ayahku salah sangka.
Tatapan ayahku begitu murka terhadapku. Namun, aku hadapi dengan tenang dan berusaha tegar. “Apa yang Daddy lihat tadi, tidak sesuai dengan apa yang Daddy pikirkan. Aku bisa jelaskan, semuanya. Aku mohon, Daddy percaya kepadaku!”
“Pembelaan apa lagi yang ingin kamu jelaskan, Areta?! Daddy sudah melihat sendiri dengan mata kepala Daddy, jelas-jelas kamu bersikap kasar dan buruk terhadap Ibu sambungmu ini. Daddy sudah tidak bisa percaya lagi dengan semua yang kamu katakan. Daddy sudah kecewa kepadamu, Areta.”
“Tapi…”
“Renungkan kesalahanmu, Areta. Minta maaflah kepada, Mommy Clarisa!” Ayahku memotong ucapanku yang hendak menyangkal apa yang baru saja dikatakannya.
Aku bergeming dengan tatapan nanar. Apa yang dilontarkan oleh ayahku, membuat hatiku sungguh terluka. Ayahku lebih percaya dengan mulut bisa ibu tiriku yang pandai memutarbalikan fakta.
Hening.
Seketika, ruangan di dalam rumah ini nampak hening dalam beberapa saat. Aku bisa melihat senyuman licik dari bibir ibu tiriku penuh dengan kemenangan. Sementara raut wajah ayahku, nampak kecewa dan marah terhadapku.
Aku tidak sudi untuk meminta maaf kepada ibu tiriku atas apa yang aku lakukan. Andai saja ayahku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana perlakuan ibu tiriku selama ini di belakangnya. Mungkin, ayahku tidak akan bersikap seperti ini. Namun, aku terlambat untuk melakukannya.
Selama ini aku tidak pernah ambil pusing dan menanggapi sikap ibu dan adik tiriku. Dan akhirnya, kini menjadi sesalku sendiri. Ayahku sudah termakan semua ucapan manis mereka, hingga ucapanku tak lagi didengarnya.
“Aku tidak bersalah. Aku tidak akan pernah meminta maaf kepadanya, Daddy,” tunjukku kepada ibu tiriku pada akhirnya, setelah cukup lama aku terdiam. “Aku…”
Plak!
Tamparan keras tangan ayahku mendarat di pipiku tiba-tiba, dengan kedua netranya yang berkilat merah.
Aku tersentak kaget, menghentikan ucapanku. Refleks, satu tanganku menyetuh pipiku yang terasa kebas dan nyeri. “Aawh…,” ringisku lirih.
Aku tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh ayahku. Sungguh tega sekali ayahku melakukan ini kepadaku. Seumur hidupku, baru kali ini aku menerima tamparan darinya. Air mataku sudah tak bisa lagi kutahan. Rasa sakit hatiku tak mampu lagi aku sembunyikan di hadapan mereka.
Ayahku seperti menyesali atas tindakannya terhadapku. Satu tangannya nampak ingin menyentuh wajahku yang baru saja ia tampar. “A-areta…”
Namun, sebelum itu terjadi, buru-buru aku memundurkan langkah untuk menjaga jarak sambil berucap dengan nada dingin. “T-terima kasih, Dad. Terima kasih atas hadiah yang baru saja Daddy berikan untukku.”
Raut wajah ayahku nampak terkejut atas apa yang baru saja aku katakan. Namun, aku lantas meninggalkannya dengan langkah lebar, sambil mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti.
“Stop, Areta!” serunya menghentikan langkahku. Namun, aku tak memperdulikannya. “Sekali kamu melangkah lagi, Daddy akan mencoret namamu dari daftar kartu keluarga,” ancamnya terdengar tegas.
Aku tetap melangkah tanpa ragu, berpura-pura menulikan pendengaranku dengan ancaman tersebut. Ternyata apa yang dikatakan oleh wanita ular itu memang benar adanya, jika ayahku memang sudah berniat untuk membuangku dari daftar keluarga. Detik ini juga, aku memutuskan untuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kakiku di rumah ini.
***
Di apartemen.
Kuhempaskan tubuhku yang lelah ini di atas ranjang. Rasa nyeri dalam dadaku seakan tak kunjung reda, meski aku sudah tak lagi bersama mereka. Kutumpahkan lagi air mataku yang sepertinya tak ada habisnya ini. Kedua mataku terpejam, merasa terpuruk dan terbuang. Hingga aku tak menyadari, mendapati diri ini sampai terlelap.
“Astaga, sudah jam 6 petang,” gumamku terkejut, kala mengerjapkan kedua bola mataku sambil melirik arah jarum jam yang terpasang di dinding kamarku.
Bergegas cepat, aku bangkit dari tempat tidurku sambil merentangkan kedua tanganku untuk meregangkan otot-ototku yang kaku selepas ketiduran tadi. Setelah itu, aku segera mandi untuk membersihkan tubuhku agar kembali segar.
Mulai detik ini, aku akan melupakan semua yang telah terjadi pada hari ini. Namun, semua kenangan manis tentang hidupku di masa lalu bersama ayah, akan tetap tersimpan di hatiku.
Hampir satu jam lamanya aku berendam air hangat dengan sabun aromatheraphy kesukaanku di bathtub, tak kunjung membuat rasa sakit hatiku ini hilang. Karena, perlakuan ayahku siang tadi, lebih menyakitkan dari pengkhianatan yang dilakukan oleh Marco dan Celine.
Selepas membersihkan diri, aku pun segera mengenakan pakaian santai milikku. Tanpa make up dan lipstick, wajahku lebih nyaman seperti itu. Namun, wajahku nampak terlihat bengkak dengan kedua mataku yang sembab akibat terlalu banyak menangis.
Aku menghela napas dalam, mencoba tak perduli dengan kondisi wajahku. Lagipula, aku tak berniat pergi ke mana-mana. Aku tak memiliki banyak teman selama ini untuk tempatku berkeluh kesah atau curhat. Namun, ada satu teman baikku sewaktu kuliah dulu. Itu pun, setelah lulus kuliah dia pergi mengejar impiannya ke luar negeri.
Kruuk…
Aku merasakan perutku begitu lapar. Seharian ini, aku melewatkan jam makan siangku. Aku hanya baru mengisi perutku pagi tadi dengan sepotong roti saja.
Kubuka lemari pendingin, mencari apa saja yang bisa aku makan. Namun, hanya sebotol air mineral saja yang ada di sana. Aku memang belum sempat ke super market, semenjak batalnya pernikahanku itu. Setiap hari, Justin mengirimkan makanan dan minuman siap saji untukku. Namun, sejak kemarin malam sampai detik ini, tak ada kabar darinya sama sekali.
“Di mana pria itu? Apakah dia sudah bosan kepadaku?” tanyaku, merasakan diri ini tak tenang.
Dalam waktu satu minggu ini, perhatian dan sikap Justin membuatku seperti wanita yang begitu istimewa dan berharga. Aku cukup tersentuh dan terlena dengan semua yang ia lakukan itu.
“Shitte! Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya? Dia hanya seorang g!golo, seorang pria yang tidak akan pernah berhenti menjajakan tubuhnya pada setiap wanita yang membayarnya. Stop, Areta! Berhenti untuk mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.”
Ting tong!
Bunyi bel pintu terdengar dari luar, membuatku terkesiap dari lamunan. Buru-buru aku membukakan pintu, untuk melihat siapa yang datang. Aku yakin itu Justin, raut wajahku merasa begitu senang.
“Selamat malam, Nona Areta. Ini, ada paket makan malam untuk Nona Areta dari Tuan Justin Sebastian.” Seorang pengirim paket makanan mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku hanya menerima makanan itu dengan hati kecewa. Ternyata, Justin tak datang kali ini.