bc

TERJEBAK DENGANMU

book_age16+
264
FOLLOW
1.5K
READ
family
badgirl
police
drama
tragedy
comedy
sweet
bisexual
first love
husband
like
intro-logo
Blurb

“Kenapa motornya, dek?” tanya seorang pria, sambil turun dari motornya.

“Lupa isi bensin.” Jawab Naira. Pria berompi hitam yang ternyata dari kepolisian itu mengangguk, ia berjalan ke arah motornya, mengambil kemasan air mineral yang masih utuh, dan memberikannya pada Naira.

Petugas kepolisian itu kembali mengulurkan botol aqua saat wanita itu bergeming.

“Enggak, deh. Naira gak haus, Pak.” Naira menolak dengan sopan. Ada rasa takut jika air itu sudah di campur dengan obat bius dan semacamnya. Hati-hati kan memang di perlukan. Walaupun dia bertemu dengan polisi sekalipun.

Pak polisi itu mengangguk, dia membuka kemasan air mineral dengan sekali putaran, meminumnya langsung dihadapan Naira. Sampai-sampai Naira meneguk saliva nya sendiri. Terlihat seksi saat pria itu minum, air yang masuk terlihat jelas di tenggorokannya. Naira juga jadi merasa haus.

“Ck. Naira juga haus.” Decaknya, membuat pak polisi itu menghentikan minum.

“Sepertinya tidak ada air lagi, deh.” Jawab petugas kepolisian sambil mengabrik-abrik dasboard depan.

Naira kembali berdecak. “Mau..itu aja, Pak.”

Petugas kepolisian segera membulatkan matanya saat Naira merebut kemasan botol aqua yang tinggal sisa setengah. Naira segera meneguknya sampai tandas.

“Kamu minum bekas saya?”

“Gak usah kaget gitu, Pak. Nanti saya ganti kalau bapak gak ikhlas. Hmmm... Pak Kenzi.” Ujar Naira, setelah dia membaca name tag yang tak terlalu terlihat di depan baju Kenzi.

Polisi yang bernama Kenzi itu menggelengkan kepalanya pelan. “Tadi saya tawarkan gak mau. Padahal aqua nya masih baru, gak saya kasih racun.”

Naira tertawa, menampilkan gigi putih kelincinya. “Lagian bapak ngapain minum dekat saya, sengaja ya? Biar saya mau? Saya jadi minum bekas bapak, kan?”

“Gak apa-apa. Biar kamu pinter kalau minum bekas saja.”

“Mana bisa gitu lah, gak ada gen yang diturunkan. Kecuali nanti, calon anak kita pasti pintar.” Jawab Naira. Membuat pria berwajah bak Dewa itu tak berkutik sedikitpun.

“Dasar anak kecil!”

chap-preview
Free preview
1. Pertolongan
Suara pepohonan dan dedaunan yang terkena angin, membuat tubuh Naira semakin merinding. Ditambah dengan pekatnya malam dan keadaan yang sendirian menambah dirinya ketakutan. Malam ini Naira benar-benar sial karena motor matic yang ia bawa harus mogok akibat kehabisan bensin. Sedari tadi Naira berdecak kesal meratapi nasibnya yang sangat sial, satu lagi kecerobohan Naira, sudah tahu dirinya akan pulang kuliah malam tetapi dia tak memakai ataupun membawa jaket ataupun baju hangat. Cuaca sedang dingin mungkin minus di 17°. Naira memang bodoh, bukan? “Mamih, tolongin Naira.” Sedari tadi Naira terus menggumamkan kata itu. Tak peduli tak ada yang mendengar, ia hanya perlu pelampiasan atas ketakutannya saja sekarang. Sehabis pulang kuliah Naira pergi menjenguk sahabatnya yang sedang sakit. Kebetulan jalan pintas untuk menuju pulang kerumahnya hanyalah jalan yang sekarang ini ia lalui. Lain kali dirinya tak akan pernah memakai jasa GPS lagi, sangat menyesatkan bagi dirinya. Salahnya juga tak meneliti dan tak berpikir apakah jalanan ini ramai atau tidak. Naira hanya memikirkan dia akan cepat sampai dan beristirahat di ranjangnya yang empuk. Jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Naira semakin ketakutan. Anak gadis, yang tentunya masih perawan berada di luar tanpa pengawasan dan sedang kesusahan. Sebelumnya tak pernah Naira pikirkan dia akan mengalami nasib buruk seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur, ia tak bisa berbuat hal yang lain selain mendorong motornya sampai bertemu dengan pom bensin terdekat. Handphone-Nya kekurangan pasokan baterai membuat benda pipih bergambar apple digigit itu tak lagi berguna dalam situasi sulit seperti ini. “Ah sial! Tuhan tolong Naira. Naira benar-benar takut, mana gelap lagi.” Ujarnya, masih berjalan dan mendorong motornya seorang diri. “Dosa apa ya Naira? Hingga dapat musibah kayak gini?” tanyanya kepada diri sendiri. “Naira jadi berkhayal ada pangeran berkuda putih yang sekarang nolongin Naira, terus pangerannya ganteng.” Sambungnya kembali, Naira pastikan jika ada yang mendengarnya berbicara seperti itu. Ia yakini, kalau orang itu akan tertawa terpingkal-pingkal. Lucu sekali, disaat seperti ini Naira malah menginginkan pangeran berkuda putih yang jelas-jelas hanya ada di Negeri dongeng saja. Naira mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Semakin menerobos jalan, semakin seram juga suasana yang dia rasakan. Pohon bambu yang meliuk-liuk karena angin membuatnya kesal, dia pernah menonton film horor, konon katanya di balik pohon bambu itu ada pocong yang sedang mengintainya. Ah Naira malah berpikiran seperti itu, sama saja dia sedang menakut-nakuti dirinya sendiri, bukan? Rasa dinginnya malam tergantikan dengan panasnya badan. Naira adalah orang yang pemberani namun jika dihadapkan pada hal seperti ini, dia tak seberani itu. Kemungkinan-kemungkinan besar bahaya pasti bisa terjadi kapan saja. Naira hampir menyerah, air mata tak terasa sudah menetes. Harapannya sirna, malam-malam seperti ini mana ada orang yang akan lewat dijalanan sepi. Lalu bagaimana nasib dirinya? Apakah dia akan diculik oleh hantu yang sering ia tonton, pocong yang menampakkan diri sehingga dia pingsan sampai pagi, atau malah ada seseorang yang berniat jahat padanya. Apapun itu, Naira pasrah. “Tapi sebelum pasrah, Naira bakalan hajar orang itu dulu kok.” Naira masih bermonolog sendiri. Suaranya terdengar serak, kali ini Naira seperti orang linglung yang kehilangan hartanya karena habis dihipnotis. “Handphone sialan! Mahal-mahal Naira beli nih handphone malah gak guna.” Sambungnya sambil menggerutu. Setelah menangisi nasibnya, sambil masih mendorong motor Naira memegangi tenggorokannya Naira sangat haus tetapi tak menemukan warung atau pedagang apapun disini. Tak lama kemudian, terdengar suara bising knalpot yang ia yakini ada segerombolan motor menuju ke arahnya. Naira harap-harap cemas. Ia takut jika segerombolan orang itu adalah komunitas jahat atau sebatas geng motor jahat yang memang sedang marak dibicarakan kasusnya, geng motor yang selalu membawa senjata untuk membegal siapa saja. Haruskah dia meninggalkan motor dan bersembunyi di balik pohon bambu, yang ia percayai ada pocong disana? Atau pasrah menghadapi segerombolan motor itu dan Naira lebih memilih opsi kedua. “Dek, kenapa?” tanpa sadar, segerombolan motor kisaran lima sampai enam motor itu berhenti disamping kiri dan kanannya. Naira mengusap air mata yang tersisa dengan kasar dan segera mendongak. Demi Tuhan. Pria jangkung yang memakai baju serba hitam serta rompi kepolisian itu sangatlah menarik, saat pria itu membuka maskernya menampilkan pahatan wajah yang sempurna. Hidungnya mancung, alisnya tebal serta rahangnya yang tegas. Meskipun warna kulitnya tak seputih dirinya. Namun, kadar ketampanannya mengalahkan dewa yunani. Kalau seperti ini, Naira ketiban rezeki setelah musibah. “Dek, kenapa? Mabuk ya?” Sialan! Naira mengumpat dalam hati. Apa katanya? Mabuk? Hei yang benar saja! “Udah tahu motor saya gak mau jalan, malah dikata mabuk!” Naira menjawab dengan ketus. Membuat petugas itu mengernyitkan keningnya. “Santai dong, Dek.” Jawabnya, lalu dia memarkirkan motor dan segera turun. “Udah santai ini, Pak. Bapak aja yang gak santai bertanyanya Naira kan jadi emosi, Pak. Mana capek lagi.” Tiba-tiba saja Naira merengek, seperti bocah yang meminta ingin dibelikan permen. Ah jangan lupakan satu fakta. Naira itu cengeng walau pemberani ia akan manja saat berada disekitar orang-orang tersayangnya. “Kenapa bisa gak jalan?” tanya petugas itu. “Lupa isi bensin.” Jawab Naira. Petugas berompi hitam itu mengangguk dan berdiri. Dia berjalan ke arah motor bertuliskan polisi lalu mengambil kemasan air mineral yang masih utuh, dia memberikannya pada Naira. Namun Naira menolaknya. “Urus.” Ujar petugas polisi itu pada temannya, yang langsung di angguki. Petugas itu masih menyodorkan botol aqua pada Naira, sekali lagi wanita itu menggeleng. “Enggak deh. Naira gak haus, Pak.” Naira menolak dengan sopan. Ia takut jika air itu sudah di campur dengan obat bius dan semacamnya. Hati-hati, kan memang di perlukan. Pak polisi itu mengangguk, dia membuka kemasan air mineral dengan sekali putaran, meminumnya langsung dihadapan Naira. Sampai-sampai Naira meneguk saliva nya sendiri. Terlihat seksi saat pria itu minum, air yang masuk terlihat jelas di tenggorokannya. Naira juga jadi merasa haus. “Ck. Naira juga haus.” Ujarnya, membuat pak polisi itu menghentikan minum. “Sepertinya gak ada air lagi, deh.” Jawab petugas kepolisian sambil mengabrik-abrik dasboard depan. Naira kembali berdecak. “Mau.. itu aja, Pak.” Petugas kepolisian itu segera membulatkan matanya saat Naira merebut kemasan botol aqua yang tinggal sisa setengah. Naira segera meneguknya sampai tandas. “Kamu minum bekas saya?” “Gak usah kaget gitu, Pak. Nanti saya ganti kalau bapak gak ikhlas. Hmmm..Pak Kenzi.” Ujar Naira, setelah dia membaca name tag yang tak terlalu terlihat didepan baju Kenzi. Polisi yang bernama Kenzi itu menggelengkan kepalanya pelan. “Tadi saya tawarkan gak mau. Padahal aqua nya masih baru, gak saya kasih racun.” Naira tertawa, menampilkan gigi putih kelincinya. “Lagian bapak ngapain minum dekat saya, sengaja ya? Biar saya mau? Saya jadi minum bekas bapak, kan?” “Gak apa-apa. Biar kamu pinter kalau minum bekas saya.” “Mana bisa gitu lah, gak ada gen yang diturunkan.” Jawab Naira. Namun, Kenzi tak menggubris. Dia lebih memilih untuk melihat perkembangan motor gadis itu yang sepengetahuan Naira sudah diurus oleh temannya yang bernama Andi, yang terlihat dari name tag nya. “Nah udah nih, dek.” Ujar Andi, kepada Naira. Dia segera menoleh saat motornya berhasil dinyalakan Naira berjingkrak seperti anak kecil, wajahnya begitu antusias. Bahkan Kenzi sampai menggelengkan kepalanya. “Dasar bocah SMA. Malam-malam masih di luar.” Ujar Kenzi pelan. Namun, masih dapat di dengar oleh Naira dan yang lainnya. Kenzi menggelengkan kepalanya, ia masih tak habis pikir, kenapa banyak sekali orang tua yang membiarkan anaknya keluar malam-malam, mana anak perempuan lagi. Dia berucap amit-amit, kalau sampai nanti dimasa depan anaknya seperti itu, ia yakini anaknya nanti pasti dia hukum habis-habisan. Apalagi jika dia mempunyai anak perempuan. “Makasih pak. Tapi, saya bukan anak—“ “Udah malam, jangan ngoceh terus dek.” Ah sialan! Naira mengumpat kembali dalam hati. Dia jadi merasa kesal karena mempunyai wajah yang baby face. “Naira kan-“ “Udah malam loh, dek. Anak SMA gak baik kelayapan. Orang tua mu kemana? Gak di marahin, emang nya?” Naira mendengkus kesal, ingin sekali dia meneriaki kalau dirinya bukan anak SMA. Namun rupanya, petugas itu tak mau mendengar. Lebih baik dia lupakan saja, toh tak penting juga. “Besok-besok, Naira ganti bensin nya!” jawab Naira berbicara ketus sekaligus cepat, yang mendapat kekehan dari Andi dan yang lainnya. “Ta..tapi Naira takut pulang sendirian. Ini jalan kan sepi.” Lirih Naira, dia menunduk memainkan ujung bajunya. Kenzi terkekeh. “Ya jelas, saya antarkan kamu sampai rumah dengan selamat.” Naira segera mendongak, menatap binar pada Kenzi. “Ah.. bapak kok baik banget sih.” “Sudah menjadi tugas saya, kan?” Naira tersenyum, yang di katakan oleh Kenzi benar adanya. Sudah semestinya seorang polisi mengayomi dan berbuat baik terhadap rakyat. “Nih pakai jaket. Angin malam gak baik buat kesehatan.” Apakah jika seperti ini, tak ada maksud lain dari Kenzi? Naira jadi kepedean sendiri. “Tubuh kamu, sampai menggigil begitu, Dek.” Ujar Kenzi, menyerahkan jaket berwarna hitam kepada Naira. Dan segera diambil oleh Naira, lalu memakainya. Benar apa yang dikatakan oleh petugas tampan itu. Naira menggigil, namun setelah memakai jaket. Tubuhnya terasa lebih hangat dari sebelumnya. “Saya dan Andre. Mau antarin dulu, kalian lanjut lagi patrolinya.” Ujar Kenzi, nadanya terdengar tegas dan berwibawa di pendengaran Naira. “Siap, Ndan.” Jawab mereka serempak. “Kamu masih bisa bawa motor, kan?” tanya Kenzi. Naira mengangguk, jauh dalam lubuk hatinya. Dia ingin sekali di bonceng oleh Kenzi. Namun, dia sudah terlalu menyusahkan. “Mungkin lain kali” pikirnya. Akhirnya, Naira membawa motornya di ikuti oleh dua motor di belakangnya. Dia tersenyum dan berterimakasih karena sudah ditemukan dengan orang yang baik. Jika saja tidak ada Kenzi dan kawanannya. Entah bagaimana nasib Naira sekarang, mungkin masih mendorong motor atau bahkan pocong yang ia pikirkan sudah menampakkan dirinya. Tinggal memikirkan cara bagaimana dia berbicara pada mamih nya. * “Bagus! Anak gadis, jam segini baru pulang! Kemana saja kamu, hah!” Popi-yang notabene adalah mamih kandung Naira, segera membukakan pintu dan menjewer kuping anak satu-satunya itu. Kenzi dan Andre saja sampai meringis melihat itu. “Bilang sama mamih, siapa yang udah ngajakin kamu main sampai semalam ini! Bagus sekali kamu ya! Handphone tidak aktif. Mau buat mamih mati muda!” jeweran terhadap kupingnya semakin intens, membuat Naira semakin mengaduh kesakitan. “Mih, ampun. Naira bukan main, kok. Tanya-“ “Kalau bukan main, lalu apa, hah?!” Lagi, perkataannya harus terpotong. Naira berdecak, dan berpikir. “Kenapa orang-orang suka sekali memotong pembicaraan.” “Mih, tanya aja sama pak Kenzi dan pak Andre ini. Mamih gak mau kan di cap jahat sama polisi? Ini sudah kekerasan dalam rumah tangga namanya.” Jawab Naira-mendramatis sambil menunjuk kearah dua orang yang masih diam mematung. Kenzi sampai meneguk ludahnya sendiri, saat popi menatapnya dengan tajam. “Saya yang menolong dek Naira, tadi dia kekurangan bensin di jalan.” Jawab Kenzi dengan sopan. Segera saja, tarikan tangan popi pada kupingnya di lepaskan. Naira memegang kupingnya yang terasa perih dan panas. Ingin mengumpat namun takut durhaka. “Benar begitu, Naira?” tanya Popi. Naira mengangguk. “Kalau sampai gak ada pak Kenzi sama teman-temannya. Entah gimana Mih nasib Naira. Handphone Naira meninggal. Mungkin Naira udah di makan pocong.” Jawab Naira, berkata sembari mendramatisir. Kenzi sampai menggelengkan kepalanya lagi. Dan berpikir mana ada handphone meninggal. Kenzi sengaja menjabarkan identitas agar tak ada kesalahpahaman di antara mereka. Popi tersenyum, saat yang menolong anaknya memang benar dari kepolisian. Popi sangat antusias, entah apa alasannya. Dia menyuruh Kenzi dan temannya masuk sekedar untuk minum. Namun, Kenzi menolaknya dengan halus, beralasan dirinya harus melakukan patroli kembali. Popi memaklumi, dan sangat berterimakasih. Karenanya Naira sudah di antakan pulang dengan selamat. “Kalau gitu saya permisi, selamat malam. Mari, buk dan dek Naira. Lain kali jangan pergi keluar malam-malam, masih kecil gak baik.” Ujar Kenzi sopan. Dan dia segera melenggang, menaiki motornya. Naira mendengus kesal, dia belum sempat menjelaskan kalau dirinya bukan anak kecil dan masih kuliah. Tapi harus tertahan, karena Popi menariknya masuk. Seakan tersadar, Naira masih memakai jaket milik Kenzi. Ingin mengejar pun percuma, Kenzi pasti sudah jauh dari rumahnya. “Cepat makan! Kalau gak mau di kira anak kecil! Makan angetin sendiri dan mandi. Mamih mau istirahat.” Ujar Popi sedikit menegaskan. Naira mengangguk dan tersenyum. “Mih, ini anak kandung loh. Masa di biarin gitu aja.” Naira mengerucutkan bibirnya, kala mamih nya malah masuk ke dalam kamar. “Kamu udah gede, Naira. Atau memang kamu masih kecil?” Naira menghela nafas, namun masih senyum-senyum sendiri karena mengingat Kenzi. Dia bertekad akan mencari tahu tentang Kenzi dan mengembalikan jaketnya. “Pak Kenzi, aku tertarik pada bapak. Semoga bapak masih jomblo, ya.” Ujar Naira, dan memasuki kamarnya dengan perasaan gembira. Bahkan tengah malam begini pun, Naira mandi sambil bernyanyi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.3K
bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
19.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.1K
bc

TERNODA

read
203.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook