"Apa ada lagi pertanyaan?" Tanya Kenzi.
Naira juga mengacungkan jempolnya. Ia tak ingin kalah dengan siswi lain nya, dan memang dia juga mempunyai pertanyaan di otak nya.
"Ya kamu, Naira silahkan mau bertanya apa?"
Mereka semua melongo tak percaya saat Kenzi mengetahui nama Naira sedangkan tidak mengetahui nama yang lainnya. Kenzi menyadari kecerobohannya, dan dengan cepat menutup mulutnya berpura-pura tak terjadi apa-apa.
"Cieeee Naira sama pak Kenzi." Naira membulatkan mata tetapi ada rasa senang juga.
"huuu, gas Nai. Bisa banget lo dapetin kak Kenzi." ucap yang lain nya, membuat Naira malu bukan main.
"Sudah sudah.. ayo lanjutkan." Kenzi merelai karena tak ingin ada kelanjutannya yang membuat gosip ini menjadi booming dalam sekejap. Jika gosip ini menyebar otomatis kantor nya pun akan ramai dengan sekandal ini. "Silahkan," ucap Kenzi pada Naira.
Sedangkan Maya, hatinya sudah panas karena mendengar Naira di jodoh-jodohkan dengan Kenzi, pria idaman nya. Ia tak menerima jika Naira ada di posisi dimana lebih di lihat dari diri nya.
"Jika ada saudara, teman, atau bisa di sebut orang terdekat yang mengalami itu dan bercerita, misal kepada saya. Sebaiknya sikap atau tindakan apa yang harus kita lakukan?" Tanya Naira.
"Baik pertanyaan yang menarik," jawab Kenzi sembari tersenyum, karena wanita itu lebih menggemaskan jika sedang serius.
"Apabila ada kerabat, teman atau saudara yang bercerita kepada Anda bahwa dirinya sudah menjadi korban kekerasan seksual, lakukanlah langkah-langkah di bawah ini.
Dengarkan cerita korban
Jangan menstigma korban
Beri informasi mengenai hak-hak korban
Jangan tinggal diam
Ikut kegiatan advokasi
Dukung lembaga layanan korban kekerasan seksual"
"Bagaimana Naira, apa jawabannya memuaskan?"
"Sangat memuaskan pak, Terimakasih." Jawab Naira masih memanggil dirinya dengan sebutan pak sedangkan dia tak suka.
"Jadi intinya pelajaran yang dapat di ambil dari edukasi ini, kita harus tetap waspada. Jaga diri, jaga sikap terutama bagi kaum wanita. Sangat di sarankan berpakaian sopan, perilaku dan tutur kata lembut itu di perlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari." Ucap Kenzi membuat mereka semua mengangguk mengerti. Maya tak bergeming, antara tersindir dan malu dalam waktu sekaligus.
"Pak, Edukasi selanjutnya di laksanakan kapan?" Tanya Naira kembali.
"Besok," jawab Kenzi dengan cepat.
Mata Naira melotot tak percaya, "Bukannya bapak bilang hanya hari minggu saja ya edukasi nya?" Tanya Naira penasaran.
"Minggu besok,"
Naira menghela nafas kasar, "Memang ada seperti itu? Dimana-mana tuh ya, minggu depan bukan minggu besok."
Kenzi tak ingin memperpanjang masalah, lebih baik dia diam saja. Mencoba bertahan di kelas dimana ada Naira di dalam nya. Dan itu sangat menjengkelkan bagi Kenzi. Sebenarnya yang lebih menjengkelkan bukan lah meladeni otak Naira yang kadang pikiran nya lancar kadang lemot, tetapi Kenzi lebih muak melihat Maya ada di kelas ini.
***
Kelas selesai beberapa menit yang lalu, mahasiswa maupun mahasiswi berhamburan untuk keluar. Kebetulan sekali hari ini hari minggu, Naira tak ada kelas tambahan, dia bersiap untuk pulang ke rumah, merebahkan tubuh nya di kasur yang nyenak.
Saat perjalanan menuju parkiran, matanya tak sengaja melihat Kenzi yang akan menaiki sebuah mobil. Tanpa pikir panjang lagi Naira segera berlari kencang agar sampai ke tempat Kenzi.
"Pak Kenzi!!!!!!" Mendengar suara yang tak asing di pendengaran nya, Kenzi menghentikan kegiatan, tidak jadi masuk ke dalam mobil. Dia sudah tahu jika pemilik suara itu adalah Naira.
"Kenapa?" Tanya Kenzi.
"Nebeng dong pak, Naira gak bawa mobil hehe"
Tanpa pikir panjang, Kenzi segera masuk ke dalam menghiraukan Naira yang mematung. Naira mendengus kesal, Kenzi ternyata tak mengajak dirinya. Naira menghentak-hentakkan kaki nya lalu tak lama kemudian suara seseorang mengagetkan dirinya yang diam mematung.
"Ayo, katanya mau nebeng!" Teriak Kenzi dari dalam mobil membuat Naira terhenyak. Tanpa pikir panjang, Naira segera masuk ke dalam mobil bagian depan dan duduk dengan nyaman sembari tersenyum riang. Tanpa Naira sadari ada seseorang yang menatap dirinya dengan tajam sedari tadi.
"Tunggu saja pembalasan ku, Naira! Lo bakalan menderita selama nya!"
*
"Mau di anterin kemana?" Tanya Kenzi dengan lembut membuat beberapa orang berdehem.
Naira membulatkan matanya, benar dia tak salah mendengar, ada beberapa orang yang berdehem dan suaranya dari arah belakang. Tanpa pikir panjang Naira segera menengok ke arah belakang, di sana banyak sekali orang memenuhi jok mobil, mereka sama persis seperti Kenzi memakai baju serba hitam, apa jangan-jangan orang-orang itu yang Naira lihat tadi pagi? Benar! Tidak salah lagi.
Dengan malu, Naira menengok ke arah Kenzi, memolotkan matanya tak percaya. Bisa-bisanya Kenzi menjahili diri nya, ahh-
"Pan Kenzi, gak bilang-bilang kalau ada orang selain kita. Naira malu ihhhh" Naira berujar dengan gemas, hampir saja Kenzi tersenyum tetapi sebisa mungkin pria itu menahan nya. Image nya akan turun jika seperti itu.
"Punya malu juga kamu ternyata, cil." Jawab Kenzi, Naira semakin membulatkan matanya. Apa katanya tadi, cil? Naira tak salah mendengar kan?
"Ihh pak Kenzi gitu amat ke Naira, hum?" Jawab Naira sembari mencebik kan bibirnya. "Tapi tunggu, tadi kata bapak apa? Cil? Apa maksudnya loh pak?" Tanya Naira masih belum paham.
"Bocah cilik!"
"Ah kamprettttt!"
Kenzi segera mengerem mobil nya secara mendadak, saat Naira berbicara yang tidak sopan seperti itu. Terkejut sudah pasti.
"Alamakkk"
*
Setelah insiden yang memalukan tadi, Naira tak henti-henti menyalahkan bibirnya yang sulit sekali berbicara tanpa ada penyaring. Naira di antarkan sampai rumah oleh Kenzi. Dia bertekad akan mengirimkan Kenzi pesan dan meminta maaf pada Kenzi.
Naira
_ pak Kenzi?
_Hai
_Bapakkkkkkkk
_Pak?
_Mr. ice?
Naira menghela nafas, dia mematikan data lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi, karena nanti sore niatnya akan berkumpul di bukit bersama dengan Keisha dan Kindi, lalu bagaimana dengan Maya? Wanita itu selain sulit di hubungi sikap nya pun sangat berbeda. Dan mereka berinisiatif akan ke rumah nya nanti, bertanya jika Maya ada masalah apa sehingga menjadi seperti itu.
Tring
Belum sempat Naira masuk ke dalam kamar mandi suara balasan sudah ada, dan seperti apa yang ia harapkan, Kenzi membalas pesan nya.
Kenzi
_ hum?
Balasan pesan singkat itu, membuat Naira tersenyum senang. Apalagi kalau Kenzi membalasnya panjang lebar, mungkin Naira akan semakin senang.
Naira
_ Lagi dimana?
Tanpa menunggu balasan lagi, Naira segera masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan riang gembira. Ingat Naira yang Kenzi balas itu hanya pesan w******p bukan perasaan.
*
Naira sampai melupakan ia akan meminta maaf saking senangnya di balas oleh Kenzi. Meskipun balasan Kenzi singkat tetapi tak apa, karena itu sudah membuat Naira senang bukan main. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit, itulah kata pepatah yang masih di pegang kuat oleh Naira. Semoga perasaan suka nya juga terbalaskan oleh Kenzi.
Naira memutuskan untuk memakai dress selutut berwarna biru muda, rambut nya di cepol rapi anting serta kalung berwarna silver menghiasi telinga serta leher nya. Ini seperti acara dinner bersama pacar saja, padahal kenyataannya mereka hanya akan pergi berkumpul saja. Berkumpul di bukit memakai dress? Tak apa bukan? Tak lupa untuk menghiasi kaki nya, ia memakai sepatu cats berwarna putih senada dengan tas selempang yang ia bawa. Sangat cantik dan sempurna saat Naira berkaca di cermin full body.
Sebelumnya Naira memang sudah izin pada mamih nya, popi jika dia akan bermain. Popi juga pasti pulang atau bahkan tidak pulang karena banyak nya pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Memang kegiatan Naira sehari-hari seperti ini, banyak di tinggalkan oleh orang tua satu-satunya hanya karena urusan perjalanan bisnis. Sebenarnya Naira sangat bosan, dan ingin mamih nya itu berada di rumah tetapi saat ia meminta itu makan Popi tak segan untuk memarahinya, bahkan mengeluarkan kata-kata yang sakit, jika Popi mempunyai beban yang harus di perjuangkan yaitu Naira.
*
Naira tidak membawa mobil, karena ban nya kempes, ia tak sempat untuk memanggil tukang bengkel ke rumah nya, mungkin akan Naira lakukan besok atau saat mobil nya benar-benar akan ia pakai. Sekarang ini mereka sedang berada di mobil untuk perjalanan ke bukit. Tapi sebelum pergi ke bukit mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Maya terlebih dahulu, mereka akan membujuk Maya supaya ikut, dan akan bertanya ada salah apa mereka sehingga Maya terus menerus menghindar.
"May?" Mereka memencet bell beberapa kali, hampir menyerah tetapi saat suara Maya dari dalam terdengar mereka meneruskannya untuk menunggu pintu di buka.
"Apa?" Tanya Maya, ia sudah tahu jika yang memencet barusan adalah teman-temannya. Karena sudah otomatis ada kamerany.
"Lo kenapa sih, May? Dari tadi kayak gitu terus? Lo ada masalah apa emang nya?" Tanya Naira, dia tak sanggup lagi menahan segala bentuk pertanyaan nya.
"Karena elo, Nai." Tentu saja ini hanya di ucapkan Maya dalam hati saja. Ia tak mau gegabah atas semua yang ia lakukan tadi pagi bersama dengan Kenzi.
"Gue tadi tuh kesel, biasa ada masalah sama pacar gue sedikit, tapi sekarang udah enggak kok. Ayo masuk!" Ajak Maya, membuat mereka tersenyum senang ternyata tak ada yang membuat Maya kesal dengan salah satu di antara mereka.
Seperti biasa, saat sedang berada di rumah siapapun hal yang pertama mereka ambil adalah cemilan dan minuman segar. Tidak kumplit rasanya kalau tak makan sesuatu yang mengganjal perutnya, padahal mereka sudah makan di rumah masing-masing tadi.
"Pada cantik amat, biasanya ke rumah gue kayak gembel?" Tanya Maya penasaran, teman-temannya sudah rapi seperti mau kemana saja.
"Huum May, kita mau ke bukit. Lah elu lupa ya? Atau gak nyimak grup?" Tanya Keisha.
Maya menepuk jidat nya, "Aih sorry gue lupa. Kalau begitu tunggu ya gue mandi dulu,"
Saat Maya akan masuk ke kamar mandi, tangannya segera di tarik oleh mereka bertiga.
"Kagak usah mandi, lo mandi lama!" Ucap mereka bertiga dengan kompak membuat Maya mengerucutkan bibir nya kesal.
"Yaudah iya, gue gak mandi." Ucap Maya membuat mereka semua tertawa.
Jika di lihat, pertemanan mereka sangatlah indah, andai pengkhianatan itu tak terjadi, atau bisa di hentikan mungkin akan sangat indah. Semoga Maya sadar apa yang akan ia lakukan adalah kejelekan.
Maya menggunakan, celana jeans pendek di atas lutut, kemeja kotak-kotak berwarna biru tua tak lupa Maya membawa long coat supaya kalau kedinginan dia bisa menggunakan itu. Lagipula akhir-akhir ini sedang musim hujan tetapi mereka malah nekat untuk pergi ke bukit, ada-ada saja bukan?