Maya menggunakan celana jeans pendek di atas lutut, kemeja kotak-kotak berwarna biru tua tak lupa Maya membawa long coat supaya kalau kedinginan dia bisa menggunakan itu. Kebetulan akhir-akhir ini sedang musim hujan tetapi mereka malah nekat untuk pergi ke bukit yang sudah jelas sangat dingin, ada-ada saja bukan?
Yang menyetir tentu saja Naira, karena dialah yang lebih jago menyetir daripada teman-teman yang lainnya.
Pergi ke bukit merupakan hal rutin yang harus di lakukan oleh mereka, karena mereka percaya, mendaki, pergi jalan-jalan atau hanya sekedar melihat pemandangan adalah self healing terbaik versi mereka di saat mental sedang down.
Setelah merasakan penatnya beraktivitas setiap hari pasti setiap orang ingin beristirahat untuk meningkatkan suasana hati yang lebih baik. Self healing juga perlu untuk dilakukan demi menjaga kesehatan mental. Selain dapat menghilangkan stres, dengan mendaki kita juga bisa mensyukuri keindahan alam dan isinya yang telah disedikan Tuhan untuk makhluk hidup di bumi.
Sekarang mereka belum waktunya mendaki gunung, tetapi nanti akan ada saatnya pendakian itu terjadi. Saat semuanya sudah matang di persiapkan.
Karena di saat mendaki, disitulah seseorang akan mendapatkan teman yang sesungguhnya. Teman mana yang akan meninggalkan di saat kesusahan dan sebaliknya, teman mana yang akan membantu saat keadaan tak lagi baik-baik saja.
Seseorang pernah mengatakan kepada Naira, Sebenarnya saat mendaki sebuah gunung, bukan gunung lah yang kita taklukkan, tapi diri kita sendiri, termasuk ego di dalam nya. Ego memang sulit sekali untuk di taklukkan, tak sedikit orang yang menggunakan ego atas semua amarah nya. Dan semoga Naira bukanlah golongan orang yang seperti itu, yang selalu menggunakan ego untuk mencapai obsesi.
*
Sudah satu setengah jam perjalanan, sebentar lagi mereka akan sampai ke atas bukit. Dengan mengendarai mobil jeep putih milik Keisha, akhirnya mereka sampai juga. Di sana banyak sekali orang yang mendirikan tenda, bahkan bukit ini sangat ramai tak seperti biasa nya yang hanya ada beberapa orang saja. Apa mereka juga sama seperti Naira, sedang banyak beban pikiran dan ingin meluapkan nya di atas sini?
Naira dengan dress pendek nya segera turun, tetapi angin kencang membuat dress itu naik ke atas, Naira tak mau jika sesuatu terlihat. Dia kembali ke mobil dan duduk sembari melihat keluar.
"Gue salah baju guys, gue kira gak akan sampai seperti ini angin nya beneran kencang banget." Ucap Naira membuat mereka juga bingung, karena tak ada yang memakai jaket seorang pun.
Naira terlihat sendu, apakah sampai selesai dirinya tak akan melihat pemandangan? Sia-sia rasanya dia datang kesini jika tak melihat pemandangan kota dari atas sini.
"Nah angin nya udah reda, ayoo cepet keluar." Ucap Maya membuat mereka menganggukkan kepala. Tapi, saat Naira sudah agak jauh dari mobil angin besar bisa datang sekali-kali.
Naira keluar dan berjalan pelan, tentu saja kegiatan mereka itu terlihat hampir semua orang pengunjung, karena pengunjung sebagian besar itu orang-orang yang berseragam hitam.
Saat Naira akan sampai ke tempat biasa yang sering mereka jadikan sport terbaik. Tiba-tiba saja angin kembali berhembus, membuat dress Naira terangkat, beruntung memakai celana pendek. Tetapi, tetap saja Naira sekarang menjadi tontonan.
Tak lama kemudian, ada sesuatu yang melilit badan nya, itu adalah jaket besar entah siapa pemilik nya. Naira melirik ke arah belakang, dan melihat ada Kenzi yang sedang tersenyum kecil melihat nya.
"Lain kali kalau ke tempat seperti ini, jangan pakai dress." Ucap Kenzi, membuat Naira tersenyum senang. Kenzi selalu menjadi penolong bagi nya. Tuhan tak salah mengirimkan Kenzi.
"Pak Kenzi, makasihhhhhhhhhh." Terlalu semangat Naira memeluk Kenzi tanpa sadar, tetapi aneh nya Kenzi tak menolak sedikit pun. Kenzi melihat ke arah Maya, wanita itu menatap Naira dengan tatapan kebencian, dia juga membuang muka nya setelah itu.
"Sama-sama, lain kali jangan di ulang ya." Ucap Kenzi begitu lembut.
Naira melepaskan pelukannya karena sadar siapa yang udah mereka peluk.
"Aihh, kenapa Naira seceroboh ini sih. Malu kan jadinya," ucap Naira pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Kenzi.
Kenzi tersenyum kecil, "Pulang nya jangan kemalaman, kalau takut saya di sana nanti saya antarkan sampai bawah." Kenzi menunjuk tenda nya yang tak jauh dari penglihatan Naira. Ternyata di sana banyak sekali tenda berjajar, dan paling memalukan nya adalah, banyak sekali orang berbaju hitam seperti Kenzi melihat ke arah nya. Artinya sedari tadi, mereka melihat hal langka yang di lakukan oleh Kenzi pada seorang wanita, yang sudah mereka ketahui siapa namanya.
Fauzi dan Devan yang saat itu berada di posisi, saat tengah malam menolong Naira tersenyum kecil ke arah sahabatnya. Ternyata yang mampu meluluhkan hati wanita itu adalah Naira, wanita yang mereka tolong. Tak aneh sih, Naira cantik tetapi badan nya saja yang kecil seperti anak SMA.
"Hujannnnnn." Teriak Keisha rame, membuat Naira dan Kenzi tersadar dengan apa yang mereka lakukan.
Naira segera di tarik oleh Kenzi, ke pos yang ada di sana untuk berteduh.
"Awshhh, sakit b**o!" Teriak Maya kala tangannya di tarik secara kasar oleh Cindy.
"Lo kalau gak di tarik bakalan kehujanan," balas Cindy membuat maya memutar bola mata nya malas. Iya, malas melihat adegan yang membuat hati nya sangat panas. Bisa-bisanya Kenzi lebih memilih Naira dari pada diri nya yang sudah tentu lebih segala nya dari Naira. Apa istimewanya wanita itu? Sehingga di cintai Kenzi.
Mereka meneduh menunggu hujan, karena sering nya Fauzi bertemu dengan Keisha wanita dan pria itu tak henti mendebatkan sesuatu hal yang membuat orang menggeleng-gelengkan kepala nya dengan tingkah mereka berdua.
Seperti sekarang ini mereka malah mendebatkan asal hujan dari mana.
"Hujan itu dari awan."
Keisha menggelengkan kepala pelan.
"Gak ada dari sana nya, udah jelas hujan itu turun nya dari langit bukan dari awan." Jawab Keisha.
"Kamu pernah belajar tentang reproduksi gak sih?"
"Lah pak, kenapa bawa-bawa reproduksi, emang nya mau buat anak apa? ini kan tentang hujan." Tanya Keisha dengan polos.
"Iya mau buat anak, mau di sekolahin tinggi-tinggi siapa tahu gak bodoh kayak kamu!" Ucap Fauzi dengan nada mengejek.
"Sekolah tinggi-tinggi? Bentar deh... maksudnya di awan atau di langit gitu pak sekolah nya? Biar bisa mengamati secara langsung ta?"
"Ide bagus, tunggu. Ngamatin langsung gimana maksudnya?" Tanya Fauzi.
"BUAT ANAK!!!!!!!!!!!!!" kesal Keisha membuat yang lain tertawa-tawa dengan candaan itu. Bahkan Kenzi sampai menggelengkan kepala nya beberapa kali.
"Gilakkk ya lo!" Ucap Fauzi membuat mata Keisha melotot.
"Abangggggggggggggg." Rengek Keisha sambil melihat Kenzi.
Kenzi menaikkan sebelah alisnya, lalu bertanya. "Kenapa kei?" Tanya Kenzi, membuat Fauzi menelan saliva nya dengan susah payah.
"Itu temen abang tuh rese! Masa kei di panggil gila sih." Ucap Keisha sembari memanyunkan bibirnya.
"Alamakkkkkk. Ternyata adek nya komandan." Kaget Fauzi membuat mereka semua tertawa. Padahal Keisha hanya adik sepupu nya saja, tetapi memang lumayan dekat dengan Kenzi.
Sementara Naira sudah tak terkejut lagi dengan status Keisha bersama Kenzi. Namanya saja hampir sama, tetapi sifat nya jauh berbeda. Kenzi pendiam sedangkan Keisha banyak tingkah semacam cabe-cabean. Eh cacing kepanasan maksudnya.
"Makan tuh fauzi!"
*
Hujan masih belum reda juga, angin semakin kencang membuat Naira risau. Yang ia khawatirkan adalah Mamih nya dia takut wanita paling berharga itu mengkhawatirkan dirinya.
Kenzi balik lagi ke awal bersikap dingin, mungkin tadi Kenzi hanya refleks saja memberikan jaket karena murni ingin membantu. Sampai sini, Naira harus paham dan mengerti jika yang memberi perhatian bukan berarti ingin memberi perasaan.
Tring..tring..tring
"Siapa?" Tanya Cindy, melirik ke arah Naira.
"Mamih gue nih, gue bakalan di marahin kalau dia tau gue lagi di bukit." Ucap Naira Nampak risau
"Yaudah kagak usah di angkat aja." Jawab Keisha yang langsung mendapat jitakan kening dari Kenzi.
"Dasar nakal!" Ucap Kenzi membuat Keisha tersenyum kecil.
"Kan biar gak repot aja, bang." Jawab Keisha membuat Kenzi menggelengkan kembali kepala nya.
Kenzi segera merebut handphone Naira lalu mengangkat telepon mamih nya Naira.
"Iya hallo, Mih." Jawab Kenzi.
"........."
"Ini Kenzi, mamih masih ingat kan?"
"......."
"Naira lagi sama Kenzi, Mih. Tenang aja kita di tempat yang aman kok. Nanti Kenzi anterin Naira sampai ke rumah ya."
"......."
"Sama-sama mih, jangan khawatir ya."
Telepon terputus. Naira membulatkan mata nya tak percaya kala Kenzi memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari mamih nya. Memang Kenzi adalah penyelemat kedua untuk nya. Dekat dengan Kenzi semua terasa dapat di atasi secara mudah. Kenzi menyembunyikan pipi nya yang merona dengan menunduk. Beruntung jaket Kenzi sangat panjang menyentuh lutut, sehingga tak terlalu dingin. Naira memang kuat akan dingin, tetapi di hidup nya mempunyai banyak fobia dan trauma. Misal nya sesuatu yang dalam, Naira sangat takut akan hal itu.
Lalu apa mau Kenzi, sikap nya gampang berubah. Kadang hangat dan kadang dingin. Seperti menyuruh pergi tetapi menahan nya kembali, di tarik ulur seperti layangan. Beruntung layangannya tidak putus, atau memang belum.
Naira menikmati hujan sore hampir malam ini dengan suasana yang Naira sendiri entah bagaimana cara mengungkapkan nya. Rumit sekali untuk di ucapkan, tetapi sangat sakit bila di pendam. Banyak nya pikiran selalu menguasai.
Sedangkan Maya, sedari tadi hanya diam saja. Mungkin perasaan Maya juga tak jauh berbeda dengan Naira. Sangat sakit hati, saat orang yang di cintai malah care pada orang lain, ralat sahabat sendiri maksudnya. Tetapi, apakah ini salah Naira? wanita itu yang pertama bertemu Kenzi dan dirinya hanya akan jadi benalu di hubungan Kenzi dan Naira nanti nya.
"Udah di bilang sekarang ini lagi banyak kasus, p*********n, begal. Tapi tetep aja kalian ini main jam segini." Ucap Devan.
"Apa di kampus tidak mendengar edukasi yang kita sampaikan? Atau edukasi yang kita berikan tidak jelas?"
"Pak, kita juga butuh healing kali. Dan self healing terbaik itu pergi ke alam seperti ini."
"Gaya banget dek, kata-kata nya self healing. Sebesar apaan sih beban sama masalah nya? Sampai perlu healing ke alam?" Tanya Devan sembari menggelengkan kepalanya, jawaban Naira seperti orang yang benar-benar mengemban beban besar saja.
"Tidak besar, hanya saja rumit." Jawaban Naira membuat mereka semua terdiam.
Tidak besar tapi rumit. Mengandung banyak makna yang sulit untuk di jawab.