2017 Januari.
Ting tong, suara bel dari depan mengejutkan sosok yang saat ini berbalut selimut panjang. Rama laki-laki itu tampak begitu lusuh dengan mata sembabnya. Ternyata hanya mimpi, pikir Rama mengingat kejadian pertunangan Rika dan Nico dan juga pertemuan Yumi dan tunangannya. Semua hanya mimpi belaka.
Dengan langkah tertatih, Rama yang masih mengenakan kaos oblong mulai berjalan menghampiri pintu untuk membukakannya.
“SURPRISEE!” sosok gadis berambut panjang dengan berbagai barang belanjaaannya berdiri di hadapannnya.
“Ih, kamu kok lama sih, pasti begadang lagi kan semalam?” ujarnya sambil menggerutu kesal.
“Yu-yumi!”
Yumi berjalan masuk dan menaruh semua barang belanjaanya di meja. Rama masih syok dengan apa yang barusaja terjadi sekarang. Bukannya Yumi harusnya bersama laki-laki itu, kenapa dia ada disini?
“Aku mau buat nasi sayur kangkung, kamu pasti suka!” ujarnya mengeluarkan semua sayuran dan beberapa barang belanjaannya di atas meja dapur.
“Kenapa hanya berdiri disana, ayo bantuin aku!”
Rama berjalan mendekat, ia menoleh di salah satu kelender disampingnya. 2015. Mata Rama membulat.
“5 tahun yang lalu?”
Rama tak percaya apa yang sedang dialaminya, apa sekarang ia sedang bermimpi, tapi kalaupun ini mimpi, jangan biarkan dia bangun untuk beberapa menit.
“Yumi!” dekapan erat diterimanya. Cukup kuat membuat Yumi bingung dengan sikap aneh rama.
“Kamu kenapa sih? Aneh banget!” tak terasa air mata Rama menetes.
“kok kamu nangis? Ada apa?”
Rama hanya menggelengkan kepalanya. Setidaknya ia bahagia sekarang bisa kembali bersama Yumi. Inikan yang diinginkannya.
“Aku hanya rindu!” jawabnya.
Rama makan dengan lahapnya masakan Yumi yang selalu ia tunggu-tunggu, tumis kangkung dan dadar gulung kesukaan Rama, tanpa sadar rasa masakan Yumi membuatnya menangis.
“Kamu kok nangis, enggak enak ya masakan aku?” tanya Yumi cemberut.
Rama menggeleng, “Enggak, justru karena enak banget, udah lama aku nggak makan masakan kamu.”
“Udah lama? Kemarin aku juga aku masakin kok, kamu lupa?”
Rama hanya mengulas senyum tipis, kalau Yumi tahu kalau Rama di depannya adalah Rama di masa depan.
“Hari ini kamu mau ke mana?” tanya Rama.
“Ke toko buku, terus pergi belanja sama Rika.”
“Ya udah ayo aku antar!” tiba-tiba Rama begitu semangat.
“Kamu mau?” Yumi kaget dengan sikap Rama yang berubah, padahal kemarin Rama bilang dia sibuk dan tak bisa menemaninya pergi.
“Beneran? Bukannya kemarin kamu bilang nggak bisa?”
“Oh iya? Emm, nggak papa kok aku nemenin kamu hari ini,” ucap Rama membuat Yumi begitu senang.
“Beneran mau nemenin? Makasih sayang!” Yumi langsung memeluk Rama saking senangnya.
“Makasih juga udah ngasih aku kesempatan kedua, Yumi.”
Tes…tes… rintik hujan yang jatuh bersamaan dengan cipratan anak kecil yang saat ini bermain kubangan air dengan sepatu putihnya, Wajah anak itu begitu senang bermain dengan cipratan air itu. Anak kecil itu tersenyum.
Hari itu sebelum melakukan aktivitas, Rama menulis di sebuah buku apa saja kegiatan yang akan ia lakukan bersama Yumi. Ia tersenyum sambil menunggu Yumi berdandan.
“Rama!” bisik Yumi mengejutkan Rama yang sedang menulis, langsung saja buku itu ia tutup.
“Kamu serus banget sih?” Yumi penasaran
Rama langsung memasukkan buku kecilnya ke dalam laci, menyembunyikan dari Yumi. “Kamu udah selesai?”
“Tadi kamu nulis apaan?” tanyanya.
“Enggak kok, tadi aku nulis pengeluaran bulan ini.”
“Oh iya?” Yumi seperti tak percaya, Namun dengan mudah Rama mengganti topik pembicaraan mereka.
“Ya udah ayo berangkat!”
“Sekarang? Kan nunggu Rika dulu sama Nico datang.”
“Bilang sama Rika, nanti ketemu di kafe!” ucap Rama menggandeng tangan Yumi.
Mereka pun keluar dari apartemen, menuju motor scoopy milik Rama. Di sepanjang jalan, Rama seperti menikmati suasana yang ia bayangkan adalah mimpinya. Kedua tangan Yumi memeluk pinggangnya.
Motor scoopy Rama berbelok menuju ke salah satu deretan toko buku di sana. Mereka berhenti di salah satu toko buku langganan Yumi di sana. Mereka masuk ke dalam, Yumi langsung mencari salah satu buku yang ia cari. Sambil menunggu Yumi, Rama yang tak kurang tertarik dengan buku hanya melihat-lihat saja.
“Halo Kakak!” suara dari atas rak buku mengejutkan Rama. Gadis kecil berbaju putih itu tersenyum padanya. Rama langsung ingat siapa dia.
“Kamu, kok kamu ada di sini?” tanya Rama kaget.
“Aku kan bisa ada di mana-mana!”
Rama langsung panik, pasalnya anak itu naik ke atas rak buku. “Turun kamu, nanti jatuh loh!”
Tiba-tiba anak itu sudah ada di bawah tepat di sampingnya. Rama kaget melihatnya.
“Kamu, kok bisa secepat itu turun?”
Anak kecil itu hanya tersenyum. “Itu perempuan yang kakak inginkan?” tunjuk anak kecil itu.
Rama tersenyum, “Benar, dia orangnya, apa kamu yang melakukan keajaiban ini gadis kecil?”
“Hana, panggil aku Hana Kak!”
“Baiklah, Hana, apa kamu yang melakukan kejaiban ini?”
Hana menggeleng, “Bukan aku Kak!” Hana menunjuk ke atas, ia langsung tahu apa maksudnya. “Apa Kakak bahagia?”
“Sangat bahagia, aku bisa bertemu dengan Yumi lagi.”
“Baguslah kalau begitu.” Hana tertawa.
“Rama!” panggil Yumi dari belakang, sontak Rama berbalik, dan ketika ia melihat Hana lagi lagi, anak kecil itu sudah pergi.
“Kamu bicara sama siapa?” tanya Yumi.
“Tadi anak kecil menghampiriku, namanya Hana.”
“Hana?” Yumi bingung, tidak ada anak kecil di dalam toko itu. “Enggak ada anak kecil di sini Rama, kamu ngigau ya?”
“Mungkin anak itu sudah pergi, oh iya, udah nemu bukunya?” tanya Rama.
Yumi menunjukkan buku yang diambilnya. “Udah, yuk!”
Setelah membayar buku itu di kasir, mereka pun segera pergi ke kafe tempat dimana Rika dan Nico sudah menunggu mereka. Saat di tengah jalan mereka berkendara, dari arah samping sebuah mobil melaju dengan cepat. Hampir saja motor Rama ditubruk namun dengan gesit Rama memutar arah dan membuat ia berbelok dan jatuh ke semak-semak. Rama merintih kesakitan merasakan tangannya sakit, sementara Yumi lecet di kedua sikunya.
“Yumi…Yumi, kamu nggak papa kan?” Rama sedikit khawatir.
Yumi mengangguk, “Iya aku nggak papa kok, kamu nggak papa kan?”
Rama melihat luka di siku Yumi,” Ya ampun, kita ke rumah sakit buat obtain luka kamu dulu ya!”
“Enggak usah Rama, aku nggak papa kok.” Yumi merasa aneh dengan sikap Rama yang begitu cemas tidak seperti biasanya.
“Kamu luka juga kan?” Yumi melihat darah di lutut Rama. “Rama lutut kamu berdarah.”
“Udah nggak papa kok!”
Tiba-tiba Yumi yang merasa kesialan di pagi ini justru menertawakan diri sendiri. Melihat Yumi yang ketawa membuat Rama bingung. Yumi tertawa begitu nyaring.
“Kamu kenapa ketawa?”
“Enggak papa, cuma…” Yumi tertawa lagi.
“Cuman lucu aja kita bisa jatuh kaya gini.”
Rama ikut tertawa. “Syukurlah kamu baik-baik saja!” Rama begitu bersyukur bisa melihat tawa Yumi lagi. Keduanya pun tak jadi pergi ke kafe menemui Rika dan Nico justru kedua temannya lah yang datang ke Apartemen Rama setelah mendapat kabar kalau mereka berdua jatuh dari sepeda motor.
Nico—laki-laki dengan hoddie putihnya itu mendekati Rama. “Lo nggak papa kan Bro, kaki lo nggak ada yang ilang satu kan?” celoteh Nico yang langsung digampar oleh Rama.
“Lo doain gue, hah?!”
“Kok bisa sih kalian jatuh barengan, untuk nggak kenapa-napa.”
“Eh Ram, lain kali kalau bawa motor jangan bawa-bawa Yumi dong, kasian tahu!” Nico masih saja menggodanya.
“Terus gue bawa siapa,anak ayam?”
“Nah itu, setuju. Lo bawa anak ayam aja, paling entar kalau jatuh tuh ayam juga lari ke induknya!”
Plak, jitakan dari tangan Rama membuat Yumi dan Rika tertawa. Ada saja ulah mereka membuat suasana menjadi lebih hidup. “Sakit bego!”
“Otak lo kasih di mana? Dengkul?” geram Rama
“Otak gue di kepala lah, ngapain gue taruh di dengkul!” Nico merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang tadi digampar oleh Rama.
Apartemen kecil yang selalu menjadi markas keempat sahabat itu selalu dipenuhi canda tawa, segala hal selalu mereka lakukan di sana, mulai dari makan bersama di balkon atas apartemen atau melakukan hal gila seperti merayakan ulang tahun bersama.