Chapter 3: Tentang Nico

1531 Words
“RAMAAA!!” teriak Nico berlari mengejar rama terburu-buru. Rama berhenti dan berbalik ke belakang saat Nico memanggilnya. “ngapain lo lari-larian segala, masih jam setengah 7, nggak bakal telat masuk sekolah,” ujar Rama Nico langsung merangkul sahabatnya sambil meringis seakan mengartikan hal lain, “Justru itu gue berangkat lebih pagi dari biasanya, PR matematika lo udah?” Rama menampik rangkulan tangan Nico sembarangan, “kapan lo bisa pintar, kalau tiap hari lo nyontek gue mulu?” kesal Rama “ Ayolah Ram, cuman elo yang bisa gue andelin, lo itu sahabat terbaik gue Ram,” ucap Nico memelas, ada aja alasannya untuk meluluhkan hati Rama. Rama yang kasihan langsung membuka tas dan memberikan buku catatannya pada Nico, dan memberikan PR miliknya secara cuma-Cuma, Nico langsung sumringah senang. “Elo emang Sahaat terbaik gue Ram!” Nico langsung memeluk Rama yang langsung dilihat anak-anak sekolah yang tak sengaja lewat di depan mereka “Jijik lo Nic, menjauh dari gue. Ingat yang boleh meluk gue itu Cuma Yumi, dih!” Rama langsung mendorong tubuh Nico menjauh. Rama pergi, diikuti Nico yang mengekorinya di belakang. “ by the way, nanti malam lo mau ikut gue nggak?” ajaknya. Rama tampak terlihat waswas, biasanya ada udang dibalik batu kalau tiba-tiba diajak Nico malam-malam. “ mau ngapain?” tanyanya penasaran “Kali ini hadiahnya lumayan Ram, 10 juta!” ucapnya. “Udah gue duga, nggak nggak..” “Ayolah Ram!” “Lo mau gue dibunuh sama Yumi ikut balapan motor, dan satu lagi gue bukan pembalap kaya lo, lagian motor gue kemarin habis diservis dan butuh biaya yag gede,’ tolaknya Nico tak menyerah, “Justru itu, ini kesempatan yang bagus buat lo dapatin duit itu Ram, 10 juta, dan lo bisa ajak Yumi makan malam romantis kan?” Usulan dari Nico membuat Rama berpikir kembali. Ia memang tak sekaya Nico yang memiliki keluarga yang utuh dan ayah yang kaya raya, sementara dirinya hanyalah anak yang ditinggal oleh kedua orang tuanya dan harus menghidupi dirinya sendiri. “ 10 juta ya?” “Iya, 10 juta, gimana?” Rama tersenyum dan langsung menjitak kepala Nico saat itu juga, “Aw ram, kenapa kepala gue dipukul?” “Eh, kurang-kurangin main-main lo, dan pikirin masa depan lo. Balapan mulu kapan pinternya?” nasihat Rama “Yak an balapan hobi gue, dari situ gue juga dapat uang banyak. Emang lo nggak mau dapat uang banyak?” “Gue kasih tahu ya Nic, elo itu sahabat gue, satu-satunya sahabat gue, dan gue nggak mau sahabat gue kenapa-napa. Lo pikir gue mau apa lihat lo kalah terus jatuh ntar malam, udah lupain 10 juta itu buat sayangin nyawa lo!” Nico bingung maksud ucapan Rama, jatuh? Apa maksudnya? “Woi tunggu-tunggu, emang lo tahu gue bakal kalah di pertandingan nanti malam, mungkin aja gue bisa menang Ram.” “Enggak, lo kalah, lawan lo bermain curang, udah buang-buang waktu aja!” ucapnya.” Nico menyipitkan mata keheranan, “elo kaya cenayang aja bisa tahu apa yang bakal terjadi sama gue.” Deg! Rama tersadar ia keceplosan berbicara. Ia sangat ingat kejadian dulu di waktu yang sama ketika Nico mengajaknya ikut balapan motor dan kecelakaan itu terjadi, Nico mengalami kekalahan dan jatuh saat seorang lawan menjegal motornya hingga ia oleng. Beruntung ia tak mendapat luka yang serius hanya luka lecet saja. “Maksud gue… gue cuman memperkirakan, kemungkinan yang terjadi, gimana nanti kalau lo jatuh dari motor nanti?” Rama berusaha menutupi semaksimal mungkin kecurigaan Nico padanya. “Lo khawatir ya sama gue? Duh sahabat gue emang pengertian banget!”Nico kembali merangkul pundak Rama. “Elo tenang aja, gue nggak bakal jatuh dan gue bakal menangin hadiah 10 juta itu ntar malam.” Tetap saja Nico keukeuh untuk balapan, dasar otak pembalap. “ Nic, lo serius!” “Iya serius, dan gue pastiin gue bakal menang.” “Gue saranin lo nggak usah ikut aja, gue serius!” “Gue ikut Rama, lo takut banget gue kenapa-napa.” “Karena memang lo bakal kenapa-napa Nico!” Deg! “Elo tuh bebel banget sih jadi orang, terserah lo deh, kalau lo kenapa-napa gue nggak bakal tanggung jawab!” Rama kesal dan langsung meninggalkan Nico begitu saja Nico sendiri bingung, kenapa tiba-tiba Rama marah padanya. …. Malam itu juga, Nico dengan motor ninja hijaunya sudah berada di tempat area balapan. Ia sendirian tanpa ditemani Rama. Ia nekat untuk daftar dan ikut balapan malam ini. Jam menunjukkan pukul 20.08 malam, Nico juga sudah menghubungi Rama dengan memberitahu kalau ia ikut balapan mala mini, namun tak ada jawaban dari Rama sejak dua jam lalu. Rupanya Rama saat ini sedang bekerja di salah satu café sebagau barista, ia memang tak menyentuh handphone sedari tadi, sampai saat ia istirahat barulah ia menyentuh dan membuka hpnya. Deretan pesan dari Nico sudah terpampang sejak tadi. “Nico gila, nekat banget sih jadi orang!” Rama yang panic kejadian akan terulang kembali memutuskan untuk berhenti bekerja di tengah jalan, ia langsung keluar dari kafe malam itu dengan masih memakai apron kerjanya. Ia menghentikan bus untuk menuju ke area balapan motor. Suara deru motor memenuhi tempat itu, ada 4 kandidat yang ikut balapan motor malam iini termasuk Nico yang berada di garis kedua sebelum pertandingan dimulai. Ia tampak semangat malam iini. Sementara Rama begitu mencemaskannya. Bayangan kembali mengingat kejadian saat motor Nico saat itu terjegal oleh pemain lain dan oleng hingga membuat Nico beserta motornya ambruk. Ia terus berburu dengan waktu, bagaimanapun ia harus mencegah sebelum terlambat. Bus itu berhenti di halte dekat area balapan motor. Terpaksa ia turun di sana untuk selanjutnya ia berjalan untuk sampai ke lokasi. Rama yang terburu-buru dikejutkan sebuah motor yang ketika ia menyebrang, sebuah motor menyerempetnya ia jatuh tersungkur dan mengalami lecet di tangannya. Motor itu berhenti dan menolongnya. “Mas, maaf ya saya buru-buru soalnya mau jemput pacar saya!” ucap laki-laki dengan motor matiknya itu Rama bangkit, ia tak peduli dengan dirinya yang kesakitan, bergegas ia dengan langkah tertatih menuju ke area balapan. “Gue harus cegah Nico sebelum terlambat!” ucapnya dalam hati Sampai di lokasi balapan, suara ramai menggema di tempat itu mempelihatkan Nico yang berhasil memenangkan pertandingan tanpa ada cedera sedikitpun. Rama bingung bagaimana ini bisa terjadi? “Nico!” panggilnya Nico dengan wajah senangnya langsung menghampiri Rama. “gue menang Ram, lo lihatkan? Gue nggak kenapa-napa! Gue dapat 10 juta, dan ini gue hadiahin buat sahabat gue, elo!” Rama kaget, ia menerima uang 10 juta tunai di tangannya, ia masih gemeteran setelah kecelakaan tadi. Ia juga masih tak percaya Nico tak mengalami kecelakaan namun justru dirinyalah yang celaka. Ia begitu syok. “Ram, Rama?” panggil Nico yang seketika linglung saat menerima uang itu, bukan karena kaget tapi kondisinya yang masih gemetar akibat kecelakaan kecil yang ia alami tadi berdampak pada penglihatannya yang menjadi kabur. “Ram!” panggil Nico mengetahui kondisi temannya ada yang aneh. Nico semakin kaget saat melihat darah tiba-tiba mengalir dari kepala Rama. “Ram, kepala lo berdarah!” panic Nico langsung memapah Rama yang hamper jatuh ke tanah. “Lo kenapa?” tanyanya panic, “kenapa lo terluka?” Rama langsung mengelap darah yang menetes di kepalanya dengan tangan, “Gue nggak papa kok!” “Lo berdarah gini, lo bilang nggak papa?” Nico langsung membawa Rama untuk duduk dan istirahat. Terlihat Nico begitu cemas, apa yang terjadi pada Rama. “Ram!” panggilnya lagi “Sorry, gue tadi buru-buru ke sini waktu lo bilang mau balapan, terus tadi waktu perjalanan ke sini, ada motor nabrak gue.” Nico mengupat, “Kenapa lo ceroboh sih?” “Gue cuman khawatir aja sama lo yang celaka Nic.” “Sekarang justru lo yang kecelakaan, bego banget sih lo! Gue itu nggak kenapa-napa.” “Sorry, pikiran gue kalut tadi.” “Astagah Rama, lo tuh mikirin apa sih. Baru kali ini gue ngelihat lo ceroboh kaya gini, emang apa yang dibayangan lo? Lihat gue jatuh dari motor, gitu?” Rama menatap nanar wajah Nico yang justru memarahinya. Ia juga ingat kejadian dulu waktu di waktu yang sama, saat mengikuti balapan motor seperti waktu ini, motor yang ditumpangi Nico oleng dan jatuh. “Sorry, itu kesalahan gue.” Nico mengambil hpnya dan mencari nomer Yumi di sana. Mengetahui Nico akan menghubungi Yumu, Rama menahannya. “Lo ngapain?” “Yumi harus tahu lo celaka.” “Jangan Nic, gue nggak mau dia khawatir.” “Iya sih, pasti Yumi khawatir. Sama khawatirnya sama gue Bego!”Nico kesal Rama yang melihat ekpresi wajah Nico yang kesal membuat dirinya tersenyum lega kalau sahabatnya tidak apa-apa. “Gue nggak akan mati cuman gara-gara kecelakaan tadi.” “Iya, sebelum lo ketabrak truk!” geram Nico “Ngomong-ngomong, kenapa lo kasih uang ini sama gue?” “Gue nggak butuh uang itu, gue udah kaya, tinggal gue gesek atm, uang sebanyak apapun bisa gue dapatin dengan mudah, elo yang lebih butuh.” Rama tahu bagaimanapun sikap Nico padanya, hanya Nico satu-satunya sahabat yang memahami dirinya. “thanks Nic, gue utang budi sama lo!” “Awas aja sampai lo buat gue khawatir sama lo lagi, gue bilangin Yumu tahu rasa.” “Iya iya…” keduanya pun tertawa bersama dengan uang 10 juta di tangan Rama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD