SMA Angkasa—sekolah yang saat ini ditempuh Rama dan teman-temannya. Rama cukup terkenal di kalangan anak-anak sekolahannya karena menjadi perwakilan olimpiade matematika tingkat Nasional sekaligus mengharumkan nama sekolahannya.
Rama memiliki paras tampan dan juga ramah pada siapapun yang ia temui. Berbeda dengan Nico yang menjadi sahabatnya yang memiliki sifat berbanding terbalik karena sifatnya. Dan keduanya kini bergabung di salah satu tim basket di sekolahannya.
Hari itu, Rama dan Nico mengikuti sesi latihan sepulang sekolah, banyak anak-anak yang menonton mereka termasuk Yumi dan Rika yang selalu menemani keduanya berlatih basket. Rika dengan semangatnya meneriaki nama Rama dan Nico bersamaan, bahkan suaranya begitu nyaring terdengar sampai ke lapangan. “RAMAAA, NICOOO!!!”
“ Rika jangan teriak-teriak ah, mereka lagi latihan!” protes Yumi menutup telinganya
“Justru itu Yumi, gue harus semangatin my Ayang Nico biar makin semangat, NICOOO!!”
Nico yang melihat Rika pacarnya di bangku penonton tersenyum pada mereka. “RIKAA SAYANG!”
DUG, sebuah bola tepat mengenai kepalanya karena tak focus. Anak-anak yang lain pun menertawainya termasuk pelatih yang kesal. “NICO, focus!”
Rama hanya tertawa kecil, ia melempar pandangan kea rah Yumi yang saat itu masih menyemangatinya, dalam hati ia begitu bahagia melihat sosok Yumi sekarang.
….
Selepas latihan dengan masih memakai baju olahraga dan seragam sekolah, keduanya pergi ke salah satu café yang menjadi salah satu tempat mereka berkumpull bersama sambil berbincang bersama-sama. Tak lupa mereka memesan makanan banyak.
Yumi dan Rika kali ini agak terkejut dengan pesanan dua laki-laki yang kini di depan mereka. Menu yang mereka pesan tak seperti biasanya, ini justru lebih mahal dari biasanya.
“Kalian yakin mau traktir kita makan mewah kali ini? Baby, kamu nggak pakai atm papa kamu lagi kan?” Rika menoleh pada Nico pacarnya
“ Tenang aja Rika, gue yang bayarin semuanya kali ini.”
“kamu dapat uang dari mana Ram?” Tanya Yumi heran
Rama dan Nico melempar senyum penuh arti satu sama lain. “Itu rahasia, yang penting sekarang kalian makan sepuasnya , oke!” ucap Nico mencomot steak di piringnya. “enak banget!”
Yumi mengamati keduanya dengan pandangan aneh, namun tiba-tiba pandangannya teralihkan pada perban kecil yang menutupi dahi yang tertutup rambut pada Rama.
“Sayang, dahi kamu kenapa?” Yumi langsung menyibak poni rambut Rama, dan benar saja ada perban di sana. “ Rama, ini kenapa?” panik Yumi tiba-tiba
Rama dan Nico saling berpandangan. “i-ini tadi…” mencoba mencari alasan agar Yumi tak cemas. “ Ini…”
“itu Yumi, tadi waktu kita di toilet, nih anak ceroboh, terus kepalanya kejedot pintu kamar mandi sampe benjol, lihat tuh, ceroboh sih!” sambung Nico menjawab pertanyaan Yumu.
“Kejedot pintu, seriusan?”
Rama menoleh pada Nico, ia pun mendapat isyarat untuk mengangguk saja pada Yumi sebagai alasan. “I-iya, tadi waktu di toilet, kejedot jadinya berdarah kek gini.”
“Ya ampun Rama, kamu ceroboh banget sih?”
“Coba aku lihat!” Yumi menyibak poni Rama, ia menyesali perbuatan Rama kali ini. “Lain kali hati-hati ya!” ujarnya
“Iya!”
….
Sepulang dari kafe itu, mereka berpisah di jalan, Nico mengantar Rika dengan motornya, sementara Rama dan Yumi lebih memilih jalan kaki. Selama di jalan keduanya masih terdiam tak bersuara sampai Rama akhirnya buka suara
“Yumi, minggu depan, kamu ada acara?”
Yumi berpikir sebentar, “kayaknya enggak, ada apa?” tanyanya
“Dulu kamu bilang kamu pengen banget sepedaan bareng, gimana kalau kita sepedaan bareng hari minggu besok,” ajaknya membuat Yumi kaget
“Serius Rama, bukannya kamu minggu depan ada urusan kerjaan di luar?”
“Emm, aku batalin deh, nggak penting-penting banget kok kerjaannya.”
“Kamu nggak lagi bercanda kan, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”
“Nggak papa sih, cuman pengen menghabiskan waktu aja sama kamu selagi bisa.”
Cup, satu kecupan diberikan Yumi tiba-tiba dan tanpa diduga sebelumnya. Sontak saja pipi Rama memerah terkejut sekaligus senang. “Makasih sayang!” Yumi langsung bergelayut manja di tangan Rama saking senangnya.
….
Kini di depan kamar Rama tertulis wishlist yang ingin ia lakukan bersama Yumi saat ia kembali ke masalalunya. Ada banyak sekali wishlist yang ditulis Rama untuk Yumi. Dulu ia menyadari ia begitu sibuk dengan pekerjaannnya dan urusan sekolah yang membuat jarang menghabiskan waktu bersama.
“Pokoknya gue nggak mau buang-buang kesempatan buat bersama Yumi sekarang!”
Di tengah kesibukannya, ada dering telepon dari Yumi beberapa kali. Rama langsung mengangkatnya. “Iya Yumi!”
“Rama, kamu kemana sih, kamu nggak datang ke rumah sakit sekarang buat nemenin mama kamu.”
“Mama, mama aku kan udah mening—“ Rama tersadar, kalau dirinya kembali ke masalalunya di mana mamanya masih hidup dan saat ini berada di rumah sakit menjalani pengobatan.
“Mama!”
“Iya!”
“Oke, aku ke sana sekarang Yumi!”
“Yaudah aku tunggu!”
Rama langsung mengambil jaket dan kunci motornya, bergegas ia menemui mamanya di rumah sakit. Saat di luar dan hamper menstater motornya, pandangan Rama dikagetkan pada seorang anak kecil yang dulu ia temui bernama Hana. Gadis kecil itu tengah bermain di ayunan seorang diri. Rama mengurungkan niatnya untuk menghampiri gadis kecil itu sebentar.
“Hai Hana!” panggil Rama mengeluarkan permen di saku jaketnya. “Buat kamu!”
Hana mengambil permen itu dengan senang. “terima kasih.”
Rama berjongkok di depan Hana yang masih duduk di ayunan. “Kamu ngapain malam-malam sendirian?”
“Kakak sendiri mau ke mana?”
Rama dengan malu-malu mengutarakan, “mau ketemu pacar kakak sama mama kakak.”
Hana mengulas senyum tipis. Rama masih penasaran tentang anak kecil yang membantunya itu.
“Oh ya Hana, kak Rama boleh nanya sesuatu?”
“Nanya apa?”
“Boleh nggak kak Rama tetap di sini dalam waktu yang lama?”
“Inikan waktu kakak, kenapa Tanya aku?”
“Bintang jatuh, saat kakak memohon pada bintang jatuh waktu itu, keinginan kakak terwujud, kakak bisa kembali bertemu dengan pacar kakak. Jadi boleh nggak kak Rama tetap di sini?”
Anak kecil itu mengangguk, Rama begitu senang. “Tapi kakak nggak bisa merubah takdir yang telah digaris sama yang diatas!”
“Maksud kamu?”
“Jiwa kakak akan dalam bahaya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Hana pergi dan menjadi tanya jawab untuk Rama tentang ucapan anak itu. “Jiwa?”