Canggung

1038 Words
*Ella* Aku menelpon anak buahku untuk menjemputku di pintu belakang. Aku harus pulang karena tidak mungkin aku masuk kembali dalam acara tersebut. Tubuhku lengket bau keringat, rambutku tidak rapi lagi dan terlebih lagi cairan ini terus menetes dari milikku, seberapa banyak yang disemprotkannya, apakah baru ini dia menyalurkan hasratnya kembali setelah sekian lama menduda. "Sudah dimana?" tanyaku lewat ponsel. "Di depan pintu, Madam. " "Baik, aku kesana. " Aku pun melangkahkan kakiku cepat menuju jalan pintas hotel untuk menuju jalan rahasia yang biasanya aku gunakan saat menghindari wartawan yang ingin mewawancaraiku. Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya aku sampai di kediamanku. Aku menghempaskan tubuhku di kasur empukku dengan segala pegal dan perih dibagian bawahku. Bagaimana bisa aku bercinta dengan orang yang baru aku kenal bahkan dia bawahanku, kemana otakku ini, kenapa aku tidak menolaknya. Sentuhannya membuatku lupa akan harga diri sebagai seorang wanita, begitu hausnya kah aku dengan sentuhan dan belaian lelaki maka diriku mudah untuk dikendalikan. Aku melepaskan gaunku dan semua yang melekat ditubuhku menuju kamar mandi yang luas dan berendam di dalam bathtub yang menghadap ke luar pemandangan langit kota London yang telah gelap gulita dengan lampu yang bertebaran di bawah layaknya bintang di langit. Sambil membasuh tanganku dan kakiku lalu mengusap wajahku lembut dengan busa yang menutup tubuhku saat ini dan memikirkan, Apa yang harus aku lakukan dengan chef baru itu besok? Aku ingin marah tetapi aku menikmati sentuhannya, walaupun kasar dan menggebu seakan dia benar-benar menginginkanku, mengingatnya saja tubuhku serasa ingin disentuhnya kembali. Terbesit diotakku, apakah dia bisa aku ajak jadi partner skandalku? Tetapi apakah ada lelaki yang ingin memposisikan dirinya dalam bahaya? Walaupun Louis mungkin tidak perduli tetapi para wartawan akan menyerbunya. Tetapi benarkah Louis tidak akan peduli jika tahu aku berselingkuh? "Naomi bisa kau datang ke hotel dan pantau kondisi makanan dalam pesta itu, laporkan padaku jika pelanggan kita merasa tidak puas dengan pelayanan kita. " "Baik, Madam. " Aku mengirim pesan text kepada sekretarisku untuk mengawasi acara tersebut, dia adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya. ** Sudah seminggu setelah kejadian itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi dan aku pun tidak memecatnya walaupun surat pengunduran dirinya berada diatas mejaku namun aku membuangnya dan menyuruh Naomi memberitahu chef itu agar tetap bekerja. Lagi pula acara kemarin itu sukses besar karena para tamu menikmati semua makanan dan minuman yang disajikan. Walaupun diakui mereka kekurangan sushi namun mereka salut karena sushi itu sangat enak hingga mereka makan tak terkira. Baru kali ini prediksiku salah, kupikir orang pasti kecewa dan marah terhadapnya karena sushi itu tetapi mereka sangat memujinya. Berarti dia chef yang terbaik mampu meluluhkan hati pelanggan dengan cipta rasa. "Madam, rapat hari ini pukul 9 dan mereka telah berkumpul semua di ruangan. " "Baiklah, aku kesana sekarang. " Aku memasuki ruangan rapat yang telah terbuka untuk menyambutku, dan kulihat semua kursi dihadapanku sudah penuh diisi oleh beberapa manager serta kepala divisi masing-masing termasuk kepala chef. Pria itu yang memakai baju putih kebesarannya terlihat tampan dihadapanku walaupun sangat jauh. Asisten manajer mulai membuka rapat dengan mempresentasikan perkembangan hotel lewat layar infokus ke arah samping, aku mendengarkannya secara seksama mengenai kepuasan layanan hotel dan kenyamanan tamu dari segi kamar, makanan, dan fasilitas lainnya. Dari segi makanan mereka mengarahkan pada kepala chef itu untuk menjelaskan apa saja yang akan dikembangkan selanjutnya. Tiba-tiba jantungku berdebar kencang mendengar namanya disebut dan aku berusaha tenang saat melihatnya yang jauh dihadapanku tetapi walaupun jauh wajah tampannya masih bisa terlihat jelas. Tampan, hmm -- yah, tampan dan b*******h aku mengingat itu selalu. Aku menarik napas dalam-dalam dan kulihat dia pun sedikit ragu untuk berbicara, apakah yang dia rasakan sama dengan yang aku rasa saat ini. Akhirnya dia membuka suara, "Eghm, saya kepala dapur yang meskipun baru tetapi saat melihat banyaknya pesanan yang keluar dari dapur melebihi target sebelumnya, yang saya tahu dari laporan bulan lalu, " ucapnya sambil memegang kertas yang dibacanya. "Bagus, " jawabku. "Tetapi, " ucapnya menggantung saat mata kami saling bertemu dan terdiam sekitar 5 detik kemudian, "Banyak menu baru yang saya ingin ciptakan, apakah boleh langsung dipromosikan, " ucapnya lagi secara formal. "Jika ada, silahkan promosi dan berkreasilah terus dengan berbagai macam menu buat pelanggan ketagihan bahkan kalau bisa menarik pelanggan baru agar ingin mencoba menu baru tersebut, " ucapku secara profesional. "Baik, Madam," jawabnya tegas. Setelah beberapa orang melaporkan hasil kinerja bulan ini, rapat pun selesai dan aku kembali ke ruanganku untuk memenuhi semua tanggung jawabku dan belum lagi aku harus mendatangi beberapa hotel yang lain dan mereka juga sedang menungguku. "Siapkan mobil, aku harus pergi ke hotel cabang 2," perintahku pada asistenku. "Baik, Madam. " ** *Keaton* Akhirnya rapat ini selesai setelah susah payah aku mempresentasikan hasil kerja kerasku selama seminggu, walaupun baru seminggu tetapi pencapaian hotel ini mengenai makanan sangat luar biasa mereka menyukai masakkanku. Aku merasa bangga bulan ini melebihi target karena aku baru masuk minggu ke 3 bulan ini. Tatapan matanya itu saat memandangku, membuat hatiku bergetar, ingin sekali aku melompat dan menerkamnya lalu melumat bibirnya yang mungil itu. Aku sangat menginginkannya walaupun hanya sekali kami melakukannya, jujur dalam seminggu ini kejadian itu selalu melintas dibenakku. Aku berusaha untuk melupakannya dan menghapus bayangnya dan kulampiaskan kepada Lucy semua yang kuinginkan darinya tetapi, tidak bisa bahkan aku tidak tertarik lagi pada Lucy. Ya tuhan ... aku menginginkan sebuah berlian yang sulit untuk aku gapai, dia tidak memecatku meski surat pengunduran diriku sudah berada di mejanya dan Naomi sekretarisnya memberitahu bahwa dia masih menginginkan aku untuk bekerja. Kau membuatku semakin tersiksa Madam, saat melihatmu aku ingin sekali berlari dan memelukmu erat. Itu semua hanya khayalan, aku sadar siapa aku dan siapa kau. Derajat sosial membatasi kita. Tetapi jika ada kesempatan aku tidak akan melewatkannya. Semoga .... *** *Ella* Pukul 5 sore Setelah berkeliling ke 5 cabang hotel dan memeriksa beberapa restoran milikku, aku pulang dan merasa letih belum lagi menahan perasaan dihadapan Chef itu. Ya tuhan ada apa dengan hati ini, kenapa aku menginginkan dia menyentuhku lagi bahkan menginginkan ciumannya yang hot itu. Perjalanan yang panjang dan sedikit macet ini menjadi cepat dari perkiraanku karena banyak hal yang aku pikirkan. Saat tiba di kediamanku, mobil besar yang biasanya hanya hinggap sementara itu telah terparkir di garasi. "Tumben, biasanya 2 sampai 3 minggu dan ini baru seminggu dia sudah pulang, " gumamku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD