*ELLA*
Mobilku sudah meluncur cepat di jalanan kota London. Semilir angin terasa menusuk kulitku karena aku membuka jendela sedikit.
Aku melihat supirku yang matanya melirik diriku sesekali. Belum apa-apa aku sudah punya pengagum pikirku.
Sesuai dengan dugaan, para pemburu berita telah berkumpul di depan hotel untuk mewawancarai dan berfoto dengan para pengusaha terkenal.
Saat aku turun dan baru melangkahkan kakiku ... blitz lampu kamera semua menuju ke arahku bahkan para pengusaha yang berada di depanku pun menoleh ke belakang, dengan berat hati aku menyunggingkan senyum pada mereka dan melewati mereka dengan anggun.
Aku juga mendengar gunjingan para wartawan. Wajar saja karena penampilanku kali ini ibarat bumi dan langit. Aku yang selalu menggunakan pakaian yang sopan walaupun kadang sedikit ketat dan make up juga tidak berlebihan, namun hari ini aku menggunakan lipstik merah menyala seperti gaunku.
"Bukankah itu Radella Jackwell. "
"Oh, iya -- wah -- kali ini sungguh menawan dan seksi -- ah -- so hot. "
"Iya, -- iya bahkan lebih cantik dari Sarah, kekasih suaminya itu. "
"Wah -- kalau dia seperti ini pasti suaminya akan melepaskan Sarah. "
Apa iya, haruskah aku berdandan seperti ini untuk menarik simpatinya, kurang ajar kalian semua -- hanya gosip dan gosip yang kalian tebarkan, gerutuku dalam hati.
Aku masuk ke dalam hotel ternyata bukan hanya para wartawan tetapi anak buahku semua dengan ekspresi wajah terkejut melihat penampilanku.
Ketika aku memasuki ruangan, aku disambut hangat oleh para tamu yang hampir memenuhi ruangan dan sambil mencicipi hidangan pembuka.
Banyak para pria berusaha mendekatiku namun aku berusaha menghindar dengan terus berjalan untuk memantau makanan yang tersaji, apakah menu pembuka tercukupi.
Langkahku terhenti saat melihat 2 meja dengan bagian yang kosong. Dan orang-orang bertanya dimana makanannya. Sontak aku terkejut mendengarnya dan langsung mendatangi pelayan yang menyajikan makanan di meja lain.
"Kenapa meja disana kosong tidak diisi?" ucapku sambil menunjuk arah meja tersebut, yang isinya sisa sedikit, penuh jarak.
"Stok habis, Madam, bagian yang disana banyak yang memakannya sedangkan yang disini mereka belum menyentuhnya, " ucapnya sambil menunduk.
"Bagaimana bisa habis, restock -- " ucapku tegas tetapi pelan.
"Bahan-bahannya habis stok, Madam, " ucap salah satu pelayan lainnya.
"Acara belum dimulai bahkan para tamu masih ramai diluar bagaimana kalian mengatur ini, " ucapku sedikit emosi tetapi masih terkendali.
Si pelayan hanya bisa diam karena dia tidak tahu persis bagaimana chef-nya bekerja.
Aku masih saja memperhatikan meja hidangan dan saat beberapa wanita mengajakku berbincang aku sedikit kurang konsentrasi karena pelayanan hotelku lebih penting.
"Sushi ditempatmu enak sekali Ella, kami ketagihan dan terus memakannya, " ucap mereka bergantian memuji sambil memakan sushi itu.
"Oh, iya -- silahkan dinikmati tetapi jangan sampai kenyang karena makanan utama dan penutup tak kalah enaknya, " ucapku untuk meng-cover kegilaan makan mereka.
"Oh, ya -- wahh -- aku tidak sabar lagi, " ucap salah satu diantara mereka.
Saat aku melihat meja yang penuh sushi itu diserbu oleh para tamu yang belum merasa, aku semakin takut -- takut tidak terpenuhi untuk tamu semuanya.
"Mau kemana Ella, " cegah salah satu dari mereka saat aku membalikkan badan tiba-tiba.
"Ehmmm, aku ingin mengecek makanan yang kalian suka itu. Semoga stoknya tercukupi dan selamat menikmati, " jawabku untuk menutupi kegundahan dalam hatiku.
"Ok, Ella terima kasih telah memanjakan lidah kami, " ucap mereka padaku dengan senyum yang tulus.
Aku berjalan cepat menuju dapur, disana kulihat mereka semua kebingungan dengan laporan para pelayanan dan aku pun menuju sasaran yang bertanggung jawab.
Aku mendatanginya dan aku lihat dia pun sibuk dengan apa yang dipegangnya saat ini.
"Chef Keaton,3 meja kosong dan apa solusinya, " teriakku saat melihatnya dan membuatnya terhenti melakukan aktivitas lalu menatapku tenang seolah tidak ada masalah.
"Maaf, Madam bahan-bahannya habis, sebenarnya kami juga membuat lebih tetapi mereka mengambil porsi lebih dari perkiraan kami, " ucapnya sopan dan menghentikan kesibukannya yang sedang menata makanan diatas piring.
"Kita tidak bisa menahan tamu untuk makan, ini bukan restoran yang dipesan sesuai dengan permintaan, tetapi ini kesempatan kita membuat dalam jumlah banyak karena mereka tidak pesan dalam porsi namun pesan sesuai dengan kebutuhan tamu, " ucapku sedikit emosi.
"Iya, Madam saya tahu tetapi bahan-bahan pendukung tidak ada di pasar, " jawabnya masih sopan dan tenang.
"Kau tahu Keaton, ini adalah masalah kepuasan terhadap konsumen, harusnya kau cepat berpikir saat 1 meja kosong dan langsung bertindak -- namun apa ini -- kau tidak bisa mengatasi kekurangan itu, jangan samakan karakter pribadimu dengan dirimu saat menjadi Chef untuk kepuasan pelanggan, " ucapku tanpa berpikir lagi karena emosiku masih labil.
"Maaf, apa maksud Anda, " tanyanya dengan ekspresi alis yang saling bertautan dan wajah yang tegang.
"Kalian semua keluar, matikan semua api dan tinggalkan dapur ini sementara kecuali kau--" ucapku sambil menatap ke arahnya, Kepala Chef yang bertanggung jawab ini.
Saat semua sudah keluar, aku mulai melanjutkan kata-kataku yang sebenarnya itu tidak pantas untuk dikatakan tetapi entahlah kenapa mulutku berkata seperti ini.
"Apa perlu ku ulangi lagi bahwa kepuasan konsumen adalah penting dalam bisnis jika tidak mereka akan pergi dan mungkin istrimu tidak puas dengan servismu makanya dia pun meninggalkanmu," ucapku sinis.
Dia mengernyit, "Apa? Maaf, bagaimana bisa orang berpendidikan tinggi dan terhormat seperti anda berkata demikian, " ucapnya sambil membersihkan tangan dengan serbet yang ada d iatas meja itu setelah itu berjalan menghampiriku.
"Untuk menganalisa seperti itu bukankah tidak perlu pendidikan tinggi, " ucapku dan hendak berbalik arah karena kupikir aku sudah keterlaluan dan tidak ingin lagi menambah kalimat kasar lainnya namun,
"Tunggu,” cerahnya dan aku terhenti, berbalik arah menatapnya yang kini sudah berada tepat di depanku.
“Maksudmu aku tidak bisa memuaskan wanita, begitu?" tanyanya dengan nada sedikit meninggi, dan tatapan sinis, aku diam hanya menatapnya dan menggedikkan bahu ke atas dengan angkuh.
"Maybe, sudahlah atasi semua ini atau --" ucapku dan terhenti karena dipotongnya,
"Atau kau ingin mencobanya, setelah itu bandingkan dengan servis suamimu, " ucapnya dengan bibir yang tersungging sedikit ke atas.
Aku terkejut mendengar ucapannya namun hatiku seakan ingin menantang ucapannya yang seperti meremehkan aku. Aku semakin mendekatkan diri ke arahnya dengan tangan berkacak di pinggang.
"Aghhh, umurku 30 th dan kau 28 tahun, apa yang bisa kau puaskan dari senior sepertiku," ucapku sambil mendekatkan wajah ke hadapannya yang hanya berjarak beberapa centimeter bahkan hembusan napasnya bisa kurasakan karena bibir kami pun sangat dekat hampir tersentuh dan kulihat matanya terus menatap bibirku, lalu... tanpa aba-aba, tangannya yang besar meraih tengkukku dan langsung melumat bibirku penuh nafsu hingga aku termundur ke belakang karena menyeimbanginya.
Perlahan aku menikmati ciuman panas itu, aku pikir aku menyukainya. Aku pun membalas ciuman itu sambil bermain lidah bersamanya menunjukkan padanya bahwa aku lebih pandai darinya.
Namun tanpa aku sangka tangannya ikut serta aktif menjelajahi tubuhku, menyusup ke dalam gaunku meremas bagian belakangku kuat hingga aku ingin berteriak namun tercegah, karena bibirnya yang terus menekan bibirku membuatku terdiam.
Setelah itu tangannya yang satu mulai menyusup ke bagian d**a yang tidak terbungkus bra lalu meremasnya perlahan, memainkan tonjolan kecil yang ada disana hingga aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari suamiku, yaitu gairah.
Karena suamiku tidak pernah melakukan hal seperti itu dan dia hanya langsung ke intinya, apa yang dia mau.
Rasa nikmat yang bergelora membuatku membusungkan d**a dengan mata terpejam dan tidak hanya sampai disitu, dia mulai berani menjelajahi area kewanitaanku dan mengesampingkan dalamanku tanpa membukanya.
"Aghhh --" desahan itu lolos dari bibirku saat jarinya menerobos masuk dan memutar di dalamnya, kemudian Aku merasakan nikmat yang tiada tara, yang membuatku terlonjak dan dia membungkam mulutku lagi yang ingin berteriak dengan tight kiss-nya.
Saat batang keras miliknya menghujam paksa masuk ke dalam milikku yang mungkin kecil baginya. Dia memompa dengan keras dan tak perduli dengan cengkeraman kuat tanganku dibahunya dan tubuhku pun semakin mendamba, mendamba menuju pelepasan.
Karena miliknya lebih besar dari suamiku maka rasa perih sisa semalam masih belum hilang dan ditambah lagi desakkan benda tumpul besar ini membuatku benar-benar kacau. Aku merasakan nikmat serta nyeri bersamaan.
***
*Keaton*
Hujaman demi hujaman terus aku lakukan, bahkan disela-sela aksi itu.kami terus saja mencaci dan menyudutkan satu sama lain walaupun merasakan kenikmatan bersama.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat menikmatinya karena tubuhnya menerima semua sentuhan yang kuberikan walaupun bibirnya berkata tidak. Tatapan matanya penuh gairah yang besar.
Dari tadi siang aku sudah menahan nafsuku padamu Madam dan sekarang aku setengah tak percaya bahwa aku benar-benar menjamahmu.
"Aghhh, mmm -- aghh -- s**t!!!kau berani berbuat ini kepadaku, mmmmmhhhh--"
Sambil melotot tajam padaku dia berusaha mengintimidasiku beserta dengan erangan, dia mencoba untuk mengendalikan dirinya namun aku tahu, dia tidak bisa.
"Karena kau yang memancingku untuk melakukannya!" jawabku dengan tatapan sinis padanya dan semakin mendesak ke dalam hingga aku merasakan batasnya, dia ingin berteriak tapi sku bungkam lagi dengan ciuman, sakit -- mungkin, tapi entah kenapa diri ini semakin liar untuk menyentuhnya.
"Breng -- sek kau!!! eghhhh--" umpatnya sambil memejamkan mata tapi cengkraman kukunya yang tajam ini menembus baju putih yang tebal ini mengenai kulitku.
"Bisa kau tarik omonganmu tadi Nyonya-- hmmm--" ucapku tertahan karena aku sudah hampir menuju pelepasan.
Sesekali dia mendesah, mengerang sedikit karena aku mengecup dan menjilati leher hingga telinganya yang merupakan titik sensitif wanita. Dan aku merasa tidak puas menikmati tubuhnya, seakan tak ingin berhenti tetapi harus segera dihentikan.
"I wanna out -- inside or outside. "
"Up to you, ahgh--" ucapnya pasrah dan mendesah pelan saat pelepasan itu.
Semburan lahar putih yang hangat milikku membanjiri rahimnya.
Dia merasa lemas namun berusaha menampilkan wajah angkuh kesalnya dihadapanku demikian juga aku yang tak bergeming menatapnya.Aku turunkan kakinya yang melingkari pinggangku dan dia sedikit terhuyung.
"Kau -- " ucapnya dengan napas yang masih tersengal, matanya menatap tajam ke arahku tapi itu malah terlihat seksi, anak rambutnya yang basah, lehernya juga yang mengkilap karena keringat dan wajahnya yang merona karena hangat penyatuan kami.
Iris matanya yang biru terang itu semakin berbinar, semakin marah malah semakin terlihat menawan.
Dengan keberanian yang tinggi aku mempertaruhkan harga diriku, "Pecat aku jika kau mau dan bla --bla -- bla."
Aku sebenarnya belum puas, malah ini memancingku untuk berfantasi liar lebih dari ini. Aku menginginkan tubuhnya mati rasa dibawahku. Aku ingin dia terus menyebutkan namaku di bibir mungil dan manisnya itu.
Aku ingin merasakan lubang kenikmatan itu dengan lidahku, mencecap rasa dan ingin menghirup aromanya disana, aku ingin dia merasakan betapa liarnya aku saat di ranjang. Aku akan membuatnya kecanduan akan sentuhanku.
Radella
Kau pasti akan terus membayangi hidupku karena aku masih ingin menyentuhmu.
Dia pergi setelah pergumulan ini selesai, membenarkan bajunya yang tersingkap dan berlalu dari hadapanku tanpa perduli kata-kata yang keluar dari mulutku.
Dia berjalan tertatih mungkin merasakan perih diselangkangannya walaupun durasi ini hanya sekitar beberapa menit namun aku sengaja memasukinya dengan keras dan cepat, memburu, mungkin asing baginya yang terbiasa dengan durasi lambat.
Wanita ini sangat memancing emosiku dengan mengungkit masalah sensitif didepanku. Dia tidak tahu bahwa dari tadi siang aku sudah menahan nafsuku dan malam ini, bisa-bisanya dia meremehkanku.
Jujur saja aku tidak pernah bermain kasar seperti tadi dengan para wanitaku terdahulu baik itu mantan istriku ataupun kekasihku.
Padahal aku sudah melakukannya dengan kekasihku tadi pagi selama 3 ronde dan kenapa aku merasa dengannya belum puas dan ingin menariknya lagi dalam pelukkanku.
Ya tuhan, dia bosku -- apa yang telah aku lakukan.
Suaminya pasti akan menyerangku dan aku harus bersiap angkat kaki dari hotel ini. Aku pria setia terhadap pasangan tetapi baru ini aku berkhianat dari Lucy, bahkan aku selalu memakai pengaman saat melakukan dengannya tetapi yang ini tanpa rencana. Semoga tidak bermasalah.
Penghuni dapur yang diluar tadi mulai masuk ke area dapur dan memandangku dengan penuh tanda tanya, aku tahu yang dipikirkan mereka tetapi aku harus profesional menghadapinya.
"Bagaimana sushinya, apakah sudah habis?" tanyaku mengalihkan tatapan mereka yang curiga padaku.
"Sudah bersih Chef dan kami hanya menyajikan coctail sesuai perintah Anda. "
“Bagus dan siapkan menu utama, beserta penutupnya. "
"Siap Chef. "
Aku berjalan menuju toilet dapur untuk membersihkan diri, dan asistenku berjalan mendekatiku.
"Kau hebat Chef, bisa mendapatkannya, " ucapnya sambil menepuk bahuku.
"Apa maksudmu?" tanyaku sambil menaikkan alis sebelah pura-pura tidak tahu.
"Kami semua mendengar erangan itu walaupun samar dan kulihat penampilannya sedikit berubah walaupun dia masih terkesan anggun dan bla -- bla -- bla -- " ucapnya panjang lebar.
Aku diam saja mendengarkan ocehan asistenku itu dan yang membuat aku terkejut bahwa dia bilang suaminya selingkuh. Dan secara tidak langsung dia juga selingkuh denganku atau aku yang memperkosanya.
"Apa dia sudah punya anak?" tanyaku.
"Bagaimana mau punya anak kalau bos tiap bulan bepergian dan hanya 2/3 hari di sini," ucapnya meyakinkan.
"Ohhh, begitu -- ya sudah lanjutkan pekerjaanmu. "
"Baik Chef, kau beruntung --- aku iri padamu, " ucapnya sambil menepuk bahuku lagi dan aku hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Wanita yang banyak dikagumi pria tetapi suaminya tidak memperdulikannya, ironis sekali. Apa lelaki itu buta tidak bisa melihat kecantikkan istrinya. Saat aku akan keluar dari toilet, secarik koran tergeletak di kakiku dan aku pun mengambilnya, aku lihat headline-nya.
LOUIS HOWIE JACKWELL akan segera menceraikan istrinya demi kekasihnya SARAH BAVERLY model Victoria Secret itu.
Inikah suaminya, kasihan dia pantas saja miliknya masih terlalu sempit bagiku. Bodoh sekali lelaki ini.