Aku fikir jika semuanya adalah mimpi. Tapi, sampai pagi ini aku makan bersama dengan Arzan lagi. Kali ini Arzan bahkan bertanya dengan ramah soal tidurku. Sepertinya Arzan tidak seburuk yang aku fikir.
Rencana selanjutnya, aku mengatakan ke Arzan untuk liburan berdua sebagai merayakan hubungan membaik kita. Dengan begitu aku dan dia tidak perlu bertemu si Aileen mahkluk jadi-jadian itu.
“Memangnya, mau liburan kemana?”
“Bagaimana dengan kota Estia?” tanyaku.
Kota Estia adalah surganya buah dan bunga. Kota itu dibawah kepemimpinan Duke Kavel Eugune Morigan.
“Baiklah.”
“Kalau begitu, apa kita bisa pergi besok dan kembali setelah 10 hari?” tanyaku antusias.
“Aku ingin sekali, tapi ada perintah agar seluruh rakyat kekaisaran datang ke pesta penyambutan Saintess. Karena itu, jika kita tidak datang, Kaisar akan tersinggung. Kita bisa pergi sekarang dan kembali sebelum pesta. Atau jika kamu mau bersabar sedikit. Kita berangkat setelah pesta dan menginap disana sampai kamu mau pulang.”
“Jadi tidak mungkin kalau kita tidak datang?” tanyaku memastikan.
“Tidak.” jawabnya.
“Kalau begitu, kakak mau pergi bersamaku?”
Wajah Arzan memersh. “Tentu saja Vesia.” jawabnya dengan tersenyum.
Aku merinding, kurasa tak hanya aku. Bahkan para pelayan juga. Arzan, seorang Arzan tersenyum. Dia dijuluki tiran bukan tanpa sebab. Bahkan katanya di novel, Arzan hanya tersenyum di hadapan Aileen.
Didalam novel, Arzan akan datang sendirian alih-alih bersama Duchess Ivona tunangannya. Sementara Vesia, entah aku tidak tau. Hal itu tidak dijelaskan di dalam Novel. Aku lalu pergi bersama Kepala Pelayan untuk menyiapkan setelan untukku dan kakakku untuk pesta nanti. Karena kita baru saja memutuskan menjadi pasangan. Tentu saja, kita harus memiliki baju yang sama.
Vesia sendiri sepanjang hidupnya hanya mengenakan gaun bewarna merah atau hitam. Sama seperti kakaknya dia punya wajah yang dingin dan jahat. Tapi sangat menawan seperti kakaknya. Karena hal tersebut ia sering sekali di kira memiliki sifat seperti kakaknya. Jika aku lihat kembali wajah ini memang terlihat sangat kejam.
Karena aku tidak bisa menghindari pertemuan antara Arzan dan Aileen. Aku harus mempersiapkan rencana B. Jika Arzan melihat Aileen, Dia akan terpesona dengan kecantikannya. Aileen punya rambut bewarna Putih ungu keperakan dengan warna mata yang senada. Dia dijuluki Malaikat jatuh. Oleh karena itu, ketika kakak tiranku berhasil terpikat olehnya. Akan susah bagiku untuk mendekatinya. Jika hal tersebut terjadi aku harus secepatnya pergi dari kediaman ini dan menghindari takdirku.
Meski nantinya aku dapat mengubah takdirku dengan tidak menikah dengan orang mata keranjang itu, Tapi aku tidak akan terlepas dari dendam Duke Kavel. Karena aku Vesia De Scarlet dia pasti akan mengejarku juga untuk membunuhku. Tentu saja tidak boleh. Aku harus segera pergi dari sini. Tak peduli meski harus hidup di pelosok, aku lebih baik hidup disana daripada disini. Tentu saja aku juga harus membawa banyak uang untuk memenuhi kebutuhanku.
Bagaimana dengan Ivona? Aku juga harus menghindari wanita itu. Ivona tak jauh beda dengan Aileen. Dia memanfaatkan rasa benci Vesia dan menghasutnya untuk menyiksa Aileen. Sehingga ia akhirnya dihukum dengan dijual kepada Count.
“Olivia, ambilkan aku kertas dan alat tulis.” perintahku.
Olivia segera mengambilnya. Aku lalu mulai memikirkan dana yang aku butuhkan untuk hidup.
“Berapa banyak yang dibutuhkan oleh seorang rakyat biasa untuk hidup sehari-hari?”
“Itu tergantung makanannya nona.” kata Olivia.
“Kalau makanan seperti yang aku makan?”
“Itu tidak mungkin nona. Tidak ada rakyat biasa yang makan makanan bangsawan.” jawab Olivia.
“Makanan enak, seperti daging buah dan uang jajan untuk beli baju atau minum bir, berapa?”
“2 koin perak.”
“1 koin emas, berapa perak?”
“10 koin perak.”
Aku lalu menghitungnya dengan menggunakan 2 koin emas setiap harinya. Jika aku hidup selama seratus tahun, maka aku akan menghabiskan 73 ribu koin emas.
“Berapa anggaranku dalam sebulan?”
“20 ribu koin emas nona.” jawab Olivia.
“Olivia, apa aku punya aset?” tanyaku lagi.
“Jika yang nona maksud aset adalah perhiasan dan gaun mahal, nona memilikinya banyak.”
“Kalau aku menjual seluruh perhiasanku aku akan mendapat berapa?”
“Mungkin sekitar, seratus juta koin emas.”
Aku takjub mendengarnya. Sepertinya aku tidak perlu pusing memikirkan tabungan masa tuaku. Tapi tetap saja aku harus menambahnya.
Dikehidupan sebelumnya, Olivia adalah pelayanan kepercayaan Vesia. Dia menyayangi Vesia bak adik kandungnya sendiri dan diam-diam menaruh hati terhadap kakaknya Arzan. Mengetahui bahwa nonanya mati didepan tuan yang selama ini dicintainya, ia berniat membunuh Aileen dengan racun tapi malah ketahuan oleh Arzan yang akhirnya ia malah dibunuh oleh Arzan. Bukannya marah, Olivia malah berterimakasih dengan Arzan dan meminta maaf kepada laki-laki itu karena tidak bisa melepaskannya dari jeratan Ular. Olivia memiliki rambut pirang dan mata biru yang teduh.
Aku bangun lalu memilih beberapa gaun yang tidak aku sukai untuk di jual. Aku ingat, Vesia yang asli membeli mahal gaun-gaun ini. Dan akibatnya aku mengeluarkan seluruh gaun koleksiku. Akan lebih baik aku membuat gaun baru dengan model baju keinginanku. Aku tidak ingin tersiksa dengan korset-korset sialan itu.
“Olivia, jual seluruh gaun itu dan dapatkan koin emas secepatnya!”
“Apa?? Tapi, baik nona.” katanya yang kemudian pergi ditemani beberapa pelayanan lain.
***
“Vesia, katanya kamu menjual seluruh gaunmu ya?” tanya Arzan ketika mereka makan bersama.
“Iya. Rencananya aku mau membuat gaun baru dengan uang itu.”
Arzan menatapku penasaran dan tidak bertanya lebih lanjut.
“Ah ya, besok aku akan jalan-jalan keluar. Kalau kakak tidak sibuk mau makan siang bersamaku?” tanyaku dengan tersenyum.
Arzan menganguk.
***
Arzan memanggil Olivia, dan bertanya kepada pelayan itu apa yang terjadi dengan Vesia adiknya. Adiknya yang sangat membencinya tiba-tiba bersikap sangat baik seolah mereka tidak memiliki masalah sebelumnya. Tak hanya itu, Vesia yang sangat angkuh itu menundukan kepalanya didepannya dan meminta maaf. Hal yang Arzan yakini bahwa dunia ini akan segera kiamat jika adiknya melakukan hal tersebut.
“Apa Duke tidak menyukainya?” tanya Olivia lembut.
“Semua itu terlalu tiba-tiba. Apa tidak ada yang mencurigakan lainnya?”
“Uhm, tidak ada. Tapi, nona mulai menghitung pengeluarannya.”
“Hah??”
Kaget. Itu yang dirasakan Arzan. Seorang Vesia menghitung pengeluarannya dan bukannya malah menghabiskan anggaranya seperti air? Sepertinya dunia memang akan segera kiamat. Kenapa orang tersebut bisa berubah hanya dalam empat hari.
“Saya mengerti apa yang tuan kagetkan. Saya juga begitu.”
“Awasi Vesia.” perintah Arzan.
Keesokannya, Arzan di buat terkejut kembali dengan penampilan Vesia ketika mereka hendak makan bersama. Alih-alih memakai gaun mewah, Vesia hanya memakai baju formal biasa saja yang bernuansa hitam. Kemeja di padukan dengan rok. Dia mengikat rapi rambutnya dan memakai Cocktail Hats warna hitam dengan hiasan jaring yang menutup sebagian Wajahnya.
Selesai makan, mereka pergi dengan tujuannya masing-masing. Meski sampai di istana, rasa syok itu masih terbawa. Arzan tidak mengerti. Bahkan ia merasa Vesia bukan adik yang ia kenal. Tapi, ia masih sadar bahwa itu adiknya. Itu Vesia saudarinya. Ia masih tidak menemukan alasan yang jelas kenapa Vesia tiba-tiba berubah.
“Arzan, apa yang kau pikirkan?” tanya Arlo tangan kanannya.
Arzan diam dan hanya mendengus.
“Apa ini karena Lady Vesia?”
“Kau tau?” tanya Arzan penasaran.
“Tentu saja, semua pelayanan di kediamanmu kan menggosipkan hubungan baikmu dan Vesia yang mendadak.”
“Mereka berkata bahwa kau pasti mengancam Lady yang manja itu dengan sadis sehingga Lady Vesia sangat menurut padamu.”
Arzan hanya tersenyum mengejek.
“Tentu saja aku tidak mempercayainya. Aku pikir ada dua alasan kemungkinan dia melakukan hal tersebut.”
“Apa itu?”
“Dia dihasut pengikut kalian dan dia sedang sakit parah.”
“Apa maksudmu dia sedang sakit parah?”
“Kau tidak pernah mendengar pepatah kalau orang cenderung berubah kalau dia akan mati?”
“Itu tidak mungkin. Vesia tidak sakit.” kata Erzan dengan raut wajah yang sedikit melunak. Tapi, sebelum Vesia bersikap baik Vesia mengalami pingsan selama dua hari dan tiba-tiba jatuh sakit. Jangan-jangan yang dikatakan Arlo benar. Adiknya sedang sekarat.
“Yang mulia, mari pergi ke ruang rapat sebelum menuju ruang latihan.” kata Arlo.
***
Dengan bantuan Olivia, Vesia dapat dengan mudah bertemu dengan Penjahit yang terkenal dikalangan bawah. Vesia mendatangi tokonya dan melihat jahitan baju tersebut secara langsung dan membedakan jahitan gaun-gaun sisa miliknya itu. Jahitannya sangat rapi dan bagus. Model bajunya juga tidak terlalu buruk. Vesia lalu menyuruh penjahit itu mendesign baju seperti intruksinya.
Dikehidupan sebelumnya, Vesia sering menjahit baju dengan membeli kain sendiri. Tentu saja, karena itu ia sedikit mengerti tentang design baju yang ia inginkan.
Penjahit itu terkejut dengan permintaan Vesia. Dan design baju yang benar-benar baru. Tidak ada korset maupun tidak berlapis seperti gaun bangsawan pada umumnya. Terlebih Vesia mengenalkan istilah baru yaitu resleting.
Tentu saja, karena resleting tidak ada di dunia ini Vesia harus membuatnya. Ia dengan bersama penjahit itu pergi ke pandai logam milik keluarga Scarlet. Kedatangan Scarlet membuat seluruh orang disana terkejut. Scarlet menyuruh mereka santai. Ia lalu meminta untuk dibuatkan resleting dengan desain yang dibawakan. Ia mau dibuatkan dengan logam yang bisa dijahitkan kedalam kain. Tentu saja, siapa yang bisa membuatnya, Vesia akan memberikannya hadiah dan kenaikan pangkat. Ia mau resletingnya jadi hanya dalam waktu tiga hari. Jika tidak, Vesia akan menghukumnya.
Tentu saja mereka tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Ia lalu menyuruh penjahit itu, untuk pergi ke kediamannya besok.
Melihat cuaca yang terik, Vesia lalu berpamitan untuk pergi ke istana menjemput kakaknya.
Sampai di istana seluruh orang disana menatapnya sangat penasaran dan terkejut. Bagaimana tidak, seluruh orang mengenal Vesia De Scarlet. Adik dari seorang tiran yang sangat manja dari kediaman Scarlet. Manja disini artinya, Vesia selalu menyelesaikan masalahnya menggunakan uang dan selalu menghabiskan uangnya bak air mengalir. Mereka penasaran kenapa Vesia datang ke istana. Padahal, Vesia dan Duke Scatlet memiliki hubungan yang sangat buruk dan sudah terkenal di penjuru kekaisaran.
Vesia bertanya dimana kakaknya berada. Seorang pengawal dari istana kekaisaran menunjukan tempat latihan berada. Di istana ini ada tiga Ksatria. Ksatria pertama adalah Ksatria milik Kerajaan yang dipimpin oleh Raja, Putra Mahkota, dan para pangeran. Ksatria itu melindungi kerajaan dan kekaisaran. Ksatria kedua adalah, Ksatria Mawar Merah dari kediaman Scarlet. Nama itu sendiri diambil karena Scarlet memiliki lambang keluarga Mawar. Ksatria ini adalah Ksatria yang bertugas untuk menyerang dan memperluas wilayah kekuasaan kekaisaran. Julukan Arzan De' Scarlet sendiri adalah Anjing dari Neraka milik Yang Mulia Kaisar. Sementara Ksatria selanjutnya adalah Ksatria Elang hitam milik Duke Kavel Eugune Morigan. Ksatria ini yang menjaga perbatasan bersama pasukan dari keluarga bangsawan lain. Julukan Duke Kavel sendiri adalah Pahlawan.
Vesia dibuat merasa aneh. Kenapa Duke Kavel bisa mendapat julukan seorang Pahlawan. Ah ya, ia lupa. Ada satu lagi keluarga Duke. Mereka ada dibagian Selatan kekaisaran. Meski gelarnya adalah Duke, bisa dikatakan mereka adalah keluarga yang sangat miskin karena banyaknya moster dan tandusnya tanah tersebut. Vesia sendiri tidak tau siapa pemimpin keluarga tersebut. Hal ini dikarenakan keluarga itu tidak pernah di singgung didalam novel. Dan tubuh yang digunakan Vesia mengingatnya dikarenakan hal tersebut adalah pelajaran dasar seorang bangsawan.
Vesia terkejut karena banyaknya para Ksatria disini. Beberapa ia tak asing melihatnya, dan sebagian besar ia sangat asing melihatnya. Suara sorakan terdengar sangat meriah. Bahkan kehadiran Vesia tidak terlihat karena banyaknya Ksatria yang sedang bersorak.
“Ini ada apa?”
“Sebenarnya ini latihan bulanan. Setiap bulan setiap kelompok akan bertanding bersama untuk mengukur kemampuan.” jawab pengawal itu.
Vesia melihat kakaknya ada diatas panggung bersama seseorang orang tua yang memegang pedang.
“Sepertinya Duke Scarlet sedang latihan tanding dengan Marquess Forcas.” kata Pengawal tersebut.
Vesia menganguk. Ia menatap kakaknya. Yang sedang bertanding.
“Lady Vesia.”
Vesia menoleh ketika ada seseorang yang memanggilnya. Sepertinya, tak hanya ia saja yang menoleh tapi seluruh pasukan yang ada disana menoleh melihat ke arah Vesia dan menyebutkannya. Bahkan Duke Arzan juga ikut berbalik dan menatap Vesia saudarinya yang tampak sangat kelelahan.
“Vesia.” panggil Arzan.
Vesia tersenyum ramah. Dan hal tersebut membuat seluruh pasukan disana terkejut. Wajah dinginnya tak lagi nampak dingin dengan senyum itu.
Tanpa Arzan sadari Marquess Forcas menyerangnya, untungnya reflek Arzan bagus. Tapi sayangnya jika itu medan perang Arzan pasti terluka sangat parah. Untuk pertama kalinya Arzan kalah dalam acara latihan persahabatan.
Arzan mengambil pedangnya dan mengabaikan Marquess Forcas. Ia lebih memilih mendekati Vesia adiknya.
“Kenapa kau membawa adikku kesini?” tanya Arzan yang sudah mengeluarkan aura membunuh kepada Ksatria itu. “Beraninya kau membuat adikku berjalan jauh dan berkeringat seperti ini?”
Tentu saja hal tersebut membuat Vesia terkejut. Tak hanya Vesia tapi seluruh orang disana. Bahkan Ksatria itu langsung dibuat berlutut. Bisa dipastikan oleh seluruh orang disana, Duke Arzan pasti akan memeganggalnya. Vesia menyentuh lengan Arzan. Arzan langsung menatap Vesia dengan lembut.
“Kakak, aku yang meminta Ksatria ini untuk mengantar kesini. Aku sangat merindukan kakak dan tak sabar pergi jalan-jalan untuk makan.”
“Begitu ya,” ekspresinya melembut. “Ayo kita pergi makan.” ajaknya.
“Tapi, bukannya kakak sibuk?”
“Tidak. Aku sudah kalah. Jadi aku tidak perlu lagi berada disini.” jawab Arzan.
Vesia maju dua langkah, ia memberikan salam hormat kepada seluruh pasukan disana, lalu menggenggam tangan Arzan mesra pergi.
Seluruh orang disana langsung menggosipkan hal tersebut. Vesia dan Arzan sangat berbeda dari biasanya. Bahkan mereka terkejut melihat perubahan sikap Arzan dan Vesia.