Bab 4

1861 Words
Berita kedekatan Vesia dan Arzan sudah menyebar keseluruh antero istana. Beberapa tidak percaya, dan beberapa lagi sangat penasaran bahkan keluarga kekaisaran yang mendengarnya sangat terkejut. Terlebih ketika salah satu seorang pangeran yang tidak sengaja melihat Vesia datang ke istana dengan membawa keranjang makanan. Berita kedekatan Vesia dan Arzan juga terdengar sampai masyarakat karena beberapa kali mereka melihat kereta keluarga Duke Scarlet di tengah kota. Berita itu bahkan mengalahkan berita tentang saintess, yang cantiknya bak Malaikat. Sementara itu, para Ksatria Mawar Merah yang juga mendapat perhatian dari Vesia sekarang menganggap Vesia adalah Malaikat karena kebaikannya yang memberikan makanan atau minuman untuk mereka ketika menemui Duke Arzan. “Apa kau tidak lelah?” tanya Arzan. “Tentu saja tidak, apa kakak bosan melihatku?” tanya Vesia. “Sedikit.” kata Arzan dengan tersenyum kecil. Vesia mendecak mendengarnya. Tentu saja Vesia juga malas melakukan hal ini. Tapi, ia harus melakukannya agar kakaknya tidak melupakannya dan selalu bersikap baik padanya jika nanti kakaknya jatuh cinta dengan Aileen. Setidaknya nanti, ia harus membuat Arzan cukup menyayanginya hingga tidak perlu menikahkannya dengan count Arkadi. Count mata keranjang yang sudah memiliki banyak wanita itu. Karena kediaman Scarlet memiliki banyak kekayaan, Vesia akan mengambil beberapa kekayaan yang bisa ia bawa kabur. Setelah itu, ia akan menghapus nama Scarlet dari namanya dan pergi kabur. Dengan begitu, Kavel pasti akan melupakannya. “Kakak keterlaluan. Aku sedih mendengarnya.” Arzan mengabaikannya. Vesia memperhatikan kakaknya yang bekerja. Setelah itu, ia berpamitan untuk pulang. Arzan langsung bangun dan hendak mengantarkan adiknya pulang. Tapi, Vesia menolaknya. Ia bisa pulang sendiri. Dan menyuruh Arzan melanjutkan pekerjaannya. Arzan pun menyuruh Arlo untuk mengantarkan adiknya. Belum sempat ia keluar, seseorang pemuda dengan rambut putih keemasan dengan mata bewarna emas masuk. Arlo dan kakaknya menunduk. Hanya Vesia yang tidak menunduk hormat. Arlo berdehem. Barulah Vesia juga memberikan penghormatan. “Apa ini lady Vesia yang terkenal akhir-akhir ini?” tanya Pemuda tampan itu dengan mengulurkan tangannya. Vesia memberikan tangannya, dan pemuda itu mencium tangannya. Jantung Vesia berdebar. Laki-laki itu sangat tampan. Ia tidak tau kalau di istana ini ada orang setampan ini. Vesia terpesona. “Yang Mulia.” panggil Arzan. “Ada perlu apa Yang Mulia kesini?” “Yang Mulia?” tanya Vesia tak mengerti. “Lady Vesia, perkenalkan beliau adalah Putra Mahkota kekaisaran Demetria, Raides Maverick La Demetria.” Vesia syok mendengarnya. Bahkan wajah kaget itu tercetak jelas. Lain halnya dengan Vesia. Bisa-bisanya ia tepesona dengan laki-laki di depannya. Antagonis sebenarnya dari novel I Will be a Queen. Vesia tidak tau apa motifnya, tapi didalam novel di bab akhir dijelaskan bahwa semua itu adalah rencana Putra Mahkota. Putra Mahkota menginginkan kehancuran 3 keluarga besar yang bahkan sudah ada sebelum kekaisaran. Dan pion yang ia gunakan adalah saintess Aileen. Vesia lalu meminta maaf atas ketidak sopanannya. Setelah itu ia berpamitan untuk pergi dari sini. Vesia harus menjauhi Putra Mahkota. Mulai sekarang, ia memutuskan tidak akan datang ke istana untuk menemui kakaknya. Lagipula kenapa malah Putra Mahkota yang menemui kakaknya. Bukan kakaknya yang dipanggil untuk menemui Putra Mahkota. Tentu saja hal tersebut langsung ditanyakan ke Arlo. “Itu karena, Tuan Duke tidak pernah merespon jika dipanggil Putra Mahkota. Beliau hanya mematuhi perintah Yang Mulia Kaisar. Jadi, jika Putra Mahkota punya urusan dengannya lebih baik Putra Mahkota yang datang menemuinya.” jawab Arlo. Sekarang Vesia mengerti kenapa kakaknya dijuluki tiran dan Anjing Kaisar dari Neraka. Mana mungkin, ada orang seberani itu pada keluarga kaisar. Karena tidak fokus dari jalannya dan terburu-buru, ia malah tak sengaja menabrak seseorang. Karena badan orang yang tabraknya sangat besar, Vesia hampir saja terjatuh. Untungnya, laki-laki itu menolongnya. “Terimakasih tuan.” kata Vesia. Laki-laki itu melepaskan dekapannya. Vesia mendongak menatapnya. Alangkah terkejutnya dia melihat siapa orang didepannya. Laki-laki berambut biru tua dengan mata hitam. Orang yang berpotensi untuk membunuhnya. Sang Pahlawan. Duke Kavel Eugune Morigan. Vesia segera menunduk meminta maaf atas kecerobohannya. Duke Kavel dan beberapa orang dibelakangnya menatap Vesia tak percaya. Hal ini dikarenakan Lady Vesia De Scarlet adalah bangsawan tingkat tinggi, yang bahkan tidak perlu meminta maaf bahkan jika ia sengaja memukul Duke Kavel. “Ah iya. Saya juga.” “Kalau begitu, saya pamit undur diri.” kata Vesia yang kemudian pergi. Arlo menunduk hormat lalu mengikuti Vesia dari belakang. Duke Kavel dan beberapa pengikutnya menoleh kebelakang hanya untuk sekedar menatap Vesia. “Saya tidak tau Lady Vesia sangat rendah hati.” “Benar, sifatnya sangat berbeda dengan Duke Scarlet.” “Pantas saja para pengikutnya ingin mengubah Lady Vesia sebagai pemilik Scarlet.” Kavel memperhatikan Vesia. Setelah itu ia langsung melangkah pergi. Diikuti para pengikutnya dibelakang yang masih membahas Lady Vesia. “Bukankah Lady Vesia sebentar lagi akan memasuki usia menikah?” “Benar, meski Duke Scarlet sangat menyeramkan. Tapi kekayaan keluarga Scarlet sangat banyak. Bukankah kalau menjadi bagian keluarga itu, kita akan punya untung besar?” *** Vesia terkejut dengan apa yang ia dengar, kakaknya akan pergi ke perbatasan untuk membantu Duke Kavel dan Marquess Forcas untuk menghentikan pemberontakan. Padahal 5 hari lagi pesta akan digelar. Vesia tidak tau ada kejadian seperti ini. Sepertinya ia ingat, alasan kenapa kakaknya bisa jatuh cinta dengan Aileen. Ketika di pesta dansa nanti, kakaknya terpesona dengan kecantikan saintess. Lalu mereka tidak sengaja bertemu ditaman istana dan Saintes yang melihat luka di tangan Arzan langsung menyembuhkan luka tersebut. Dari sanalah Arzan menaruh simpati kepada Saintess yang baik itu. Terlebih ketika semua orang menggosipkannya sebagai seorang tiran dan takut padanya, saintes seorang yang tidak takut padanya. Vesia harus mengubah nasib ini. “Vesia,” panggil kakaknya. “Apa yang kau pikirkan.” “Aku hanya khawatir bila kakak terluka.” jawab Vesia. “Aku tidak akan terluka. Kamu tenang saja.” “Kakak kan masih manusia yang bisa terluka. Bukannya aku berdoa agar kakak terluka. Tentu saja akan lebih baik jika kakak tidak terluka. Tapi tetap saja aku sangat khawatir.” kata Vesia. “Harusnya memang waktu itu, kita pergi liburan saja ke Estia.” kata Vesia lagi. Arzan tersenyum mendengarnya. Bukankah adiknya sangat lucu mendumel seperti ini. Tanpa sadar Arzan malah mencubit pipi Vesia karena gemas. “Kakak!” seru Vestia. “Selesai pesta pengenalan, kita pergi liburan.” kata Arzan dengan tersenyum. “Tolong berhatilah-hatilah kalau begitu. Agar setelah pesta ini kita bisa liburan berdua.” kata Vesia dengan tersenyum. Selesai makan, Olivia mengusulkan untuk membuat jimat untuk kakaknya Arzan. Vesia menganguk setuju. Ini kesempatannya. Ia harus bersikap baik dan memberikan perhatiannya untuk kakaknya. Ia masih berharap kakaknya tidak jatuh cinta dengan Saintess. Vesia meminta untuk diambilkan pita. Ia akan membuat gelang untuk Arzan. Vesia berharap ia masih bisa membuat gelang. Tidak sia-sia dulu waktu SMA ia ikut extrakurilkuler Seni ke-kreativitasan. Olivia membangunkan Vesia, karena sebentar lagi kakaknya akan berangkat ke perbatasan. Vesia segera terbangun. Ia mengambil gelang yang telah ia buat dan langsung berlari keluar. Tanpa ia sadari, ia masih menggunakan piyama tidurnya. “Kakak-” “Vesia?” Vesia mengatur nafasnya. Ia berjalan mendekati Duke. Sepertinya mulai saat ini ia harus rajin olehraga. Bagaimana mungkin ia punya tubuh selemah ini. “Ada sesuatu yang ingin aku berikan.” kata Vesia. “Ya?” Vesia mengambil tangan Arzan lalu memasangkan sebuah gelang yang bewarna Merah dan Emas. “Karena aku tidak sempat membeli jimat, jadi, aku membuat gelang ini sebagai pengganti jimat. Aku harap kakak menyukainya. Tolong kembalilah dalam keadaan sehat tanpa luka.” pinta Vesia. “Aku akan menunggu kakak disini.” lanjutnya dengan tersenyum. Arzan tersenyum. “Terimakasih Vesia. Aku menyukainya.” Vesia melepaskan kepergian Arzan dan seluruh pasukannya. Rumah tanpa Arzan, akhirnya... Ia bebas. Vesia akan menyembunyikan seluruh perhiasan dan uang miliknya sebagai antisipasi nanti, tapi... Semua itu langsung hilang ketika ia bertemu dengan Arlo. Tangan kanan kakaknya. “Sir Arzan mengirim saya, untuk menjaga anda Lady selama beliau pergi.” Hanya satu kata yang ingin Vesia ucapkan sekarang. Arzan b******k. Ia lebih percaya bahwa Arzan disuruh untuk mengawasinya dibanding menjaganya. Vesia ingin menangis rasanya. *** “Saya beberapa kali ikut berperang bersama Duke Scarlet. Tapi baru kali ini, saya melihat anda terlihat bahagia.” kata Marquess Forcas. “Sepertinya Marquess terlalu lama hidup sehingga mampu membuat bualan seperti ini.” balas Arzan arogan. “Justru orang yang terlalu lama hidup seperti saya ini, sehingga mampu melihat perasaan orang.” balasnya sendiri. Arzan bangun. “Anda mau pergi kemana?” tanya Forcas. “Menangkap seluruh pemberontak agar kita bisa segera pulang.” jawabnya yang kemudian pergi dari tenda. Arzan menyentuh tangannya yang dipasangkan oleh Vesia. Ia menutup matanya. Ada bayanga Vesia didepannya. Ia akan segera pulang agar adiknya tidak cemas. Sementara orang-orang yang didalam tenda tak menyangka Arzan akan berbicara begitu. Selama ini Arzan tidak pernah peduli seberapa lama ia ada di mepan perang. Tapi kali ini ia membicarakan ingin segera pulang. Terlebih moodnya yang terlihat sangat baik tidak seperti biasanya. Sementara itu, Vesia hanya bisa termenung. Arlo sama sekali tidak membiarkannya sendirian. Ketika ia meminta Arlo pergi, maka Arlo akan membahas perintah tuan Duke. Bahkan ketika Vesia pergi melihat hasil bajunya pun, Arlo tetap mengikutinya. Vesia hanya bisa terdiam. Ini sama sekali tidak sesuai rencananya. Sampai pada malam ini, Vesia sudah tidak tahan. Ia memutuskan untuk kabur dari rumahnya. Ia menyelinap pada malam harinya dengan menggunakan Seprai dan gorden setelah memberikan Arlo obat tidur. Karena tempat latihan Sepi, ia keluar melalui tempat itu. Tak lupa, Olivia mengikutinya. “Nona kemana anda akan pergi?” “Jalan-jalan. Aku menderita sekali karena Arlo selalu mengikuti kita kemanapun.” “Semua itu kan dilakukan tuan Duke, karena khawatir dengan anda.” “Apanya yang khawatir, dia pasti sengaja mengirim Arlo untuk mengawasiku. Dia pasti tidak percaya padaku dan mengira aku akan merebut Scarlet.” katanya sebal. “Meski selama ini aku diam, aku tau selama ini para pelayanan menggosipkan hal tersebut. Menjengkelkan.” Vesia lalu pergi ke Bar minuman. Bar ini sangat terkenal dengan minuman, Daging, dan dessertnya. Vesia memesan minuman dan beberapa dessert. “Nona, sebentar lagi-” “Olivia, berhenti memanggilku nona. Nanti semua orang akan tau kalau aku seorang bangsawan. Panggil saja aku Vesia.” “Tapi-” “Vesia, Olivia!” tegas Vesia. Olivia lalu menganguk. Vesia menikmati minuma yang ia buat. Sangat enak. Ia juga mencoba dessert-nya. Harus Vesia akui. Makanan di dunia ini tidak ada duanya. Memang ya, enak jadi orang kaya. Mau apapun langsung beli. “Vesia, ada yang membuat saya penasaran. Kenapa anda tiba-tiba berubah seperti ini kepada tuan Duke?” “Aku hanya berusaha bertahan hidup.” “Maksudnya No- Vesia?” “Ini rahasia sebenarnya. Jika Olivia mau berjanji tidak akan membocorkannya aku akan memberitahumu.” “Saya tidak akan pernah memberitahu siapa pun nona!” “Aku berniat meninggalkan nama Scarlet dan memulai hidup baru.” “Apa??” Vesia tersenyum. “Aku akan menghapus nama Scarlet dan pergi dari dukedom.” “Astaga... karena itu, anda bertanya biaya hidup.” Vesia tersenyum. “Apa anda yakin?” “Tentu saja.” “Kalau begitu, jika anda ingin pergi tolong bawa saya. Saya akan melayani anda dengan sepenuh kemampuam saya.” kata Olivia. “Benarkah? Jika kamu pergi bersamaku, kamu tidak akan melihat kakakku lagi. Bukankah selama ini kamu menyukainya?” “No- nona! Ma- mana mungkin, saya berani menyukai tuan Duke.” kata Olivia dengan wajah yang merah. Vesia tertawa melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD