Bab 5

1903 Words
“Nona, tolong jangan seperti itu. Tuan Duke kan sudah punya tunangan.” kata Olivia dengan wajah yang sangat memerah. “Tapi kan, si Arzan itu tidak suka Duchess Ivona.” balas Vesia. Olivia diam. Itu memang kenyataan yang diketahui oleh seluruh masyarakat kekaisaran. Usia Duchess Ivona 23 tahun. Usia yang siap memasuki usia menikah bahkan usia yang harusnya sudah memiliki setidaknya satu anak atau sedang mengandung anak pertama. Tapi Duchess Ivona bahkan tidak menikah. Hal ini dikarenakan Duke Scarlet yang tak kunjung melamarnya. Bahkan jika diajak membahas tentang pernikahannya dengan Ivona atau bertemu Ivona secara langsung, Arzan akan langsung menghindarinya. Bukannya membatalkan pertunangan, Duchess Ivona malah menunggu Duke Arzan. Banyak rumor yang bilang bahwa itu adalah cinta sepihak Duchess Ivona kepada Duke tiran itu, tapi banyak orang yang percaya bahwa Duke tiran itu minder dengan Duchess Ivona. Seperti yang telah dijelaskan, Ivona adalah bangsawan setelah Ratu yang memiliki kekuasaan tertinggi sebagai wanita di kekaisaran Demetria. Selain cantik, dia adalah perempuan yang baik dan adil. Oleh karena itu ia dijadikan role model oleh seluruh orang di kekaisaran. Bahkan Ratu saja sangat menyukai Ivona dan ingin menjadikannya menantu, tapi sayangnya Duchess menolak karena perasaannya kepada Arzan. Sebenarnya alasan ini sangat sepele. Duchess orang yang sangat ambisius. Dan kakaknya membenci orang yang ambisius. Alasan itulah yang membuatnya tak kunjung mengajak Duchess menikah agar Duchess membatalkan pertunangannya. “Jika nona ingin pergi dari Istana Mawar, kenapa anda bersikap baik kepada Duke?” Istana Mawar adalah julukan untuk kediaman Scarlet. “Memangnya kau fikir aku bersikap baik karena aku mau berbaikan dengannya?? Tentu saja tidak. Aku bersikap baik agar dia memberikan aku aset pribadi.” “Sepertinya nona tidak perlu melakukan hal tersebut, Duke pasti akan memberikannya secara sukarela.” kata Olivia. “Bukan aset seperti itu. Aku mau aset yang bahkan kerajaan tidak bisa mengambilnya.” kata Vesia. “Itu-” “Mungkin ini terdengar konyol atau bahkan tidak mungkin untukmu. Tapi, Scarlet akan hancur.” “Itu tidak mungkin nona. Mana mungkin Scarlet akan hancur.” “Itu karena kakakku akan jatuh cinta pada saintess itu. Karena itu, dia akan membatalkan pertunangannya dengan Duchess Ivona. Menurutmu Duchess akan membiarkannya begitu saja? Tentu saja tidak. Dia sangat mencintai dan terobsesi pada kakakku. Dia pasti akan melakukan kejahatan untuk membunuh saintes itu. Dan akhirnya, kakakku akan membunuh Duchess beserta keluarganya. Mungkin kau tidak akan percaya, tapi Duke Kavel Morigan sangat mencintai Duchess.” “Pantas saja, Duke Morigan tidak memiliki pasangan sampai sekarang.” “Karena itu, dia pasti akan membalas dendam pada Arzan. Pada akhirnya, Arzan akan mati ditangannya. Kalau pada saat itu aku masih hidup, dia pasti akan mencariku yang merupakan satu-satunya keluarganya. Aku tidak mau mati seperti itu.” “Nona, saya penasaran ... Apa maksud anda jika pada saat itu anda masih hidup?” tanya Olivia. “Sebenarnya, aku mati karena bunuh diri dan kehabisan darah. Kakakku itu membuang jasadku ke hutan lalu membiarkan binatang buas memakannya.” “Kenapa anda bunuh diri?” “Dia memaksaku menikah dengan Count Arkadi. Bukan menikahkan, lebih tepatnya menjual.” “Bagaimana anda bisa mengetahui semua itu?” “Anggap saja aku mendapat pengelihatan masa depan. Mungkin Olivia tidak akan percaya ... Tapi jika ingat itu, aku rasanya ingin pergi dari kediaman itu.” “Tidak nona. Saya mempercayai anda. Anggap saja itu bayangan masa depan yang akan terjadi. Jika anda ingin pergi saya akan mengikuti anda. Tapi nona, jika memang kenyataan itu seperti yang anda katakan, bukankah lebih baik kita membantu tuan Duke? Bagaimanapun dia adalah satu-satunya keluarga anda.” “Tidak mungkin Olivia. Putra Mahkota ada dibelakang semua itu. Aku juga tidak tau apa motifnya. Tapi ia berencana menghancurkan ketiga keluarga besar.” “Apa? Itu tidak-” “Saintess itu, Putra Mahkota yang membawanya ke Kuil Suci. Jika kau tidak mempercayainya. Kau bisa mencari taunya. Aku tidak mau menempatkan diriku kedalam bahaya. Karena itu, setelah mendapat harta yang cukup untuk menghidupiku sampai mati. Aku akan menghapus nama Scarlet dan pergi bersembunyi.” kata Vesia yang kini meneguk minumnya sampai habis. “Kalau itu sampai terjadi, nona akan pergi kemana?” “Aku masih mencarinya. Tapi yang pasti tempat itu tidak boleh dibawah kekuasaan Scarlet, Laquitta, ataupun Morigan.” “Kalau begitu wilayah Selatan? Saya dengar, itu kekuasaan Yang Mulia Duke Demetria.” “Demetria?” “Keluarga kerajaan yang telah diasingkan selama empat generasi. Katanya sekarang, wilayah itu di kuasai Duke Adriel Zachary La Demetria. Tempat itu kan diabaikan oleh kekaisaran.” Ingatan dalam tubuh Vesia mengingatnya. Itu adalah tempat yang penuh monster dan sangat kering dan tandus. “Maksudmu sarang monster yang tandus dan kering itu? Itu sih artinya, keluar dari kandang Singa masuk ke kandang Serigala!” “Justru itu, saya rasa tidak akan ada yang berfikir bahwa anda berada disana. Mana mungkin nona secantik dan seanggun dari Istana Mawar berada di Selatan, sarang monster yang tandus dan kering.” “Itu benar sih, mungkin lebih baik aku pergi kesana.” *** “Apa pergelangan anda terluka Duke?” Tanya Kavel ke Arzan. “Tidak.” “Lalu kenapa anda memegang pergelangan anda seerat itu?” Arzan menunjukan gelang ditangannya. “Adikku memberikan ini padaku. Dia sengaja begadang membuatnya sendiri. Katanya agar aku tidak terluka. Dia gadis yang baik.” ucap Arzan dengan tersenyum sembari menyentuh gelang dipergalangan tangannya. Kavel terkejut bercampur penasaran. Ini pertama kalinya sejak lama, ia melihat Arzan tersenyum setulus ini. “Oh ya, sebenarnya setelah pesta pengenalan saintess kami berniat liburan ke Estia. Jadi,dapatkah kau merekomendasikan tempat penginapan atau destinasi wisata yang bagus?” “Tentu saja. Anda tidak akan menyesal ketika liburan ke Estia.” jawab Kavel. *** Karena hari ini Duke Arzan sudah pulang, Vesia menyambutnya. Arzan memeluk Vesia erat. Begitu pula Vesia. Vesia memeriksa tubuh Arzan, takut-takut dia terluka. Anehnya, kakaknya itu sama sekali tidak terluka. Arzan tersenyum, ia sudah menepati janjinya untuk tidak terluka. Vesia tersenyum, meski dalam hati ia tidak senang. Harusnya kan, kakaknya terluka. Gara-gara itu, Vesia harus lebih extra mengawasi Arzan. Jangan sampai kakakknya, membuat terluka lalu di obati sang saintess. Arzan lalu mengajak Vesia untuk makan bersama. Sepanjang itu, Vesia membicarakan tentang pesta yang akan berlangsung. Ia berharap bisa berdansa dengan kakaknya. Arzan tersenyum miring menanggapinya. Vesia juga menambahkan, bahwa ia sangat ingin melihat kakaknya berdansa dengan Duchess Ivona. Pesta telah dimulai. Arzan datang bersama Vesia untuk pertama kalinya. Ketika nama Vesia dan arzan disebutkan secara brrsamaan. Seluruh orang berbisik tak percaya. Arzan dan Vesia sudah seperti musuh bebuyutan yang tidak pernah akur. Tapi ini tiba-tiba saja, Vesia datang bersama kakaknya. Seluruh mata memandang Vesia dan Arzan. Rambut merah dengan mata hijau terang. Itu memang mereka berdua. Arzan menyuruh Vesia ke teman-temannya. Tapi Vesia menolaknya. Orang-orang itu hanya memanfaatkan Vesia. Tidak ada yang benar-benar tulus berteman dengan Vesia. Dan Vesia tidak butuh mereka. Ia hanya akan memperbaiki hidupnya dengan Arzan lalu kabur. Pesta di mulai oleh Kaisar. Saintess di perkenalkan dan dansa di mulai. Arzan mengulurkan tangannya mengajak adiknya untuk berdansa. Vesia menyambutnya dan mereka berdansa. Seluruh pasang mata menatap mereka dan melihatnya takjub. Arzan tidak pernah sekalipun menari di pesta dansa. Banyak yang mengira Arzan pasti memiliki 2 kaki kiri. Tapi, hari ini seluruh orang dibuat salah dengan pemikirannya yang seperti itu. Arzan menari dengan Vesia dengan begitu lembut dan anggunnya. Selesai menari, orang-orang mulai bertepuk tangan. Vesia tersenyum, Arzan membalas senyumnya. Lagi-lagi seluruh orang di Ballroom yang melihatnya terkejut. Seorang Duke Tiran tersenyum. “Kakak tidak ingin mengajak Duchess Ivona menari?” “Kau sangat ingin melihatku menari dengannya ya?” “Iya. Iya. Tolong kabulkan.” kata Vesia antusias. “Baiklah. Kau tunggu disini ya...” Vesia menganguk. Arzan berjalan pergi meninggalkannya. Vesia mengawasi Arzan. Sebenarnya karena tamu undangan begitu banyak, Vesia tidak mampu menebak siapa saja orang yang dikenalnya disana. Arzan mendekati beberapa kerumpulan perempuan. Vesia terkejut. Jantungnya bergemuruh hebat. Kerumpulan yang didekati Arzan, ada Aileen. “Ivona.” Seluruh orang menoleh. Bahkan termasuk Ivona yang melihat orang yang memanggil namanya alih-alih gelar dan nama keluarganya. Melihat Arzan yang memanggilnya, Ivona terkejut. Ini pertama kalinya Arzan memanggilnya. “Arzan.” panggil Ivona balik. Arzan mengulurkan tangannya. “Mau menari denganku?” Ivona tersenyum. Ia menganguk dan kemudian meraih uluran tangan Arzan. Arzan membawanya ke tengah dan mulai menari bersama. Kini, semua orang lebih heboh melihat Arzan dan Ivona menari. Bagaimana tidak, dua orang yang dikabarkan telah ditunangkan oleh kedua orang tua tapi tidak pernah terlihat bersama. Kini bersama dalam pesta pengenalan Saintess dan menari bersama. Sementara itu, Vesia menatap Ivona takjub. Ivona benar-benar sangat cantik di balik wajah dinginnya itu. Rambut pirang dan mata ungunya sangat mempesona. Ia bingung sekarang, bisa-bisanya Arzan tidak jatuh cinta dengan Ivona. Sebaiknya ia menyarankan Ivona nanti agar tidak terlalu berambisi agar Arzan sedikit menyukainya. Sementara itu, Ivona yang gugup dan tak menyangka akan menari dengan Arzan malah menginjak kaki laki-laki itu. “Maaf.” “Saya tidak menyangka Duchess yang begitu sempurna bisa melakukan kesalahan kecil ini.” balas Arzan. “Ini karena saya terlalu terkejut, Arzan tiba-tiba mengajak saja menari?” “Vesia ingin melihat kita menari.” jawab Arzan. “Vesia?” “Sepertinya dia sangat menyukaimu. Kalau Vesia sampai tau orang yang disukainya melakukan kesalahan seperti ini dia pasti kecewa.” “Itu-” Tak... Ivona menginjak kaki Arzan lagi. “Maaf Arzan.” “Tidak apa-apa anda sangat ringan.” balasnya. Sampai tarian mereka selesai, Ivona menunduk sopan. Arzan juga demikian. Ia sedikit tersenyum melihat Ivona sebelum pergi. Jantung Ivona berdetak keras. Arzan tersenyum kepadanya. “Ivona.” Ivona menoleh. “Kavel.” Kavel tersenyum. Ia menggoda Ivona yang Akhirnya bisa berdansa dengan Arzan. Ivona tersenyum tipis. Ini semua berkat Vesia yang menginginkan melihatnya menari dengan Arzan. Jika bukan karena itu, Arzan pasti tidak akan mengajaknya menari. Kini Kavel dan Ivona melihat ke arah Arzan dan Vesia. Gaun Arzan dan Vesia terlihat sangat serasi. Dan model gaun yang dikenakan Vesia sangat indah. “Sepertinya Duke Scarlet sangat menyayangi Lady Vesia. Bahkan ketika pembasmian pemberontakan dia berharap bisa segera pulang agar adiknya tidak menunggunya. Bahkan suasana hatinya juga berbeda dari biasanya. Oh ya, katanya dia juga mau liburan berdua dengan adiknya ke Estia. Duke bahkan meminta saran tempat wisata yang indah.” kata Kavel. Ivona terkejut mendengarnya. Ia tertarik dengan Vesia yang bisa menggerakan Arzan dengan begitu baik. Jika boleh jujur, Ivona tidak pernah berbicara dengan Vesia. Hal ini dikarenakan kedua saudara itu sebelumnya bermusuhan dan tinggal di masing-masing bagian rumah berbeda agar tidak saling bertemu. Tapi kini kedua orang tersebut terlihat akrab. Tak hanya Ivona, tapi Kavel juga penasaran. Cara apa yang digunakan Vesia hingga Duke es itu bisa mencair dan sedikit hangat. Tidak banyak yang Kavel ketahui setelah meminta seseorang menyelidiki Vesia. Vesia hanya seorang Lady dari kediaman Scarlet yang mampu melakukan segalanya karena belajar mati-matian dan menjadikan Ivona sebagai kiblatnya. Gadis itu sangat menyukai Ivona. Selain itu, seluruh orang sangat takut padanya karena ia adik dari seorang Tiran. Tapi ia memiliki beberapa teman yang sering memanfaatkannya. Lalu Vesia juga sangat dingin dan sinis terhadap orang yang memikiki hubungan dengan kakaknya. Dan suka menghabiskan seluruh anggarannya bahkan meminta tambahan anggaran karena kebiasaannya yang suka menghabiskan banyak uangnya seperti air mengalir. Lady itu juga sangat membenci kakaknya karena rumor kakaknya yang telah membunuh kedua orang tuanya. Tapi, tidak ada yang tau kebenarannya. Dan Vesia hanya membenci Arzan. Katanya setelah bangun dari tidurnya dan bertemu Arzan. vesia memaki Arzan lalu meminta maaf. Setelah itu hubungan mereka membaik dan sering makan bersama didalam rumah maupun luar rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD