Hari pernikahan tiba

2720 Words
BAGIAN 2 “Bapak!!" Bu Safitri berteriak histeris tak percaya dengan apa yang dilihat sekarang. Pak Budi yang sedang mencuci motor diluar reflek berlari menuju asal suara, motor yang dicucinya pun ia biarkan tersungkur karena dengan tak sengaja menyenggol saat akan berlari, motor yang tadinya sudah hampir selesai itu kembali seperti semula saat baru pulang dari kampung sebelah, tepatnya dari rumah adiknya untuk meminta datang pada pernikahan anaknya esok, namun karena hujan yang sangat lebat memaksa Pak Budi dan Bu Safitri untuk menginap. Mereka pulang pagi buta Bu Safitri langsung mengerjakan pekerjaan rumah, memasak bebenah dan lain-lain karena sudah dirasa siang Bu Safitri berniat membangunkan Raka untuk sarapan. “Nak ... Raka bangun nak, udah siang lho. Tumben jam segini belum bangun. Ayo sarapan nak sudah siang," beberapa kali Bu Safitri mencoba memanggil namun tiada sautan dari dalam kamar, “anak ini pingsan apa tidur sih," sambil memutar hendel pintu, Bu Safitri hafal putra semata wayangnya tak pernah mengunci pitu kamar. “Nak, ba---“ Kalimatnya tepotong setelah mendongakan wajah dan melihat apa yang di depannya, betapa terkejutnya bu Safitri melihat Raka tidur bertelanjang d**a dengan seorang wanita yang dia kenal Adela, kakak dari calon menantunya itu kini sedang tidur berdua dengan anaknya calon adik iparnya. Baju yang berserakan di mana-mana membuat pikiran Bu Safitri melayang jauh, sambil mengeleng gelengkan kepalanya Bu Safitri terus berteriak memanggil sang suami. “Astagfirullah, Raka!” pekikan Pak Budiman membangunkan penghuni kamar dan bergegas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. “Apa-apaan ini Raka?! Kamu sadar apa yang kamu lakukan hah! Apa begini pergaulanmu di kota nak? 2 hari lagi kamu akan menikah nak, tapi apa yang kamu lakukan?” Pandanganya sekarang beralih menuju Adel. “Kamu sadar dia siapa? Raka, dia kakak dari wanita yang akan kamu nikahi. Kemana akal sehatmu hah!!" Amarah Pak Budi tersulut emosi dan menunjuk Adel. “Dan kamu di mana hatimu?” setelah itu Pak Budiman membalikan badan keluar dari kamar. Raka yang hanya diam seribu bahasa mengingat ingat apa yang terjadi semalam antara Adel dan dirinya. Betapa menyesalnya Raka setelah ingat dengan apa yang terjadi, bagaimana bisa dia tak bisa menahan diri sedang di kota sering kali dia di hadapkan dengan wanita yang beragam namun tak pernah sekali pun dia berpaling dari Ana, tapi kali ini dia bahkan bisa berbuat melebihi batas “Ana ... maafkan aku” lirih Raka dalam hati penuh penyasalan. Sebelum sampai di luar kamar pak budi menghantikan langkahnya dan berbalik menatap mereka berdua. “Bersiaplah, kita pergi kerumah Nungraha. Sekarang kamu harus menikah dengan Adel, lupakan pernikahanmu dengan Ana. Apa yang yang kamu lakukan harus kamu tanggung jawabkan" dan pak Budi pun benar-benar meningalkan kamar. “Apa?! Ba-bapak." Raka begitu sock dengan apa yang barusan ayahnya katakan, mimpi yang sudah di depan mata harus dia kubur dengan kesalahan yang dia perbuat sendiri. “Aaaaaagh" Raka mengusap wajahnya kasar, lain halnya Adel yang tersenyum dengan menundukan wajahnya, Yes akhirnya aku berhasil! sorak nya dalam hati. ** Di rumah Ana semua sedang panik, Adel yang tak pulang semalam barulah disadari keluarganya pagi ini, Adel memang sering keluar malam dan pulang saat semua keluarga sudah tidur namun biasanya waktu sarapan Adel keluar kamar, tapi hari ini tidak ada tanda tanda Adel di rumah. Ana mencoba membuka kamar kakaknya dan dugaan Ana benar kakaknya memang tak ada dalam kamar, tempat tidur yang masih rapi seperti tadi malam setelah kakaknya pergi dan dia beraskan. “Bu, kakak memang nggak ada di kamar,” setelah Ana menutup kembali kamar kakaknya. “Ini anak ke mana sebetulnya, kebiasaan keluar malam dan sekarang menginap entah di mana. Nggak ngabarin keluarga, benar-benar keterlaluan anak ini!" Pak Nugraha dengan wajah yang kesal penuh amarah. “Mungkin karena hujan lebat tadi malam pak jadi Adel nggak pulang.” Bu Rina mencoba meredam amarah suaminya, sudah sering bu Rina memperingatkan anak tirinya itu dengan lembut namun selalu berujung sakit hati yang dia rasakan mendengar makian Adel padanya, walau bu Rani selalu berusaha adil pada 2 anaknya namun Adel selalu merasa Ana selalu di istimewakan . “Kebiasaan buk, dia itu anak gadis nggak baik keluyuran malam-malam apalagi sampai menginap kayak gini. Apa kata tetangga nanti, mau jadi apa anak ini udah siang gini belum pulang juga. Astaga Adel ..." Amarah pak Nugraha menjadi-jadi. “Sudah pak sudah, ini minum dulu." Bu Rani sambil menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan suaminya. Sifat lemah lembut dan jiwa kasih sayangnya lah yang membuat Pak Nugraha jatuh cinta pada Bu Rani setelah kematian istrinya saat melahirkan Adel, merasa bahwa Adel juga butuh sosok ibu akhirnya Pak Nugraha pun menikani Bu rani. “Na, coba kamu hubungi kakakmu. Tanya di mana dia sekarang.” “Dari tadi Ana sudah hubungi hp kakak buk tapi ngak aktif.” Del kamu dimana nak, suara hati Bu Rani mulai khawatir takut terjadi apa-apa pada anaknya itu, walau anak tiri namun Bu Rani sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri, bagaimana tidak dari hari ketujuh kelahiranya Bu Rani lah yang mengasuhnya. Ditengah kecemasan keluarga Nugraha suara ketukan pintu membuat tiga orang yang duduk di ruang tamu ini serentak menoleh kearah pintu “Iya sebentar!" Ana bergegas menuju pintu dan membukanya. “Siapa nak?” tanya Bu Rani karna tak sabar, rasa kawatir yang besar mendorong kedua orang tua ini melangkah menusul Ana, dengan harapan Adellah yang datang. Memang benar yang datang adalah Adel. namun kedatangannya yang tak sendiri melainkan bersama keluarga Raka itu membuat mereka bingung dan bertanya tanya. Ana yang sedari tadi masih mematung di tengah pintu menatap dengan rasa bingung dengan pandangan di depan matanya saat ini. Pak Rudi yang berada di sebelah Bu Safiri yang nampak sesegukan menahan tangis dan mata yang mulai membengkak dan menoleh kesebelah lagi ada Adel yang sedang menggandeng lengan Raka yang tertunduk tanpa berani memandang wajah kekasihnya itu menimbulkan segudang tanya dihati Ana. Begitu pun kedua orang tuanya yang baru datang benar benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. “Mas Raka," belum sempat Ana meneruskan kata katanya. “Bolehkah kami masuk dulu nak," dengan suara lembut Pak Budi memegang tangan Ana dan menuntunnya masuk tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkannya dan mendudukan Ana di kursi tamu di susul yang lainya. Pak Budi menjelaskan semua pada Ana dan keluarga dengan apa yang terjadi pada Raka dan Adel dan Raka yang bertangung jawab atas semua perbuatanya hanya derai air mata mengiringi penjelasan panjang lebar yang di sampaikan Pak Budi,tak ada satu pun yang tak menangis. Raka yang sangat menyesali perbuatan terkutuknya itu tiba-tiba bersimpuh di depan Ana. “Maafkan mas Na, maafkan mas," masih tak mampu menatap wajah Ana saat ini. Bu Safitri yang sangat mengaharapkan mantu seperti Ana sangatlah kecewa pada anak semata wayangnya itu, namun nasi sudah menjadi bubur mendapat mantu sebaik ana kini tinggalah angan angan. Alih-alih marah dan menjawab permintaan maaf dari Raka, Ana malah berdiri dan pergi meningalkan rumah. “Ana mau ke mana Nak!” Bu Rani mencoba memanggil-manggil Ana, ingin menyusulnya namun dicegah oleh pak Nugraha dipeluknya sang istri. “Biarkan Ana menenangkan pikiranya buk,” Pak Nugraha yang tak kalah terpukulnya saat ini tak bisa berbuat apa-apa keduanya sama sama anak kandunganya saat ini dia dalam dilema. “Tapi Ana, Pak. Anak kita Pak," suara yang keluar bersama dengan tangis sangat menyayat hati, tiada jawaban lagi dari Pak Nungraha hanya pelukan yang mampu dia lakukan saat ini untuk menenangkan istrinya tanpa bisa mengucapka kata-kata lagi. Adela yang sedari tadi sibuk memasang muka menyesal tanpa mengucapkan sepatah kata pun seakan-akan dia benar-benar menyesal saat ini, dia benar-benar jago dalam berakting. Yes, akhirnya Raka akan menjadi milikku juga nggak sia-sia aku kehujanan, obat perangsangmu benar-benar membantuku mewujudkan apa yang aku mau Risa, terimakasih sayang. Risa adalah sahabat Adel yang bekerja di salah satu club, dengan ide berlian dari Risa akhirnya impian Adel untuk memiliki Raka terwujud, Adel memang telah menyimpan rasa dari sekolah menengah pertama pada Raka, berbagai usaha telah dia lakukan untuk mengambil hati Raka namun semua perhatian yang berikan dianggap biasa oleh Raka, yang paling menyakitkan dan menambah rasa bencinya pada Ana saat Raka menyatakan perasaanya pada Ana di depan matanya, rasa bencinya pada Ana semakin bertambah. Sedari kecil dia merasa Ana selalu di istimewakan oleh orang tuanya, rasa bangga orang tuanya pada Ana di anggapnya sebagai hal yang tak adil baginya, walaupun kenyataanya Ana memang selalu unggul dari dia, dia tak suka harus berbagi. Kadang harus kena marah oleh ayahnya karna mengambil paksa milik Ana dengan paksa, tapi untuk kali ini dia keluar jadi pemenangnya. Ana, maaf aku memang menginginkanya, bahagia yang membuncah dalam hatinya. Pak Nugraha sebenarnya tak terima dengan semua ini, tapi apa daya Adel juga anak kandungnya, kini Pak Nugraha hanya bisa berharap Ana bisa tegar dengan semua ini dan keluarganya tak terpecah. FLASBACK OFF Hari pernikahan tibaa, Adel memutar-mutar tubuhnya di depan cermin merasa puas dengan pekerjaan MUA dengan make up nya saat ini dia merasa bagai ratu, MUA yang dipilih Ana memang yang terbaik. “Aku benar-benar cantik hari ini, kamu pasti tampan dan gagah Raka saying. Aku sangat bahagia,” tak bosan-bosannya dia bercermin dan berangan jauh. “Maaf mbak make up sudah selesai kami permisi dulu ya mbak,” suara MUA berpamitan memecah lamunannya. “Oh iya boleh, makasih ya make upnya sempurna," dan di balas senyuman oleh sang MUA. Sampai saat ini si MUA masih bingung , bukanya kemarin Ana yang ingin dia make up untuk menikah dengan kakak kelasnya dulu, Raka. Tapi kenapa sekarang jadi kakak tiri Ana yang menikah. MUA tersebut adalah teman Ana sewaktu masih sekolah menengah atas, dia pun meninggalkan kamar pengantin dengan bergeleng-geleng kepala. Di kamar Ana duduk di tepi ranjang memejamkan mata sambil meremas remas ujung baju kebaya yang di kenakannya, baju ini harusnya di pakai Adel dalam pernikahannya kini bertukar posisi beserta orangnya. Ana memejamkan mata mencari kekuatan untuk menyaksikan kekasih hatinya menikah dengan kakaknya sendiri, orang yang sangat dia cintai hari ini akan sah menjadi milik orang lain, rencana tinggallah rencana, bayangan saat Raka melamarnya seakan tak mau pergi dalam ingatanya. “Pak saya dan dek Ana sudah lama menjalin hubungan, hari ini saya meminta restu pada bapak dan ibu untuk menjadikan anak bapak sebagai istri saya dan ibu dari anak anak kami kelak. Apakah bapak dan ibuk merestui kami untuk membina rumah tangga?” “Kami sebagai orang tua menyerahkan semua pada Ana, bersedia atau tidaknya menjadi istrimu, yang pasti kami merestui kalian, bila ana bersedia maka jagalah ana bahagiakan dia,, jangan sekali kali kamu menyakitinya berjanjilah untuk itu.” “Saya berjanji pak saya akan menjaga ,membahagiakan dek Ana semampu saya pak.saya berjanji.” “Bagaimana Ana?” “Saya bersedia pak.” Anggukan dan senyum bahagia pipinya merona saat tangan Raka mengenggam tangannya erat memberi keyakinan atas keputusan yang baru saja Ana katakan. Semua itu tinggal kenangan sekarang, belum lah genap sebulan janji Raka musnah bak di terjang tsunami, yang hanya meninggalkan luka yang teramat dalam. Bu Rani yang sedari berdiri di depan pintu kini mendekat dam memberikan pelukan hangat, usapan tangan sang bunda membuat Ana lebih tenang sekarang. “Menangislah ...” “Nak pergilah jika kamu tak kuat menyaksikanya, jangan paksa dirimu nak " " Pergilah kerumah om mu di Surabaya tenangkanlah pikiranmu di sana. Ibu ngak sanggup melihatmu seperti ini nak ,"ibu dan anak ini sama sama menangis berpelukan " tidak bu, hari ini hari bahagia bagi kakakku, aku ingin melihat kakak bahagia bu," tolak ana dengan senyum terpaksa , "Bu rani mari kedepan mempelai pria sudah dating," salah satu tetangga memberitahu kedatangan keluarga besan yang telah tiba, itu berarti ijab kobul akan segera dimulai, ana nampak menarik napas dalam dalam berusaha mencari kekuatan dalam dirinya , ''Ibu keluar duluya nak, tetaplah disini jika kamu menginginkanya," belaian tangan ibu menyisr rambut ana yang dibiarkan terurai wajahnya pun hanya memakai bedak dan lipstik tipis, Ana hanya menjawab dengan anggukan saja. " Kamu bisa Ana, kamu bisa,! Kamu nggak boleh lemah," lirih Ana menyemangati diri sendiri. Tarikan napas Ana mengiringi langkahnya menuju ruang akat nikah, dua kali sudah pak nugraha mencoba untuk menikahkan Adel namun dia selalu salah mengucapkan nama putrinya itu, akhirnya pak nugraha meminta pak ustad untuk menjadi wali nikah, begitupun Raka, setelah tiga kali mencoba barulah Raka berhasil mengucapkan ijab kabul walau pun dengan kata yang terbata bata "SAH!!'' Kata itupun akhirnya terucap , air mata darai semua undangan dan keluarga pun pecah , bukan tangis haru akan sakralnya pernikahan namun tangis yang karna tak tega melihat , sedih kasihan ,amarah menjadi satu dalam satu ruangan ini suasana pernikahan yang seharusnya penuh senyum kebahagiaan tapi suasana diruangan ini seperti menghadiri kematian ,tatapan para tamu hanya tertuju pada ana yang duduk disudut ruangan memakai kebaya hijau dengan wajah tertutup rambut terurainya. Ajeng yang sedari tadi disampingnya mengengam erat tangan sahabatnya itu, bisik bisik para tetangga yang terdengar bagaikan pisau yang mencabik cabik hati Bu safitri , bukan menantunya yang pertama dia peluk namun bu safitri justru berdiri menuju tempat ana dan memeluknya erat, tangis antara mereka sangat mengharukan , bagaimana tidak rasa bangga dan bahagia mendapat menantu seperti Ana kini sirna, tangis bu safitri menjadi jadi hingga pak budi datang untuk menenangkan istrinya, suasana semankin mencekam. " Maafkan ibuk nak, maafkan ibuk,” akhirnya bu safitripun lemas tak kuat berkata lagi, Raka yang sedari datang sampai kini hanya bisa tertunduk lesu tanpa bisa menatap sekeliling, ingin rasanya Raka menghampiri Ana dan membawanya pergi saat ini, tapi dia ngak mau membuat keluarga semakin malu akan perbuatanya , rasa bersalah dan penyesalannya campur aduk dalam hatinya,tapi senyum tiada putus terlihat di wajah Adel benar benar membuat seisi ruangan bingung, dimana hatinya , rasa malu dan menyesalpun tak tergurat sedikitpun, walau dia sangat berusaha berakting sedih namun usahanya kali ini gagal. Malam harinya rumah itu nampak sudah sepi, setelah makan malam Ana dan kedua orang tuanya memilih untuk duduk di teras , sedang sang penganten baru duduk berdua di ruang tamu, Raka menyibukan diri dengan membuka email email yang dikirimkan doni asistennya kemarin yang belum sempat dia buka. " Mas sudah malam kita kekamar ya, aku udah ngantuk nih," dengan suara genitnya Adela mencoba mengoda Raka , " Pergilah dulu nanti aku susul." Raka menjawab tampa menoleh tetap fokus dengan leptopnya, " Baiklah, tapi jangan lama lama ya" " Heeeem," mendapat jawaban dari raka membuat hati Adel berbunga , didepan cermin Adel dia melengok lengokan tubuhnya merasa yakin Raka kan terpesona padanya malam ini " Malam ini akan menjadi malam terindah bagi kita sayang." Adel dengan bayang bayang malam pertamanya menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan terus berangan angan Pandangan Raka kini menuju teras rasanya ingin sekali bergabung, dia sangat merindukan wajah Ana , walau sekarang serumah namaun statusnya kini telah berbeda Raka hanya bisa memandangnya dari kejauhan , tapi saat dekat Raka malah tak sanggup menatapnya, rasa bersalah yang mendalam membuat Raka tak bisa berbuat apa -apa, "Sudah malam kita tidur, besok saat kita membuka mata semoga semua akan lebih baik, terima takdir mu nak. Maafkan kakakmu ya nak" pak Nugraha memeluk putrinya Tanpa disadari air mata pak Nugraha menetes, betapa malang nasib putrinya ini " Mungkin Ini sudah menjadi takdir Ana pak,, bapak ngak usah khawatir Ana pasti bisa melalui ini pak,,, Ana bahagia kok pak melihat kak Adel bahagia" walaupun batin menangis Ana ngak mau orang tuanya ikut bersedih , tapi sekuat apa Ana menyembunyikannya tetap saja perasaan orang tua itu bisa merasakannya,, " Lho ka belum tidur? " Suara pak Nugraha mengagetkan Raka yang sedang fokus pada layar leptop nya, "I,,,,i ya pak sebentar lagi"tatapnnya bertemu dengan Ana yang berada di samping pak Nugraha, ini pertama kalinya dia menatap wajah Ana dari kedatanganya tadi pagi, bagai pisau menusuk jantung nya , perih ,,,, sesak rasanya melihat wanita yang sangat dia cintai terluka karna dia sendiri,,, rasa bersalah yang teramat dalam kini menjadi beban berat baginya,Ana yang merasa Raka memperhatikannya pun memalingkan pandanganya kearah lain,, " Tidurlah, ini sudah malam." Walupun dalam hati pak Nugraha sangatlah marah pada lelaki yang menyakiti putrinya ini, tapi lelaki ini sekarang tetaplah menjadi menantunya juga dalam battin pak Nugraha rasanya sedang ada perang dunia sekarang,, Harusnya malam ini adalah malam pertama untuk Ana , tapi sekarang dikamar sebelah lah Raka berada bersama kakaknya memadu cinta dalam kehangatan malam,, membayangkan itu air mata ana kini membasahi bantalnya,, menahan suara tangis sungguh menyiksa. Andai dia kini berada di tepi pantai pastilah dia akan bertariak sekencang kencangnya dengan beban berat dihatinya mungkin dia akan merasa sedikit lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD