"Se-jak kapan?" suara Agrin yang bergetar membuat suasana di antara keduanya semakin canggung. Tristan berjalan mendekati Agrin lalu meraih tangannya. Kini tubuh mereka kembali berhadapan. "Tidak peduli kapan aku tahu, aku hanya ingin melindungi mu dari mereka yang jahat padamu," ujar Tristan. Agrin menarik tangannya dari genggaman Tristan. "Kau sudah tahu identitasku, kenapa masih menginginkan wanita sepertiku, aku hanya anak haram yang tidak memiliki apapun," "Kau punya aku Agrin!" tegas Tristan. Agrin tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat lucu, pria sepertimu yang sudah kaya sejak lahir, kau biasa hidup mewah dan di sanjung banyak orang, kau memiliki kedua orang tua yang mencintai dan menyayangi mu, wanita sepertiku kelak hanya akan mempersulit hidupmu, dasar bodoh!" pekik

