Keesokkan harinya, Majarani terbangun dari tidurnya kala mendengar suara adzan subuh, namun Majarani tak beranjak turun dari kasur sebab kepalanya terasa pusing.
Tangan kanan Majarani kini meraih ponselnya yang berada di atas meja lampu tidur.
Raut wajahnya kecewa kala tak ada notifikasi pesan atau telepon dari sang kakak.
"Kak Richo kenapa nggak menghubungiku, apakah dia ... ah nggak! Kakak pasti baik-baik saja!" ucap Majarani.
Majarani pun turun untuk cuci muka dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya, walau dalam kondisi sakit kepala ia harus melaksanakan pekerjaan rumah agar tak mendapat hukuman dari ayahnya.
Majarani meringis kala kakinya terasa lemas, gadis itu bahkan hampir jatuh akibat kaki kanannya yang mendadak sulit digerakkan.
"Perasaanku nggak enak!" ucapnya.
***
Di sebuah rumah sakit, seorang anggota kepolisian yang terluka parah setelah menyelamatkan seorang wanita hamil yang hampir menjadi korban kekejaman teroris sedang berjuang antara hidup dan mati, dia sedang dalam masa kritis.
"Bertahanlah, kamu harus selamat!" ucap seorang dokter seraya terus menggunakan alat pemompa jantung untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.
Henti jantung secara mendadak membuat sang dokter panik dan bergegas menggunakan alat pemompa jantung.
Tubuh sang pria kejang seiring dengan diletakkannya alat pemompa jantung ke dadanya.
Tiba-tiba seorang anggota kepolisian masuk ke dalam, seorang anggota polisi yang tentunya sangat dekat dengan sang pria yang sedang berada di antara hidup dan mati itu.
Layar EKG hanya menunjukkan garis lurus, tak ada sedikitpun garis gelombang di sana, angka di EKG hanya menunjukkan angka nol saja.
"Richo, kamu harus berjuang, adikmu masih membutuhkanmu!" ucap sang polisi bernama Reval yang memberi semangat pada sahabatnya yang sedang kritis.
Sementara sang dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Maaf, Pak. Dia sudah nggak bernafas dan jantungnya sudah nggak berdetak lagi!" Sang dokter sudah putus asa sebab layar EKG tetap menunjukkan garis lurus meski ia sudah berusaha memompa jantung pasiennya.
"Enggak, Dok! Tolong terus berusaha! Richo nggak selemah itu, jadi tolong tetap optimis, Dok!" pinta Reval.
"Baik, Pak. Saya akan mencoba lagi!" jawab sang dokter yang kemudian berusaha lagi.
***
Di sebuah tempat, seorang pria berjalan dengan dituntun oleh seorang wanita paruh baya bergaun putih yang masih sangat cantik.
"Sebentar lagi kita akan tiba!" ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum.
"Kita mau ke mana, Bun?" tanya pria itu pada sang wanita paruh baya.
"Ke alam yang indah, tugasmu di dunia ini sudah berakhir dan sekarang adalah perjalanan menuju keabadian!" jawab sang wanita paruh baya.
"Kakak?" Teriakan seorang gadis membuat sang pria menghentikan langkahnya.
Sang wanita paruh baya kemudian berbalik bersama dengan sang pria untuk melihat siapa yang memanggil mereka.
Sang wanita paruh baya tersenyum ke arah sang gadis seraya melepaskan tangan sang pria.
"Pilihlah! Ingin kembali kepadanya dan menjalankan tugas serta kewajibanmu lagi atau ikut bunda ke alam surga?" tanya sang wanita paruh baya yang tak lain adalah Maharani, ibu sang pria yang sudah meninggal beberapa tahun silam.
Apa yang harus Richo pilih? Alam surga atau dunia?
Rasanya banyak orang yang ingin cepat-cepat masuk surga, namun tidak dengan Richo yang justru merasa bimbang dan tak langsung mengambil keputusan untuk ke surga.
"Jika kamu tega meninggalkannya, maka tinggalkanlah dia!" ucap Maharani.
"Maja sudah kehilangan bunda, Maja nggak mau kehilangan orang yang menyayangi Maja lagi sebab hidup Maja mungkin akan sunyi dan dipenuhi oleh derita!" ucap sang gadis yang tak lain adalah Majarani sambil meneteskan air matanya.
Majarani hanya berdiri di depan, ia tak bisa pergi ke arah kakak dan ibunya, sebab ada tiang pembatas transparan di antara mereka.
"Bunda, Richo sangat ingin ke surga bersama bunda, tapi Richo nggak mau meninggalkan Majarani sebelum dia menikah dan sudah punya pelindung, ayah akan terus mengintimidasinya bila Richo nggak ada, maka biarkan Richo tetap hidup, setidaknya sampai dia menikah dan sudah punya pelindung!" pinta Richo seraya menatap sendu ke arah bundanya.
"Itu keputusanmu, bunda nggak bisa memaksa, tapi semuanya ada di keputusan sang ilahi, jika dia ingin memanjangkan umurmu maka kamu akan kembali, namun bila nggak, maka kamu akan pergi!" jawab Maharani.
"Terima kasih, Bunda!" ucap Richo.
"Bunda yang harus berterimakasih padamu karena kamu telah menjaga Majarani dengan sangat baik, kamu juga sudah sangat membanggakan bunda sebab kamu rela terluka demi menyelamatkan dua kehidupan, wanita hamil itu sangat beruntung bisa kamu selamatkan!" jawab Maharani.
***
Suara detak jantung Richo mulai terdengar dari audio EKG, layar EKG juga sudah menunjukkan garis bergelombang dan angka EKG menunjukkan angka 45.
"Alhamdulillah, dia kembali bernafas dan jantungnya berdetak, meski masih lemah!" ucap sang dokter seraya mengusap keringat yang ada di keningnya.
"Terima kasih, Dok. Usaha kerasmu membuahkan hasil!" jawab Reval sambil tersenyum.
"Jangan berterimakasih padaku karena ini semua berkat sang pencipta!" ucap sang dokter.
***
Di sebuah rumah mewah berlantai dua, seorang gadis terbangun dari tidurnya yang tidak disengaja.
"Kenapa aku ketiduran di sini? Bukankah tadi aku sedang menulis sesuatu?" tanya Majarani pada dirinya sendiri kala ia ternyata ketiduran di sofa padahal tadi ia sedang menulis.
Majarani terdiam kala ia mengingat mimpinya, mimpi bertemu dengan sang bunda dan kakaknya yang hendak pergi meninggalkannya.
"Aku harus menghubungi kakak, aku nggak bisa tenang sebelum mengetahui bagaimana kondisinya!" ucap Majarani yang kemudian berlari ke arah kasurnya untuk mengambil ponselnya.
Setelah meraih ponselnya, ia segera menghubungi nomor sang kakak.
"Halo!" ucap seorang pria dari seberang teleponnya.
Majarani memasang raut kecewa kala yang mengangkat teleponnya adalah pria lain bukan kakaknya.
"Di mana Kak Richo?" tanyanya pada sang pria.
"Em, dia ... dia ...,"
"Kakakku kenapa Kak Reval?" tanya Majarani pada Reval.
"Dia nggak apa-apa, semuanya baik-baik saja kok! Kemungkinan tiga hari lagi kamu semua akan pulang!" jawab Reval dengan bohong.
"Benarkah kakak nggak apa-apa? Lalu siapa anggota yang katanya terluka parah?" tanya Majarani pada Reval.
"Oh, itu anggota yang lain bukan kakakmu, kakakmu baik-baik saja!" bohong Reval.
"Kalau begitu di mana dia? Aku ingin bicara dengannya!" pinta Majarani pada Reval.
"Em, dia ... dia sedang di kamar mandi!" Reval mencoba mencari alasan yang logis agar Majarani tak merasa curiga.
"Kak Reval nggak lagi bohong, kan?" tanya Majarani pada sahabat lama kakaknya yang memang sudah sangat ia kenali selama ini.
"Enggak dong! Selama ini 'kan Kak Reval nggak pernah bohong!" jawab Reval.
"Baiklah, nanti kalau Kak Richo ada waktu tolong suruh dia menghubungiku ya!" pinta Majarani pada Reval.
"Iya, baiklah!" jawab Reval yang kemudian memutus sambungan teleponnya.
"Maafkan Kak Reval, Maja! Kakak nggak bisa memberi tahu kondisi Richo karena kakak sudah janji untuk nggak bilang padamu!" ucap Reval.
Pada saat kejadian dan sebelum Richo tak sadarkan diri, Richo memberi pesan pada Reval untuk tidak mengabari orang rumah mengenai kondisinya karena Richo tak ingin orang rumah, apalagi Majarani menjadi cemas dan mengkhawatirkannya.
Richo tentu mengingat bahwa sang adik punya jadwal penerbangan ke Bangkok beberapa hari lagi dan Richo tak ingin menganggu pikiran Majarani, jangan sampai Majarani tidak fokus dalam menjalankan tugas karena memikirkan dirinya.
Siang harinya, Majarani hendak makan siang namun sang ayah melarangnya.
"Enak sekali langsung makan!" ucap Saka.
"Sana beli beras dulu ke mall, persediaan berasnya sudah habis!" ucap Vina seraya melempar beberapa lembar uang berwana merah ke atas lantai.
"Em, baiklah, Maja akan beli beras dulu, tapi tolong sisakan makanan untuk Maja ya?!" pinta Majarani pada keluarganya.
"Kalau kamu bisa pulang cepat maka akan ada sisa, tapi jika nggak cepat, maka semua makanan akan habis!" jawab Saka.
"Em, tapi, Yah. Mall jauh dan nggak mungkin Maja bisa tiba tepat waktu!" jawab Majarani seraya menatap sendu ke arah Saka.
"Terserah!" ucap Saka.
"Cepat pergi, jangan cari perkara sebab kakakmu nggak ada di rumah, jangan sampai kamu menghukummu!" gertak Vina.
"Baiklah!" ucap Majarani yang kemudian bergegas pergi dari sana.
"Ayah, Kak Richo sedang nggak ada dan ini adalah waktu yang tepat untuk menghancurkan Majarani, aku nggak mau dia merebut Arsen dariku!" ucap Meliza setelah Majarani pergi.
"Kamu mau ayah melakukan apa?" tanya Saka pada Meliza.
"Renggut kesuciannya, jika dia sudah nggak virgin maka Arsen nggak akan pernah mau dengannya!" jawab Meliza.
"Bagaimana ayah melakukannya? Dulu ayah sudah pernah membayar orang untuk melakukannya tapi Richo menyelamatkannya!" ucap Saka.
"Itu dulu dan sekarang Kak Richo nggak ada, jadi rencana ayah pasti akan berhasil!" jawab Meliza.
"Tapi bagaimana jika Richo tahu bahwa ayah yang membayar orang untuk melakukan hal itu?" tanya Saka pada putrinya.
"Buat rekaman editan! Buat seakan Majarani telah berzina sehingga Richo nggak akan bisa menolongnya dan dia akan mengandung tanpa suami!" jawab Vina.
"Iya, jika Maja dipaksa maka Richo akan menolongnya dan membawa masalah ini ke jalur hukum, tapi jika Maja berzina maka Richo nggak akan bisa menolongnya!" ucap Saka.
"Lakukan malam ini, rencanakan semuanya dengan matang!" pinta Vina sambil tersenyum miring.
Beberapa saat kemudian, Majarani pulang dari mall dengan membawa satu karung beras.
"Ini, berasnya!" ucapnya.
"Mau makan? Sana ke meja makan, masih ada makanan!" ucap Saka dengan lembut.
Majarani terdiam, ia merasa terkejut kala sang ayah berubah sikap menjadi lembut kepadanya.
"Ayah menyuruh Maja makan?" tanya Majarani pada ayahnya.
"Iya, makanlah yang banyak!" jawab Saka sambil tersenyum.
Tentunya Saja sedang bersandiwara agar Majarani senang di awal dan nanti malam ia akan menjalankan aksinya.
"Terima kasih, Ayah!" ucap Majarani sambil tersenyum dan kemudian pergi ke arah dapur.
"Biarkan dia bahagia pagi ini hingga sore dan nanti malam akan ada kejutan besar yang mampu membuatnya hancur!" ucap Saka seraya menaruh tangannya di pundak sang istri.
"Iya, kita prank dia!" jawab Vina sambil tersenyum.
Malam harinya, Majarani hendak tidur namun sang ayah masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa ayah?" tanya Majarani pada ayahnya.
"Em, tolong bayar listrik di PLN, ayah lagi nggak enak badan dan nggak mungkin bisa terkena angin malam, kan?" ucap Saka seraya memasang tatapan nanarnya yang dibuat-buat.
"Oh, baiklah!" jawab Majarani.
"Ini uangnya!" ucap Saka seraya memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Majarani.
Majarani pun bergegas pergi untuk melaksanakan perintah ayahnya.
Setelah Majarani pergi, Saja menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Dia pergi ke arah PLN dan usahakan untuk menculiknya sebelum ia tiba di tempat keramaian!" titah Saka pada anak buahnya.
"Siap, Bos!" jawab anak buahnya.
"Terserah kamu mau pakai dia sendiri atau sama temanmu, saya nggak peduli, yang penting buat dia hamil!" titah Saka.
"Siap, Bos!" jawab sang anak buah.
Saka kemudian memutus sambungan teleponnya dan berkata, "Dia bukan anak kandungku, Maharani telah berselingkuh dan itu artinya aku nggak punya tanggung jawab untuk melindungi anak bungsunya itu!"
***
Di sepanjang jalan, Majarani tersenyum, ia merasa sangat bahagia sebab sang ayah sudah bersikap baik padanya.
Majarani tak mengerti bahwa ayahnya hanya bersandiwara saja, gadis malang itu tak tahu bahwa ayahnya ingin memberinya tawa sebelum duka.
Majarani menghentikan langkahnya ketika sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Dua orang pria kemudian keluar dari mobil dan langsung menculik Majarani.
Majarani memberontak, namun salah satu dari pria itu membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius yang sangat menyengat baunya.
Majarani kemudian jatuh tak sadarkan diri setelah menghirup aroma menyengat dari sapu tangan tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, tubuh Majarani dilempar ke atas ranjang usang yang terletak di dalam rumah kosong.
"Sebelum dia sadar kita harus membuat rekaman itu dulu sesuai dengan perintah bos!" ucap salah satu dari ketiga orang yang ada di sana.
"Tapi bagaimana mengeditnya agar dia kelihatan menikmati sentuhan?" tanya pria lain.
"Sekarang zaman canggih, kita berikan rekaman itu pada orang yang pintar mengedit dan setelah itu, rekaman palsu perzinahan akan jadi!" jawab pria berbaju hijau.
"Oke, cepatlah buat rekamannya, aku sudah nggak sabar mencicipi tubuhnya!" ucap pria bertopi hitam.
Beberapa saat kemudian, rekaman sudah siap, sang perekam pun segera melempar ponselnya ke sofa dan kemudian ia melepas bajunya.
"Aku duluan!" pinta pria bertopi hitam seraya melepas topinya.
"Yang dapat pekerjaan ini adalah aku dan kalian berdua hanya aku ajak, jadi, biar aku dulu!" tolak sang perekam.
"Apaan sih, gitu aja rebutan, nanti 'kan kita bakalan ke bagian!" ucap pria berkaos putih sambil menghisap sebatang rokok.
"Masalahnya gadis ini masih suci dan pria yang memakainya duluan adalah pria yang beruntung!" jawab pria bertopi hitam.
"Ya sudah! Biar adil, kita suit aja!" ucap pria perekam.
"Oke, siapa takut!" jawab pria bertopi hitam yang kemudian mengulurkan tangannya.
Setelah suit sebanyak tiga kali, akhirnya pria perekam lah yang menang.
"Tetap aku 'kan yang duluan!" ucapnya sambil tersenyum.
"Ya sudah san cepat!" kesal pria bertopi hitam.
"Wah, barang bagus nih, masih virgin!" ucap pria perekam yang kemudian hendak menindih Majarani, namun Majarani membuka matanya dan menendang pria itu.
"Mau apa kalian?" teriak Majarani sambil beranjak duduk dan mundur ke belakang.
"Gadis manis, jangan kasar dong sama abang! Kan abang nggak kasar sama kamu!" ucap pria perekam sambil maju dan menyerang tubuh Majarani.
"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Majarani sambil terus berusaha mendorong tubuh sang pria namun ia tidak sanggup.
Dua buah tamparan yang cukup keras membuat Majarani hampir kehilangan kesadarannya, ia sudah tak berdaya.
"Saya mohon lepaskan saya!" mohonnya sambil menangis.
"Diam!" bentak sang pria yang kemudian mencium kedua pipi Majarani.
"Jangan sentuh saya! Pergi!" teriak Majarani sambil menangis dan berusaha mengigit tangan sang pria namun sang pria justru menggunakan sikutnya untuk memukul wajah Majarani.
"Jangan melawan jika nggak ingin aku bermain kasar!" bentak sang pria.
"Gadis lemah sepertimu tak akan bisa melawan kami bertiga!" ejek sang pria bertopi hitam sambil tersenyum miring.
"Jangan!" teriak Majarani sekeras mungkin kala sang pria hendak mengambil kesuciannya, beruntung seorang pria mendobrak pintu.
"Sial!" umpat sang pria perekam yang sudah hampir berhasil menodai Majarani.
Majarani bernafas lega kala kesuciannya terselamatkan, ia pun segera berdiri sambil memperbaiki dua kancing bajunya yang dibuka paksa sebelumnya.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur!" gertak pria berkaos putih pada sang pria penyelamat.
"Apa kalian bertiga tak punya harga diri sehingga tega memaksa seorang gadis? Memaksa kaum lemah, cih! Kalian semua adalah sampah masyarakat yang harus dibasmi!" ucap sang pria berwajah datar yang kemudian menyerang ketiga pria itu.