Setelah berpikir sejenak, akhirnya Majarani mengambil sebuah keputusan.
"Maaf, Arsen. Tapi aku memilih Liam sebab aku harus mematuhi Kak Richo!" Majarani meminta maaf pada Arsen karena Majarani menolak bantuan darinya.
"Harusnya kamu memilih orang pertama bukan orang kedua!" ucap Arsen dengan wajah datarnya.
"Kamu nggak ngerti, Arsen! Kak Richo itu adalah orang yang paling aku hormati karena dia sudah seperti orangtuaku sendiri!" Majarani mencoba memberi penjelasan pada Arsen.
"Halah, bilang aja kamu lebih memilihnya ketimbang aku, kan?" Kesal Arsen seraya melepas tangan kanan Majarani.
"Pilot kulkas tukang marah!" ucap Majarani yang kemudian berjalan ke arah motor Liam.
"Maaf ya, ini amanah!" Liam meminta maaf pada Arsen sebelum pergi meninggalkan Arsen.
"Dasar menyebalkan, siapa yang duluan, siapa yang dipilih, dasar menyebalkan!" kesal Arsen yang kemudian berjalan ke arah mobilnya.
"Tunggu! Mengapa aku harus rebutan dengan Liam? Mengapa?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Arsen dibuat tidak waras setelah bertemu dengan Majarani, ia suka marah dan emosi apabila melihat Majarani bersama dengan pria lain, seolah ia merasa bahwa Majarani adalah miliknya.
Mungkinkah Majarani telah menaklukkan hati sang pilot kulkas?
***
Di sepanjang perjalanan, hanya ada kesunyian kala Majarani dan Liam hanya diam saja.
"Rasanya sangat sepi ketika bersamanya, aku pengen diajak berantem lagi!" batin Majarani.
"Nona Tionghoa, sebentar lagi kita akan tiba!" ucapan Liam membuat keheningan hilang.
"Hm." Respon singkat dari Majarani.
Beberapa menit kemudian, motor Liam berhenti di halaman rumah Majarani.
Majarani pun turun dari motor Liam seraya melepas helm yang ia kenakan.
"Em, maaf ya, Maja. Aku nggak bisa mampir, soalnya aku ada pekerjaan?!" Liam meminta maaf karena tak bisa main sebentar di rumah Majarani karena ada pekerjaan yang sedang menunggunya.
"Enggak apa-apa, tuan perwira, saya ngerti kok!" jawab Majarani.
"Wait, kamu bilang apa tadi?" tanya Liam pada Majarani.
"Em ... tuan perwira?!" jawab Audrey.
"Bukan! Tapi caramu menyebut dirimu sendiri dengan kata saya!" Liam menjelaskan.
"Oh, itu. Emangnya kenapa?" tanya Majarani pada Liam.
"Kamu menciptakan jarak di antara kita, Maja. Harusnya aku kamu bukan saya kamu, bukankah kita sudah berteman?" ucap Liam seraya memasang raut wajah kecewanya.
"Maafkan say ... aku maksudnya, maaf ya! Aku hanya sedang banyak pikiran saja, jadi salah bicara!" Majarani meminta maaf pada Liam.
"Hm, baiklah! Lain kali aku kamu saja jangan saya kamu, dalam pertemanan nggak boleh begitu!" jawab Liam sambil tersenyum.
***
Malam harinya, Majarani sudah tertidur pulas namun ia terbangun kala merasa ada sebuah tangan yang menyentuh pipinya.
"Kakak?" ucapnya setelah membuka mata dan melihat ada kakaknya yang sedang tidur di sampingnya.
"Iya, tidurlah!" jawab Richo.
"Kenapa kakak ada di sini?" tanya Majarani pada kakaknya.
"Enggak apa-apa, hanya ingin tidur dengan adik kakak saja karena mungkin ini yang terakhir kalinya!" jawab Richo sambil tersenyum.
"Terakhir?" Majarani terkejut kala Richo mengatakan hal itu.
"Iya, karena kakak nggak akan tidur di sini lagi, kamu 'kan sudah dewasa!" jawab Richo.
"Oh, begitu ya, baiklah!" ucap Majarani sambil tersenyum dan kembali menutup kedua matanya.
"Maaf, kakak nggak beri tahu alasan yang sebenarnya karena kakak takut kamu akan cemas!" batin Richo.
***
Beberapa jam kemudian, Majarani terbangun dari tidurnya kala mendengar suara adzan Subuh.
"Cepat cuci muka, gosok gigi dan berwudhu, kita sholat subuh berjamaah!" titah Richo seraya menyusun sajadah ke atas tikar yang sudah ia gelar sebelumnya.
Majarani tersenyum dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri.
***
Pagi harinya, Majarani pergi ke meja makan untuk sarapan namun ia tak melihat ada kakaknya di sana.
"Di mana Kak Richo?" tanya Majarani pada keluarganya.
"Dia sudah pergi sejak tadi, dia diberi tugas besar dan nggak akan pulang selama satu Minggu!" jawab Meliza tanpa melihat Majarani.
"Apa?" Majarani terkejut mendengar hal itu.
"Emangnya dia nggak beri tahu kamu? Biasanya jika hendak pergi dia selalu beri tahu kamu?" ucap Vina.
"Itu tandanya Richo sudah nggak peduli padamu!" jawab Saka.
"Ternyata alasan kakak semalam tidur bersamaku adalah ini? Karena dia akan pergi meninggalkanku?" ucap Majarani di dalam hatinya.
Majarani pun bergegas pergi ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ya Allah, tolong lindungi kakakku, hanya dia satu-satunya anggota keluarga yang menyayangiku, tolong jangan ambil dia!" Majarani mendoakan keselamatan kakaknya seraya duduk di pinggiran ranjang.
Mata Majarani kini tertuju pada ponselnya, ia pun segera meraih ponsel yang duduk manis di atas meja lampu dengan segara dan kemudian menyalakannya.
Majarani mencoba mencari informasi tentang sang kakak dari Liam.
"Halo?" ucap Liam dari seberang teleponnya.
"Liam, apa kamu tahu tentang tugas Kak Richo?" tanya Majarani pada Liam.
"Oh, tentu saja aku tahu, aku 'kan sahabatnya!" jawab Liam.
"Dia diberi tugas apa sehingga nggak pulang ke rumah selama satu Minggu?" tanya Majarani pada Liam.
"Em ... sebenarnya tugas ini adalah tugas besar dan anggota yang diberi tugas ini adalah pilihan, tugas ini berbahaya dan berisiko!" jawab Liam dengan jujur.
Majarani merasa cemas setelah mendapat informasi bahwa kakaknya sedang dalam bahaya.
"Tapi kamu tenang saja ya! Kakakmu pasti akan pulang dengan kemenangan dan dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun!" lanjut Liam yang mencoba menenangkan pikiran Majarani.
"Yeah, kakakmu akan pulang! Pulang hanya dengan nama!" ucap Meliza dari pintu.
Majarani segera memutus sambungan teleponnya kala melihat kedatangan Meliza.
"Apa maksudmu?" tanya Majarani seraya beranjak berdiri dan menghampiri Meliza.
"Kak Richo akan gugur dalam tugas ini, dia nggak akan pulang!" jawab Meliza.
"Mbak ini bicara apa? Apa mbak sadar dengan apa yang mbak katakan?" marah Majarani.
"Apa kamu pikir aku sayang padanya? Enggak! Dia itu adalah orang yang aku benci setelah kamu karena dia selalu pilih kasih dan membelamu!" jawab Meliza.
"Aku harap dia tiada, aku harap pelindungmu lenyap!" lanjut Meliza yang kemudian pergi dari sana.
"Aku harus menghubungi Kak Richo!" ucap Majarani yang kemudian hendak menghubungi kakaknya, namun ponselnya habis baterai.
"Kenapa habis sih?" kesal Majarani yang kemudian segera pergi untuk mengecas ponselnya.
***
Siang harinya, Majarani pergi ke taman kota untuk menenangkan pikirannya.
"Lusa akan ada jadwal penerbangan ke Bangkok, rasanya aku nggak bisa tenang meninggalkan rumah dan tanpa tahu kabar Kak Richo!" ucapnya seraya duduk di bangku taman.
Taman kota saat ini sudah dipenuhi oleh banyak orang dan keluarga yang sedang piknik atau hanya sekedar jalan-jalan saja.
"Wah ada tukang bakso bakar tuh! Sudah lama aku nggak jajan bakso bakar, pengen beli tapi aku nggak bawa uang!" ucapnya seraya melihat ke arah penjual bakso bakar yang sedang mangkal di bawah pohon yang rindang.
"Kamu mau itu?" tanya seorang pria dari belakang Majarani.
Majarani pun beranjak berdiri dan berbalik, ia melihat ada Liam yang berdiri di belakangnya.
"Liam? Kamu kok ada di sini, bukannya ini jam kerja kamu ya?" tanya Majarani pada Liam.
"Memangnya kami para polisi nggak diberi jam makan siang? Diberi dong!" jawab Liam.
"Oh, begitu ya!" ucap Majarani.
"Enggak nyangka ketemu kamu di sini, padahal aku tadi ke sini hanya untuk cari hiburan saja!" kata Liam.
"Aku juga nggak nyangka bakalan ketemu di sini!" jawab Majarani.
"Kamu mau jajan bakso bakar, kan? Ayo aku belikan!" ucap Liam.
"Em, nggak usah, Liam! Aku nggak enak ngerepotin kamu!" tolak Majarani.
"Hanya beli bakso bakar saja kok, paling cuma 10 ribu, aku belikan ya!" ucap Liam yang kemudian bergegas pergi ke arah penjual bakso bakar itu.
Majarani pun kembali duduk ke bangku taman kala Liam sudah pergi untuk membeli jajanan.
Beberapa saat kemudian, pria berseragam polisi itu kembali dengan membawa satu plastik bakso bakar dan satu botol Aqua.
"Nih!" ucapnya seraya duduk di sebelah Majarani.
"Terima kasih!" jawab Majarani seraya menerima pemberian Liam.
"Sepertinya kamu punya banyak waktu ya? Apa nggak ada jadwal penerbangan?" tanya Liam pada Majarani.
"Aku adalah pramugari baru jadi jadwalku nggak terlalu padat, lusa aku tugas ke Bangkok!" jawab Majarani.
"Bangkok?" ucap Liam.
"Iya ke Bangkok!" jawab Majarani.
"Ya sudah kamu makan baksonya ya!" titah Liam.
"Kamu juga makan, aku nggak enak makan sendirian!" jawab Majarani.
"Enggak apa-apa, makan saja!" bujuk Liam.
"Ini ada enam tusuk, jadi ambillah! Kita tiga-tiga ya!" pinta Majarani.
"Baiklah!" jawab Liam sambil tersenyum.
"Hem, pedas, aku sangat suka!" ucap Majarani setelah memakan satu pentol bakso bakarnya.
Berbeda dengan Liam, yang matanya langsung memerah kala memakan dua pentol bakso bakarnya.
"Kamu kepedasan?" tanya Majarani pada Liam.
"Aku nggak terlalu suka pedas dan ini pedas sekali, tapi nggak apa-apa!" jawab Liam.
"Pria emang gitu, nggak suka pedas, Kak Richo dan ayahku saja nggak suka!" ucap Majarani.
"Hm, tapi ada juga yang suka pedas!" jawab Liam.
"Arsen!" ucap Majarani sambil melamun.
"Apa?" tanya Liam kala Majarani menyebut nama pria lain.
"Oh, maksudnya, si pilot kulkas itu suka pedas, waktu itu pas kita makan malam di restoran Prancis, dia makan banyak sambal!" jawab Majarani sambil tersenyum.
"Oh!" Respon singkat Liam.
"Kalau dia selalu mengingat orang lain ketika bersamaku, lalu bagaimana aku dan dia bisa dekat? Dan bagaimana aku bisa membuatnya melupakan Arsen sesuai dengan permintaan Richo padaku beberapa hari lalu?" batin Liam.
Beberapa saat kemudian, Majarani pulang ke rumahnya tanpa diantar oleh Liam sebab Majarani ingin berjalan kaki dan menikmati udara yang sejuk.
"Sejak dulu aku suka mendung karena mendung bisa menyejukkan hatiku!" ucapnya sambil menikmati angin yang berhembus ke tubuhnya.
Hati Majarani selalu merasa damai dan nyaman kala awan putih berubah menjadi hitam kelabu, terlebih di saat rintik-rintik air mulai turun dari kahyangan membasahi bumi, hanya cuaca dan suasana seperti itulah yang sanggup memberikan ketenangan untuknya.
Tak banyak orang yang suka kesunyian dan hujan, hanya sebagian kecil saja yang suka mendung dan gerimis, salah satunya Majarani yang selalu merasa bahagia bila hujan hendak turun.
Hujan bisa membuat suasana ibukota menjadi senyap dan hanya rintikan air hujan saja yang terdengar, mungkin itulah alasan Majarani menyukai cuaca yang dianggap buruk oleh semua orang, namun tidak bagi Majarani yang justru sangat menyukainya.
Setelah berjalan cukup jauh dari taman kota, Majarani berhenti kala berpapasan dengan Arsen yang baru saja keluar dari sebuah rumah makan.
"Kenapa harus kenapa dengannya lagi sih? Sangat membosankan!" kesal Majarani di dalam hatinya.
"Haduh, di mana-mana selalu ada kamu, huh! Menyebalkan!" ucap Arsen seraya memasang wajah datarnya.
"Emangnya kamu pikir aku suka ketemu sama kamu, enggak! Bosan sekali setiap hari selalu melihat wajah datarmu, pilot kulkas!" jawab Majarani.
"Pramugari menyebalkan!" ejek Arsen.
"Pilot kulkas dari kutub Utara!" balas Majarani.
"Pramugari menyebalkan, pikun, cengeng!" ejek Arsen lagi seraya berjalan ke arah mobilnya.
"Pilot kulkas, nggak punya hati, wajah triplek!" balas Majarani.
Majarani pun segera pergi dari sana karena merasa kesal dan tidak mau diejek lagi oleh Arsen.
"Pramugari menyebalkan!" teriak Arsen kala Majarani menjauh darinya.
"Pilot kulkas, tidak waras!" ucap Majarani seraya terus melangkah pergi.
***
Malam harinya, Majarani mencoba menghubungi nomor telepon Richo, namun nomor telepon kakaknya tidak aktif.
"Kemana kakak? Aku sangat khawatir, apakah dia akan baik-baik saja?" panik Majarani kala tak dapat menghubungi nomor kakaknya.
Tiba-tiba ponselnya berdering kala ada panggilan masuk dari Liam.
"Halo?" ucap Majarani.
"Maja, aku mendapat kabar bahwa salah satu dari anggota yang melaksanakan tugas besar itu terluka parah!" Liam memberi informasi pada Majarani melalui sambungan teleponnya.
"A—apa? Tapi siapa?" tanya Majarani yang dengan panik.
"Aku nggak tahu siapa, tapi semoga saja bukan kakakmu!" jawab Liam.
Majarani pun segera menutup ponselnya dan menangis kala mengkhawatirkan kondisi sang kakak.
"Pertama ibu kandungku dan kedua kakakku, satu-satunya orang yang aku punya. Ya Allah kenapa selalu ingin memisahkan ku dari orang-orang yang aku sayangi? Kenapa?" ucapnya sambil menangis terisak.
"Tolong jangan ambil kakak, aku sangat menyayanginya dan hanya dia yang menyayangiku, tolong jangan ambil dia!" lanjut Majarani seraya terus menangis.
Majarani tidak akan rela bila harus kehilangan orang yang ia sayangi dan yang menyayanginya lagi, kematian Maharani sudah menjadi duka yang mendalam baginya.