(HAPPY READING)/
Saat terdengar suara deruman mobil, aku langsung turun ke bawah. Aku tahu itu adalah suara mesin mobil suami ku.
"Mas, kenapa kamu pulang tel-,"
Perkataan ku mengambang begitu saja ketika suamiku tidak pulang seorang diri. Ada orang lain di dalam dekapannya.
"Apa ini, Mas? Anak siapa yang kamu bawa pulang? Kamu pulang telat karena anak itu?" tanyaku berturut-turut.
Pasalnya setelah kami membawa Kakakku bersama istrinya ke tempat peristirahatan terakhir mereka, suamiku langsung meminta izin padaku untuk mengurus pekerjaannya sebentar. Namun, aku tidak tahu kalau pekerjaannya adalah anak di dalam dekapannya yang lagi tertidur nyenyak.
"Dia anakku," ujar suamiku membuat kakiku langsung lemas.
"Kamu punya anak?" tanyaku sangat tidak percaya.
"Iya, dia darah dagingku," ucap suamiku memperjelas.
"Ti-dak! Kamu berbohong kan, Mas?! Aku-aku lagi mengandung anak kamu, Mas! Tapi, apa yang sudah kamu lakukan padaku, ha?! Kamu malah punya anak dari wanita lain!" ucapku dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Maaf, sayang," ucap suamiku dengan kepala tertunduk.
Aku menggeleng ribut, "Aku mau bertemu wanita itu. Di mana dia sekarang?"
"Dia sudah pergi."
"Pergi?" tanyaku mengernyit dan dibalas anggukan kepala dari suamiku.
"Semalam dia baru kecelakaan dan meninggal dunia."
Aku tersenyum samar, "Oh, jadi niat kamu membawa anak ini ke rumah agar ada yang menjaganya? Begitu?"
Suamiku menatap ku lekat, "Kamu mau kan menganggap dirinya sebagai anak kamu juga?"
Aku menatapnya tidak percaya, "Kamu egois, Mas! Aku lagi hamil besar dan kamu seenak jidatnya membawa anak kamu dengan wanita lain. Di mana janji kamu ketika mengatakan akan selalu bersamaku, ha?!"
"Sayang," panggilnya begitu lirih sambil ingin meraih lenganku, namun segera aku jauhkan.
"Jangan sentuh aku! Ternyata benar kata Mama, pria tidak akan pernah cukup dengan satu wanita! Kamu-,"
Aku menunjuknya tepat di hadapan wajahnya, "Kamu sudah melanggar semua janji yang kamu buat bersamaku!"
"Aku benci pengkhianatan! Aku benci pria seperti kamu! Aku benci kamu, Mas! Kamu urus anak kamu sendiri!" ucapku berlalu meninggalkan dirinya yang sibuk memanggilku.
Suamiku menatap punggungku sampai menghilang di balik pintu kamar.
Perkenalkan, nama suamiku Varun Abyantara. Aku adalah Helly Arismaya. Anak kedua dari Pari Arismaya dan Sachin Arismaya. Adik dari almarhum Namish Arismaya. Adik Ipar dari almarhum Teja Abyantara. Terakhir menantu dari Soni Abyantara dan Amar Abyantara.
"Mas Varun ingkar janji padaku, Mas. Hikshiks! Aku tidak suka dia berbohong. Kenapa tidak dari awal saja dia mengatakan kalau ia punya wanita lain? Kenapa, Mas?!"
Aku menangis di hadapan foto Mas Namish yang hanya tinggal kenangan, "Mas berjanji padaku kalau misalnya Mas Varun mengkhianati ku, Mas akan mengambil ku balik. Ayo, Mas! Datang padaku. Bawa aku bersama kamu, hiks!"
"Aku tidak sanggup tinggal bersama penghianat seperti Mas Varun, hikshiks!"
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku terbangun dari tidurku, lalu menatap kesamping dan tidak mendapatkan siapa pun. Aku baru ingat kalau semalam pintunya aku kunci. Pantas saja Mas Varun tidak ada disampingku. Ada sih kunci cadangan, mungkin dia sengaja memberikan ku waktu.
Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket. Beberapa menit kemudian, aku keluar dan segera ke lantai satu dengan baju daster yang aku pakai selama lagi hamil.
Pagi ini rumah lagi ramai. Kedua keluarga berkumpul di ruang tamu termasuk anak itu. Dia berada di pangkuan Mas Varun.
Aku berdeham untuk mengambil atensi mereka.
"Bunda!!!"
Anak kecil berumur kurang lima tahun itu berlari kearahku dan langsung memeluk kedua kakiku. Aku tersenyum tipis pada semuanya, lalu berjongkok dengan berhati-hati.
"Kamu boleh panggil saya Bunda di depan kedua keluarga saya. Tapi jika kamu cuma bersama saya dan Ayah kamu, kamu panggil saya Tante. Bagaimana, hm?" ucapku sangat pelan agar tidak terdengar yang lainnya.
Anak yang tidak ku ketahui namanya hanya mengangguk patuh.
"Maaf," balasnya sambil menundukkan kepala.
"Tidak masalah. Sekarang kita bergabung dengan yang lainnya."
Aku menarik tangannya dan tanpa sengaja menggenggam erat tangannya. Anak itu berpindah sama Mas Varun dan duduk lagi ke pangkuannya.
"Bunda tadi bilang apa sama Farhan?" bisik Mas Varun tepat di telinganya, lalu mengecup pipinya sekali.
"Ayah, tangan Falhan sakit."
Anak yang bernama Farhan itu mengadu pada Mas Varun.
"Tangan kamu kenapa, sayang?" tanya Mas Varun saat melihat lengan Farhan terluka.
Farhan tidak membalas, ia justru menatap ku yang sibuk bicara dengan Mama mertua.
"Maafkan Bunda ya, sayang," ucap Mas Varun yang mulai mengerti akibat luka di lengan Farhan.
Farhan menatap Mas Varun dengan senyuman lebarnya, "Tidak, Ayah. Mungkin Bunda belum telbiasa dengan kehadilan Falhan."
"Ayah dan Bunda sayang kamu," ucap Mas Varun, lalu mengecup pipi Farhan sekali lagi.
"Falhan juga sayang Ayah dan Bunda. Telima kasih kalena sudah mau menelima Falhan."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
"Maaf ya, sayang. Mama sama sekali tidak tahu kalau Varun punya wanita lain diluaran sana," ucap Mama lirih seraya menggenggam tangan ku hangat.
"Kita semua sudah dibohongin Mas Varun. Jadi, semuanya bukan lah salah Mama. Kejadian yang sudah menimpa kita adalah salah Mas Varun."
Aku menahan suaraku agar tidak bergetar, "Kalau saja Mas Varun tidak menyuruh Mas Namish dan Mbak Teja pergi ke kantor di malam hari yang lagi hujan, kita tidak akan kehilangan keduanya, Ma. Mas Varun memang egois. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri."
Mama tersenyum samar, "Sudah. Semuanya sudah berlalu. Kita harus banyak-banyak berdoa agar keduanya tenang di alam sana."
Aku mengangguk, lalu menggeleng, "Helly belum bisa menerima kepergian mereka secepat ini, Ma. Helly merasa-,"
"Tuhan tidak adil padaku. Dia mengambil orang yang begitu Helly sayangi," lanjut ku makin terisak pilu.
"Ingin rasanya Helly mengulang waktu lagi. Helly ingin melarang mereka agar tidak pergi di saat hujan deras, hikshiks!"
Mama membawa ku ke pelukannya, "Sudah, sayang. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Kita sebagai makhluknya hanya bisa menerima segalanya."
Tanpa kami ketahui, Mas Varun berdiri di balik pilar tangga bagian atas, "Jika boleh jujur, Mas juga tidak mau semuanya terjadi begitu saja."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
"Sudah," ucap Mas Varun saat selesai mengobati lengan Farhan yang terluka.
"Telima kasih, Ayah. Tangan Falhan sudah tidak sakit lagi," ucap Farhan, lalu memeluk Mas Varun dengan erat.
"Sama-sama, sayang. Sudah tugas Ayah untuk menyembuhkan luka di tubuh Farhan. Apapun yang terjadi, Ayah akan berkorban untuk kamu."
Seketika itu, Farhan langsung melepas pelukannya. Farhan menatap lekat Mas Varun, "Jangan, Ayah. Falhan tidak mau lagi ada yang belkolban untuk Falhan. Cukup Ayah di samping Falhan saja sudah membuat Falhan sembuh."
Mas Varun tersenyum gemas melihat Farhan, "Anaknya siapa, sih? Kok pintar banget?"
Cup!
Sebelum menjawab, Farhan mengecup pipi Mas Varun sekali.
"Anaknya Ayah Valun. Falhan sayang Ayah," ucap Farhan berakhir memeluk Mas Varun erat.
"Ayah juga sayang Farhan. Farhan mau berjanji sesuatu tidak dengan Ayah?"
Farhan mengangguk, lalu memeluk leher Mas Varun lagi, "Mau. Apapun akan Falhan lakukan untuk Ayah."
"Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk Ayah. Ayah hanya perlu kamu menjadi anak baik untuk selamanya. Anak yang merelakan orang-orang terdekatnya pergi meninggalkan dirinya. Jangan pernah marah lagi pada Allah ya, sayang? Jika suatu saat tugas Ayah juga selesai di dunia ini."
"Semuanya bukan salah Allah, tapi sudah takdir kita. Kamu mengerti kan Farhan?"
Farhan mengangguk untuk kedua kalinya, "Falhan mengelti Ayah. Telus kalau Ayah pelgi juga, Falhan sama siapa dong? Falhan takut sendilian Ayah."
"Kamu tidak akan pernah sendirian, sayang. Masih banyak yang sayang sama Farhan. Terutama Nenek Pari, Kakek Sachin, Oma Soni, Opa Amar, dan Bunda Hellu."
Farhan melepaskan pelukannya, lalu menggeleng, "Kapan Bunda mau menelima Falhan, Ayah? Bunda saja sampai melalang Falhan untuk di panggil Bunda kalau hanya kita beltiga. Falhan disuluh panggil Tante. Padahal Falhan juga sayang Bunda."
"Bunda akan sayang sama kamu. Nanti Ayah akan bicara sama Bunda. Bagaimana, hm?"
Farhan menggeleng ribut, "Jangan, Ayah. Nanti kalian belantam. Falhan tidak mau kalian belantam kalena Falhan."
'Ya Allah, ingin rasanya menjaga Farhan terus. Tapi, hamba tidak tahu sampai kapan mereka berhenti untuk melukai Farhan. Aku sudah berjanji pada keduanya untuk menjaga Farhan dengan baik. Tolong, bantu hamba untuk menjaga orang-orang yang hamba cintai.'
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Malam harinya...
Aku tersentak ketika sepasang lengan melingkar di pinggang ku. Ingin melepaskan, tapi langsung dilarang oleh si pemilik tangan.
"Sebentar saja. Setelah itu, Mas tidak akan melakukannya lagi," ucapnya begitu tenang sambil meletakkan dagunya di atas bahu kananku.
Aku merasakan hangatnya napasnya dan pelukan hangat yang begitu erat seakan tidak mau lepas barang sedetikpun.
"Mas mencintai kamu karena Allah. Mas pikir kamu akan menerima Mas apa adanya," ucapnya setelah berdiam lama.
"Menerima bagaimana maksud kamu? Menerima kamu mengkhianati diriku? Begitu, hm?"
"Tidak ada seorang wanita mau berbagi suaminya dengan wanita lain," lanjut ku sampai menumpahkan air mata.
Kenapa akhir-akhir ini bicara dengan Mas Varun membuatku menangis terus?
"Mas tahu."
Aku tersenyum kagum untuknya. Posisiku masih berada di depan Mas Varun sambil dipeluk dari belakang.
"Kalau tahu kenapa melakukan itu? Kamu juga tahu betapa sakitnya aku ketika mengetahui semua kebohongan yang selama ini kamu tutupi," ucapku mulai emosi dan dibalas dengan kekehan gemas Mas Varun.
Apa-apaan Mas Varun? Aku lagi marah sama dia, namun dia ketawa? Dasar pria gila, tapi aku tetap cinta padanya. Hanya merasa kecewa saja dikhianati dengan orang yang kita cintai. Dia menyembunyikan semua rahasianya dengan aman. Seakan-akan dia sudah sangat mahir berbohong pada semua orang.
"Baru tahu rahasia Mas satu saja kamu marah banget. Bagaimana dengan rahasia yang lainnya?"
"Kamu punya istri lagi?" ucapku, lalu melepaskan tangannya dari pinggang ku.
"Kok dilepas pelukannya?"
"Jawab aku, Mas!"
Aku tidak suka dia yang terlalu begitu tenang menjelaskan semuanya.
"Tidak ada."
"Terus, apa maksud perkataan kamu?" ucapku menatapnya nyalang.
"Makanya jangan suuzan dahulu. Maksud Mas itu, kalau misalnya Mas punya rahasia lain," ucapnya membuat ku tak percaya.
Aku menggeleng miris, "Berapa banyak sih wanita kamu diluaran sana? Sampai-sampai kalau misalnya kamu punya rahasia lain."
Mas Varun menatap ku sayu, "Mas bukan pria seperti itu. Mas cuma cinta sama kamu."
"Iya, cintanya sama aku kalau lagi bersamaku. Tidak tahu kalau diluaran sana. Mungkin kamu akan mengatakan pada mereka kalau kamu cuma mencintai mereka," ucapku begitu melukai hati.
Bukan keinginanku untuk mengatakan itu. Aku hanya lelah saja dengan semua yang dikatakan Mas Varun.
Bukannya memarahi diriku yang sudah melukai hatinya, ia malah meminta izin untuk menyapa anaknya.
"Boleh Mas menyapa anak kita?"
"Aku capek! Mau tidur! Kamu tidur saja dengan anak kesayangan kamu itu!" ucapku langsung naik ke ranjang.
Walaupun aku sudah menutup mata, tapi bukan berarti aku benaran tertidur. Aku masih terjaga di balik tidur bohongan ku. Aku merasakan Mas Varun naik ke ranjang. Ia mengecup jidat ku lama, lalu berpindah pada perutku yang sudah menginjak 7 bulan lebih.
Dengan samar, aku mendengarkan perkataan nya sebelum dunia lain benar-benar datang menyerbu ku, "Suatu saat kalian akan tahu semuanya."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Tepat jam 24:00...
"Ayah," panggil Farhan ketika tidurnya terusik.
"Kenapa Ayah belum tidul juga? Inikan sudah tengah malam," ucap Farhan parau sambil melihat gerak-gerik Mas Varun mengambil ponselnya di atas nakas.
"Lihat, tanggal berapa hari ini, hm?" ucap Mas Varun sambil menunjukkan ponselnya dengan layar yang sudah menyala.
Farhan mengucek kedua matanya, namun langsung ditahan Mas Varun dan digantikan dengan sebuah tiupan. Ketika semuanya sudah jelas, Farhan mulai mengangkat suara.
"Tanggal-,"
Farhan menghentikan perkataan nya, lalu tersenyum lebar menatap Mas Varun, "Ayah masih ingat ulang tahun Falhan?"
"Kamu mau mendengar cerita Ayah tidak?" tanya Mas Varun sambil mengelus rambut Farhan.
Farhan mengangguk, "Mau."
Sebelum berbicara panjang, Mas Varun membetulkan duduknya yang setengah berbaring menjadi berbaring di samping Farhan, lalu berdeham, "Setiap kamu mau ulang tahun, mereka datang di mimpi Ayah hanya untuk mengatakan kalau Farhan ulang tahun."
"Meleka datang ke mimpi Ayah?" tanya Farhan dan dibalas 'iya' dari Mas Varun.
"Kenapa meleka tidak pelnah datang ke mimpi Falhan? Padahal kan Falhan lindu sama meleka."
Mas Varun terkekeh melihat wajah suram Farhan. Niatnya ingin mengerjai Farhan berhasil.
"Ayah nakal," ujar Farhan cemberut.
"Lagian Farhan percaya saja dengan yang Ayah katakan," balas Mas Varun dengan sisa ketawanya sambil membantu Farhan duduk.
"Ayah kan, Ayah yang sangat hebat. Ketika olang lain tidak peduli sama Falhan, Ayah malah melawan meleka," ucap Farhan, lalu tertawa bersama Mas Varun.
"Karena Farhan adalah sebuah anugerah. Farhan pantas untuk dipedulikan. Sekarang tiup lilinnya. Tapi sebelum itu, Farhan harus berdoa dahulu," ucap Mas Varun dengan kue kecil yang lilinnya sudah menyala.
Farhan menengadahkan kedua tangannya, "Ya Allah, Falhan hanya mau Bunda sehat selalu dan membialkan Falhan memanggilnya dengan panggilan Bunda."
Doa Farhan dan membuat Mas Varun tersenyum tipis.
"Amin," ucap Mas Varun saat Farhan mengusap wajahnya.
"Falhan mau hadiah dali Ayah, tapi hadiahnya bukan sebuah balang," ucap Farhan.
"Baiklah, Ayah akan mengabulkan semua permintaan Farhan. Farhan mau apa, hm?"
"Falhan mau sekolah Ayah. Falhan pengin setiap hali diantal-jemput Ayah dan Bunda," ungkap Farhan.
"Farhan tenang saja. Ayah sudah mendaftarkan Farhan ke sekolah dasar. Tapi kalau masalah antar-jemput Ayah dan Bunda lebih baik Ayah saja, ya. Farhan kan tahu kalau Bunda lagi hamil besar."
"Falhan mau kok diantal-jemput sama Ayah doang."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
8 bulan kehamilan ku dan 1 bulan Farhan sekolah.
Hubungan ku dengan Mas Varun makin renggang lantaran aku yang selalu menghindar darinya. Selama itu juga aku tidak pernah menganggap Farhan sebagai anakku.
Pernah sekali Farhan memintaku untuk mengantarnya ke sekolah dengan Mas Varun, namun aku menolaknya mentah-mentah bahkan di hadapan Mas Varun. Aku tidak peduli bagaimana hancurnya hati anak itu.
"Kamu belum bisa terima kehadiran Farhan?"
Suara itu adalah milik Bunda. Hari ini Bunda memang datang ke rumah untuk bertemu cucunya. Tidak tahu cucu yang mana.
Seketika itu, aku menghentikan acara cuci piring ku di wastafel, "Bunda sudah tahu kan jawaban Helly?"
"Kenapa susah banget untuk menerima Farhan, sayang?"
"Bagiku Farhan adalah anak haram. Farhan anak dari perselingkuhan suami ku sendiri. Bagaimana aku bisa terima anak haram itu sebagai anakku sendiri? Suami ku tahu kalau aku lagi hamil, tapi dia malah mempunyai anak dari wanita lain."
Aku melihat Bunda menghentikan acara memasaknya. Aku berbalik untuk melanjutkan tugasku.
"Kamu tidak merasakan ke ganjalan dengan semua ini? Wajah Farhan yang sangat berbeda dengan Varun dan cara anak itu bicara. Coba sesekali kamu perhatikan Farhan."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengarkan percakapan keduanya di balik dinding dapur.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
"Ayah, anak halam itu apa?" tanya Farhan langsung ketika Mas Varun masuk ke dalam kamar.
Cuma mau kasih tahu kalau selama ini Mas Varun dan Farhan tidur di samping kamar ku. Aku sama sekali tidak membiarkan mereka masuk ke kamar ku.
Mas Varun menghampiri Farhan yang sudah duduk anteng di atas ranjang, "Kenapa Farhan bertanya tentang itu? Memangnya ada yang mengatakan Farhan anak haram?"
Farhan menggeleng, "Tidak, Falhan hanya beltanya saja. Ayah mau kan menjawab peltanyaan Falhan?"
Mas Varun berdeham sebelum menjelaskan, "Anak haram itu, anak hasil diluar pernikahan."
"Belalti Falhan anak halam dong."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Siang harinya...
Farhan dan Mas Varun menatap ketiga gundukan tanah yang sudah ditaburi bunga. Mereka baru saja mengirimkan doa untuk ketiganya.
"Ayah, Papa dan Ibu sudah menikahkan?"
"Iya, sayang. Mama tidak bisa hamil. Jadi, Mama meminta Papa menikah dengan Ibu. Tapi, karena orang-orang jahat itu, ketiganya harus pergi."
"Meleka senang kan di alam sana? Falhan pengin melihat senyuman meleka. Bahkan Falhan tidak pelnah melihat Mama. Apakah Mama tidak telima Falhan sepelti Bunda?"
"Ayah sudah katakan, Mama yang menginginkan Papa menikah dengan Ibu. Mama juga pengin punya anak, tapi Mama tidak bisa hamil seperti Ibu Farhan."
"Mama sayang Falhan kan, Ayah?"
"Sangat. Kamu mau mendengar cerita Ayah?"
"Falhan akan dengalkan kalau Ayah tidak sedang nakal."
Mas Varun tersenyum, lalu menggeleng, "Tidak, Ayah lagi serius. Walaupun Farhan tidak pernah melihat Mama, tapi Mama selalu melihat Farhan."
"Benalkah? Kok Falhan tidak tahu?"
"Papa setiap hari menjenguk Farhan dan Ibu kan?"
Farhan mengangguk, "Mama juga selalu ikut dengan Papa. Mama melihat kalian dari jauh."
"Kenapa Mama halus melihat kami dali jauh?"
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Mas Varun dan Farhan baru saja sampai di rumah. Kini keduanya berjalan masuk ke rumah. Tapi sebelum itu, di dalam mobil keduanya sudah mengganti baju dengan baju yang mereka gunakan saat minta izin keluar padaku.
"Farhan kenapa diam saja?" tanya Mas Varun bingung dengan sikap Farhan yang tidak biasanya setenang ini.
Farhan menatap Mas Varun yang lebih tinggi darinya, "Belalti Falhan bukan anak halam kan Ayah?"
Mas Varun belum menjawab, ia membawa Farhan menuju sofa ruang tamu.
"Katakan pada Ayah, siapa yang mengatakan Farhan anak haram, hm?"
"Saat Falhan pulang sekolah, Falhan langsung mencali Bunda. Telnyata Bunda lagi belsama Nenek di dapul. Nenek beltanya pada Bunda kenapa susah banget untuk menelima kehadilan Falhan. Bunda menjawab, bagi Bunda Falhan tetaplah anak halam. Kalena Falhan anak dali pelselingkuhan- Ayah."
"Sayang, kenapa tidak mengatakan semuanya pada Ayah? Kamu memilih diam dari pada menjelaskan semuanya pada Ayah?"
Farhan mendekat, lalu memeluk leher Mas Varun erat, "Ayah pasti sedih kalena Bunda mengila Falhan anak dali pelselingkuhan Ayah? Padahal Falhan anak dali Papa Namish dan Ibu Loop."
"Semuanya karena kesalahan Ayah yang tidak berterus terang," balas Mas Varun sambil mengelus punggung Farhan yang bergetar.
"Falhan tidak mau menyusahkan Ayah. Falhan tidak mau melihat Ayah sedih, hiks! Ayo, katakan pada Bunda dan semua olang kalau Falhan bukan anak Ayah," ucap Farhan mulai mendesak Mas Varun.
"Tidak, Farhan tetap anak Ayah. Sampai kapan pun, Farhan akan selalu menjadi anak Ayah. Jangan mengatakan itu, sayang. Ayah akan sedih."
"Lebih sedih kehilangan Bunda kan Ayah?"
Mas Varun terdiam, Farhan menjauhkan wajahnya tanpa melepaskan kalungan tangannya di bahu mas Varun.
"Falhan selalu beltanya itu pada Ibu. Lebih sedih kehilangan Falhan atau Papa? Ibu tidak bisa menjawab, padahal Falhan sudah tahu jawaban nya. Ibu pasti akan sangat kehilangan Papa dali pada Falhan. Kalena Papa adalah jantung Ibu," ucap Farhan sambil membawa tangan Mas Varun ke d**a bidangnya.
"Begitu juga dengan Ayah. Ketika Bunda pelgi, Ayah juga akan pelgi. Falhan mohon, katakan semuanya pada Bunda agal Bunda tidak salah paham dengan Ayah."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Satu bulan kemudian...
Aku menatap Mas Varun yang lagi mengazankan bayiku. Hari ini memang hari kelahiran bayiku tepat pada tanggal 12 Juni. Aku menatap terharu bagaimana perjuangan ku untuk bayi yang sudah di dalam dekapan ku.
"Annisa Azzahra Abyantara."
Bukan aku yang mengatakan itu, melainkan Mas Varun. Di ruangan ini memang cuma ada aku, Mas Varun dan bayiku. Aku menatap Mas Varun sebentar, lalu ke putriku yang baru saja di berikan nama oleh Mas Varun.
Tapi bukannya tersenyum, aku malah merubah wajahku menjadi datar, "Apakah nama itu dari salah satu selingkuhan kamu?"
Mas Varun diam dan menatap ku dengan tatapan yang tidak dapat aku mengerti.
"Mas cuma mau bilang kalau Mas sayang kalian berdua," ucapnya sambil mengecup kening ku dan bayiku.
"Mas pergi dahulu. Kalian baik-baik, ya," izinnya setelah mengusap rambutku dengan lembut.
"Kemana? Ingin menjenguk selingkuhan kamu?" tanyaku sampai membuat langkahnya berhenti.
Tanpa berbalik, Mas Varun melanjutkan langkahnya sampai benar-benar menghilang dari pintu ruang rawatku.
Saat itu juga air mataku terjatuh. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja merasa sedih seakan ingin menahan langkahnya agar tidak keluar dari ruang rawatku.
"Ayah pergi, sayang. Ayah mau bertemu dengan selingkuhan nya. Kalau sudah besar, kamu jangan seperti Ayah, ya. Banyak selingkuhan nya di mana pun," ucapku terisak pilu di hadapan bayiku.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Di depan ruangan ku...
"Kalian benar-benar mau pergi?" tanya Mama saat Mas Varun mengambil alih Farhan dari gendongan Bunda.
"Jangan pergi, ya, Nak," ucap Bunda.
"Ada apa dengan kalian? Kami hanya mau ziarah bukan pergi jauh," jelas Mas Varun.
"Kita perginya bareng-bareng aja, tapi jangan hari ini," ucap Mama.
"Tidak bisa, Oma. Semalam meleka beltiga datang ke mimpi Falhan," balas Farhan yang berada di gendongan Mas Varun.
"Tapi Oma khawatir, Farhan," ucap Mama menatap sayu Farhan.
"Nenek juga, sayang. Baru saja Farhan di dalam gendongan Nenek. Masa Farhan harus pergi?" ucap Bunda tak mau kalah.
"Opa, Kakek," panggil Farhan pelan saat keduanya datang dari kantin sambil membawa beberapa teh panas.
"Iya, sayang," balas keduanya serentak.
Farhan terkekeh geli, "Oma dan Nenek udah besal masa menangis? Falhan sama Ayah kan cuma mau pelgi ke pemakanan, Mama, Papa dan Ibu."
"Biarkan Varun dan Farhan pergi. Nanti mereka juga akan kembali," ucap Papa memberikan pengertian pada Mama.
Akhirnya kedua wanita paruh baya itu mengangguk, walaupun rasanya sangat berat untuk membiarkan Mas Varun dan Farhan pergi.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dahulu. Assalamu'alaikum," ucap Mas Varun setelah menyalami mereka berempat dan diikutin dengan Farhan.
"Assalamu'alaikum semuanya," ucap Farhan.
"Wa'alaikumsalam, sayang," balas yang lainnya sebelum masuk ke dalam ruangan ku.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku menatap keempatnya yang hanya diam duduk di sofa seberang dengan tatapan kosong.
"Ada apa dengan kalian?"
Serentak, keempatnya saling menatap. Seolah berbicara melalui mata.
Aku melihat Bunda menghampiri diriku, setelah aku meletakkan bayiku ke dalam ranjang bayi milik rumah sakit.
"Bunda mau mengatakan sesuatu dengan kamu. Tapi kamu harus janji jangan menyela sedikit pun perkataan Bunda," ucap Bunda.
"Katakan saja Bunda," balas ku melirik tanganku yang sudah di dalam genggaman tangan Bunda.
Bunda menghirup udara dengan rakus sebelum benar-benar berbicara panjang. Aku hanya diam mendengarkan semua perkataan Bunda.
⚪⚫⚪⚫⚪⚫
Di malam hari ketika Jakarta sedang dilanda hujan deras.
"Assalamu'alaikum, Varun. Kamu sudah di sana kan?" ucap Mas Namish dengan kecepatan mobil yang sudah melaju tinggi.
"Mas, pelan-pelan saja mengendarai mobilnya," ucap Mbak Teja memperingati Mas Namish, suaminya.
"Tidak bisa, sayang. Farhan di culik Pamannya sendiri. Kamu tahu kan bagaimana gilanya Mayur ketika berhadapan dengan Farhan?" ucap Mas Namish menggebu-gebu.
"Aku tahu, Mas. Tapi kita harus memikirkan keselamatan kita dahulu. Bagaimana kalau tiba-tiba saja terjadi sesuatu dengan kita? Kita tidak akan bisa menyelamatkan Farhan, Mas." ucap Mbak Teja.
"Halo. Wa'alaikumsalam, Mas. Varun sudah sampai di tempat penyekapan Farhan," ucap Mas Varun berusaha menghentikan pertengkaran keduanya.
"Mas dan Mbakmu sebentar lagi sampai sana. Kamu jangan masuk sendirian. Tunggu kami," ucap Mas Namish.
"Iya, Mas. Kalian hati-hati di jalan. Varun tutup dahulu teleponnya. Assalamu'alaikum," ucap Mas Varun.
"Wa'alaikumsalam," balas keduanya.
"Sekarang kamu telepon Roop," ucap Mas Namish pada Mbak Teja.
⚪⚫⚪⚫⚪⚫
Beberapa menit kemudian mereka berhasil menjatuhkan anak buah Mayur Adinata, Kakak dari Roop Adinata.
Mas Namish dan Mas Varun masuk ke dalam untuk menyelamatkan Farhan, sedangkan Mbak Teja dan Mbak Roop disuruh tunggu di dalam mobil.
Kedua wanita itu menatap cemas pada pintu yang menelan tubuh Mas Namish dan Mas Varun.
"Roop, kamu mencium bau sesuatu tidak?" tanya Mbak Teja pada Mbak Roop.
"Aku menciumnya, Ja. Ini bau asap. Ki-kita harus keluar secepatnya," ucap Mbak Roop sambil membuka mobil, namun terkunci.
"Pintunya tidak bisa dibuka Roop. Bagaimana ini?" ucap Mbak Teja mulai khawatir.
"Kita akan mati di dalam mobil ini, Ja,"
⚪⚫⚪⚫⚪⚫
"Papa!"
Farhan langsung memeluk erat tubuh Mas Namish.
"Hiks, Falhan takut dengan Paman. Paman ingin melukai Falhan, Papa," ucap Farhan dengan tangisannya.
"Sttt, sudah, sayang. Sekarang sudah ada Papa. Farhan tidak perlu takut lagi, ya," ucap Mas Namish mulai menenangkan Farhan sampai tertidur di dalam pelukannya.
"Mas, sebaiknya kita keluar dari tempat ini," ucap Mas Varun.
"Iya, ayo!"
Baru beberapa langkah, keduanya langsung berhenti saat mendengar suara bom meledak. Keduanya saling menatap, lalu berlari kecil keluar.
Mobil milik Mas Namish sudah habis dimakan api. Anak buah Mayur tidak berhenti sampai disini. Mereka mulai menyerang Mas Namish dan Mas Varun.
"Mas jaga Farhan saja. Biar mereka urusan Varun," ucap Mas Varun membuat anak buah Mayur menjauh dari Mas Namish.
Mas Varun terjatuh karena sudah kewalahan mengatasi anak buah Mayur yang berapa kali jatuh bangkit kembali.
Salah satu dari mereka mendekat dan mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.
"VARUN AWAS!"
Jlup!
Bersamaan jatuhnya Mas Namish, polisi datang menangkap anak buah Mayur termasuk Mayur nya juga.
"Mas Namish!"
Mas Varun memangku kepala Mas Namish, "Mas, Varun mohon jangan tutup mata dahulu."
"Varun, kamu mau kan mengatakan pada semua orang kalau Farhan adalah anak kamu. Mas, titip Farhan sama kamu," ucap Mas Namish dengan terbata.
Tanpa sadar Mas Varun mengangguk lirih. Setelah itu mata Mas Namish tertutup untuk selamanya.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
"Mayur tidak terima ketika Roop menikah dengan Namish. Mayur juga tidak terima kehadiran Farhan," ucap Mama berakhir menutup cerita.
"Kenapa kalian baru mengatakan semuanya pada Helly?" tanyaku dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Mas kamu yang melarang Varun untuk mengatakan semuanya. Kemarin saja yang memaksa Varun bicara adalah Farhan. Anak kecil itu tidak mau kalau kamu membenci Varun, sayang. Dia sedih ketika kamu bertengkar dengan Varun," ucap Mama menjelaskan.
"Kenapa, hiks?! Kenapa kita tidak boleh tahu kalau Mas Namish menikah lagi? Kenapa, hikshiks! Kalau akhirnya begini, aku tidak bisa tenang. Aku sudah menuduh Mas Varun selingkuh. Aku tidak pernah menganggap Farhan sebagai anakku juga, hiks! Padahal Farhan adalah anak dari Kakakku sendiri."
"Karena Mas kamu merasa bersalah. Dia belum bisa menjelaskan semuanya sampai maut memanggilnya."
Kali ini Bunda yang menjelaskan. Aku mengusap pipiku yang basah.
"Bisakah kalian tinggalkan aku sebentar?"
"Tapi-,"
"Bun, ayo! Biarkan anaknya tenang dahulu," ucap Ayah langsung membawa Bunda dan yang lainnya keluar dari ruangan ku.
Aku menjatuhkan kepala ku pada kepala ranjang rumah sakit. Aku menatap foto keduanya dari ponsel. Foto itu aku ambil tanpa mereka tahu.
"Pantas saja wajah Farhan sangat familier di mataku, tapi dengan mudahnya aku mengenyahkan semua bayangan Mas Namish pada diri Farhan. Maafkan aku Mas karena sudah menyakitimu. Aku buta oleh kecemburuan ku sendiri. Aku mengatakan yang tidak-tidak tentang kamu. Aku istri jahat, hikshiks!"
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku dan bayi kami sudah berada di rumah. Malam ini aku menunggu Mas Varun dan Farhan pulang setelah Annisa tertidur. Annisa adalah nama yang di berikan Mas Varun saat aku menggendong putri kami.
"Kamu belum tidur?"
Pertanyaan itu dari Mama. Malam ini Mama memang tidur di rumah kami, karena Mas Varun belum pulang juga.
"Aku menunggu Mas Varun, Ma."
Mama mengusap rambutku sambil tersenyum tipis, "Sudah malam. Kamu habis lahiran. Lebih baik istirahat dahulu. Nanti kalau Varun pulang, Mama akan membangunkan kamu."
Aku menggeleng lirih, "Tidak, Ma. Helly tidak bisa tidur kalau Mas Varun dan Farhan belum pulang juga. Helly khawatir dengan mereka."
Pandangan ku masih menuju pada pintu utama. Namun bukan kehadiran mereka yang datang malah angin berkali-kali masuk ke rumah.
"Mama yakin mereka pergi ziarah?" tanyaku setelah berdiam sangat lama.
"Iya, sayang. Memangnya mereka mau kemana lagi? Tidak mungkin kan Varun mencari istri baru dan Farhan mencari Bunda baru karena yang di rumah sudah menyakiti hati mereka?" ucap Mama begitu tenang.
Aku tidak tahu apa maksud Mama mengatakan itu. Terpenting saat ini aku benar-benar membisu mendengarnya.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Ketika ingin pulang ziarah...
Mas Varun fokus pada kemudinya dengan Farhan yang duduk anteng di samping Mas Varun. Farhan berulang kali menatap mobil yang sejak tadi mengikuti mobil mereka melalui kaca spion.
"Ada apa Farhan? Kenapa melihat kaca terus?" tanya Mas Varun membuat Farhan menatapnya.
"Ayah, ada yang mengikuti mobil kita," adu Farhan.
Mas Varun ikutan menatap kaca spion, "Mereka ingin mencelakai kita, ya, Ayah?"
"Farhan pakai sabuk pengaman, ya? Ayah mau ngebut."
"Ayah, jangan terlalu ngebut. Nanti kita yang celaka."
Benar saja, Mas Varun langsung membanting setirnya ketika sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku dan Mama masih menunggu kepulangan mereka. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku sesak napas.
"Kamu kenapa?" tanya Mama saat melihat gelagat anehku.
"Helly sesak, Ma," balas ku tercekat.
"Tapi AC-nya hidup, sayang. Tidak biasanya kamu sesak begini. Se-sebentar, Mama ambil obat dahulu," ucap Mama panik sambil berlari kecil ke lantai dua.
Aku mencengkeram sofa sambil mengambil ponsel Mama yang berdering pertanda panggilan masuk, "H-halo?"
"..."
"Sa-saya istrinya."
"..."
"A-apa?"
Ponsel Mama terjatuh. Aku mematung dan berusaha mencerna perkataan orang yang baru saja menelepon Mama.
"Helly, ada apa?" tanya Mama yang baru saja kembali.
"Ma, mereka-,"
▫️▪️▫️▪️▫️▪️