"Bapak yang menolong anak dan cucu saya?" tanya Mama pada pria paruh baya yang duduk di depan ruangan Mas Varun.
"Iya, Nyonya. Saya tidak sengaja melihat mobil anak Nyonya jatuh ke jurang."
"Saya ada uang sedikit untuk Bapak. Diterima, ya," ucap Mama sambil menyodorkan beberapa lembar lipatan uang merah.
"Maaf, Nyonya. Bukannya saya tidak menghargai, tapi saya kebetulan saja melihat kejadian itu. Saya permisi dahulu. Assalamu'alaikum," ucap Bapak itu langsung pergi.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku dan Mama mendengarkan baik-baik semua perkataan Dokter tentang kondisi Mas Varun.
"Kalau dalam 24 jam belum bangun juga, dia dinyatakan kritis," ucap Dokter berakhir menutup penjelasan panjangnya.
Dokter itu permisi keluar dan meninggalkan kami bersama Mas Varun di dalam ruangan. Aku ambil tangannya yang bebas dari infus, lalu mengecupnya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Maafkan aku, Mas. Aku jahat sama kamu. Aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Bahkan hanya untuk mempercayai kamu saja aku tidak bisa. Aku terlalu cinta sama kamu sampai tidak rela saat kamu membawa Farhan ke rumah dan mengatakan kalau Farhan adalah anak kamu. Hiks, Farhan memang anak kamu, Mas. Kamu sudah menjaganya dengan baik, hiks. Aku sebagai Bundanya tidak pernah mengacuhkan kehadirannya, tapi kamu? Kamu rela di rendahkan dan disakitin oleh kami hanya untuk menjaga titipan Mas Namish."
Aku menangis dengan Mama yang sudah menangis juga. Mama mengusap bahuku lembut.
"Sudah, sayang. Biarkan Varun sendiri dahulu."
Aku menggeleng pelan, "Tidak, Ma. Aku harus banyak-banyak mengajak Mas Varun bicara supaya Mas Varun cepat bangun. Helly tidak mau Mas Varun tidur lama di ranjang rumah sakit, hiks. Helly mau-, Helly mau Mas Varun bangun dan melihat Helly menggendong putrinya lagi, hikshiks."
"Sayang," panggil Mama saat tidak bisa berkata apapun lagi.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Aku tersentak saat sepasang lengan melingkar di pinggang ku. Tanpa berbalik aku sudah tahu siapa pelakunya. Aku tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Mas," ucapku lirih seraya menutup mata menikmati angin malam yang menerpa kulitku.
"Tidak baik angin malam, sayang," balas Mas Varun dengan meletakkan dagunya di atas bahuku.
"Aku menunggu Mas selesai kerja. Aku tidak bisa tidur tanpa, Mas."
Sebelum berkata Mas Varun mengecup pipiku sebentar.
"Kamu tahu apa yang lebih indah di antara bintang-bintang itu?" ucap Mas Varun membuat ku menatap dirinya dari samping dengan kebingungan.
"Apa, Mas?"
"Lebih indah di antara bintang-bintang itu adalah kamu. Kamu yang sedang menatap mereka dari balkon kamar kita. Bertanya-tanya pada Allah, takdir seperti apa yang Allah berikan untuk kamu," balas Mas Varun membuat senyuman di bibirku terbit.
Aku berbalik dan membiarkan kedua lenganku mengalung di bahu kekar Mas Varun, "Mas, aku berjanji akan selalu percaya sama kamu."
"Jangan."
"Kenapa, Mas?"
"Jangan berjanji kalau kamu tidak bisa menepatinya," ucap Mas Varun.
Aku tersentak saat terbangun dari mimpiku. Aku makin mengeratkan genggamanku pada Mas Varun. Suamiku belum juga bangun.
Aku rindu kamu, Mas. Kapan kamu bangun? Aku rindu dengan semua perlakuan manis kamu.
Putri kita baru saja lahir semalam, tapi kenapa kamu masih tidur? Kamu tidak mau menggendongnya lagi, hm?
Aku memindahkan diriku untuk duduk di sisi ranjang Mas Varun. Sebelah tangan bebas ku mulai mengelus rambutnya.
"Semalam Bunda menelepon. Bunda mengatakan kalau Nisa menangis terus. Dia pasti tahu kalau Ayahnya lagi sakit," ucapku mulai bercerita.
"Mas, Nisa juga sakit. Kamu tidak mau bangun dan merawat Nisa bersamaku? Aku tidak bisa merawat Nisa tanpa, Mas."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Pagi harinya...
Aku menatap Nisa yang sudah tertidur nyenyak di dalam gendongan ku. Semalam Nisa memang aku titipkan pada Bunda. Sekarang mereka lagi berada di ruangan Farhan, setelah memberikan Nisa padaku. Mereka sempat mengajak diriku, namun aku menolak dan alasannya tidak ada yang menjaga Mas Varun. Bukannya apa-apa, aku merasa belum pantas saja untuk bertemu dengan Farhan. Melihat anak kecil itu yang tubuhnya di penuhi dengan segala alat membuat ku tidak tahan untuk menahan air mata.
Selama ini aku sudah banyak melakukan kesalahan padanya. Salah satunya mengatakan ia anak haram di hadapan suamiku sendiri. Padahal Farhan adalah anak Mas Namish-Kakakku sendiri.
"Mas, putri kita cantik ya saat tertidur. Dia mirip dengan kamu," ucapku mulai bercerita dengan Mas Varun yang belum membuka matanya juga.
"Aku pikir kalau anak kita perempuan dia akan mirip dengan diriku. Ternyata aku salah, wajah Nisa lebih mirip ke kamu. Kedua matanya saat terbuka mengingatkan aku sama kamu."
"Senyuman nya juga tidak kalah manisnya dengan kamu. Pokoknya semua yang ada di dalam diri Nisa mengingatkan aku sama kamu versi bayi cewek."
"Cepat bangun ya, Mas. Kami semua menunggu kamu."
Setelah aku meletakkan Nisa di samping Mas Varun, pintu ruangan Mas Varun terbuka bertanda ada orang masuk. Aku menoleh ke belakang dan mendapatkan Bunda diambang pintu. Sesudah menutup pintu, Bunda berjalan kearahku.
"Nisa sudah tidur?" tanya Bunda.
"Iya, Bun. Pagi ini tidur Nisa nyenyak banget."
"Nisa rindu Ayahnya. Makanya dia menangis terus sampai demam."
Aku tersenyum kecil menatap keduanya, "Padahal belum sampai 24 jam ya, Bun? Tapi rasanya kayak sudah berbulan-bulan Mas Varun tidur."
Aku mengalihkan pandangan pada Bunda yang sudah menatap diriku, "Helly tidak tahu lagi kalau Mas Varun belum bangun juga selama 24 jam."
"Kamu lagi di uji sama Allah. Allah akan memberikan yang terbaik untuk kamu. Sebaiknya kita banyak-banyak meminta ampunan pada Allah agar Varun cepat bangun," ucap Bunda sambil mengusap rambutku.
"Farhan sudah bangun. Kamu tidak mau melihatnya? Farhan menanyakan kamu terus, sayang. Farhan ingin kamu memeluknya sekali saja," lanjut Bunda membuat ku mematung.
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Sore harinya aku dipaksa pulang sama Bunda untuk mengistirahatkan tubuhku sebentar. Tapi rasanya tidak tenang untuk keluar dari rumah sakit ini. Ada 2 nyawa yang aku takut kan saat aku kembali ke rumah sakit.
Selama di rumah aku hanya mondar-mandir dengan perasaan yang tidak tenang. Malam harinya aku kembali ke rumah sakit dan segera menuju ke lantai 3 tempat Mas Varun dan Farhan dirawat.
Aku melihat semuanya berkumpul di kursi tunggu kecuali Mama yang bergantian menjaga Nisa di rumah.
"Bun, ada apa?" tanyaku saat melihat Dokter dan beberapa suster masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Sayang."
Bunda membawa aku ke dalam pelukannya, "Kamu yang sabar, ya."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Ada saatnya makhluk Allah kembali pada tempat asalnya. Aku menatap gundukan tanah itu yang berada di sebelah tempat peristirahatan terakhir Teja. Air mataku tidak mau berhenti melihat keempatnya yang sudah beda alam dengan diriku.
"Sayang, sudah jangan menangis terus. Mungkin ini sudah takdir kita," ucap Mama mengelus punggungku yang bergetar.
"Lagi dan lagi aku harus kehilangan, Ma. Aku sama sekali tidak bersyukur apa yang sudah Allah berikan padaku makanya Allah mengambil mereka dariku, hiks!"
Mama membawa ku ke pelukannya. Aku menangis sejadi-jadinya dan mengundang tangisan lainnya.
"Aku gagal lagi, Ma. Setelah ini, siapa lagi yang akan Allah ambil dariku?"
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
5 bulan kemudian...
"Kamu tidak mau ke rumah sakit?" tanya Bunda sambil duduk disampingku.
Aku menggeleng lirih dengan kepala bersandar ke kepala ranjang. Selama pulang dari pemakaman aku memang tidak pernah ke rumah sakit lagi. Aku trauma rumah sakit. Di tempat itu, semua orang yang aku sayang harus pergi untuk selamanya.
"Dia sudah sadar, sayang. Dia menanyakan kamu terus. Kita ke rumah sakit, ya?" ucap Bunda bersikeras menyuruhku untuk ke rumah sakit.
"Sebenarnya aku yang pembawa s**l atau bagaimana sih, Bun? Masa setelah aku datang dia pergi?" ucapku dengan tatapan kosong.
"Sayang, jangan bicara begitu. Tidak baik," ucap Bunda berusaha menyadarkan diriku.
"Aku takut ke rumah sakit lagi. Aku takut dia pergi sama seperti yang lainnya saat aku datang ke rumah sakit."
"Bunda sudah sering katakan bukan? Apapun yang terjadi kita harus mengikhlaskannya. Klau tidak perlu mengungkit masa lalu, sayang."
Aku menatap Bunda sayu saat rambutku dielus-elus dengan penuh kasih sayang.
"Rasanya baru saja dia sadar dan meminta Helly untuk memeluk dirinya. Pertama dan terakhir kalinya Helly memeluknya, Bun. Sekarang dia pergi begitu saja meninggalkan Helly luka yang belum bisa sembuh."
Bunda menarik ku ke pelukannya. Air mataku makin banyak keluar.
"Tidak baik menangisi seseorang yang sudah pergi, sayang. Raga dan jiwanya sudah tenang di alam sana."
"Hiks! Helly sayang Farhan. Helly akan selalu sayang Farhan."
▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Senyuman yang beberapa bulan ini tidak pernah terbit lagi kini kembali melengkung ke atas. Aku menghampiri Mas Varun yang sedang bersandar di kepala ranjang.
Dia menatap diriku lekat sampai aku duduk di tepi ranjangnya. Aku usap rambut halus yang sudah lama tidak aku sentuh. Aku dekatkan diriku dan memberikan satu kecupan di jidatnya.
Cup!
"Aku rindu kamu, Mas," ujarku lirih sambil menyatukan telapak tangan kanan ku dengan telapak tangan kirinya.
"Kamu tidak rindu Mas. Buktinya kamu membiarkan Mas sendirian di rumah sakit ini," ucapnya membuat diriku tidak tahan ingin mengecup bibirnya.
Bukannya membalas, aku malah mendekat dan langsung memeluk dirinya.
"Maaf, sayang. Semenjak kepergian Farhan, aku menjadi trauma rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu."
"Apa yang kamu takut kan?" tanya Mas Varun dengan tangan tanpa infus itu memeluk diriku.
Mas Varun hari ini memang sudah bisa pulang makanya infus itu sudah tidak menusuk kulit tangan Mas Varun lagi.
"Aku takut kamu pergi seperti Farhan. Aku takut kehadiran diriku membuat kamu pergi, Mas," ucapku sangat lirih.
"Farhan datang ke mimpi Mas. Farhan mengatakan; Ayah harus bangun demi Bunda dan Adik Farhan. Mereka masih membutuhkan Ayah. Tugas Ayah belum selesai," cerita Mas Varun membuat tangisanku pecah.
"Farhan juga mendengar semua do'a kamu di sepertiga malam. Kamu merasa bersalah dengan Farhan. Farhan yang melihat kamu begitu juga sedih, sayang. Farhan pergi bukan untuk membuat kamu menyesal. Farhan ingin masa lalunya menjadi pelajaran buat kamu."
Mas Varun melepaskan pelukannya. Kedua jari jempol Mas Varun mengusap ujung mataku yang berkaca.
"Jadi kalau kamu mau Farhan tersenyum, kamu harus berhenti menangisi Farhan," ucap Mas Varun membuat ku mengangguk patuh.
Aku masuk ke dalam pelukan Mas Varun kembali, "Anna Uhibbuka Fillah, Mas."
"Mas juga mencintai kamu karena Allah," balas Mas Varun membuat hatiku tenang.
"Sekarang di mana putri kita? Mas rindu putri kita."
"Kami disini!" ujar Mama datang bersama lainnya.
"Nisa!" ujarku tersenyum lebar melihat Nisa di dalam dekapan Bunda.
Nisa terkekeh saat aku mengambil alih dirinya dari Bunda. Apalagi saat aku memberikannya pada Mas Varun, Nisa tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya. Umur Nisa memang masih 8 bulan, tapi sudah memiliki 1 gigi di bagian bawah.
"Nisa?" tanya Mas Varun sedikit memastikan.
Aku tersenyum, lalu mengangguk, "Annisa Azzahra Abyantara. Bukankah Mas yang memberikan nama itu."
"Mas pikir kamu tidak terima dengan nama yang Mas berikan."
"Berapa kecewanya aku sama kamu, aku tidak pernah berniat untuk membantah kamu. Karena tugas aku seharusnya hanya mengikuti apa yang suami ku katakan," balas ku sambil memeluk keduanya dengan erat.
"Terakhir kalinya aku merasa bodoh saat kamu membawa Farhan. Farhan memang anak kita, Mas. Farhan akan selalu menjadi anak pertama kita. Kita akan selalu mencintai Farhan."
Ya Allah, terima kasih atas kebaikanMu. Berkat sebuah anugerahMu, Mas Varun masih bisa memeluk diriku dengan erat. Cukup hanya sekali aku merasa bersalah. Jangan lagi mengambil orang yang aku sayang. Varun Abyantara dan Annisa Azzahra Abyantara adalah jiwa dan ragaku. Tanpa mereka aku tidak akan pernah bisa menjadi Istri dan Ibu yang baik.
-TAMAT-
6405 kata
Varun Abyantara
Helly Arismaya Abyantara
Annisa Azzahra Abyantara
Namish Arismaya
Teja Abyantara Arismaya
Muhammad Farhan Arismaya
Mayur Adinata
Roop Adinata Arismaya
Amar Abyantara
Soni Abyantara
Sachin Arismaya
Pari Arismaya
#Cerpen_Ke2
#Sudah_Menyakitimu
#12Juni2021
linar_jha2