Sepanjang makan malam, aneh nya Michelle merasa rileks. Entah kenapa berada disini bersama john terasa begitu wajar, terasa dunia ini mendadak telah tertata sebagaimana mestinya. Rasa canggung yang dirasakannya pagi tadi telah sirna, mungkin karena john ada disitu. Eddie makan bersama mereka, informalitas yang sangat disukai Michelle. Hal itu juga memberinya kesempatan untuk berfikir, karena komentar komentar Eddie mengisi keheningan ruangan Dan membuat kebisuan Michelle tidak terlalu kentara.
Setelah makan malam, john mencium bibir Michelle sekilas, Dan menepuk pantatnya. " aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin. Kau bisa menyibukkan diri sementara aku bekerja, kan?"
Rasa kesal membuat Michelle langsung memutuskan "aku ikut dengan mu"
John mendesah, menunduk memandang Michelle. "Sayang, aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan apapun kalau kau ikut bersama Ku."
Michelle memandang john sengit. "Kau benar benar chauvinist sejati john Rafferty. Kau memang harus bekerja karena Kau harus menunjukkan kepadaku apa yang kau kerja kan, setelah itu aku akan mengambil alih pembukuan mu"
Mendadak john tampak waspada. "Aku bukan chauvinist"
Tapi ia juga tidak ingin Michelle menyentuh pembukuan nya. Meski tidak mengucapkannya keras keras, Michelle bisa membaca pikiran john dengan tepat Dari ekspresi wajah lelaki itu. "Sebaiknya kau memberiku sesuatu untuk dikerjakan disini, atau aku akan kembali kerumah Ku sendiri sekarang juga." Kata Michelle datar, menghadap john sambil berkacak pinggang.
"Memang nya apa yang kau ketahui mengenai urusan pembukuan?"
"Waktu kuliah aku sempat mengambil jurusan administrasi bisnis." Michelle membiarkan john memikirkan kata katanya beberapa saat. Karena lelaki itu jelas tidak akan membiarkan nya masuk ke kantor dengan sukarela, Michelle berjalan mengitari lelaki itu Dan berjalan menyusuri koridor tanpa menunggu lagi.
"Michelle, sialan." Gumam john kesal, mengikuti langkah wanita itu.
"Memang apa salah nya jika aku menangani pembukuan mu ?" Tuntut Michelle, lalu duduk dikursi dibalik meja kerja besar.
"Aku membawa mu kemari bukan untuk bekerja. Aku ingin mengurus mu."
"Apakah aku bisa terlukan di tempat ini? Apakah pinsil ini terlalu berat untuk Ku angkat?"
John memandang Michelle dengan cemberut, nyaris tidak bisa menahan diri untuk mengangkat tubuh wanita itu Dari kursi. Tapi dengan mata berkilat kilat Dan dagu terangkat tinggi, Michelle membalas tatapan john, menunjukkan bahwa ia siap bertarung. Kalau nekat memaksa Michelle keluar, ia tahu Michelle akan benar benar kembali kerumahnya yang kosong Dan gelap. John bisa saja memaksa Michelle tetap dirumah ini dengan kekerasan, tapi ia tidak mau seperti itu. Ia ingin Michelle selalu manis Dan terbuka terhadap nya, bukan melawan Dan mencakarnya seperti kucing liar. Hell, paling tidak mengerjakan pembukuan lebih aman Dari pada menggembala ternak. John rela memeriksa kembali pembukuan nya malam hari.
"Baik kah," gerutunya
Mata hijau Michelle memandang nya dengan pandangan mengejek. "Kau murah hati sekali"
"Kau sangat lancang malam ini" kata john, lalu duduk. "Mungkin seharusnya aku bercinta dengan mu sebelum makan malam tadi, jadi bisa mengurangi kelancangan itu."
"Seperti yang Ku bilang tadi, chauvinist terbesar yang pernah ada" Michelle memandang john angkuh, tatapan yang selalu membuat john marah selama bertahun tahun. Michelle mulai senang memancing kemarahan john.
Wajah john tampak lebih gelap, tapi ia berusaha mengendalikan amarah nya, lalu meraih tumpukan kuitansi, nota Dan catatan catatan. "Perhatikan, Dan jangan sampai salah" ujarnya pedas. "Urusan pajak sudah cukup buruk tanpa perlu dikacaukan seorang amatiran."
"Aku selalu mengerjakan pembukuan semacam ini sejak dad meninggal,". Balas Michelle tak kalah sengit.
" di lihat Dari keadaan tempat itu, honey, itu bukan rekomendasi Yang bagus."
Wajah Michelle menjadi kaku, Dan ia membuang muka, membuat john menyumpah perlahan. Tanpa berkata kata lagi, Michelle merenggut kertas kertas Itu Dari tangan john Dan mulai memilah, lalu menyusunnya berdasarkan tanggal yang tercantum. John bersandar dikursinya, wajah nya serius memerhatikan Michelle memasukkan angka angka itu dengan cepat Dan rapi ke buku kas besar, kemudian menghitung kolom itu dengan kalkulator dua Kali, untuk memastikan hitungannya benar.
Ketika ia selesai, Michelle mendorong buku kas itu kearah john yang duduk dihadapannya. "Priksalah supaya kau yakin aku tidak membuat kesalahan apapun."
John melakukan itu, dengan sangat teliti. Akhirnya ia menutup buku itu Dan berkata, "bagus"
Michelle menyipit. "Hanya itu yang bisa kau katakan? Pantas saja kau tidak pernah menikah, kalau kau menganggap semua wanita tidak punya otak bahkan untuk menghitung dua tambah dua saja!"
"Aku pernah menikah" tukas john tajam.
Informasi itu membuat Michelle tercenggang, karena ia tidak pernah mendengar siapapun mengatakan john pernah menikah. Lagian pernikahan bukan lah sesuatu yang bisa dengan gampang dihubungkan dengan john Rafferty. Kemudian kecemburuan panas mengoyak Michelle membayangkan ada perempuan lain yang pernah hidup bersama john, berbagi nama Dan tempat tidur john, wanita yang berhak menyentuh lelaki itu. "Siapa?... Kapan?" Michelle tergagap.
"Sudah lama sekali, aku baru berumur 19 tahun, Dan lebih menurut hormon Dari pada akal sehat. Hanya tuhan tahu kenapa dia menikah dengan Ku. Dia hanya butuh empat bulan untuk memutuskan kehidupan peternakan tidak cocok bagi nya, bahwa ia menginginkan banyak uang untuk dihamburkan Dan suami Yang tidak bekerja dua puluh jam sehari."
Suara john terdengar datar, matanya menunjukkan ketidak sukaannya. Michelle merasa dingin. "Kenapa tidak ada yang pernah membicarakan hal itu?" Bisiknya. "Aku sudah mengenalmu 10 tahun, tapi aku tidak pernah tahu kau pernah menikah."
john mengangkat bahu. "kami bercerai tujuh tahun sebelum kau kemari, jadi kukira berita itu bukan lagi gossip terpanas disini sewaktu itu. lagi pula pernikahan kami tidak berlangsung cukup lama hingga orang orang sempat mengenal mantan istriku. aku selalu sibuk bekerja sehingga tidak sempat bersosialisasi. kalau ia menikah dengan ku karena mengira menjadi istri rancher akan hidup bergelimang kemewahan, dia jells berubah pikiran dalam sekejap"
"dimana dia sekarang?" michelle berharap bahwa wanita itu tidak tinggal di daerah ini lagi
"aku tidak tahu dan tidak peduli. kudengar ia menikah dengan lelaki kaya raya begitu kami resmi bercerai. dan itu sama sekali tidak berarti untuk ku, baik dulu maupun sekarang".
Michelle tak habis pikir bagaimana seorang wanita bisa memilih lelaki lain dibandingkan John Rafferty, tidak peduli walaupun betapa kayanya lelaki itu. Michelle sendiri rela tinggal di gubug dan makan daging ular derik setiap hari kalau itu berarti ia bisa tinggal bersama John. tapi Michelle kini mulai mengerti kenapa John begitu sinis terhadap kaum jet-set dan orang orang kaya yang hanya tau bersenang-senang. ia mulai paham kenapa lelaki itu dulu sering mengomentarinya dengan sarkastis karena membiarkan orang lain terus menghidupinya, bukannya bekerja sendiri. memikirkan hal itu, Michelle malah semakin tidak mengerti kenapa sekarang John malah tidak ingin Michelle untuk melakukan appaun, seakan lelaki itu mencoba untuk membuat Michelle tergantung padanya sepenuhnya.
John menatap Michelle dari balik kelopak mata yang setengah tertutup, bertanya-tanya apa yang dipikirkan Michelle saat ini. wanita itu terguncang ketika mengetahui bahwa ia pernah menikah. kejadian itu sudah berllau begitu lama hingga John bahkan tidak pernah memikirkannya lagi. ia tidak akan mengungkit-ungkit hal itu lagi seandainya guyonan Michelle tentang pernikahan tidak mengingatkannya. pernikahan itu terjadi pada bagian kehidupannya yang lain, dalam kehidupan pemuda 19 tahun yang bekerja membanting tulang untuk membangun kembali peternakan hancur-hancuran yang diwarisinya. terkadang John bahkan tidak ingat nama wanita yang pernah manjadi istrinya itu, dan sudah beberapa tahun ia bahkan tidak ingat wajah wanita itu. John takkan mengenali wanita itu jika mereka berhadap-hadapan.
aneh, karena meskipun John tidak pernah melihat Michelle lagi saat Michelle menikah, ia tidak pernah melupakan wajah Michelle, cara wanita itu bergerak, dan bagaimana sinar matahari membuat rambut keemasannya tampak berkilauan. John mengenal daya Tarik Michelle, garis-garis wajahnya yang tegas, tulang pipinya yang tinggi, dagu yang menunjukkan kekeraskepalaannya, dan bibirnya yang lebar serta lembut itu. Michelle barusan menempelkan bibirnya ke d**a John dan mencicipi kulitnya yang berkeringat asin, lidah wanita itu menjilatinya. sekarang Michelle tampak begitu dingin dan tak tersentuh dalam gaun putihnya yang tak bernoda, tapi saat John mencumbunya, wanita itu langusung berubah bagai cairan panas. John membayangkan cara kedua kaki Michelle merengkuh pinggangnya, dan ia kembali terangsang ketika hasrat membuat tubuhnya panas. John bersandar dan bergerak-gerak gelisah dikursinya.
Michelle sudah mengalihkan perhatiannya kembali pada tumpukan kertas dimeja. tidak ingin ikut campur lebih jauh dalam kehidupan pribadi John. ia tidak ingin tahu lebih banyak lagi mengenai mantan istri John, dan lebih dari itu, ia tidak mau John memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya tentang pernikahannya sendiri yang gagal. akan lebih aman jika mengembalikan topik pembicaraan ke urusan bisnis; lagipula Michelle perlu bicara pada John mengenai rencana menjual ternaknya.
"aku butuh saran mu tentang sesuatu. aku ingin menggemukkan ternakku untuk dijual tahun ini, tapi aku juga perlu modal untuk mengoperasikan peternakan, jadi sebaiknya kau menjual ternakku sekarang. siapa yang bisa kuhubungi dan bagaimana dengan masalah transportasinya?"
namun, tepat pada saat itu John sama sekali tidak peduli tentang ternak apapun. Michelle baru saja menyilangkan kaki, membuat rok itu sedikit tersingkap, menyita perhatiannya. ingin rasanya John menyingkap rok itu lebih keatas lagi, mencengkeramnya hingga kusut di pinggang Michelle, dan sepenuhnya menelanjangi kedua kaki wanita itu. celana jins nya mulai terasa ketat, dan ia harus berjuang keras agar dapat menjawab pertanyaan Michelle. "gemukkan dulu ternak mu, dengan begitu kau bisa mendapat lebih banyak uang. aku akan mengurus peternakan mu sampai kau siap menjual ternak mu."
Michelle menengadah dengan cepat dan tidak sabar, membuat rambutnya berayun keatas, tapi apapun yang ingin dikatakannya langusung hilang ketika pandangan mereka bertumbukkan dan Michelle membaca ekspresi John. "ayo kita keatas," gumam John.
rasanya hampir menakutkan menyadari sensualitas sekental itu terfokus pada dirinya, tapi Michelle tak berdaya melawan lelaki itu. Michelle mendapati dirinya berdiri, menggigil ketika John memegang punggungnya, dan membimbingnya keatas. berjalan disamping John membuatnya merasa rapuh. kadang-kadang tubuh besar John membuat Michelle merasa tak berarti, dan saat ini, itulah yang ia rasakan. John begitu jangkung dan kuat, bahunya begitu bidang, sehingga ketika Michelle berbaring dibawah lelaki itu, tubuh John sepenuhnya menutupi nya. hanya control diri dan kelembutan lelaki itulah yang melindunginya.
John mengunci pintu kamar dibelakang mereka, kemudian berdiri dibelakang Michelle dan perlahan mulai membuka resleting gaun Michelle. John merasakan tubuh Michelle bergetar. "jangan takut, sayang. atau ini cuma hasrat?"
"ya," bisik Michelle ketika John menyelipkan kedua tangannya kebalik gaun Michelle yang terbuka dari belakang dan merangkum kedua payudaranya. Michelle bisa merasakan kedua puncak payudaranya berdenyut mendesak kedua telapak tangan John, dan dengan rintihan perlahan Michelle bersandar ke tubuh John, mencoba menenggelamkan diri dalam tubuh maskulin yang kokoh itu. rasanya begitu nikmat ketika John menyentuhnya.
"dua-duanya?" gumam John. "kenapa kau takut?"
mata Michelle terpejam, nafasnya mulai tersenggal ketika John menghusap puncak payudaranya, tanpa ampun. "perasaan yang ditimbulkan olehmu dalam diriku," Michelle terbata-bata, kepalanya bergerak-gerak dibahu John dengan gelisah.
"kau juga membuatku seperti itu" suara John terdengar parau dan berat ketika hasratnya mulai meningkat. "panas, seakan aku akan meledak kalau tidak segera memiliki mu. kemudian kau terasa begitu lembut dan begitu menyambutku, hingga aku tahu, aku akan tetap meledak juga pada akhirnya."
John seakan akan bercinta dengan Michelle menggunakan kata-katanya, membuat tubuh Michelle semakin bergetar Hebat. Kedua tungkainya terasa lemas, tidak mampu menyangga tubuhnya. kalau bukan karena tubuh berotot John yang menyangganya dari belakang, Michelle mungkin sudah jatuh. ia membisikkan nama John, satu kata yang bergema penuh damba.
nafas John yang hangat menerpa telinga Michelle ketika lelaki itu mengigiti cuping telinganya, "kau seksi sekali, sayangku. gaun ini membuat ku gila seharian ini. aku ingin menyingkap rok mu ketas..... seperti ini..." kedua tangan John meninggalkan p******a Michelle dan beralih kepinggulnya, dan sekarang rok itu tersingkap hingga kepaha sementara John menggenggam kain itu dalam kepalan tanggannya. tak lama kemudian rok itu sudah tersingkap hingga ke pinggang Michelle, dan kedua telapak tangan John terentang lebar diperutnya. "aku membayangkan menyelipkan kedua tangan ku kesini.... seperti ini. lalu menanggalkannya... seperti ini."
Michelle mengerang ketika John menarik celana dalamnya menuruni pinggul, kemudian pantatnya. ia seakan tenggelam dalam ketidakberdayaan dan perasaan terekspos. entah mengapa, dalam keadaan setengah telanjang seperti itu Michelle malah merasa lebih telanjang dan rapuh. jemari John yang panjang menyelinap, mencari, lalu menemukan inti diri Michelle, dan ia gemetar liar ketika lelaki itu membelai dan menghusapnya, perlahan lahan meninggalkan ketegangan dan kenikmatan dalam diri Michelle, hingga tak tertahankan.
"kau begitu manis dan lembut," bisik John. "apakah kau sudah siap untuk ku?"
Michelle mencoba menjawab, tapi yang bisa dilakukannya hanyalah terkesikap. ia terbakar, sekujur tubuhnya berdenyut, dan John masih juga merengkuhnya erat, jemari lelaki itu terus membelainya perlahan, memastikan Michelle menginginkan dan siap menyambutnya. dan John tahu, ia terlalu berpengalaman untuk tidak mengetahui hal itu, tapi ia masih melanjutkan siksaan manis itu sambil terus mengecap kelembutan tubuh wanita itu.
Michelle merasa begitu seksi seperti yang dikatakan John tadi, sensualitasnya sendiri mekar bagai bunga lembut dibawah tangan dan suara parau John. setiap kali John bercinta dengannya, Michelle mendapati dirinya semakin percaya diri akan kapasitasnya untuk memberi dan menerima kenikmatan. John memiliki daya seksual yang sangat kuat, sensual dan berpengalaman. Michelle rasanya ingin marah setiap kali memikirkan semua itu, tapi kemudian Michelle menyadari ia bisa memuaskan lelaki itu. kadang John bergetar penuh hasrat ketika mneyentuhnya; lelaki ini, yang kemaskulinanannya memberi kekuatan sensual terhadap setiap wanita yang diinginkannya, bergetar penuh hasrat terhadapnya. Michelle sudah 28 tahun dan baru saat ini-ditangan John-menemukan kekuatan dan kenikmatannya sebagai wanita.
akhirnya Michelle tidak tahan lagi. ia melepaskan diri dari tangan John, matanya bersinar penuh hasrat ketika melepaskan gaunnya dan meraih John lalu berusaha melucuti pakaian lelaki itu. John tertawa puas, tapi suara itu lebih terdengar berhasrat dari pada geli, dan mulai membantu Michelle. telanjang, dengan kaki dan tangan bertautan, mereka jatuh bersama di tempat tidur. John bercinta dengan Michelle secara kuat dan perlahan, untuk pertama kalinya tidak perlu berhati-hati hingga api hasrat yang menyala-nyala itupun meledak tak terkendali.
keeseokan paginya Michelle sudah melompat bangkit dari tempat tidur sebelum John, wajahnya tampak berseri-seri. "kau tidak perlu bangun," gumam John parau, masih diwarnai kantuk. "kau lanjutkan saja tidurmu". John sebenarnya senang membayangkan Michelle masih terlelap ditempat tidurnya, telanjang dengan tubuh kemerah-merahan dan kehabisan tenaga setelah bercinta semalam.
Michelle menyingkap rambut pirangnya yang berantakan dari matanya, sejenak terpesona melihat tubuh telanjang John ketika lelaki itu bangkit dari tempat tidur. "aku akan ikut bersamamu pagi ini," katanya, lalu berlari mendahului John ke kamar mandi.
John bergabung dengan MIchelle dikamar mandi beberapa menit kemudian, kedua mata hitamnya menyipit mendengar pengumuman yang dilontarkan Michelle. Michelle menunggu John melarangnya ikut, tapi sebaliknya, lelaki itu hanya bergumam, "kurasa tidak jadi masalah, kalau itu bisa membuatmu senang".
itu memang akan membuat Michelle senang, ia sudah memutuskan bahwa John benar-benar Chauvinist protektif sejati yang dengan senang hati akan terus membalut kekasihnya dalam kenyamanan, jadi tidak ada gunanya berdebat dengan lelaki itu. Michelle tahu persis apa yang bisa dilakukannya; dan ia akan melakukannya. sesederhana itu.
Selama tiga minggu berikutnya kebahagiaan mendalam mulai terbentuk dalam diri Michelle. Ia sudah sepenuhnya mengambil alih pekerjaan pembukuan, mengerjakan nya selama tiga kali seminggu hingga john punya banyak waktu luang malam hari, jauh lebih banyak Dari yang pernah dinikmatinya selama ini. John sudah tidak pernah lagi memeriksa ulang pekerjaan Michelle, karena ia tidak pernah menemukan satu pun kesalahan. Dan pada hari hari saat tidak bekerja, Michelle Berkuda bersama john, menikmati kebersamaan dengan lelaki itu Dan John juga menemukan bahwa ia menyukai Michelle berada didekatnya. Kadang john merasa begitu gerah, Kotor Dan marah besar hingga memenuhi udara dengan sumpah serapahnya, tapi begitu menoleh Dan melihat Michelle tersenyum kepada nya, semua kemarahannya menguap. Apakah artinya banteng muda yang selalu berlari melawan nya apabila Michelle memandang nya seperti itu?. Tampak nya Michelle tidak keberatan dengan debu atau panas nya udara. John tidak pernah memperkirakan itu, Dan kadang kadang itu mengusiknya. Rasanya seperti Michelle bersembunyi di tempat ini, mengubur diri dalam dunia terpencil ini. Michelle yang dikenalnya dulu banyak tertawa, suka menggoda, senang bersosialisasi, menikmati pesta, berdansa, . Michelle yang sekarang jarang tertawa, tapi ia masih sering tersenyum, sehingga selama beberapa waktu john tidak menyadari perubahan itu. Kadang senyum Michelle membuat john dan anak buahnya gamang, tapi john masih ingat tawa Michelle yang ceria, Dan bertanya Tanya kemana pergi nya tawa itu.
Tapi semua masih begitu baru bagi nya, memiliki Michelle untuk dirinya sendiri, sehingga john sama sekali tidak ingin buru buru membagi wanita itu dengan orang lain. Mereka melewatkan malam malam bertautan dalam gairah membara. Dan bukannya menyurut, kerinduan Dan rasa lapar itu malah semakin kuat. John melewatkan hari harinya dalam keadaan mabuk kepayang terus menerus. Kadang john hanya tinggal memandang Michelle Dan tubuhnya langsung bereaksi hingga ia harus mencari cara untuk menyembunyikan nya.
Suatu pagi Michelle tinggal dirumah untuk bekerja di ruangan kerja john; ia sendirian karena Eddie sedang belanja. Telepon bolak balik berdering, mengganggu kerja Michelle. Ia sudah sangat kesal saat telepon berdering lagi untuk kesekian kalinya Dan membuat nya berhenti bekerja hanya untuk mengangkat nya. "kediaman keluarga Rafferty".
Tidak ada jawaban, tapi Michelle bisa mendengar suara nafas perlahan, seakan ada orang disebrang sana sedang berusaha mengendalikan nafas nya. Tapi itu bukan the breather, penelepon gelap yang suka menyuarakan nafas nya untuk menakut nakuti orang. Suara ini sama sekali bukan suara nafas yang di buat buat.
" halo" kata Michelle. "Bisa kan anda mendengar suara saya?"
Sebuah suara klik terdengar, seakan siapapun yang sedang menelponnya meletakkan gagang telpon dengan gerakan perlahan Dan hati hati, sebagai mana lelaki itu berhati hati Dan mengendalikan suara nafas nya.
Seorang lelaki. Entah kenapa, Michelle yakin yang menelponnya adalah seorang laki laki. Akal sehat mengatakan bisa saja penelpon merupakan remaja iseng, atau mungkin salah sambung, tapi mendadak Michelle dilanda rasa takut yang membekukan.
Sensasi jahat mengisi keheningan diujung lain telepon, untuk pertama kalinya selama tiga minggu, Michelle merasa sendirian Dan terancam, meskipun tidak ada alasan jelas untuk merasa begitu. Tapi rasa takut yang membekukan itu tidak kunjung berhenti merambati tulang belakang nya, Dan mendadak Michelle merasa harus keluar Dari rumah itu, menuju sinar matahari yang panas. Ia harus menemui john, hanya untuk melihat lelaki itu, Dan mendengar suara beratnya menyumpah nyumpah, atau membujuk kuda Dan anak sapi yang ketakutan. Michelle membutuhkan kehangatan lelaki itu untuk mengusir kebekuan mengancam yang tidak bisa dimengertinya ini.
Dua hari kemudian, telepon berdering Dan lagi lagi Michelle yang mengangkat nya. "Hallo". Katanya. "kediaman keluarga Rafferty". Hening.
Tangan Michelle mulai gemetar. Michelle memasang telinga baik baik Dan mendengar suara nafas yang tenang Dan taratur itu, kemudian suara klik pelan ketika gagang telpon diujung sana diletakkan. Beberapa saat kemudian, Nada hubungan diputus berdengung di telinganya. Michelle merasa mual Dan dingin, tanpa tahu alasan nya. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padanya?