01 - Gadis Nakal

1112 Words
Langkah kaki dengan bunyi mengema memasuki sebuah mansion bergaya klasik dan modern. Pria itu menatap sekeliling mansion, mencari keberadaan orangtuanya. Sudah enam bulan dirinya tidak pulang ke rumah ini. Membuat ibunya marah-marah dan selalu meneleponnya setiap malam. “Ma!” Alex memanggil ibunya dengan suara kencangnya. Bak di hutan dan membuat Amber yang sedang membuat kue di dapur, langsung berjalan menuju ruang tamu mansion. menatap putranya yang akhirnya tahu jalan pulang juga. “Alex! Kau jangan berteriak! Ini bukan hutan.” Amber mendekati putranya, dan memeluk sekaligus mencium pipi Alex beberapa kali. Alex memutar bola matanya dengan malas. Ibunya selalu seperti ini dan tidak pernah berubah sama sekali. padahal Alex sudah dewasa dan tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi. Walaupun Alex bukan anak kandung dari pasangan suami istri yang terkenal dengan romantisnya dan membuat banyak orang iri pada mereka. Tapi, Alex diperlakukan seperti anak kandung di keluarga Cullens dan selalu mendapatkan perhatian lebih. Alex merasa bersyukur masuk ke dalam keluarga ini. Tidak pernah Alex merasa menyesal masuk ke dalam keluarga ini. malahan Alex sudah berjanji akan selalu menjadi anak yang baik untuk orangtuanya dan tidak akan pernah mengecewakan mereka. “Ma … sudahlah. Alex sudah besar dan tidak ingin diperlakukan seperti ini.” Alex menjauhkan wajahnya dari sang ibu. Amber cemberut dan mengangguk. “Kau masih ingat jalan pulang ke rumah ternyata? Kau sudah berapa lama pergi dan tidak pulang ke rumah ini? Mama hampir saja tidak menganggapmu anak lagi. Kalau kau tidak pulang juga,” omel Amber dan duduk di sofa ruang tengah mansion. Alex mengulum senyumnya. Alex yang akan memeluk ibunya, namun, dicegah oleh Amber. “Tidak usah peluk Mama lagi. Bukankah barusan kau mengatakan sudah dewasa dan tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil?” tanya Amber dengan nada sinisnya. Alex tertawa kencang. Dan memeluk ibunya erat. “Mama tambah cantik kalau sedang marah. Makanya Papa semakin mencintai Mama,” ucap Alex tersenyum. “Mamamu itu memang sangat cantik. Kau tidak tahu saja, dia belakangan ini sering sekali marah-marah. Karena putranya tidak tahu jalan pulang, dan asik dengan pekerjaannya.” Alex dan Amber melihat pada Jeremy yang barung datang dan tiba-tiba duduk di single sofa. Jeremy memang sering di rumah daripada ke kantor untuk bekerja. Bagi Jeremy menikmati hari tuanya dengan istrinya adalah hal yang harus dilakukan olehnya. “Papamu itu hanya selalu bisa bilang sabar. Padahal Mama tidak bisa sabar kalau sudah menyangkut dirimu yang tidak pulang.” Amber memeluk lengan putranya dengan manja. Alex mengangguk. Alex menatap ke lantai atas dan mencari seseorang yang alasannya tidak pulang ke rumah ini selama enam bulan. Alex tidak ingin menjadi anak yang buruk untuk ibu dan ayahnya karena menyukai adiknya sendiri. “Kau mencari Claire?” Alex menatap pada ayahnya dan tersenyum tipis mendengar pertanyaan ayahnya itu. Ya. Alex memang mencari Claire. Enam bulan tidak bertemu dengan gadis itu membuatnya ingin melihat wajah cantik bak boneka Barbie adik perempuannya itu. “Claire sedang keluar bersama dengan temannya. Dia mengatakan akan pulang sore. Kau akan menginap di sini bukan?” tanya Amber, menatap tajam pada Alex. Kalau saja putranya ini mengatakan tidak akan menginap. Alex mengangguk. Alex akan tinggal di sini untuk semnetara, sesuai permintaan sang ibu. “Ya. Aku akan menginap dan bahkan akan tinggal di sini smentara. Tidak akan kembali ke apartemen lagi,” jawab Alex. Amber tersenyum senang. “Kau memang harus tinggal di sini. Ini rumahmu! Sudah seharusnya kau tinggal di sini.” “Ya. Mamaku yang cantik. Aku akan tinggal di sini sesuai permintaanmu tentunya. Ah … Claire pergi dengan lelaki atau perempuan?” tanya Alex baru ingat menanyakan ini. “Lelaki dan perempuan. Dia mengatakan ada tugas kampus yang diselesaikan bersama dengan teman-temannya.” Alex mengeram dalam hatinya, mengetahui Claire pergi dengan lelaki. Sialan. Mana mungkin gadis itu mempunyai tugas dengan teman-temannya. Alex harus mencari Claire dan membawa gadis itu pulang ke rumah. Alex tahu seperti apa liarnya Claire di luar sana. Walaupun gadis itu masih bisa menjaga kehormatannya. Tetap saja Claire bertingkah seperti gadis liar dan tidak tentu arah. “Alex pergi sebentar dan akan pulang sore nanti. Mama tidak perlu khawatir aku akan tinggal di sini sementara dan tidak akan pergi lagi,” ucap Alex dan mencium pipi ibunya sekali lagi sebelum pergi. *** Alex melacak keberadaan Claire dan menyuruh orang-orangnya untuk mnegawasi keberadaan gadis nakal itu. Alex tidak akan membiarkan Claire berbuat hal yang liar di luar sana. Claire bisa membohongi orangtua mereka. Tapi, Claire tidak akan bisa membohongi Alex. Alex tersenyum setelah mengetahui lokasi keberadaan Claire sekarang. Alex melajukan mobilnya menuju tempat Claire dan kekasihnya berada. Ya. Gadis nakal itu ternyata memiliki seorang kekasih. Alex tidak akan membiarkan hubungan Claire dan kekasihnya bertahan lama. Alex akan membuat hubungan mereka hancur. Alex turun dari dalam mobil, menatap club yang buka pada siang hari seperti ini. Alex tidak habis pikir untuk apa Claire sepagi ini datang ke sini, walaupun sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Alex memasuki club itu dengan mudah. Setelah menunjukkan identitasnya. Siapa yang tidak kenal Alexander Avander pengusaha muda yang sekarang banyak diperbincangan oleh orang-orang dan para media. Mereka berbondong mengekpose ketampanan dan kekayaan milik Alex. Alex menatap keseluruh penjuru club dan menemukan Claire dan seorang pria duduk di pojok club. Alex berjalan menghampiri Claire dan menarik tangan gadis itu secara kasar. Claire dan kekasihnya menatap pada Alex dengan tatapan terkejut mereka. “Kak!” Claire terkejut melihat kakaknya berada di sini dan menatapnya dengan tajam. Alex mengangguk. “Ya. Ini aku. Sekarang kau pulang Claire! Aku tidak menyangka kau akan berbohong pada Mama dan Papa. Ini tugas yang kau katakan? Aku tidak membiarkanmu semakin liar seperti ini.” Alex menarik Claire untuk keluar dari dalam club. Claire berusaha untuk melepaskan tangannya dari Alex, dan tidak mau pulang. Claire sudah mengatakan akan pulang sore. Lagian dia sudah dewasa dan sudah pantasnya untuk melakukan ini. Apa berhak kakaknya mengatur kehidupannya? “Aku tidak mau pulang! Kau pulanglah sendiri!” Claire melawan membuat Alex menatap tajam pada gadis itu. “Kau pulang atau kau mau aku menembak kepala pria sialan itu di sini?” tanya Alex tajam. Claire terdiam dan menatap pria yang menjadi kekasihnya dengan tatapan sendu. Pria itu hanya diam dan tidak berniat untuk membantu Claire sama sekali. Padahal Claire berharap pria itu mau menolongnya dan melawan Alex sekarang. “Bagaimana Claire? Kau memilih pulang atau aku menembak kepalanya” tanya Alex sekali lagi. Claire mendesah pelan. Dan mengangguk dia lebih memilih pulang dari pada membuat keributan di sini. “Aku memilih pulang.” Alex tersenyum penuh kemenangan. “Bagus gadis nakal. Memang itu yang harus kau pilih.” Alex kembali menarik tangan Claire dan membawanya keluar dari tempat terkutuk ini. Tempat yang berbahaya untuk gadis seperti Claire. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD