○05.
Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan saja diantara mereka. Azka yang saat itu baru mendengar ucapan Dira, masih berusaha mencerna semuanya. Setelah beberapa detik kemudian, dia pun menganggukkan kepalanya, seolah menyetujui apa yang dikatakan oleh Dira tadi.
"Gapapa, aku akan tetap menunggumu di sini. Jadi, kamu gak perlu cemas."
Ucapan lembut Azka itu benar-benar membuat Dira merasa sangat nyaman sekali ketika dia mendengarnya. Sosok tampan yang ada di depannya itu sangat pengertian pada keputusannya dan Dira pun tak perlu merasakan hatinya yang begitu resah.
Dira mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis. Matanya sempat menatap ke arah piring yang sudah kosong, dia telah menghabiskan makanannya itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong kau sedang olahraga pagi-pagi begini?" tanya Dira. Dia mulai meneliti penampilan Azka yang tampak rapi. "Sepertinya tidak," jawab wanita itu sendiri.
Lantas Azka tertawa pelan. "Ya, aku memang sedang tak olahraga. Pagi ini, aku hanya ingin berkeliling saja, mengawasi pekerjaan ku."
Kening Dira mengerut, tak begitu mengerti maksud ucapan dari Azka tadi. Namun, tak urung dia tetap tak mengangguk, tak ingin bertanya lebih jauh yang justru bisa saja membuat Azka nanti merasa tak nyaman dengan kebersamaan mereka.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang karena hari sudah mau siang," ujar Dira. Dia membangunkan tubuhnya dan membayar hasil belia nya itu, tapi sang penjual justru menolaknya.
"Tak perlu Mbak, semuanya gratis kok."
Dira dibuat kebingungan dengan ucapan penjual tadi. "Gratis?" tanya wanita itu seolah tak percaya.
"Ya, ini semua gratis jadi Mbak gak perlu cemas."
"Tapi---"
"Lebih baik uangnya simpan lagi ke dalam saku, siapa tahu nanti pas di jalan pulang justru kehausan dan tak punya uang lagi untuk beli minum."
Tatapan Dira tertuju ke arah uang yang ada di tangannya itu. Dia keluar memang membawa uang yang terbilang pas-pasan, Rp. 10.000 dan tentu saja yang itu bisa habis jika dia memberikan kepada penjual tersebut..
Saat Dira akan membuka suara lagi, dia tak melihat keberadaan penjual tadi yang seharusnya ada di depannya.
"Ke mana penjual tadi?" tanya Dira dengan penuh kebingungan.
Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, dia lebih memilih untuk menaruh uangnya itu ke dalam kantong celana nya dan menyimpan dengan sebaik mungkin.
Berbalik, dilihatnya kini Azka yang sudah ada di pinggir jalan seraya bersandar di badan mobilnya.
"Kamu mau pulang? Ayo, aku antarkan."
"Gak perlu, aku bisa jalan kaki kok, sekalian olahraga."'
"Tapi ini sudah sangat panas."
Dira mengangkat kepalanya, melihat langit yang benar-benar sudah terang. Matahari dengan penuh semangat memberikan sinar yang begitu banyak ke arah bumi, hingga suhu terasa begitu panas sekali.
"Ayo!"
Tak punya pilihan, Dira mengikuti ucakan Azka untuk masuk ke dalam mobil yang cukup dingin itu. Satu hal yang dia tak suka ketika bersama dengan Azka, yaitu dia harus berada di dalam keadaan canggung.
Sampai saat ini, mereka belum bisa akrab. Dira pun juga ragu dan harus berpikir beribu-ribu kali jika ingin membuka suara saat bersama dengan pria itu.
Ditambah dengan kejadian kemarin juga.
"Pekerjaanmu di kota apa?" tanya Azka yang sepertinya sudah mulai mau membuka pembicaraan diantara mereka.
"Hanya karyawan kantor biasa," jawab Dura seadanya. "Kau sendiri?"
"Mengurus usaha ayahku."
Dira menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia tak ingin bertanya lebih jauh lagi, takut jika justru Azka merasa sangat keberatan jika durinya bertanya.
Wanita itu memperhatikan jalanan yang sangat rusak. Beberapa batu yang terinjak oleh ban mobil milik Azka, membuat tubuh Dira selalu bergerak.
Hanya dalam waktu 15 menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan, yaitu rumah Dira.
"Kau mau mampir ke rumahku?" tanya Dura hanya sebagai basa-basi saja.
"Tidak, aku ada kerjaan."
"Oke, terimakasih karena sudah mengantarkan aku." Dira memberikan senyum yang sangat manis dan juga tulis kepada Azka, pria yang telah menolongnya itu.
Dia keluar dari mobil tersebut. Tangannya melambai, sampai saat mobil milik Azka itu sudah raib dari matanya.
Setelah itu, dia langsung membalikkan tubuhnya. "Akh." Dira terkaget karena kini dia telah menabrak Aisyah yang ternyata ada di belakangnya.
Dira mengelus dadanya, terasa sekali jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena ulah adiknya itu.
"Kau mengagetkan aku saja," ujar Dira.
Aisyah menatapnya dengan penuh rasa bersalah. "Maaf, Kak."
"Ya sudah gapapa, terus ngapain kamu tadi diam di belakang Kakak?" tanya Dira.
"Tadi aku cuman mau lihat teman Kakak, itu dia yang melamar Kakak kan kemarin?" tanya Aisyah dengan penuh rasa semangat di dalam hatinya.
Lantas Dira langsung menutup mulut Aisyah, suara adiknya itu benar-benar kuat tadi dan dia hanya takut jika ada seseorang yang mendengar suara itu. Seseorang yang suka bergosip di sekitarnya, itulah mereka yang sangat dihindarinya.
"Ngomongnya jangan kuat-kuat, nanti ratu gosip denger." Ditariknya tangan Aisyah untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Kenapa sih Kak gak boleh ngomong diluar?" tanya Aisyah yang sama sekali tak mengerti dengan maksud ucapan Dira tadi.
Dira menghembuskan napasnya dengan kasar, dia memang harus bersabar jika harus melayani Aisyah yang cukup susah untuk mencerna perkataan dan juga suasana.
"Nanti ada ibu-ibu yang denger, kamu tau sendiri kelakuan mereka kayak mana."
"Oo, gitu." Kepala nya mengangguk pelan, batu mengerti maksud ucapan tersebut.
Kembali teringat dengan pertanyaannya yang belum juga mendapatkan jawaban dari kakaknya, lantas Aisyah mengulang lagi pertanyaan itu, "Kak tadi pria yang mau melamar Kakak itukan?"
"Iya, dia. Azka namanya."
"Azka? Aku dengar dia pengusaha kaya di desa ini tau Kak. Bahkan ladang dan kebun-kebun yang ada di desa ini itu punya---"
"Ssst sudah ya, Kakak gak punya waktu untuk tahu tentang dia. Kakak mau mandi dulu, byeee." Tanpa perlu menunggu jawaban lagu dari Aisyah, Dira memilih untuk pergi dari sana.
Tubuhnya sudah terasa sangat lengket, belum lagi dia juga harus cepat-cepat bersiap untuk pergi dari desa ini menuju ke kota.
Sementara itu, Aisyah yang ditinggalkan oleh kakaknya lantas mengerucutkan bibirnya. "Padahal kalau Kakak tahu gimana kayanya keluarga mereka, pasti Kakak akan tergiur."
Aisyah menyusul ke tempat kakaknya itu berada, melihat Dira yang kini tengah sibuk membuka tas nya hanya untuk memeriksa apakah barang-barang yang dibutuhkannya sudah dimasukkan ke dalam tas itu atau belum.
"Kakak mau ke mana?" tanya Aisyah, dia memperhatikan kakaknya itu yang tampak sibuk saat ini.
"Jakarta."
"Hah, bukannya Kakak belum kasih keputusan atas lamaran itu, ya. Masak pergi, sih."
Dira menghembuskan napasnya dengan kasar, cukup repot juga untuk dia meladeni sosok Aisyah yang memang sangat cerewet baginya.
"Kakak akan kembali secepatnya dan memberikan keputusan Kakak."
"Oo, gitu." Aisyah menganggukkan kepalanya, mengerti dengan maksud ucapan kakaknya tadi.
***
Dira menuju ke Jakarta dengan bus, terlebih dahulu dia ke terminal yang ada di sekitar desa nya. Barang bawaannya gak begitu banyak, hanya satu tas ransel dan tangannya pun menentang tas kecil yang berisikan makanan.
Ya, ibunya membuatkannya makanan.
Sungguh, Dira sebenarnya gak mau repot-repot membawa makanan ini. Namun, dirinya pun tak bisa menolak perintah dari ibunya, lagian juga ibunya sudah memasak dengan susah payah untuk dirinya ini.
"Ingat, kau harus pulang, Ibu gak enak kalau membiarkan mereka menunggu keputusanmu nanti."
"Iya, Bu." Sungguh, rasanya Dira sangat bosan sekali dengan ucapan ibunya yang terus menyuruh dia secepatnya pulang.
Dari perjalanan tadi, terus mengatakan kalimat yang sama.
"Aku pergi dulu, byee." Sebelum pergi meninggalkan mereka, terlebih dahulu Dira mencium tangan ibunya itu dan bersalaman dengan kedua adiknya.
Memasuki mobil bus tersebut, lantas Dira menyandarkan punggungnya. Dia melihat ke arah jendela dan melambaikan tangannya pada keluarga nya yang masih saja berada di tempat mereka.
Dira tersenyum kecil kepada mereka, setelah dirasa mobil ini bergerak berjalan dan mulai meninggalkan tempat tersebut, akhirnya dia langsung mengubah posisi duduknya menjadi lurus ke depan.
Mungkin perjalanan menuju ke Jakarta menghabiskan waktu sekitar 3 jam, dan untuk selama itu, Dira memilih untuk tidur dengan telinga yang disumpalkan oleh headset, sehingga dia bisa menikmati waktu selama di perjalanan ini.
Matanya yang mulai memberat itu, secara perlahan mulai menutup, dia mulai tertidur dengan nyenyak nya.
***
Dira mengerjapkan matanya beberapa kali saat dia merasakan guncangan di bahunya. Lantas wanita itu mengangkat kepalanya, melihat seorang pria dengan kaos oblong nya berwarna coklat yang diduga baru saja membangunkan nya itu.
"Maaf Mbak, kita sudah sampai."
"Ooo, iya. Terimakasih." Wanita itu mengambil tas nya dan mulai keluar dari mobil tersebut. Tubuhnya masih terasa lemah, karena baru bangun dari tidurnya itu.
Pandangan Dira mengedar, dia melihat suasana yang ada di sekitarnya, terasa sangat ramai sekali. Mereka berhenti di terminal pada siang hari seperti ini, membuat kepalanya dibuat semakin pusing.
Dengan cepat, dia menuju ke sebuah halte. Dengan mengutak-atik ponsel ya, dia pun memesan ojek online, agar bisa sampai menuju ke apartemennya.
Menunggu cukup lama di halte dengan melamun saja, wanita itu melihat seorang yang diduganya adalah ojek online pesanannya itu.
"Mbak Dira?"
"Ya." Dira membangunkan tubuhnya, dia mengambil helm yang diberikan untuknya dan memakai helm tersebut dengan cepatnya.
Setelah selesai, dia pun mulai memposisikan tubuhnya agar terduduk di belakang tukang ojek tersebut.
Angin yang cukup menyejukkan tubuhnya itu dinikmati oleh Dira sendiri. Wanita itu tersenyum kecil, dia melihat-lihat kota ini yang sudah dirindukannya. Tempat dia merantau, meski panas dan macet, tapi Dira begitu menikmati waktunya ketika dia berada di tempat ini.
Apartemen yang ditempati Dira adalah fasilitas yang diberikan oleh pihak kantornya langsung, tentu saja Dira sangat beruntung mendapatkan itu. Apalagi tempat tinggal di Jakarta Selatan ini terbilang sangat besar harganya, hingga wanita itu bisa menghemat uangnya di sini dan memberikan langsung kepada keluarganya yang ada di kampung.
Sapaan Dira dapatkan ketika dia melewati kasir. Wanita itu membalasnya dengan sebuah senyuman yang tampak manis di wajahnya.
Letak apartemennya berada di lantai 7, sehingga dia harus masuk ke dalam lift agar bisa cepat sampai menuju ke lantai yang atas tersebut.
Wanita itu harus melewati lorong panjang dan juga sepi. Tak ada satupun orang yang dilihatnya, Dira sudah cukup terbiasa dengan situasi seperti ini.
Saat sudah sampai tepat di depan apartemennya, wanita itu langsung memasukkan kunci nya ke dalam lubangnya.
"Akhirnya aku menemukan mu juga."
Tubuh Dira menegang kala dia mendengar suara tersebut. Suara yang menurutnya sangat tak asing untuk dirinya. Apalagi ketika tangan kekar itu mengelus bahunya, membuatnya semakin dibuat ketakutan.
"Berbaliklah."
Seperti terhipnotis, lantas Dira langsung membalikkan tubuhnya, sehingga dia bisa melihat dengan jelas wajah seorang pria yang tampak cukup tampan, menatapnya dengan sebuah seringai yang menghiasi wajahnya.
Benar-benar terlihat sangat menyeramkan sekaku baginya.
"Dari mana saja kau?"
Dira menghembuskan napasnya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menghilangkan seluruh rasa takut yang ada di dalam dirinya ini. Bahkan, untuk menatap mata pria itu saja, dirinya tak berani.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dira setelah dirinya mengunlulakn segala keberanian.
Pria itu justru tertawa saat ini, seolah apa yang dikatakan oleh Dira tadi adalah sebuah candaan yang patut untuk ditertawakan.
Tangan Dira mengepal dengan sangat kuat. Kenapa di saat seperti ini dia merasa sangat takut? Sudah berusaha membuang rasa takut tersebut, tetap saja tak bisa.
"Kau bertanya seperti itu setelah pergi begitu saja?" tanya pria itu.
"Kita sudah tak memiliki hubungan lagi." Dira mengingatkan pria itu para sebuah kenyataan yang ada di depan mata.
Dilihatnya tatapan mata pria itu yang justru menggelap dengan bara api yang membuktikan bahwa dia benar-benar telah marah saat ini. Dira menelan ludahnya dengan susah payah, sungguh dirinya telah dibuat takut dengan keadaan saat ini.
"Kita gak pernah putus!" Tangan pria itu terangkat, dia mencengkram dengan sangat kuatnya rahang Dira, hingga membuatnya lantas meringis pelan, merasakan nyeri pada bagian rahangnya tersebut. "Sampai kapanpun kita gak akan pernah putus, aku ingatkan itu padamu."
"Gila!" teriak Dira dengan kuatnya, tepat di depan pria itu. Dengan kekuatan penuh, dia menendang dengan sangat kuatnya pusat tubuh lawannya hingga membuat pria itu berteriak kesakitan atas apa yang dilakukannya.
Dira memiliki kesempatan untuk kabur dan tentu saja dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Langsung saja dia mendorong pintu apartemennya dan dengan gerakan yang cepat, dia pun menutup pintu tersebut.
Sempat beberapa kali pria itu berusaha untuk mendobrak pintunya dan juga berteriak memanggil namanya, untung saja Dira sudah lebih dulu mengunci pintu itu.
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dia benar-benar merasa ketakutan karena masalah ini. Teror itu telah berhasil membuat sebuah rasa penyesalan hadir di dalam dirinya.
"Ya Allah." Kaki Dira melemas, kini dia sudah terjatuh ke atas lantai dengan wajahnya yang pucatnya dan juga tatapan matanya kosong.
'Semoga dia tak lagi menggangguku setelah ini.'