○04.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara bunyi ketukan pintu itu berhasil membuat lamunan Dira buyar. Wanita itu mengalihkan pandangannya, melihat ke arah pintu yang akan selalu dia kunci, sehingga tak akan ada satupun orang yang berani masuk ke dalam ruangan ini.
Dia pun bergegas untuk membuka pintu tersebut. Dilihatnya wajah ibunya yang tersiratkan kecemasan. Lantas kening Dira mengerut melihat itu, dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi hingga ibunya sampai terlihat cemas.
"Ada apa dengan Ibu?" tanya Dira langsung.
Tangan Dira ditarik pelan, ibunya itu sama sekali tak memberikan jawaban kepada dirinya, hingga membuatnya bertanya-tanya dalam hati.
"Bu, ada apa?" Dira memaksakan diri untuk memberhentikan langkahnya, dia menatap cemas pada wanita paruh baya tersebut, seolah meminta penjelasan kepadanya.
"Anu--- di depan ada Nak Azka." Ibu berucap dengan nada gugupnya, seperti ada yang tengah disembunyikan.
"Untuk apa?"
Dengan cepat, ibu menggelengkan kepalanya, seolah tak mengetahui tujuan kedatangan Azka ke sini. Namun, Dira sangat yakin kalau ibunya itu pasti tengah berbohong saat ini, apalagi melihat sikap ibunya yang berusaha mengalihkan pandangannya dari dia.
Tak ingin memperpanjang waktu, Dira langsung melangkah menuju ke ruang tamu. Tepat saat dia akan masuk ke ruang tamu, langkahnya terhenti melihat tiga orang yang menatapnya dengan penuh keramahan.
Dira melongo. Dia masih tak mengerti atas tujuan kedatangan mereka ke rumahnya, Setahu Dira sendiri, dia tak memiliki urusan lagi dengan mereka.
Azka dengan kedua orangtuanya. Mereka memakai baju putih yang terlihat sangat mahal dan bagus. Mereka seperti akan menghadiri acara formal saja.
Lalu, pandangan Dira teralihkan, melihat beberapa buket buah dan juga sebuah kota beludru berwarna merah di tengah-tengah meja.
"Dira, ayo duduk," bisik ibu hingga membuat lamunan Dira buyar saat itu juga.
Segera, Dira mengambil tempat duduk yang berada di depan kedua orang tua Azka. Disampingnya juga ada Azka yang beberapa kali menunduk, seolah menjaga pandangan matanya dari dia.
DIra berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung saat ini. "Hmm, ada perlu apa atas kedatangan kalian ke rumah gubuk kami?" tanya Dira dengan sedikit canggung.
"Kami di sini berniat untuk melamar Nak Dira sebagai istri Azka."
Tubuh Dira menegang. Seolah waktu berhenti, dia tak lagi bisa bergerak dengan pikiran yang kosong. Butuh waktu beberapa detik dirinya mencerna ucapan dari Ibu Azka tadi. Hatinya masih merasa tak percaya kalau dirinya saat ini serang dilamar oleh seseorang?
Astaga, kabar yang sangat mengejutkannya.
"Itu--- anu, aku ... tidak mengerti maksud Ibu." Duduk Dira kini mulai tak tenang, dia benar-benar tak habis pikir dengan kejadian pada hari ini.
"Saya melamarmu sebagai istri saya, apakah kamu mau menerimanya?"
Kali ini, Azka lah yang bersuara. Pria dengan tatapan serius dan suara yang menyatakan ketegasan membuat Dira yakin bahwa dirinya tak salah dengar.
Keterkejutan Dira dianggap biasa oleh mereka. Siapa yang tak terkejut jika dilamar oleh seorang pria yang baru dikenalnya kemarin? Apalagi mereka tak memiliki banyak interaksi.
"Apa kamu serius? Maksudku, kita baru ketemu dan ....." Dira sudah tak bisa berkata-kata. Ada begitu banyak hal yang diucapkannya, tapi mengapa lidahnya terasa Kelu?
"Saya mengerti, kamu memiliki waktu untuk berpikir. Saya di sini hanya mengajakmu untuk ta'aruf dan saya harap, kamu bisa menerimanya."
Dira menundukkan kepalanya. Tidak! Dia butuh waktu yang banyak agar bisa mengambil keputusannya. Apalagi dalam situasi seperti ini, tentu saja Dira tak akan bisa berpikir dengan baik.
"Apakah kalian bisa memberikan saya waktu?" tanya Dira. Secara perlahan, dia pun mengangkat kepalanya, dengan keberanian penuh, menatap mata mereka satu-persatu..
Mereka yang tampak tak keberatan dengan permintaannya.
"Tentu saja, kami akan menunggu jawabanmu secepatnya."
Yah, setidaknya Dira merasakan hatinya yang sangat lega setelah dia mendengar yang bersedia untuk memberikannya waktu. Selanjutnya hanya ada pembicaraan diantara ibunya dengan kedua orang tua Azka.
Tak sekalipun Dira membuka suara. Dia masih dalam kebingungannya dan jujur, saat ini dirinya butuh waktu untuk sendiri. Dengan bersama mereka di sini, kepalanya dibuat semakin pusing.
Untungnya, mereka langsung pergi setelah pembicaraan dirasa sudah selesai.
Dira membangunkan tubuhnya, mengantarkan mereka sampai di depan pintu. Azka sempat menatapnya dan langsung saja Dira menunduk, seolah saat ini tak ingin bersitatap dulu dengan pria itu.
Setelah mereka pergi, barulah Dira menunjukkan wajah stress nya. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar. Tubuhnya yang bersandar di daun pintu itu secara tiba-tiba meluruh, terduduk di atas lantai tanpa keramik.
"Bu, gimana ini ...." Dira menatap ibunya sedang pandangan yang sangat cemas.
"Semua pilihan ada ditanganmu, Dira. Di sini, Ibu hanya ingin memberitahumu kalau memang saatnya kamu untuk menikah. Ingat, umurmu sudah matang dan tak mungkin kah kamu menikah saat ibu sudah mati---"
"Ish, Ibu." Dira memotong dengan cepat. Dia benar-benar tak suka sekali dengan ucapan ibunya yang ada pada akhir kalimat tersebut.
Tidak, ibunya tak akan meninggalkan dia sebelum dirinya menikah.
"Makanya itu, lebih baik kau cekat menikah. Mumpung Ibu masih ada di dunia ini."
Dira hanya berdiam saja dengan sejuta isi pikirannya. "Tahulah Bu, Dira akan memikirkannya nanti." Wanita dewasa itu membangunkan tubuhnya, dia memilih untuk berdiam diri lagi di dalam kamarnya, karena hanya dengan tempat itu saja, hatinya merasa sedikit lebih lega.
Yah, lebih lega.
****
Semalaman Dira berpikir di dalam kamarnya, semalaman itu juga dia tak sekalipun melangkahkan kakinya diluar. Wanita itu hanya tetap berada di atas ranjang dengan tubuh yang memeluk guling dan dilapisi oleh selimut.
Beberapa kali dia akan menggulingkan tubuhnya di sekitaran ranjangnya itu agar pikirannya bisa tenang, tapi sayangnya bayangan wajah Azka terus hadir membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.
Mungkin, jika dihitung, dia hanya tidur dalam waktu sekitar 3 jam saja. Baru pukul 2 pagi dia bisa terlelap, dan pukul 5 pagi dirinya harus dibangunkan dengan ayam yang berkokok.
Ya, di kampung ini ada begitu banyak sekali ayam berkeliaran. Sehingga wajar saja jika terdengar suara ayam berkokok di dekat jendelanya, meski dia tak memiliki hewan peliharaan itu.
Dira membangunkan tubuhnya. Dia terduduk di atas ranjang dengan mata yang berkedip beberapa kali, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
Setelah selesai, dia mengambil benda pipih yang sudah berbunyi alarm. Sempat melihat ada begitu notifikasi chat dan telepon, tapi dia menghiraukannya. Memilih untuk membaca pesan-pesan yang dikirim oleh teman-temannya.
"Sepertinya aku harus mempercepat jadwal kepulangan ku."
Ya, setidaknya saat ini dia butuh waktu saat ini agar bisa berpikir lagi tentang masalah yang dimiliki olehnya.
***
Mandi pada pagi hari, terasa sangat dingin sekali bagi Dira. Dia yang biasa hidup di kita, di mana tempatnya begitu panas akibat udara kotor, membuatnya terbiasa dengan udara panas itu. Berbeda dengan pedesaan yang masih asri, menyebabkan suhu menjadi lebih dingin ketika pagi hari seperti saat ini.
Wanita itu menyesal, mengapa tadi dia tak mandi dengan air hangat saja. Namun, semuanya sudah terjadi.
Tubuhnya kini menggigil, dengan handuk yang masih kering melapisi tubuhnya tersebut. Dia terduduk di atas kursi dekat meja makan, dengan meneguk teh hangat yang dapat menambah suhu tubuhnya.
"Tumben sekali kamu mandi pagi-pagi, biasanya nunggu matahari di atas kepala dulu baru mau mandi?" Ibu melihat Dura dengan tawa pelannya, ya itu memang kebiasaan yang dimiliki Dira, yaitu mandi siang.
Dan ibunya cukup tak menyukai kebiasaan itu.
Huh, ibunya saja tak tahu kalau dia hidup di kota, maka dia akan mandi satu hari sekali saja.
Yaitu pada malam hari sebelum mandi.
Mungkin jika ibunya tahu, dia bisa mendapatkan nasihat yang begitu panjang dan sangat melelahkan untuk mendengar nasihat tersebut.
"Ya, aku niatnya mau pulang nanti," ujar Dira yang berhasil membuat ibunya terkejut.
Mata Ibu membelalak, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar tadi. "Bukannya kamu ngomong kalau pulangnya Minggu depan?" tanya ibu yang sepertinya masih ingat dengan ucapan Dira kemarin.
"Aku percepat, mungkin setelah pikiranku tenang, aku akan kembali beserta jawaban tentang pertanyaan kemarin." Dira menundukkan kepalanya. Memikirkan semua masalah ini, dia harus pergi dulu dari tempat ini, mencari pencerahan, agar sebuah keputusan bisa diambilnya.
"Ya, Ibu mengerti."
Dira tersenyum kecil. Dia sangat bersyukur di dalam hatinya, karena ibunya mau mengerti dengan keputusan yang sudah diambil oleh dirinya saat ini.
"Aku sudah memesan tiket untuk menuju ke kota. Nanti saat pukul 11 siang, aku akan berangkat." Dira membangunkan tubuhnya, mengambil sebuah gelas yang dipakainya tadi untuk membuat teh, laku menaruhnya ke atas wastafel.
Saat dia berbalik, dilihatnya wajah ibunya yang sedih.
"Ibu harap kau mendapatkan pilihan yang terbaik."
Meski ibunya sedang tak memaksa dia untuk saat ini, tapi harapan ibunya yang begitu besar agar Dira bisa menikah, membuatnya merasa sangat tak enak hati jika menolak lamaran tersebut.
Dirinya merasa tertekan. Inilah yang menyebabkan dia ingin pergi untuk sementara diri, agar tak ada yang menekannya.
"Bu, semua pilihanku adalah yang terbaik. Aku harap, Ibu nanti gak kecewa dengan keputusan yang aku ambil." Dira menatap dengan lembut ibunya.
Setelahnya, dia memilih untuk meninggalkan ruangan dapur tersebut dan langsung menuju ke kamarnya. Dia harus mengemasi barang-barang yang harus dibawanya kembali ke Jakarta.
Dimasukkannya sebuah kamera ke dalam tas hitam ransel yang cukup besar, juga baju-baju nya yang lain. Karena barang bawaannya terbilang kecil, jadi hanya membutuhkan sedikit waktu saja untuk membereskan semua barang-barang nya.
Wanita itu bernapas lega ketika semuanya telah usai.
Ditengoknya jam yang menempel di tembok, masih pukul 7 pagi sepertinya mengelilingi desa ini bukanlah rencana yang buruk. Langsung saja, dia mengambil sebuah jaket berwarna hitam.
"Kak, mau ke mana?" tanya Azizah.
Mirna menengok. "Mau maraton, byeee!" Wanita itu melangkahkan kakinya, melewati jalanan yang belum diaspal tersebut dengan pelannya, dia tak mau terjatuh dan ujung-ujungnya kaki dia akan keseleo lagi dan rencananya untuk pulang bisa hilang begitu saja.
Mirna menyapa siapa saja yang melewatinya, bahkan bapak-bapak yang sedang bersepeda membawa rerumputan saja dia menyapanya dengan ramah.
Suasana hatinya benar-benar sangat baik saat ini.
Langkahnya mulai melambat kala dia merasakan tubuhnya yang lelah. Rasa haus itu datang, dia membutuhkan air untuk minum nya. Kepalanya celingukkan ke kanan dan juga kiri, berusaha untuk mencari warung terdekatnya.
Matanya berbinar ketika melihat keberadaan sebuah warung geribik yang sangat sepi, tampaknya warung itu juga baru mau buka.
Tanpa basa-basi, Dira langsung menuju ke warung tersebut. Dilihatnya seorang wanita bertubuh gempal dengan memakai dasternya, tersenyum kepadanya denga ramah. Wanita penjaga warung itu menghampirinya dan bertanya, "Ada yang Mbak butuhkan?"
Dira mengangguk. "Aku mau air sama mie instan ya."
"Baik Mbak, tunggu ya."
Dira menunggu di tempat tersebut sembari memperhatikan daerah di sekitarnya. Di sekitarnya, terdapat kebun teh yang dapat mencuci matanya. Dia begitu suka dengan pemandangan ini, pemandangan yang tentunya sangat jarang dilihat oleh dia ketika berada di kota. Apalagi, tak ada kerinduan dan hanya keheningan saja yang dirasakannya, membuatnya semakin merasa nyaman.
"Ini Mbak pesanannya."
Dira menengok, ditatapnya sajian makanan yang terlihat sangat menggiurkan. Dengan susah payah, dia pun menelan ludahnya. Mungkin hanya mie instan biasa, tapi anehnya Dira akan selalu merasa kalau rasa mie instan buatannya dengan buatan warung itu sangat berbeda.
Buatan warung jauh lebih enak.
Dia memakannya dengan khidmat. Ini adalah pagi yang nikmat, tak sia-sia dua berlari sejauh 3 km jika mendapatkan pemandangan indah seperti ini. Beberapa kali, dia akan memotret makanan nya dan juga pemandangan yang ada di depannya itu.
"Hey," panggil seseorang.
Lantas Dira menengok. Matanya membelalak ketika melihat keberadaan Arka di sini. Pria itu tampak sudah rapi dengan kemeja putihnya, senyum nya yang ramah dan juga tatapannya yang sangat lembut membuat Dira hanya bisa melongo memperhatikan ciptaan Tuhan yang sangat tampan itu.
"Kau ada di sini," ujar Azka. Pria itu melirik sejenak ke arah bangku yang ada di depan Dira, kebetulan bangku itu kosong. "Bisakah aku duduk di sana."
Dira mengedipkan matanya beberapa kali, hampir saja dia terhipnotis oleh tatapan teduh Azka. Tidak, dia tak boleh begitu. Melihat Azka yang cukup tak nyaman dengan pandangan lekatnya, membuatnya memilih untuk melihat ke arah lain.
"Ya, kau bisa duduk di sana." Dira menundukkan kepalanya, memilih untuk melanjutkan makannya.
Sungguh, keadaan ini terasa sangat canggung sekali bagi dirinya. Apalagi mengingat tentang kemarin, di mana dirinya saja belum memiliki keputusannya.
"Aku gak akan nanyain tentang kemarin kok, kamu jangan tegang gitu." Azka terkekeh pelan, melihat bagaimana reaksi Dira setelahnya.
Dira yang hanya bisa terdiam dan tak bernafsu lagi menghabiskan makanan nya, sehingga dia hanya mengaduk-aduk saja isi piring itu.
"Azka," panggil Dira dengan keberanian penuh.
Azka menengok. "Kenapa?"
"Aku besok mau pergi sebentar ke Jakarta, mungkin akan lama aku memberikan jawaban padamu, apakah itu tak masalah?"