○03 (DBT)
Suasana pada malam itu terasa sangat sejuk sekali, tanah yang becek selepas hujan saat sore tadi, membuat aroma khas selepas hujan dapat tercium dengan jelas. Ditambah dengan udara di desa tersebut yang masih terbilang bersih, membuat siapa saja akan merasakan nyaman.
Terlihat dari sebuah masjid yang cukup besar, beberapa orang keluar dari tempat tersebut, habis menyelesaikan ibadah mereka. Beberapa ibu-ibu melangkah keluar seraya berbincang bersama dengan kehangatan, begitu juga dengan bapak-bapak yang khas dengan memakai sarung. Berbeda halnya dengan anak-anak kecil yang berlarian, bermain-main saat bertemu.
Di sini, Dira merasa tersisihkan. Dia merasa kurang bisa berinteraksi dengan orang-orang yang ada di tempat ini. Memang itulah sifat aslinya, sejujurnya dia sangat sulit mengenal dekat seseorang atau menciptakan obrolan yang menyenangkan. Dia berjalan di belakang ibunya, dengan langkah menunduk, memperhatikan jalanan yang sangat buruk, tanah becek dengan bebatuan kerikil yang mempersulit langkahnya itu.
Dia menaikkan dagunya, menengok kanan, melihat sosok pria yang dikenalnya siang tadi, tak sendiri, dia tengah berbincang bersama satu wanita paruh baya dan satu pria paruh baya, tampaknya mereka adalah orang tua pria itu.
Pria yang bernama Azka, sang penyelamatnya.
Lagi, pandangan mereka berjumpa. Lantas Dira menggigit bibirnya, merasa sedikit gugup dan canggung saat melihat Azka. Pria itu tersenyum kepada dirinya, sungguh saat itu dia merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat sekali.
Azka dengan senyum tulus dan manis nya itu kembali ditunjukkan dan Dira pun ikut tersenyum sebagai sapaan dari dirinya. Sampai tak sadar bahwa ada batu yang cukup besar di depannya, dia terus menengok ke arah Azka, hingga akhirnya wanita itu pun kini di tanah yang becek dan dipenuhi oleh batu kerikil itu.
"Akh!" Dira meringis pelan. Dia merasakan bagian perih dan nyeri di lututnya. Lantas beberapa orang yang melihatnya terjatuh, langsung membantunya, tentu saja dia menerima bantuan mereka dengan senang hati.
"Astaga Dira, hati-hati!" Ibunya yang paling cemas langsung merangkul tubuh Dira. Wanita itu terlihat sangat kesulitan untuk bangun, karena sepertinya kakinya mengalami keseleo yang membuatnya sulit berjalan.
"Kau bisa berjalan?"
Tak ingin membuat ibunya cemas, Dira mengangguk. "Aku bisa kok," ujar wanita itu dengan wajah yang berusaha meyakinkan ibunya.
"Biar Ibu rangkul kamu, jangan terlalu menopang tubuhmu dengan kaki kanan, Ibu tahu kau pasti kesakitan."
Ibunya benar-benar sangat pengertian sekali, sungguh dia merasa sangat bersyukur memilikinya.
Dira mulai melangkah pelan, digigit dengan kuat bibirnya karena kakinya benar-benar sangat sakit. Meski dia sudah berusaha untuk tak menopang tubuhnya dengan kaki, tetap saja itu terasa sulit dan menyakitinya.
"Dira," panggil seseorang.
Lantas, Dira berbalik. Dia tersenyum kecil menatap Azka yang ada di hadapannya dengan wajah cemas nya. "Apakah kah butuh bantuanku?"
"Tidak perlu." Dira menjawab langsung, tak ingin menyusahkan pria itu lagi.
"Tapi sepertinya kau tak bisa jalan sejauh 500 meter untuk sampai ke rumahmu," cetus Arka, pandangan matanya jatuh ke arah kaki Dira yang terangkat, seperti engklek.
"Ya, apa yang dikatakannya benar, kakimu sakit dan gak mungkin bisa jalan jauh."
Dira hanya terdiam saja. Ingin menolak, tapi rasanya sulit, karena ibunya sendiri mendukung ucapannya Azka tadi.
"Bagaimana jika kau bersama denganku saja naik mobil, biar bisa cepat sampai," tawar Azka.
"Tapi, itu menyusahkan mu," kata Dira yang tak enak hati.
Azka tertawa pelan, pembawaannya yang santai itu, membuat Dira mulai merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
"Tenang saja, aku sama sekali gak merasa keberatan kok, ayo Bibi juga ikut aku, biar aku antarkan kalian."
"Ayo Dira." Ibu menarik tangannya, memaksanya untuk tetap ikut.
Tak ada pilihan lagi untuk Dira. Dengan langkah yang terseok-seok, dia mulai menuju ke mobil Azka yang untungnya tak jauh dari jaraknya saat ini.
Mereka memasuki mobil itu, yang ternyata pada bangku nomor dua, sudah ada seorang wanita paruh baya, yang Dira duga tadi sebagai ibu Azka.
Ibu Azka itu menunjukkan keramahan padanya.
"Maaf jika kami menumpang mobil Bibi," ujar Dira tak enak hati.
"Tenang saja, Bibi gak merasa keberatan kok."'
Tanggapan wanita paruh baya itu benar-benar melegakan hati Dira. Wanita itu pun duduk dengan tenang. Dia hanya menyimak aja pembicaraan antara Ibu Azka dengan ibunya.
"Oh, Azka juga belum nikah. Sama nih kayak Dira, dia juga belum nikah sampai sekarang," ucap ibu. Ucapan tersebut membuat sebuah firasat buruk tiba-tiba hadir di dalam dirinya.
Ya, dia yakin pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini.
"Kayaknya kalian cocok juga, sama-sama belum berpasangan di usia yang sudah matang."
Ibu Azka menatapnya dengan sangat dalam, hingga Dira hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk pelan pelipisnya. Dia benar-benar tak tahu, reaksi apa yang harus diberikannya atas ucapan dari wanita tadi.
Untungnya Dira terjebak di dalam situasi tersebut dalam waktu yang cepat, karena kini mobil mereka sudah berhenti pada semua rumah sederhana dan juga indah. Dira menghembuskan napasnya dengan lega, yah setidaknya dia tak akan terjebak lagi dalam situasi yang sangat membuatnya merasa tak nyaman sendiri.
"Sudah sampai, terimakasih ya karena kalian sudah membantuku." Dira berucap dengan penuh kesopanan. Sebelum dia pergi dari sana, terlebih dahulu dia bersalaman dengan Ibu Azka, tidak dengan kedua pria itu, Dira yakin mereka pasti merasa tak nyaman jika dirinya bersalaman dengan mereka.
Karna mereka bukan muhrim.
Keluar dari mobil tersebut, mereka masih berdiri di depan pagar sampai alat transportasi itu sudah raib di depan mata. Setelahnya, baru mereka masuk ke dalam rumah dengan ibunya yang terus merangkul tubuh Dira.
"Aisyah, buka pintunya." Ibu mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali, sampai akhirnya pintu itu terbuka, menampilkan sosok Aisyah dengan pakaian syar'i nya.
"Kenapa kaki Kakak?" Menyadari keanehan dari diri Dira, adiknya itu langsung bertanya dan juga ikut membantu Dira melangkah.
"Dia keseleo tadi," jawab Ibu.
Hanya beberapa langkah, kini aku sudah berada dekat dengan sofa, sehingga Dira memilih untuk langsung duduk saja di sofa itu dengan nafas yang lega. "Syukurlah."
"Ayo, naikkan kakimu."
Menuruti ucapan ibu, Dira menaikkan kakinya ke atas sofa sehingga kini dia bisa tiduran. Dira hanya menunggu di sana sendirian, ibu sedang berganti baju dan Aisyah tengah mempersiapkan segala sesuatu untuk mengurutkan.
Ibuku sendiri yang akan mengurutku dan Dira sedikit berharap kalau rasa sakit di kakinya ini akan cepat sembuh.
Beberapa menit setelahnya, mereka hadir bersama dengan adik bungsu Dira, Azizah namanya. Mereka mengelilingi ku dengan wajah khawatir yang tercetak jelas.
"Ya sudah, ibu urut dulu ya kaki mu."
Dira hanya mengangguk saja, membiarkan ibu apa yang dia mau. Saat kaki Dira diangkat, ditaruh ke atas pangkuan ibu, Dira sedikit meringis karena terasa nyeri pada bagian itu. Rasa dingin didapatkan saat ibu meneteskan cairan ke kaki Dira, lalu dijilatnya dengan cukup pelan tapi berhasil membuat Dira merasa tersiksa oleh sakitnya.
"Sabar ya, Kak." Tampaknya Azizah sangat mengerti dengan keadaannya. Ya, mungkin ini hanya keseleo biasa, tapi bagi Dira yang tak pernah merasakannya pun tentu saja kesakitan.
Dira terus menahan teriakannya dengan menggigit bibirnya, tangannya pun tak tinggal diam, dia terus mencengkram dengan sangat kuat bantal sofa yang didekatnya. Sampai saat ibunya selesai mengurut, ya setidaknya dia merasa sedikit lebih tenang. Kakinya kini tengah dibersihkan dari cairan yang membantu untuk mengurutnya tadi.
"Coba kau berjalan dulu."
Mengikuti ucapannya, Dira langsung beranjak dan melangkahkan kaki. Setidaknya, kini dia tak merasa nyeri sekali pada bagian kakinya, hanya sedikit sakit saja.
"Bagaimana? Apakah masih sesakit tadi?"
Dira menengok. "Enggak Bu, Alhamdulillah sudah sedikit sembuh," ujar wanita itu.
"Syukurlah." Ibu mengambil sebuah botol yang berisikan minyak, cairan tadi dan juga kain untuk mengelap kaki Dira tadi. "Lain kali, kalau jalan hati-hati. Apalagi tadi becek dan gelap, sangat mudah bagi kita untuk terjatuh."
"Ya, Bu," jawab Dira.
***
Seorang pria kini tengah asik memandang kebun teh yang ada di depannya, terlihat sangat cantik sekali kebun itu, membuat nya sejuk di mata. Suasana siang ini yang terasa panas, membuat tetesan air keringat keluar dari pori-pori kulitnya itu, apalagi dia memakai baju panjang yang semakin membuatnya terasa panas.
Pandangannya lurus ke depan. Di kebun teh itu, terdapat orang-orang yang kini tengah beraktivitas dengan mencabut puncuk tanaman teh tersebut. Mereka bekerja dengan baik dan dia, mengawasi pekerjaan mereka, sembari menunggu seseorang yang sudah diberikan nya sebuah tugas.
"Tuan Azka," panggil seseorang.
Azka menengok, dia melihat seorang pria yang berumur sekitar 40-an, jauh lebih tua dari dirinya. "Mari duduk." Pria itu menyahut dengan ramahnya.
Pria itu langsung duduk di samping Azka. Namanya adalah Pak Darmawan, pria itulah yang biasa membantu Azka dan kedudukannya adalah asisten Azka.
"Ini adalah identitas tentang dia."
Azka menganggukkan kepalanya. Dia langsung menerima berkas tersebut dengan sebuah senyum kecil, laku dibukanya berkas itu. Membaca isinya dengan hikmat.
"Saya mendapatkan informasi, kalau satu Minggu lagi dia akan kembali ke kota untuk kembali bekerja di sana." Pak Darmawan berucap.
Setelah usai membacanya, pria itu langsung menutup berkasnya. "Untuk sekarang, persiapkan semua yang saya katakan malam tadi," ujar Azka, kini terkesan lebih tegas.
"Baik, Tuan."
Azka beranjak dan dia pun bergegas, membawa berkas tersebut pergi dari sana.
***
Ponselnya sedari tadi terus bergetar, cukup mengganggu aktivitas yang kini tengah dijalankan oleh Dira. Wanita yang sedang memasak itu beberapa kali melirik
ke arah benda pipih nya itu, untung saja dia berada sendirian di sana, sehingga tak ada seorang pun yang merasa terganggu dengan panggilan tersebut.
Dibiarkan bunyi ponsel itu yang mengganggunya. Tanpa perlu melihat, dia tahu siapa yang menghubunginya sampai spam chat. Dira juga yakin, pasti aksi itu nantinya akan terhenti sendiri, jadi dia tak perlu merasa cemas.
Sampai saat masakannya jadi, dia mengambil mangkuk yang ukurannya cukup besar lalu menaruh hasil masakannya itu ke dalam mangkuk tersebut.
"Kau sudah selesai masak?"
Dira menengok, melihat ibunya membawa sebuah plastik yang berisikan buah-buahan.
"Ya, aku sudah menyelesaikan semuanya." Wanita itu memilih untuk duduk dan mengambil ponsel yang sedari tadi berdering dan kini sudah hening.
33 panggilan.
114 chat dan 30 pesan.
Dira menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia milih untuk langsung memblokir nomor tersebut agar tak mengganggu waktunya yang ada di sini. Dia hanya ingin melupakan segala masalah yang dimiliki di kota sana.
"Kapan kau pulang?"
Dira menengok. "Aku izin selam dua minggu dan minggu depan Dira sudah harus pulang lalu kembali bekerja." Wanita itu menghembuskan napasnya. Meski dia merasa sedikit tak tenang dengan keberadaan para tetangga yang sering mengganggu dirinya di sini, tapi tetap saja, bagi Dira ini adalah tempat terbaiknya. Dia bisa berkumpul dengan seluruh keluarganya dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaannya.
Wanita yang tengah asik melamun itu, merasa terganggu dengan panggilan yang berasal dari ponselnya. Dilihat ponsel tersebut, lagi-lagi dari nomor yang tak dikenal.
Tentu dia tahu siapa sosok yang telah meneror nya ini, sampai membuat dia sendiri merasa sangat tak nyaman.
"Kenapa panggilannya gak langsung dijawab?"
"Gak penting, Bu. Lagian juga dari nomor yang gak dikenal, pasti hanya penipu saja." Dira meringis pelan, dia telah berbohong tadi pada ibunya. Namun, dia juga tak mungkin berkata yang jujur pada ibunya itu, hingga membuat wanita paruh baya itu menjadi cemas terhadapnya.
Membangunkan tubuhnya, Dira menggenggam dengan sangat erat benda pipih nya itu. "Aku ke kamar dulu ya, Bu. Ada urusan penting." Buru-buru wanita itu langsung melangkah menuju ke kamarnya, tak lupa dia mengunci pintu kamar tersebut agar tak ada satupun orang yang mengganggunya.
Dia mulai merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya menatap lurus ke depan, melihat plafon rumahnya yang sudah kotor oleh air yang yang berusaha mau menyerap.
"Huh, semoga saja dia berhenti meneror ku." Wanita itu memejamkan matanya sejenak, sampai rasa kantuk itu tiba-tiba saja hadir di dalam dirinya, tanpa sadar wanita itu mulai tertidur dengan sangat nyenyak nya, tanpa ingin ada seorangpun yang mengganggunya.
Beberapa jam dia tertidur, sampai saat suara adzan terdengar, kelopak matanya terbuka dengan pelannya. Beberapa detik dia melamun dan setelahnya, dia pun langsung bangun dan menengok ke arah jendela yang terbuka dengan lebar.
Hari sudah gelap ternyata.
Buru-buru wanita itu membuka lemari pakaian, mengambil baju tidur lalu keluar dari kamarnya itu.
"Kak Dira, kau sudah bangun."
Wanita itu membangunkan tubuhnya, melihat Azizah yang baru saja berucap itu. "Yah, Kakak ketiduran, kenapa kalian gak ada yang bangunin Kakak," ujar Dira setengah kesal.
Azizah menggaruk pelan pelipisnya. "Ini aku baru mau bangunin, maaf Kak." Tampaknya anak itu mulai merasa bersalah.
"Ya sudah." Dira akan melangkah, hendak pergi dari sana, tapi langkah itu tiba-tiba terhenti kala mendengar apa yang dikatakan oleh Azizah.
"Tadi seseorang menghubungi ku, dia mencari Kakak dan kudengar suaranya seperti seorang pria. Sepertinya orang itu memiliki urusan sama Kakak."