Menggemaskan

1084 Words
Candra memasuki kamar wanita yang sudah berstatus istrinya tersebut dengan perlahan karena tidak ingin membangunkan Emili. Candra juga sengaja masuk kekamar agak larut agar saat ia masuk Emili sudah tertidur. Candra yang melihat Emili sudah tertidur pun tersenyum kemudian masuk kedalam kamar mandi. Emili yang merasa jika Candra sudah masuk kedalam kamar mandi pun membuka matanya. Tiba-tiba Candra keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk kecil yang hanya menutupi bagian intinya saja. Emili yang melihat pun terkejut karena tubuh candra tampak begitu gagah dan sempurna dengan otot-otot yang indah dan perut sixpack nya itu. Ditambah rambut Candra yang basah membuat kesan seksi semakin terlihat. Saat Candra ingin melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya tiba-tiba Emili berteriak. "Akhhhhh!!!!". Candra pun refleks menghampiri Emili dan membungkam mulut Emili menggunakan tangannya. "Stttt!! Kamu kenapa dek? Gak baik teriak-teriak ini sudah malam! Nanti dikira orang-orang aku ngapa-ngapain kamu!". Ucap Candra lirih. Jantung Emili berdetak kencang karena otot-otot tubuh Candra menempel ke kulitnya. Rambut basah Candra juga meneteskan air kewajah Emili. Sesaat Emili terpesona dengan wajah tampan Candra namun ia berusaha sadar dan mendorong tubuh Candra. "Dasar m***m!! Kurang ajar!! Pasti kamu cari-cari kesempatan ya biar bisa meluk aku!" Ucap Emili. "Maaf dek! Aku hanya refleks karena takut orang mengira aku menyakiti mu! Lagipula kita sudah menikah dan tak ada salahnya jika aku memeluk mu!" Ucap Candra. "m***m!!!" Teriak Emili kemudian melemparkan bantal kepada Candra namun naas bantal itu mengenai handuk milik Candra sehingga membuat handuk itu terlepas. "Akhhhhhhhhh!!!" Teriak Emili semakin kencang kemudian menutup matanya menggunakan kedua tangannya. "Tenanglah dek! Mas pake celana kok! Kamu boleh membuka matamu itu!" Ucap Candra. "No!!! Cepat pakai bajumu! Kalau tidak aku akan menyuruhmu tidur diluar!!" Ucap Emili yang masih menutup matanya itu. Candra pun akhirnya segera menuju tasnya dan mengambil baju ganti kemudian memakai nya. Candra yang kelelahan pun berniat membaringkan tubuhnya disebelah Emili. "Mau apa kamu!!!??" Tanya Emili saat Candra mendekati ranjangnya. "Mas mau tidur deh mas lelah!" Jawab Candra yang melanjutkan menaiki ranjang yang sempat tertunda. Emili yang takut pun mendorong tubuh Candra yang kedua kalinya hingga Candra terjungkal ke lantai. "Siapa yang menyuruhmu tidur diranjangku!" Marah Emili. "Kita kan sudah menikah dek jadi wajar jika kita tidur satu ranjang! Lagipula jika aku tidak tidur disini aku harus tidur dimana??" Tanya Candra yang masih sangat sabar menghadapi sikap kasar istrinya itu. "Tidur disofa sana!! Aku tidak akan pernah Sudi tidur satu ranjang dengan mu!!" Ucap Emili. Candra yang sudah sangat lelah pun mengalah dan mendekati sofa kemudian tertidur pulas. Emili yang melihat Candra sudah tertidur pulas pun entah mengapa merasakan sedikit kasihan pada Candra. Ia mengambil selimut dari dalam lemari kemudian menyelimuti suaminya itu. Emili memang keras kepala! Namun sebenarnya ia adalah gadis yang baik! Ia seperti ini hanya karena kecewa dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh papanya itu. Jujur Emili terlalu membesar-besarkan egonya untuk mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan sempurna. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam diri Candra, dia tampan, baik, penyabar dan lemah lembut. Andai saja Candra bukan Supir angkot dan minimal mempunyai pekerjaan yang sedikit lebih layak mungkin Emili masih bisa mempertimbangkan nya.  Emili pun kembali naik ke ranjang dan tertidur. *** Saat Candra membuka mata ia tersenyum bahagia karena ternyata Emili adalah gadis yang baik. Terbukti dengan selimut yang kini menutupi tubuhnya. Memberikan kehangatan dari angin malam yang dinginnya sangat menusuk itu. Ia pun terbangun dan langsung bergegas mandi untuk melakukan sholat subuh. Candra yang melihat istrinya masih tertidur pun membangunkannya. "Dek?? Dek Mili bangun yuk shoalt subuh dulu! Takut keburu habis waktunya!" Ucap Candra sambil menepuk punggung Emili. "Apasih??? Masih ngantuk juga!! Nantilah aku nyusul!" Ucap Emili dan kembali tertidur. Candra pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia kemudian melaksanakan sholat subuh sendirian. *** Pagi ini pak wirawan, Bu Susan, Candra, dan Emili sedang menikmati sarapan mereka. "Bagaimana nak Candra?? Apakah tidurmu nyenyak tadi malam??" Tanya pak wirawan. "Sangat nyenyak pa terimakasih sudah mengijinkan saya dan dek Emili menginap disini!" Jawab Candra. "Aku yang seharusnya berterimakasih padamu nak karena kau mau tidur disini semalam". Sarapan mereka diiringi dengan obrolan hangat dari Candra dan pak wirawan sementara Emili dan ibu Susan hanya terdiam menikmati sarapan mereka. Akhirnya acara sarapan pun selesai, pak wirawan menyuruh Emili membuatkan minuman hangat untuk Candra meskipun harus ada perdebatan kecil diantara mereka lantaran Emili menolak keinginan papanya. Emili memilih mengalah dan akhirnya perdebatan itu selesai. Emili pergi kedapur kemudian membuat kan secangkir teh untuk Candra. Namun ide jahil pun muncul di otaknya.  Bukanlah gula yang ia taruh kedalam minuman itu melainkan garam dalam jumlah banyak. ("Rasain kamu!! Suruh siapa sok-sokan manis didepan papa!!") Bathin Emili. Ia pun membawa minumannya kedepan dimana suaminya dan kedua orangtuanya sedang duduk santai. "Ini pah tehnya untuk papa dan mama! Dan ini satu teh spesial untuk mas Candra!" Ucap Emili sambil tersenyum manis. "Manis sekali putriku ini!" Ucap wirawan sambil tersenyum bahagia mengira jika putrinya sudah sedikit menerima pernikahan ini. Candra yang awalnya merasa senang pun terkejut dan langsung menyemprotkan teh yang ada di mulutnya. "Ada apa nak Candra?? Apa Emili mengerjaimu??" Tanya Susan. "Tidak ma!! Tadi saya terlalu terburu-buru meminumnya sehingga tidak tau jika masih sangat panas!". Sambil menatap Emili kemudian tersenyum. ("G*la ini orang!! Udah dikerjain masih aja sok baik didepan mama dan papa!!") Bathin Emili yang merasa kikuk karena Candra terus menatapnya. Candra yang tau jika Emili mengerjainya hanya tersenyum manis dan berusaha sabar menghadapi tingkah menggemaskan istrinya itu. Dimata Candra sikap dan perilaku Emili sangat menggemaskan karena sebenarnya tanpa mereka semua ketahui Candra sudah lebih dahulu menelusuri bagaimana Emili sebenarnya. Candra menyukai Emili pada saat pandangan pertama di masa lalu itu. Namun saat ia mengetahui jika Emili sekarang merupakan seorang model internasional dan anak dari seorang pengusaha yang cukup terkenal di Indonesia, Ia minder dan mencoba menghapus impiannya itu. Jauh-jauh sebelumnya Candra sebenarnya sudah mengenal siapa pak Wirawan itu karena ia pernah meminta pekerjaan sebagai kuli bangunan di proyek milik pak Wirawan. Ia sangat lihai dan tekun sehingga membuat pak Wirawan sangat menyukai Candra. Pak Wirawan pun berniat menjodohkan Candra dengan putrinya namun Candra menolak karena Candra sudah jatuh cinta kepada Emili lebih dahulu meski cintanya tak akan pernah sampai. Namun Candra tidak pernah mengetahui jika ternyata Emili adalah anak dari pak Wirawan. Penolakan demi penolakan sudah ia lakukan namun karena jasa pak Wirawan yang cukup besar karena berkat pak Wirawan Ia akhirnya memiliki sebuah angkot yang sangat ia idamkan dari pak Wirawan pun akhirnya ia menerima tawaran pak Wirawan untuk menikahi putrinya. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika putri dari pak Wirawan adalah gadis yang sangat ia kagumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD