Ijab Kabul

1088 Words
Hari ini sesuai permintaan Candra pernikahan hanya diadakan sesederhana mungkin dan bahkan hanya dihadiri beberapa orang saja. Sebenar-benarnya Pak wirawan sudah menawarkan untuk melakukan pesta yang sangat mewah namun Candra menolak lantaran dirasa tidak perlu melakukan itu semua. Emili juga menolak karena takut media akan meliputnya dan berita ini akan sampai ke seluruh teman dan rekan bisnisnya. "Kamu cantik sekali sayang! Sudahlah jangan menangis lagi ya!! Maafkan mama yang tidak bisa membantu mu mengeluarkan dari masalah ini, namun jika kamu nantinya merasa tidak sanggup lagi melanjutkan pernikahan ini maka mama akan jadi orang pertama yang mendukungmu!! Cobalah kalian saling mengenal dahulu, kalau kata orang Jawa "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" yang artinya "Awal dari sebuah cinta adalah karena terbiasa bersama". Kamu tidak usah berfikiran yang macam-macam ya nak, papa Melakukan ini pasti dengan dasar pertimbangan yang cukup matang! Apalagi papa mu itu orangnya sangat selektif sekali Dulu papa sama Mama menikah pun karena dijodohkan oleh keluarga kami. Diawal pernikahan kami memang tidak saling mencintai namun lama-kelamaan akhirnya tumbuh benih-benih cinta diantara kami hingga lahirlah kamu nak putri kecil mama yang sekarang sudah dewasa bahkan sebentar lagi akan bergelar istri!" nasehat ibu Susan. "Ma,, sejujurnya Emili sedih karena papa terlalu egois! Dulu papa tidak pernah ada disampingku saat aku membutuhkannya dan bahkan hanya memberikan aku harta saja tanpa memperdulikan apa keinginan ku!! Aku berusaha tidak iri kepada semua teman-temanku yang mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya. Oma yang selalu disampingku bahkan sampai aku menjadi model pun itu juga berkat Oma yang tiada lelah menyemangatiku agar aku berhasil. Dan disaat sekarang aku sudah menggapai semua cita-cita ku tiba-tiba papa membawakanku calon suami yang bahkan aku sendiri tak tau dia siapa dan bagaimana sifat wataknya. Seolah-olah mimpi yang aku bangun hancur begitu saja. Mama tau kan aku ini sekarang sedang berada dipuncak popularitas!!. Apa kata orang-orang jika model internasional hanya menikah dengan supir angkot. Uang yang ia hasilkan satu tahun pun tidak akan cukup untuk membeli selembar baju paling murah milikku! Lagipula aku juga tidak menyukainya." ucap Emili sambil menangis. "Jadi kamu menolak hanya karena gengsi?? Kau yang seorang model internasional menikah dengan seorang supir angkot seperti dia?? Dengarkan sayang! Bukankah kau sendiri yang tadi berkata padaku jika kebahagiaan bukanlah tentang harta melainkan tentang hati dan perasaan. Kau bukan tidak menyukainya tapi kau belum menyukainya karena kau belum mencoba menjalin hubungan dengannya. Kau tahu nak? Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya menderita, papa melakukan ini semua karena papa sayang padamu. Mungkin kelihatan nya papa egois, tapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya difikirkan papa nak!" ucap Susan. Emili yang mendengar hanya terdiam dan menangis. Tok,,tok,tok,,,. Suara pintu diketuk. "Mohon maaf nyonya, mobil yang menjemput nona sudah datang dan beliau berpesan jika nona sudah ditunggu oleh mempelai pria di masjid Agung". "Baik bi terimakasih infonya kau boleh pergi!!". Maid itu pun pergi dari kamar milik nona muda dan menutup pintu kembali. "Ayo sayang calon suamimu sudah menunggu. Hapuslah air matamu itu nak!! Jangan sampai mereka semua beranggapan jika papa adalah orang jahat yang memaksa anaknya sendiri menikah!!". ucap Susan  Mereka berdua pun langsung datang ketempat yang dituju. Akad dilaksanakan di sebuah masjid dekat kediaman Emili pada pukul 09.00. Penghulu dan para saksi disana sudah bingung lantaran calon mempelai wanita tak kunjung juga padahal sudah pukul 09.30. Lebih setengah jam dari waktu yang telah disepakati. Angga pun tersenyum cerah saat melihat Emili yang digandeng ibu Susan memasuki masjid, dan....... "Saya terima nikah dan kawinnya Emili Everilda binti Wirawan adijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 2 gram dibayar tunai!" Ucap Candra dengan suara yang lantang. "Bagaimana para saksi?? Sah???". SAHH.... Emili langsung menangis saat mendengar kata ijab Kabul yang dibacakan oleh Candra! Meski Emili menolak untuk menikah dengannya namun Emili tau jika pernikahan itu akan menjadikannya terikat dengan Candra. Pria yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah acara tukar cincin yang sempat tertunda lama karena Emili terus saja menangis dan menolak nya akhirnya selesai juga dengan di akhiri Emili mencium tangan Candra meski dengan keadaan terpaksa,dan Candra yang mencium kening Emili dengan penuh cinta. Emili langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka semua yang masih berada di masjid. Bahkan Emili tidak membalas ucapan selamat dari keluarga dekatnya. "Selamat ya nak Candra akhirnya kalian resmi menikah. Papa minta sama kamu tolong jaga putri papa ya. Tegur dia jika salah tapi jangan pernah kamu menyakiti hatinya." "Terimakasih pa saya janji akan menjaga dek Mili dengan segenap hati saya."  "Maafkan sikap istrimu itu ya! Mari kita susul dia. Papa yakin dia sudah ada dirumah." *** Sesampainya dirumah. "Emili??? Keluar nak suami dan papamu menunggu mu dibawah!!." Ucap Susan sambil mengetuk pintu kamar milik putrinya itu. "Pergi ma!!! Mili ingin sendiri dan tidak ingin diganggu!." Teriak Mili dari dalam kamarnya. "Ayolah sayang jangan buat papa murka! Turuti saja keinginan papamu itu." Setelah lama membujuk akhirnya Emili mau keluar dan menemui suaminya itu. "Emili kamu itu harus sopan sama suami masa baru menikah sudah pergi tanpa ijin dari suamimu!." Marah wirawan kepada Mili. "Iya pa maaf!." Hanya itu Jawaban dari Emili. "Duduklah disamping suamimu! Ada yang ingin papa sampaikan kepada kalian!." Emili pun menurut dan duduk disamping Candra meski dengan wajah yang datar dan dingin. "Begini Candra, karena kalian sudah menikah maka papa akan memberikan sebuah rumah untuk kalian dan juga akan membukakan usaha untuk kalian berdua." "Mohon maaf sebelumnya pa! Bukannya saya menolak tapi saya mohon ijinkan saya mengajak dek Mili untuk tinggal bersama saya. Ya meskipun saya tidak mempunyai rumah mewah tapi setidaknya bisa untuk berlindung dari terik matahari dan dinginnya malam!."  "Tidak usah sok-sokan kamu ya! Paling juga rumahmu itu gubuk reyot yang sudah mau rubuh!!." "Mili yang sopan jika berbicara kepada suamimu!." Tegur wirawan. "Baiklah Candra jika itu maumu maka saya dengan senang hati akan melepaskan putriku! Kamu memang pria yang sangat bertanggung jawab." Ucap wirawan. "Tapi pa?? Bagaimana dengan karirku??." "Itu akan menjadi keputusan suamimu dan apapun keputusannya papa harap kamu mau menghargai suami kamu!." Ucap wirawan. "Saya tidak masalah jika dek Mili melanjutkan karirnya menjadi model namun saya tidak mengijinkan dek Mili pergi jauh dan hanya boleh menerima job yang dekat saja!." Ucap Candra. "Hehh yang benar saja??."  "Sudahlah nak ikuti kemauan papamu dan suamimu ya jadilah istri yang berbakti kepada suami!." Nasihat Susan kepada putrinya. "Iya Mili sudahlah jangan terlalu banyak protes! Malam ini kalian menginap disini dulu ya papa ingin sehari lagi bersama mili namun jika nak Candra keberatan dan memutuskan untuk segera membawa Mili tidak masalah!." "Jika itu mau papa maka saya rasa tidak ada salahnya jika menyetujuinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD