Just walk away
Face the future
Don't look back
Past still the past
And you can't change
__________
Balai Kartini, Jakarta.
Bian dan Jihan kini sedang berada di Balai Kartini, menghadiri undangan pernikahan salah satu teman dekat Jihan sejak SMP. Sebenarnya Jihan tidak memaksakan Bian untuk ikut karena baru mendarat dari Palembang tadi pagi bahkan sempat tidak enak badan karena kelelahan. Tetapi Bian memaksa dan jadilah mereka di sini sekarang, sedang mengantre untuk salaman dengan kedua mempelai serta orang tuanya.
"Ini nikahan atau apa sih? Antre banget? Temenmu artis ya yang..?" Canda Bian dengan wajah yang tetap saja datar.
"Nggak kok. Ini sih kayaknya dia nggak kenal sama sebagian besar tamunya deh..."
"Why?"
"Pertama, aku nggak lihat temen-temen sekolah kita, i don't know ya, mungkin udah daritadi kayaknya. Kedua, ini bapak-ibu semua mas. Pasti kolega orang tua mereka..." Jelas Jihan sambil berjalan naik ke pelaminan lalu bersalaman dengan yang ada di atas sana. Setia berdiri menyalami tamu-tamu walaupun sebagian besar mungkin tak di kenalnya.
"Masih muda temen kamu.." ujar Bian saat sudah turun dari pelaminan.
"Iya lah.." Jihan mengibas sedikit rambutnya ke belakang.
"Hmm...,bKamu juga masih bocah gini sih.." Bian menggoda Jihan, Jihan hanya tertawa.
"Nyesel nih ceritanya?" Tawa Jihan sambil mengambil piring kecil berisi buah dingin.
"Nggak..." Jawab Bian lalu menyuapkan buah ke dalam mulutnya.
"Jihan??" Panggil seseorang. "Kirana Jihan?" Panggilnya lagi, Jihan mengerutkan dahinya searah dengan lelaki yang memanggilnya mendekat ke arahnya.
"..Heheyy, apa kabar kamu??" Tanyanya sok akrab, Bian diam seketika, Jihan pun.
"...Hei? Kamu lupa sama aku? Hei? Jihan?"
Jihan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Nggak, aku inget kok, Dante..."
Lelaki bernama Dante itu tertawa pelan. "Iyalah mana mungkin lupa ya kan? I stole your first kiss, right?" Ujarnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"s**t!" Umpat Jihan pelan. "Jaga ya mulut lo!"
Wajah Bian sudah memerah sejak mendengar kalimat Dante barusan. Tangan Jihan sudah gatal ingin menanmpar wajah Dante, kalau saja ini bukan acara pernikahan mungkin Dante sudah habis di tampar Jihan.
"Lho? Bener gitu kan? Eh by the way, ini siapa?" Tanyanya lagi seolah tanpa dosa.
"Calon suami gue! Mau apa lo?" Jawab Jihan ketus.
"Oh, ya mau kenalan. Halo, saya Dante.." Dante mengulurkan tangannya, Bian menyambut.
"Abiandra.." jawab Bian dingin berwibawa sambil menjabat tangan Dante.
"Pernah menjadi orang paling spesial bagi Jihan.." sahutnya lagi. "Oh ya, Sudah lama sama Jihan..?"
"Udah, lumayan..." Timpal Bian lagi.
"Is she a good kisser?" Bisik Dante.
Bian mengerutkan dahinya dalam-dalam saat mendengar pertanyaan seperti itu. Selama Jihan dengannya, tak pernah ada kontak fisik selain pegangan tangan. Hell!!
Sementara Jihan rasanya mau mencucuk mata Dante dengan garpu di tangannya dan cepat-cepat keluar dari sana.
"What do you mean?" Tanya Bian.
"Ah, nggak..." Dante masih menganggap bahwa pertanyaannya itu hanyalah candaan, tidak lebih. "Masa lo payah sih sama calon laki lo Han? Jihaney???" Godanya lagi.
"Sorry ya, Dante. Gue permisi, ayo mas..." Jihan sudah tak tahan lagi, ia menarik tangan Bian keluar dari sana dengan menahan rasa malu yang teramat dalam.
Masa lalu yang ia kubur dalam-dalam, buruk dirinya ketika sekolah dulu kini menyeruak tanpa aba-aba yang mungkin akan menghancurkan segalanya dalam sekejap.
"Hoi!! Jihaaan!! Haneyku sayang! Jangan pergi! Aku belum selesai bicara!!" Dante masih mengejar Jihan sampai ke pintu depan. Jihan menyeret Bian keluar menerobos para kerumunan manusia yang masih berdatangan lalu menuju parkiran tanpa peduli yang lain.
Sebelah tangan Jihan mengepal kencang, menahan kesal hingga clutch bag nya jadi korban. Jihan melepas cengkeramannya saat sudah mencapai mobil, Bian membuka kunci dan dengan cepat Jihan masuk ke kursi penumpang.
"Siapa? Mantan kamu?" Tanya Bian sambil menstarter mobilnya lalu keluar dari parkiran. Jihan masih diam.
"Bukan siapa-siapa. He's Insane..." Jawab Jihan akhirnya.
"Kenapa nggak jujur, Jihan?" Tanya Bian lagi, Jihan kembali bisu. "Saya lebih suka kita saling terbuka..." Bian menuntut penjelasan.
Jihan menarik napasnya dalam untuk meredam emosinya. "Fine!He's obessesed with me...!!" Jawabnya keras.
"Masa lalu kan? Oke, saya nggak akan marah..." Jawab Bian masih santai sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Tapi aku malu mas..!!" Pekiknya.
Sedikit emosi Bian mulai muncul, terlihat dari buku tangannya yang memutih mencengkeram kemudi. "Apa aja yang sudah dia lakuin ke kamu?" Tanyanya setenang mungkin agar Jihan tak takut.
Jihan masih diam, otaknya mencoba untuk merangkai kata-kata agar Bian tidak meledak. "Maaf mas..." Ucapnya tersendat.
"He kissed me, right on my lips and i'm mad, that time. Really..." Ujar Jihan sambil menangis, Bian kembali mencengkeram kemudi dengan kencang.
"..I hate him..!! Sorry if you disappointed with me..." Tangis Jihan makin keras, Bian melajukan mobilnya dengan kencang, cenderung ugal-ugalan.
Bian jadi serba salah, ingun rasanya memarahi Jihan karena kebodohan masa lalunya tapi Bian tak bisa. Lidahnya mendadak kelu, tenggorokannya terasa kering saat ingin melontarkan amarahnya
Ciiitttt!!!
Bian mengerem mendadak di badan jalan.
"Mas!! Kamu gila!! Kamu mau bunuh kita berdua??!!" Pekik Jihan marah.
Bian memukul kemudinya keras-keras. Melampiaskan kekesalannya pada kemudi yang tak berdosa sampai Jihan mengkeret takut karena amarah Bian. "Saya marah sama diri saya sendiri, Jihan!! Kenapa nggak dari dulu nemiun kamu!! Jagain kamu!! Dari laki-laki b******k macam diaa!! Dengerin saya Jihan!!!!" Teriak Bian keras, Jihan menutup telinga dengan kedua tangannya, tangis Jihan seolah takkan mereda.
"I..iiya maass..." Jawabnya terbata ketakutan.
"Mulai sekarang, saya nggak akan, biarin kamu dipegang lelaki lain!! Termasuk teman-teman kampus kamu sekalipun!! Ngerti kamu, Jihan!!" Bentaknya keras.
"Iya mas Abi, saya ngerti.." Jawab Jihan masih mode mengkeret.
"Bagus!" Sahut Bian lalu lanjut menyetir, lebih pelan
Mereka jadi diam, saling menyelami pikirannya masing-masing. Jihan masih menangis, dadanya sesak mengingat kejadian tadi. Jihan kecewa pada dirinya sendiri, kenapa hak itu harus terjadi dan kenapa Dante muncul di saat dirinya sudah melupakan bahkan tidak akan mengungkit hal itu lagi pada siapapun. Namun Dante menghancurkan pertahanannya.
Bian menyodorkan sekotak tissue pada Jihan sambil fokus melihat jalanan yang sudah mulai macet. Lagi.
"Mas..." Panggil Jihan. "Mas Abi...." Ulangnya.
"Ya...?" Sahut Bian dingin.
"Maafin aku..." Ucap Jihan tertunduk dalam.
"No. Nggak usah minta maaf, kamu nggak salah, sholat taubat aja..." Ujar Bian masih cuek.
"Iya mas, itu udah aku lakuin kok.." jawab Jihan pelan. "Maaf kalau aku di luar ekspektasi kamu. Aku bukan wanita baik-baik..."
"Nggak. Kita sama-sama belajar, saya juga nggak sempurna, Jihan..." Jawab Bian sambil mengarahkan mobilnya ke kiri jalan.
"I think you should know something about me. Really need to know, supaya nggak ada yang kita tutupi..."
"Ya. Kapanpun kamu siap cerita saya siap mendengar..." Sahut Bian mengisyaratkan bahwa Jihan bisa menceritakan masa lalunya kapan saja.
"But, promise me.. jangan tinggalin aku.." pinta Jihan. "Aku akan cerita sekarang..." Jihan menghela napasnya berat.
"Nggak akan, Jihan..."
"Dulu, dari SMP-SMA aku satu sekolah sama dante dan Jennita, yang menikah tadi. Aku sama dante pacaran dari kelas 10, awal bgt masuk SMA, awalnya biasa aja, gak lebih. Jalan-ngedate-ya gitu-gitu aja, menjelang kelas 12, mungkin Dante bosan sama hubungan itu, he want's more mas, like kissing, mulanya dari kening dan aku selalu nolak, kalau dia minta lebih dan lebih sampai akhirnya....." Jihan berhenti karena Bian menyela.
"Cukup! Nggak usah di lanjut..."
"No, kamu harus dengar sampai selesai..."
"Fine. Go ahead.."
"Ya.. akhirnya dia tarik aku ke belakang sekolah.. then he kissed me. Aku marah saat itu juga..."
Bian membuang napasnya keras, jujur ia ingin marah dan menghabisi Dante tapi tak bisa.
"..I slap his face. Ibuk sama ayah marah pas aku cerita gitu, dan langsung besoknya aku pindah sekolah. I hate my self! Aku bodoh banget mas! Nggak bisa meronta...!!" Tangis Jihan kembali runtuh.
"Udah. Cukup Jihan.."
"Astagfirullah. Maafin Jihan mas...."
"Nggak usah ungkit itu lagi. Saya sakit dengarnya, bukan karena kamu, tapi karena kelakuan b******n itu..." Jawab Bian mencoba tenang.
"Tapi kamu harus tau masa lalu ku mas.. biar gak ada salah paham..."
"Iya, udah cukup. Saya udah tahu..."
"Don't tell mama..." Pintanya.
"No i don't..." Jawab Bian sambil menunjukan dua jari tanda peace.
Sisa perjalanan mereka habiskan dengan diam, Jihan lelah menangis. Sampai tak terasa mobil Bian sudah berhenti di depan rumah Jihan, Jihan pamit turun setelah mencoba memperbaiki riasan wajahnya agar tak terlihat sembab usai menangis.
"Aku turun mas, Assalamualaikum..." Jihan meraih tangan Bian untuk di salami lalu turun dari dalam mobil.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Bian sebelum Jihan menutup pintu mobil dengan rapat.
Three solutions to every problem:
Accept it, change it or leave it.
If you can't accept it, change it.
If you can't change it, leave it.
Dan Bian memilih untuk tidak meninggalkan karena ia percaya bahwa Jihan sudah berubah seiring bertambahnya usia.
Masa lalu yang terjadi hanyalah masa lalu yang tak dapat di rubah siapapun. Biarlah masa lalu itu terjadi, Bian mencoba menerima. Karena percuma saja bila marah, takkan merubah apapun kan?