Rasa itu tumbuh karena terbiasa...
Rasa itu timbul karena hati meyakini...
Karena sadar atau tidak, rasa itu semakin besar dan tinggi tak terbatas apapun...
Acara pernikahan Bhima dan Jasmine di Lembang di hadiri semua keluarga dan keloga dari masing-masing keluarga. Tak terkecuali Jihan, semenjak di KUA tadi tangan Bian tak lepas menggandeng Jihan.
Sedikit demi sedikit Bian sudah memiliki rasa yang lebih pada Jihan. Lebih ingin dekat, lebih sayang, melindungi dan mencintai lebih dalam lagi. Walau tak bisa Bian pungkiri bahwa dirinya tak bisa seromantis yang Jihan bayangkan. Tapi Bian akan berusaha untuk jadi yang terbaik bagi Jihan.
Jihan yang hari ini nampak anggun dengan rambut yang di gelung ke atas dan dress warna beige selutut dengan wedges senada sempat membuat Bian menahan napas sebentar. Kenapa kian hari Jihan jadi makin cantik? Jihan nampak serasi saat berdiri di samping Bian yang bersetelan jas dan celana hitam serta dasi kupu-kupu dan pantofelnya.
Saat acara resepsi berlangsung pun, tak jarang Bian mendapat pertanyaan "Kapan segera nyusul, Bhima? Kan calonnya udah adaa..." Dari beberapa orang kolega Mama dan Papa yang datang atau dari saudara Mama Papa yang juga hadir. Bian enggan menjawab sebenarnya tapi yaa... Ah sudahlah. Ia akan menyusul ketika Jihan sudah memasuki tahap koas nanti. Bian dan Jihan juga tak ingin berlama-lama lagi hanya saja waktunya belum pas.
Mereka masih harus mengenal satu sama lain lebih dalam lagi sebelum masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Jihan harus memaklumi pekerjaan Bian dan Bian pun harus sebaliknya. Mereka masih perlu penyesuaian satu sama lain dan mereka akan terus belajar akan hal itu.
Acara resepsi sudah selesai, semua tamu sudah kembali pulang ke Jakarta atau entah mereka malah menyewa hotel di Bandung dan sekalian liburan singkat?
Tinggal tersisa keluarga di sini yang semuanya hampir sudah terkapar di kamarnya masing-masing karena kelelahan. Hanya Bian dan Jihan yang masih betah menikmati pemandangan dekorasi sisa pesta tadi yang di akhiri dengan petasan-petasan indah menghiasi langit Lembang.
Mereka kini tengah duduk di teras belakang dengan secangkir cokelat panas demi mengurangi dinginnya Lembang yang menusuk malam hari ini. "Kamu nggak bobok, Ji?" Tanya Bian sambil menyesap cokelatnya.
"Nanti mas. Aku belum ngantuk. Kalau pegel gini malah nggak bisa tidur..." Sahut Jihan.
"Pegel kenapa...?"
"Ini betis sama pinggang. Tapi nggak apa kok nanti juga hilang..." Sahutnya lagi. "Besok aku balik duluan ya mas, pagi-pagi..."
"Lho kenapa kok buru-buru? Nggak mau bareng saya aja?"
"Nggak usah mas. Nanti mama papa gimana? Aku sama Ibuk bapak aja ya. Lagian sorenya di rumah ada adiknya ibuk mau datang.."
Bian hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Jihan dan kembali menikmati cokelat hangatnya lalu hening kembali menyelimuti mereka berdua yang kini sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Ji, bobok yuk..." Eh? Siapa itu? Jihan menoleh ke sumber suara, ternyata ibu.
"Eh, ibuk. Yaudah, yuk..." Jihan bangun dari tempat duduknya. "Mas, aku bobok duluan ya.." pamitnya.
Bian mengangguk. "Have a nice dream..." Ucapnya lalu Jihan merona dan melengos pergi.
"I wish I could hug you this time, Ji. Tapi maaf aku belum berani..." Batin Bian.
Udara pagi yang dingin menyapa namun. Pukul 7 pagi udara Lembang masih dingin seperti pukul 4 pagi padahal matahari sudah terang. Semua orang sedang menikmati sarapan paginya. Kecuali si penganti baru yang belum juga keluar dari kamarnya, tak heran lah. Namun beberapa di antaranya sudah ada yang bersiap untuk pulang, Bude Dina dan keluarga sudah pulang sejak tadi shubuh, mengejar pesawat pertama dan kini Jihan dan ibu bapak yang akan siap-siap pulang.
"Nyetirnya jangan ngebut..." Pesan Bian.
"Nggeh mas. Ya udah, aku pulang ya. See you. Assalamualaikum..." Jihan melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil. Sementara Bian hanya terpekur dan mengulas senyum tipis saat melihat mobil Jihan pergi dari kawasan villa.
Bukan Bian tak mau mengantar Jihan pulang, Bian sudah menawarkan tapi Jihan menolak, Bian sudah memaksa pun tetap di tolak. Begitu hari menjelang sore, semua beranjak pulang. Tinggal Bhima dan Jasmine berdua yang masih di villa dan akan pulang menyusul besok.
"Gue balik bro.." pamit Bian. "Baebae lo berduaan di sini..."
"Yeee si k*****t! Udah sana lo pulang! Jangan ngebut-ngebut lo bawa mama papa..."
Bian tak menanggapi lalu masuk ke dalam kursi kemudi, menyalakan mobilnya dan meninggalkan pekarangan villa bersama mobil krucils di belakang mereka.
"Mas Bian, Jihan udah sampai rumah? Kasian lho nyetir sendiri.." tanya Mama tiba-tiba saat mobil mereka sudah menyatu dengan macetnya Bandung sore itu.
"Udah mam, tadi sebelum berangkat mas udah telepon Jihan kok..." Jawab Bian datar.
"Hmm..., Yaudah bagus deh..." Gumam mama.
Sepanjang perjalanan juga Bian diam saja mendengarkan mama dan papa yang membahas soal acara resepsi kemarin. Tak menampik, Bian pun merasa puas dengan hasil dari wedding organizer dan katering dari Amel kemarin, rekomendasi dari Aliya dan sepertinya Bian akan menggunakannya nanti (?) Eh.
Perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang biasanya memakan waktu hanya 2-3 jam kini harus terhambat menjadi 6 jam lebih karena macet dan banyaknya penyempitan ruas jalan di tol di tambah sekarang hari minggu, sebagian warga ibu kota mungkin menghabiskan waktu akhir minggunya di Bandung dan sekitarnya. Jadilah kini Bian juga mama papa serta krucils baru sampai di rumah pukul setengah dua belas malam.
Sementara di rumah, Jihan yang sudah merasakan tak enak badan hanya bisa terkapar di atas tempat tidurnya, terkulai tak berdaya akibat siklus bulanan yang menyebalkan. Sejak tadi juga Bian sudah memintanya untuk minum obat atau apapun yang bisa mengurangi sakitnya ini, tapi Jihan lebih memilih mengabaikan dan lebih baik tidur saja toh besok juga Jihan tidak ada jadwal pergi ke kampus jadilah besok bisa istirahat total di rumah setelah menyetir jauh dan cukup lama memakan waktu di jalan.
ZZzzzztttt Mas Abiandra is Calling , Jihan segera menggeser tanda hijau dan menjawab panggilan dari Bian.
"Hmmm?"
"Assalamualaikum, Ji, masih sakit perutnya?" tanya Bian di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam. Masih. Sakit. Banget." jawab Jihan menekan semua kata yang di ucapkannya.
"Ya udah, mau ke mama nadia ya besok? Saya nggak mau kamu kenapa-kenapa, nanti kalau terlambat malah kayak Jasmine. Saya nggak pengin , Ji..." bujuk Bian.
"Nggak perlu mas, nanti juga mendingan kok. Santai aja kenapa ih.."
"Nggak bisa saya, Ji. Tapi kalau kamu nggak mau ya udah nggak apa-apa. Kamu istirahat aja ya, minum air anget biar enakan perutnya, saya istirahat dulu. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Jihan langsung menutup telepon dari Bian tadi secara sepihak dan kembali menenggelamkan kepalanya di balik bantal dan selimut tebalnya dengan wajah menahan perih.
Hingga pagi menjelang, Jihan sudah berkali-kali bangun. Sakit perutnya seperti di tarik, di putar bahkan kadang tak jelas rasa sakitnya seperti apa. Tapi Jihan harus kembali meredam rasa sakit itu karena akan ada yanh lebih parah dari sakit ini, nanti.
Pukul 8 pagi tadi Bian sudah meneleponnya lagi dan yaaa Bian kembali mengultimatum Jihan untuk pergi konsultasi ke Mama Nadia padahal Jihan paham ini adalah disminore biasa, Jihan biasa menghadapi ini setiap bulan. Tapi Jihan bisa apa kalau Bian sudah seperti ini, omongannya tidak bisa di bantah. Jihan menurut sajalah.
"Nanti sore saya ke rumah..."
Begitu yang tertulis di layar ponsel Jihan, namun tak di responnya. Cukup hanya di baca saja, Jihan sedang malas menanggapi.
Bian sudah berada di ruangannya saat ini, sedang mempelajari file salah satu proyeknya yang akan di presentasi kan siang ini. Matanya terfokus pada layar laptop di atas mejanya dan jari-jarinya bergerak mengetik kesana kemari dengan lincah tanpa perlu Bian melihat tuts keyboardnya.
Toktok
Bian mengalihkan matanya ke arah pintu, dan sedikit mungumpat dalam hatinya, siapa yang berani mengganggunya di tengah jam kerja seperti ini sementara banyak yang harus di pelajarinya sekarang.
"Masuk!"
Pintu cokelat di depan Bian terbuka, ada Patricia yang merasa bersalah karena ia datang terlambat. Amat sangat terlambat, sekarang sudah jam 10 pagi dan Pat baru datang.
"Pak, maaf..."
Bian hanya melirik dari balik kacamata kerjanya dengan sinis dan terdiam. Bian jadi tak tahu schedule apa-apa hari ini karena saat Bian sampai Patricia belum ada di mejanya, bahkan kabar Patricia akan datang terlambat atau email schedule hari ini tidak ada sama sekali.
"Nggak usah ke kantor!!" Pekik Bian. Patricia mengkeret. "Email sekarang schedule saya, kamu hari ini pulang!" Perintahnya.
"Ta.. tapi Pak. Tadi saya telat karena macet Pak.." kilahnya.
"Saya juga macet kok tadi, tapi saya bisa datang tepat waktu. Nggak usah alasan Patricia, saya tahu kamu mampir kemana tadi..."
Patricia diam.
Bian tahu kemana tadi Patricia pergi. Ia tak sengaja melihat. Patricia ada di depan salah satu kantor arsitektur yang tak jauh dari kantornya, kantor tersebutlah yang kemarin bersaing dengan Bian untuk menangkan tander untuk pembangunan The Dome di daerah Cawang yang akhirnya di menangkan Bian.
"Sudah capek kerja dengan saya?" Tanya Bian skeptis.
"Ngg nggak gitu pak..." Gugupnya.
"Ya kalau nggak gitu ngapain kamu di sana??!!"
Patricia tertunduk dalam karena tertangkap basah secara tidak langsung oleh Bian. Patricia juga melihat mobil Bian tadi dan sekarang dugaannya menjadi kenyataan.
"Sa... Saya di calling untuk interview, Pak. Tapi setelah sampai sana saya menolak, Pak..."
"Email schedule saya segera! Nggak ada jadwal setelah jam 5!" Perintah Bian.
"Ba baik, Pak.." gagapnya, Patricia segera keluar dari ruangan Bian dan kembali ke mejanya. Bian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Patricia.
Begitu jam menunjukkan pukul 4 sore, Bian langsung keluar dan absen dari kantor, menuju parkiran dan melaju ke arah Jakarta Barat. Tadi Bian sudah menelepon Jihan untuk siap-siap dan memastikan lagi untuk ke Pondok Indah karena Mama Nadia sudah ada di rumah sejak jam 3 tadi.
Jalanan Jakarta sudah sangat padat di jam ini, apalagi Jakarta Barat. Untung Bian sabar kalau soal macet, kalau tidak mungkin Bian sudah membeli helikopter dan membangun helipad di atap rumah Jihan untuk mendarat dan sampai di sana dengan cepat. Eheh!
Tepat saat adzan magrib selesai berkumandang, mobil Bian berhenti di depan rumah Jihan, ia segera keluar dari mobil.
"Assallammualaikum, Jihan..."
"Yaa..." Jihan memutar kunci dua kali lalu pintu terbuka dan menampilkan wajahnya yang pucat.
"Are you okay?" Tanya Bian khawatir saat sudah mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Not so. Kamu magrib dulu gih mas..." Jawab Jihan sambil sesekali meremas perutnya.
"Ya udah, saya magrib dulu..." Bian segera beranjak lalu mengambil wudhu dan sholat di mushola rumah Jihan.
10 menit kemudian Bian kembali dan duduk di samping Jihan. Mengelus keningnya yang berkeringat, semua yang Jihan rasa saat ini adalah akumulasi dari kelelahan dan siklus bulanannya saat ini.
"Ke mama Nadia ya?" Tanya Bian sambil mengelap keringat di kening Jihan. Jihan hanya menjawab dengan anggukan. "Saya nggak mau kamu sakit, Ji..." Batinnya.
Bian lalu membawa Jihan masuk ke dalam mobil setelah magrib usai, membantunya masuk dan duduk di samping Bian. Sepanjang perjalanan juga Jihan lebih banyak diam, sesekali meringis kesakitan.
"Aku jadi nggak enak sama kamu mas. Kamu baru pulang kerja, aku ngerepotin ya?" Tanya Jihan pelan saat mobil Bian sudah memasuki kawasan metro Pondok Indah.
"Jangan biasain nggak enak. Kamu anggap saya apa?" Jawab Bian datar.
"Calon suami..." Gumam Jihan.
"Hal-hal kayak gini nih yang buat jauh.Saling merasa nggak enak
Jadi izinkan saya melakukan yang saya mampu, dengan cara saya sendiri. Dripada saya diam aja. Nanti dibilang nggak peka. Serba repot juga saya..." Jawab Bian lagi, kali ini lebih panjang.
"Iya maaf mas. Nggeh mas ku..."
Bian hanya mengangguk setelahnya. Lalu mobil sedan Bian sampai di halaman rumah Mama Nadia , ibu Mertua Aliya, kakak dari Bian.
"Assalamualaikum..." Ucap Bian sambil sesekali mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam. Eh Bian, Jihan.. ayo masuk.." ajak Mama Nadia setelah keduanya mencium tangan mama bergantian.
Mama Nadia membawa mereka duduk di ruang tengah. Rumah mama Nadia memang selalu sepi seperti ini kalau tak ada krucils. Maklum anak Mama Nadia hanya Adrian.
"Ada apa nih? Tumbenan kalian ke sini?" Tanya Mama Nadia tenang walaupun beliau sudah menangkao gurat pucat di wajah Jihan.
"Seperti yg Bian jelaskan di telepon tadi. Sejak pulang dari Lembang kemarin, Jihan ngeluh perutnya sakit. Katanya hari pertama mens, sampai sekarang masih juga, bisa mama periksa kan?" Tanya Bian, sementara Jihan sudah tak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Oh ya boleh dong. Yuk, ikut mama.." ajak Mama Nad.
"Sama mama ya yang. Saya tunggu sini..." Ujar Bian. Jihan hanya mengangguk saja.
Mama mengarahkan Jihan ke kamar tamu yang kosong dekat ruang tengah sementara beliau mengambil peralatan perangnya. Beliau kembali dengan tas kerja serta air hangat yang di masukkan ke kantung khusus untuk mengompres perut Jihan.
"Baring sayang..." Pinta Mama, sementara beliau mencuci tangannya.
"Mam, Jihan takut..." Ujarnya saat mama kembali dan Jihan sudah berbaring.
"Rileks sayang..." Sahutnya. Mama memasang ear tips ke telinganya dan mengarahkan chestpiece ke d**a Jihan, lalu menyingkap blouse yang di pakai Jihan dan menekan sedikit perut bagian bawahnya. Jihan hanya bisa mendesis menahan sakit saat tangan Mama Nadia menekan sedikit keras. "Sejak kapan sakit?" Mama memulai anamnesisnya.
"Dari kemarin malam ma. Pulang dari lembang langsung bleeding.." jawab Jihan.
Mama kembali mengetuk bagian perut lalu menempelkan chest piece ke abdomen dan menekan perut sebelah kanan.
"Aaww, ngilu mam.." suara itu keluar akhirnya, Jihan tak bisa untuk tidak lagi teriak.
"Kakinya tekuk sayang.." perintah Mama, Jihan menurut lalu mama kembali menekan perut bagian bawah Jihan lagi untuk ketiga kalinya.
"Shhh..., Huftt.."
"Lurusin lagi kakinya. Udah minum obat apa aja?" Tanya Mama setelah melepas eartips di telinganya.
"Tadi sih di rumah minum kunyit asem mam, bibik buatin. Selebihnya Jihan belum minum obat lain mam..." Jawab Jihan.
"Okeee. Nggak apa-apa wajar kok disminore gitu, masih normal. Pijet aja? Biar perutnya rileks? Pijet perut gimana?"
"Mama bisa? Biasanya ibuk yang pijet, tapi ibuk tadi belum pulang..."
"Bisaaa..." Jawab Mama. Beliau merogoh tasnya mencari minyak zaitun di dalam sana. "Sekarang Jihan rileks ya, kakinya ditekuk lagi.." mama mulai mengoleskan minyak di area perut Jihan. "Mama pelan kok. Teriak aja kalau kena bagian yang sakit..."
Mama Nadia mulai memijat pelan-pelan, Jihan hanya mendesis sesekali sebelum tangan mama mengenai bagian yang sakit. "Shhh.., iya ituu di situ mam ngiluuu..."
Tangan mama sudah bergerak kesana kemari dari pelan hingga sedikit keras sampai Jihan terpekik kesakitan saat mama memijat seperti menguleni adonan.
"Maaaaammm sakiittt!!" Pekik Jihan saat mama menekan sedikit dalam lalu kembali di lembutkan.
Jihan menghembuskan napasnya agak berat setelah mama selesai memijat tapi ia merasa sedikit ada perubahan setelah di pijat. "Lurusin kakinya sekarang. Mama kompres ya, biar nggak kaku. Kamu kurang olahraga ini, makanya sakit banget..." Mama menyingkap lagi baju Jihan dan meletakkan water bag di atas perut.
"Sshhh..., Kok mama tahu Jihan jarang olahraga? Abis gimana ya mam, kemarin sibuk ngurus skirpsi. Kuliah padat mam..." Jawab Jihan jujur.
"Hahaha anak kuliah kan suka gituu..." Sahut Mama.
"Hehehehe. Mama pernah kan hehe.." kekeh Jihan.
"Pasien mama banyak yang seumuran kamu. Kasusnya bukan, maaf, hamil di luar nikah gitu, bukan. Ya yang sepele kayak disminore gini aja, kurang minum, kurang olahraga, jadinya dinding rahim nggak siap saat ada proses pengelupasan, sakitlah itu karena otot-ototnya kontraksi. Sudah sampai situ belum kuliahnya..?" Tanya Mama sambil membereskan alat-alatnya.
"Ya itu mam..., sebenernya Jihan tahu ini normal, tapi mas Bian...hehe. Mas Bian khawatir Jihan kayak Jasmine kemarin itu. Ya udah dong mam..., Kan Jihan udah mau sidang bulan desember." jawab Jihan bangga, mama hanya tersenyum semringah menanggapi.
"Masmu diem2 khawatirnya berlebihan juga.." lalu Mama terkekeh.
"Yaa gitulah mas Abiandra, mam...hehe. Tapi ma, Jihan mau tanya, selama perjalanan karir mama sebagai obgyn, pernah nggak sih mama kedatangan pasien yang, maaf, hamil di luar nikah dan meminta mama melakukan aborsi?"
"Banyak. Kalau sudah seperti itu mama lebih tertarik untuk menangani secara psikis. Emosinya yang disembuhkan, berikan edukasi. Selebihnya, bila masih mau aborsi juga ya itu pilihan, tapi mana nggak mau melakukan, silakan cari dokter lain kalau caranya gitu.." jawan Mama tegas.
"Sayang, Jihan baru kenal mama. Teman Jihan mam, dia.. you know what i mean.. dan yaa..dia akhirnya aborsi mam. Pada akhirnya dia merasa bersalah sekarang.." tutur Jihan lesu tiba-tiba saat mengingat salah satu temannya melakukan prosedur itu setelah melakukan hubungan badan lalu hamil dan dia tidak siap lalu berakhir dengan janin yang di gugurkan secara paksa.
Mama menepuk lengan Jihan perlahan, mengerti akan hal yang Jihan dapati di lingkungannya. Tidak mudah memang, tapi sebagai teman, pasti Jihan sudah memberi pilihan terbaik namun temannya malah memilih pilihan sulit dengan membunuh janin tak berdosa yang tak tahu apa-apa.
"Mau koas di mana?"
"Di rs mama hehe. Kemarin Jihan udah ngomong sama mbak Al.."
"Ya baguslah. Harus aktif kalau koas, kali saja nanti pas stase obgyn ketemu mama langsung..." Jawab Mama.
"Iya ma. Heheh, Mama nggak galak kan?Kalau lagi mimpin anak2 koas?"
"Hahah, kamu tanya saja sama kakak tingkatmu nanti. Yuk keluar..." Mama mengangkat water bag tadi dan keluar dari sana bersama Jihan.
"Mas, sudah yaa. Jihan nggak apa-apa. Sudah enakan kan sayang?"
"Udah. Makasi ya mam..."
"Alhamdulillah nggak apa-apa, makasi ya mam.." ujar Bian.
"Sama-sama. Udah pada maem belum?"
"Bian laper ma. Hehe..."
Mama lalu membawa mereka berdua ke meja makan untuk makan bersama. Papa Irzha ada pertemuan jadi sepertinya akan pulang malam.
Mereka makan dalam diam, hanya ada suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring.
Di rasa sudah cukup malam, Bian dan Jihan pamit pulang. Bian juga harus mengantar Jihan pulang lagi ke rumahnya, Bian takkan rela meminta Jihan pulang sendiri meski naik taksi pilihannya. Lebih baik Bian lelah bulak-balik daripada merasa bersalah membiarkan Jihan pulang sendirian malam-malam begini.