Design 7

2006 Words
"Bilang Jihan, Bi, malam sebelum akad datang kumpul ke sini ya. Besoknya berangkat dari sini jam 7.30 ke KUA Pejaten. Kamu semobil sama Jihan aja..., Ibuk bapaknya biar di mobil sendiri..." Papar Mama yang sedang mengaduk teh manis untuk Papa. Bian hanya manggut-manggut sambil menggigit roti selainya. "Iya mamaku sayang..." Jawab Bian akhirnya setelah melirik ke arah Mama yang memasang tampang masam. "Ya udah ma, mas berangkat ya. Mau ada meeting pagi sama klien..." Pamitnya lalu mencium tangan sang Mama. "Papa mau bareng?" "Duluan aja. Papa mau anter mama dulu ke klinik.." "Oh oke, ketemu di kantor, Pap..." Bian segera keluar dari rumah dan menuju garasi, mengeluarkan Civicnya dari sana dan bersapaan dengan aspal Jakarta di pagi hari yang jalannya sudah mulai ramai. Ia melajukan mobilnya ke arah Melawai mencari restoran yang sudah di tentukan dan sudah buka pagi-pagi begini karena klien yang meminta sekalian ingin sarapan bersama. Awalnya Bian bilang tidak bisa, ia lebih nyaman meeting di kantor daripada di luar. Namun sang klien memaksa, Bian bisa apa? WOODPECKER COFFEE Bian memarkirkan mobilnya di sana lalu keluar dan masuk ke dalam resto. Bian memilih duduk agak ke dalam dan meletakkan barang bawaannya, macbook dan si tabung hitam yang setia menemani kala kerja. Bian sengaja datang 30 menit lebih awal dari janji yang semula pukul 8, Bian datang tepat jam 7.30 . Ia memanggil waitress dan memesan kopi juga seporsi savory waffle hangat sebelum meeting berlangsung. Bian melahap potongan pertamanya sampai ponselnya di atas meja bergetar panjang, itu artinya ada telepon masuk. Jihan is calling Tertulis di layar ponsel, Bian segera menggeser tombol hijau dan menjawabnya. "Assalamualaikum..." "Wa'alaikumsalam..., Ya Jihan?" "Udah di kantor, mas?" "Nggak, saya lagi ada meeting di luar, di Melawai.., nanti ke kantor agak siang" jawab Bian sambil sesekali menghirup wangi kopinya di cangkir.  "Kamu baru bangun ya?" "Eh, nggak kok mas..., Udah daritadi.." "Ke kampus?" "Nggak kok. Libur hari ini.." "Ouh, udah mandi?" Tanyanya sambil mengunyah potongan wafflenya. "Kebiasaan mandi sebelum sholat shubuh hehehe.." kekehnya. "Gitu?" "Yup.. Walaupun dingin banget sih.." Bian diam sejenak sambil membatin. "Kereeeeeen banget calon istri gueee..." "Good, keren sih..." "Kebiasaan sih mas, jadi mau kuliah atau nggak ya jam segini udah rapi aja..." "Biasanya cewek mandi kalau mepet mau keluar. Biar seger gitu katanya..." "Nggak sih. Malah jadi keburu-buru kalau udah mepet mas. Ya paling kalau mau keluar aku cuci muka lagi aja sih.." "Bagus, pertahanin yaaa. Saya sukaa.. eumm, Jihan, udah dulu ya. Klien saya udah datang nih.." ujar Bian sambil meminta kliennya duduk di hadapannya. "Oh, iya mas. Lancar ya meetingnya..." "Yaaa..., Love you..." Ucap Bian tiba-tiba. Klik. Telepon di tutup sepihak, dan Jihan terpekur di seberang sana. Bian meletakkan ponselnya lalu bersalaman dengan kliennya yang baru datang ini. "Wah sepertinya habis terima telepon dari pacar ya, Pak Bian?" Bian tersenyum sekilas menanggapi pertanyaan kliennya yang bernama Roni ini. Seorang bos perusahaan platform jual beli online terkenal se-Indonesia  yang akan merenovasi beberapa ruangan di kantornya. "Bisa saja Pak Roni ini..." "Lalu apa dong kalau bukan pacar?" "Insha Allah calon, Pak..." "Wah, selamat ya kalau gitu. Semoga lancar...." "Iya pak..., Makasi doanya. Oke jadi mau berapa ruangan yang di renovasi, Pak?" Tanya Bian to the point, lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan. "Oh ya. Ada beberapa, Pak Bian. Di kantor saya ada lounge di lobby lantai satu dan sepertinya mulai membosankan dan nanti kurang lebih seperti ini. Colourful, cozy gini nih.." "...Nah di kantor saya itu ada sisa space kosong dan saya mau di tempat yang kosong mau di buat seperti ini..." Ia menunjukkan foto dari iPad nya. Sebuah lapangan basket mini indoor. "...biar karyawan saya di kantor nggak boring dan bisa jadi tempat serbaguna untuk kegiatan lainnya..." Bian mengangguk paham dengan penjelasan kliennya ini dan Bian sudah bisa membayangkan seperti apa Lounge yang akan di buatnya nanti. "Lalu yang lain, Pak?" "Oh ya..., Sisanya di buat seperti ini..." "Ini ada di lantai 5 dan taman di lantai yang sama, saya ingin yang seperti ini..." "..bisa?" Bian mengamati tiap foto yang di tunjukkan padanya dan ia menyanggupi. "Bisa pak, nanti foto-foto ini bapak forward ke saya, lalu nanti akan saya kerjakan sketsa awalnya..." "Oke kalau gitu, next meeting ketemu di kantor saya ya. Biar Pak Bian bisa langsung lihat..." "Baik, nanti ke depannya bapak hubungi saya saja untuk meeting selanjutnya..." Mereka bersalaman tanda saling setuju dengan keputusan yang mereka sudah sepakati barusan. ZzzZztttt... Ponsel Bian kembali bergetar. Jihan mengirim pesan. Kirana Jihan Mas, aku boleh ke kantor? Antar makan siang buat mas...? Abiandra Satrio Boleh, masak yang enak untuk saya ya, Ji.. Kirana Jihan Tapi masih di bantuin bibik, gpp kan? Yaa mas tau lah aku masih pemula  Abiandra Satrio Iya nggak apa Kirana Jihan Mas gak ada alergi kan? Abiandra Satrio Gak ada Segalavora saya tuh Kirana Jihan Hahahaha.. Oke, pemakan segala. Mau di masakin apa? Abiandra Satrio Cumi aja gimana? Kirana Jihan Calamary ya. Di tepungin.. Abiandra Satrio Boleh. Makasih yaaa ... Kirana Jihan Heheh iya mas Abiandra Satrio Nanti line aja kalau mau brgkt. Kali aja saya masih repot atau apa... Kirana Jihan yaudah, aku ke pasar dulu ya sama bibik. Okee nanti di line Abiandra Satrio Oke, hati2 ya Kirana Jihan Nggeehh Abiandra Satrio Eh, kamu ke kantor naik apa? Kirana Jihan Naik gojek aja, gpp kan? Abiandra Satrio Gpapa, pastiin dia aman. Catet nopolnya kalo perlu Kirana Jihan Nggeh mas Ada seberkas senyum terbit di wajah Bian. Ah, sepertinya dia harus kembali ke kantor sekarang agar segera bisa menyelesaikan urusan yang tertinggak di sana dan nanti bisa dengan tenang ketika Jihan datang. "Pak Roni, masih ada yang mau di bicarakan?" Tanya Bian sambil membereskan beberapa barangnya. "Oh, udah nggak ada Pak Bian. Nanti kalau ada pasti langsung saya hubungi ya..." "Oke, saya kembali ke kantor kalau begitu. Terimakasih pak atas kerjasamanya.." Bian kembali menjabat tangan kliennya sebelum mereka keluar meninggalkan tempat. Bian keluar dari sana dan kembali melajukan mobilnya ke arah kantor. Masih ada setumpuk kerjaan menunggu di sana dan ketika sampai, beberapa berkas sudah menunggu untuk di tanda tangani di meja. "Pagi pak.." sapanya. "Pagi.." jawab Bian dingin, lalu masuk ke ruangannya tanpa ucapana apapun selain menjawab sapaan Patricia tadi dan membuatnya cemberut karena perlakuan bosnya tadi. "Sabar Pattt .. bos lu itu emang..." Gumamnya. Sementara Jihan sedang perang di dapur dengan bibik. Maklum, Jihan nggak pernah masuk dapur ikut masak bareng bibik jadi yaa... "Non, ngapain pake tutup panci??" Bibik heran melihat kelakuan anak majikannya ini. "Takut nyiprat biiikkk" "Goreng calamary mah nggak akan nyiprat kayak goreng ikan, kan udah di tepungin. Selow aja non, coba lepas dulu tutup pancinya..." Jihan menuruti dan meletakkan tutup panci yang di gunakannya tadi. "Hehehe iya, nggak bik..." Kekeh Jihan. "Iyakaann.. udah, di goreng aja sampai kecokelatan yaa. Jangan gosong, ntar den Bian kepaitan makannya.. hihihi..." "Ihh si bibik maahhh" rajuknya sambil mengaduk calamary berlumur tepung di dalam penggorengan. "Nih segini udah bik?" "Yaa udah angkat non..., Cukup kok segitu udah matang. Saosnya biar bibik yang masakin ya.. non siap-siap aja.." "Okedeehh..., Makasi biikk" Jihan segera mencuci tangannya dan masuk ke kamar lalu beres-beres dan ganti baju. 15 menit kemudian Jihan sudah rapi dan cantik. Merasa sudah siap dan tak ada yang tertinggal, Jihan segera memesan gojek dan membawanya ke kantor Bian. Berbekal kartu nama Bian, Jihan nekat ke sana tanpa konfirmasi janji sebelumnya dengan Bian.          Sekitar 45 menit kemudian, Jihan sampai di depan kantor dan membayar ongkosnya lalu masuk ke lobby dan menanyakan di mana ruangan Bian. "Emm..., Permisi, mbak..." "Yaa ada yang bisa saya bantu, mbak?" Tanya si reseptionist bername tag Avita Andari. "Mau tanya, ruangannya pak Abiandra di mana ya?" Tanya Jihan ragu-ragu. "Oh, pak Abiandra ya. Ada di lantai 10 mbak, tapi maaf, ada keperluan apa ya? Apa sudah ada janji sebelumnya.." "Saya ada perlu dengan beliau, soal janji sudah sejak tadi pagi kok mbak..." Jawab Jihan tak membuka siapa identitas dirinya. "Saya janjian langsung ke Bapak.." "Begitu? Ya sudah silakan naik aja ke atas ya mbak. Nanti ada sekretarisnya bapak di atas..." "Oke makasi yaa.." Jihan segera masuk ke lift dan menekan tombol angka 10 lalu lift bergerak naik ke atas. Ting. Pintu lift terbuka, ada pembatas kaca besar sebelum masuk ruangan Bian. Ada Patricia di sana sedang... Dandan.. Jihan hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Inikah sekretaris calon suaminya? Genit sekali. Jihan melangkah pasti ke arah Patricia sambil menenteng paper bag berisi lauk makan siang untuk Bian. "Siang mbak.." sapa Jihan. Patricia melirik Jihan dengan tatapan sinis. "Iya, cari siapa ya?" Tanyanya sinis. "Saya cari Bapak Abiandra.." sahut Jihan lagi. Patricia meneliti penampilan Jihan yang mengenakan kemeja pink polos dengan celana jeans dan sneakers nike hitam-- Jelas nampak seperti anak kuliahan. Pat makin mengerutkan dahinya bingung karena sebelumnya belum ada tamu yang model santai begini. Apalagi perempuan. "Udah ada janji?" Sinisnya lagi. "Udah kok..." jawab Jihan singkat. "Siapa namanya?" "Kirana Jihan Wicaksono.." ucap Jihan, Patricia segera mencari nama Jihan di bukunya namun tak ada. "Mbak, maaf ya jangan bohong. Nama mbak nggak ada di sini..." Jiham tersenyum. "Dan maaf ya, mbak...." Jihan meneliti name tag yang menggantung di leher Patricia. "Mbak Patricia. Janji saya, langsung ke atasan kamu..." Ujar Jihan, Patricia terpekur. Bian yang sedang menggambar di meja gambaranya tiba-tiba mendengar suara sayup ribut-ribut suara perempuan di luar ruangannya. Bian berjalan cepat dan siap berteriak memarahi Patricia. "Patricia!! What the hell are you doing?!!" Pekik Bian, Jihan terdiam mengkerut mendengar suara Bian, Bian belum menyadari kehadiran Jihan di sana. "Mm--maaf pak. Ini mbaknya maksa masuk katanya u-udah jan-janji sama bapak.." jawab Patricia tergagap. Bian mengedarkan pandangannya dan menemukan Jihan mematung di sana. Ia segera menetralkan wajahnya dan perasaannya yang mendadak deg-degan. "Mas Abi..." Panggil Jihan lalu tersenyum mendapati Bian menyadari kehadirannya. "Jihan..." Bian menghampiri Jihan. Jihan reflek menyalami Bian, sementara Patricia terpekur melihat perlakuan Bian yang mendadak berubah tiba-tiba. "Udah lama?" "Baru aja mas. Nih makan siangnya, mau makan di mana?" Jihan menunjukkan paper bag bawaannya. "Di ruangan aja yaa, jangan di kantin.." jawab Bian. "Nggeh mas..." Bian menggandeng tangan Jihan dan masuk ke dalam ruangannya. Sementara Patricia terdiam di tempatnya, Jihan menoleh ke arahnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Mereka duduk di sofa sudut ruangan Bian di dekat jendela, Jihan membuka satu lersatu Tupperware nya dan menghidanglan masakannya pada Bian. "Wah, enak kelihatannya. Kamu kah yang masak?" Tanya Bian sambil menyuap satu sendoknke mulutnya. "Yang goreng calamary sama tepungin aku dan yang buat saosnya bibik, hehehe nggak apa-apa ya mas.." "It's okay, ini enak kok. Makasi ya, Ji.." "Nggeh mas, sama-sama. Nanti aku masakin yang lain.." Bian manggut-manggut sambil terus menikmati makan siangnya dengan lahap. Hati senang, perut kenyang. "Oh iya Ji, nanti malam sebelum akadnya Bhima kamu datang ya kerumah sama ibuk bapak.  Ada kumpul-kumpul. Paginya kamu semobil sama saya ya, ke KUA dulu baru ke Lembang.." jelas Bian. "Nikahnya di KUA mas?" "Iya, mereka nggak mau ribet. Jadi setelah akad langsung ke Lembang. Bilang ibuk yaa.." "Okee, nanti di kasih tau ke ibuk.." "Ya udah yuk, kamu mau kemana habis ini?" "Langsung pulang aja deh mas. Kan kata mas harus selesaiin skripsi biar cepet sidang..." "Nggak mau jalan dulu?" "Nggak mas, kamu juga banyak kerjaan kan? Itu.." Jihan menunjuk papan gambar. Bian tersenyum. "Hehe, kamu tahu aja. Ya udah, saya anter ke depan yaa.." Jihan mengangguk lalu mereka membereskan tempat makan tadi yang sudah habis tak bersisa dan keluar dari ruangan Bian. "Patricia, kenalkan, ini Jihan. Calon istri saya.." ujar Bian, Jihan tersenyum bangga saat Bian menekan dua kata terakhirnya. "Iiya Pak. Maaf ya bu, soal tadi..." "Yaa.. nggak apa-apa.." jawab Jihan. "Ayo mas, turun. Gojeknya udah nunggu.." ajak Jihan, Bian menganggul lalu membawa Jihan turun ke lobby. Saat turun ke bawah pun, semua pasang mata tak lepas dan Jihan dan Bian yang jalab beriringan nampak serasi. Desas-desus mulai terdengar dan mempertanyakan siapa Jihan yang terlihat begitu akrab dan dapat membuat Bian tersenyum, tak seperti biasanya. Dingin, datar tak terjamah. "Ya udah mas, aku pulang ya..." Pamit Jihan sambil di pakaikan helm oleh Bian. "Hati-hati. Kabarin kalau udah sampai rumah ya.." sahut Bian. Jihan mengangguk, menyalami Bian lalu naik ke atas motor dan motor membawanya keluar area kantor sementara Bian kembali ke ruangannya dengan wajah dinginnya yang seperti biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD