Design 6

2080 Words
Beauty is about living your life Being happy with yourself inside out And not worrying about what people think about you.~ ______________ Seminggu kemudian. Kedekatan Bian dan Jihan makin hari kian mendekat walau terkadang Jihan yang harus memulainya duluan. Jihan awalnya tak sabar menghadapi sikap Bian yang perasaan pekanya kurang bahkan--- amat sangat kurang sepertinya, tapi Jihan akan berusaha bertahan. Tapi kalau hanya Jihan sendiri yang bergerak tanpa adanya pergerakan dari Bian, mungkin Jihan akan memilih pergi. Namun entahlah, lihat saja bagaimana ke depannya. Kini Bian ada di daerah Jakarta Barat, ya dekat ke rumah Jihan. Hanya bedanya kini Bian bukan akan ke sana tapi mengecek proyek yang sedang di kerjakannya. Sebuah rumah tinggal 2 lantai, kliennya adalah teman Mama Lanny yang akan menghadiahkan rumah tersebut untuk anak dan calon menantunya. "Bagaimana, tante? Suka dengan design yang ini atau yang kemarin?" Tanya Bian sambil membentangkan kertas sketsa rumah yang akan di kerjakannya, sekarang baru 10 persen berjalan. "Tante sih suka yang ini, Mas Bian. Yang ini minimalis kalau yang kemarin rasanya agak kurang sreg aja..." Jawab tante Zora, sudah mantap dengan pilihannya. "Baik tante, yang ini akan saya forward ke asisten saya untuk di kerjakan. Semoga memuaskan sesuai apa yang di harapkan ya, tante..." "Iya Bian, terimakasih sebelumnya. Tante sih dari awal lihat yang ini saja sudah sreg, apalagi nanti ketika selesai..." Pujinya. Bian hanya tersenyum sekenanya lalu membereskan sketsanya yang berceceran dan di masukkan ke dalam tabung hitamnya. "Ya udah tante, saya pamit ya. Udah sore juga, mau magrib. Nanti kalau ada yang kurang atau mau ada penambahan hubungi saya aja ke whatsapp..." "Ya, tante juga harus pamit. Salam untuk mamamu ya..." "Nanti saya sampaikan ke mama..." Bian bergegas menuju mobilnya yang terparkir di sebrang jalan, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada chat masuk sepertinya. You Have A New Messages- Kirana Jihan. Ia segera membuka aplikasi Line dan melihat pesan dari Jihan. Bian baru ingat, sudah dua hari ini dia sama sekali tidak menghubungi Jihan, astaga.... Kirana Jihan Mas Bian Abiandra Satrio Ya Jihan? Kirana Jihan Sdh pulang kantor? Abiandra Satrio Habis cek proyek rumah, baru masuk mobil. Kenapa? Kirana Jihan Oh masih di jalan Yaudah gpp mas Abiandra Satrio Loh kenapa? Kirana Jihan Gpp. Nyetir aja, hati2 ya Abiandra Satrio Mau pesen sesuatu ta? Kirana Jihan Nggak kok Aku cuma tanya aja Dua harian ini mas gak kelihatan Abiandra Satrio Iya, lagi banyak meeting Saya ke rumah ya Ibuk bapak ada? Kirana Jihan Ibu Ada kok, cuma bapak masih dinas ke luar.. Abiandra Satrio Kamu sama ibu suka jajan apa? Kirana Jihan Hmm.. Terserah mas aja ;) Ibuk gak begitu suka manis Abiandra Satrio Gurih suka berarti? Atau kamu ada saran ? Saya nggak bisa menebak2 Ji Jujur saja, saya orangnya nggak peka Karena itu saya tanya dari awal. Kamu sukanya apa?  Nanti takutnya malah nggak kemakan Kirana Jihan Yaa lumayan Martabak telor? If you don't mind Abiandra Satrio Okeee Sekalian saya numpang magrib Boleh kan? Kirana Jihan Boleh Yaudah, aku magrib duluan ya mas.. Abiandra Satrio Yaudah, saya ke rumah kamu ya Kirana Jihan Nggeh... Jihan menghela napasnya  berat, sudah dua hari Bian menghilang. Ia tahu, Bian sibuk. Tapi apa segitu sibuknya.sampai tak ada waktu walau hanya sekedar mengirimkan chat satu atau dua bubble chat? "Maklumin, Ji, maklumin. Kuatiinn..." Gumamnya sambil menuju kamar mandi untuk wudhu. "Tapi entah sampai kapan...?" Batinnya kini. Jihan menggelengkan kepalanya lalu mengambil air wudhu dan bergegas sholat magrib. Selepas shalat magrib, Jihan mendengar suara derum knalpot yang akhir-akhir ini sering mampir ke rumahnya. Jihan segera lari keluar membuka pintu rumahnya dan menyambut Bian yang keluar dari mobilnya. "Assalamualaikum..." Ucapnya sambil tersenyum ke arah Jihan yang berdiri di depan pintu. Mirip istri nunggu suami pulang ya. "Waalaikumsalam..." Sahut Jihan. "Nih, buat kamu sama ibuk.." Bian menyodorkan plastik berisi martabak telur tadi. "Makasi mas.." Jihan menerima plastik tadi dan mengajak Bian masuk. "Yuk masuk..."  Bian mengikuti Jihan masuk ke dalam. "Itu mushollanya di belakang, lurus aja. Aku siapin minum kamu.." "Ibuk di mana..?" Tanya Bian sambil menggulung lengan baju dan celana bahannya. "Ibuk masih ngaji di kamar..." "Ooh.., Oke, saya sholat dulu..." "Iya mas..." Jihan bergegas ke dapur, memindahkan makanan tadi dan menyiapkan minuman untuk Bian. Sesekali Jihan mengintip ke arah musholla yang hanya tersekat pembatas kaca. Ia jelas melihat Bian melakukan gerakan sholat, hati Jihan menghangat tiba-tiba. Ini yang ia cari,  bukan hanya karena harta dan jabatan yang di embannya sekarang yang membuatnya jatuh cinta, tetapi bagaimana cara ia menyayangi Ibunya dan PenciptaNya. Jihan tak sempurna, ia butuh penuntun yang dapat menyempurnakannya dalam hidup dan ibadahnya. Menuntunnya jadi istri saleha, yang menghormati, taat pada suami dan sang Pencipta. Jihan membawa teh nya ke meja ruang tengah, menunggu Bian selesai sholat dan berdoa. Entah apa yang Bian rapal dalam doa, Jihan berharap Bian selipkan doa untuk kelangsungan hubungan mereka juga. "Minum tehnya dulu mas..." Ujar Jihan saat melihat Bian berjalan mendekat. "Makasih yaa, Ji..." Bian menyeruput teh hangatnya perlahan. "Aku panggil ibuk dulu ya..." Jihan beranjak ke atas memanggil ibu yang masih mengaji. "Buk..." Jihan memutar kenop pintu kamar Ibuk yang terdengar masih mengaji Surah Maryam. Jihan mematung sebentar di depan pintu terbuka menunggu ibu menyelesaikan ayat terakhirnya. "Sodaqallahul'adzim..." Ibu menutup mushafnya. "Ada apa, Jihan?" Tanya Ibu sambil melipat mukenanya. "Ada mas Bian di bawah..." "Loh? Iya ta dek?" "Iya.. Dadakan, mampir numpang magrib tadi..." "Oala, yaudah yuk..." Mereka lalu turun menghampiri Bian yang baru saja selesai menerima telepon sepertinya. "...Eh, ada mantu ibuk..." "Ibuk..." Bian mengambil tangan ibu lalu menciumnya. "Ibuk sehat?" "Alhamdulillah. Sehat..., Mamamu apa kabar?" Ibuk lalu duduk, Jihan mengambil duduk di samping ibu. "Mama baik. Sibuk tapinya..." "Alhamdulillah..., Yah.. Hahahah. Mamamu itu kan emang gitu dari muda..." Canda Ibu. Bian tersenyum sekilas. "Iya, mama workaholic ya buk. Oiya, Ibuk, ada sedikit jajan. Maaf Bian nggak bawa apa-apa..." "Ehh kok repot-repot tho. Harusnya ibuk yang sediakan..." "Nggak. Tadi nggak sengaja mau mampir. Sekalian numpang sholat..." "Sering-sering mampir, Bian..." "Nggeh buk, kalau sempat pasti saya mampir kok. Tadi kebetulan habis cek bangunan rumahnya tante Zora, ibuk kenal? Teman kuliah mama juga katanya..." "Oalaaa, iyaiya kenal. Mau nikahin anaknya juga katanya..." "Iya buk..." Mereka bertiga mengobrol cukup banyak. Hingga satu obrolan mereka menjurus ke arah yang serius, yaitu kelanjutan perjodohan. "Buk, ini saya juga bicara di depan ibuk. Maaf sebelumnya, saya orangnya seperti ini, kurang peka, sering hilang-hilangan dan jauh sekali dari ekspektasi Jihan. Saya mohon untuk di ingatkan, chat saya sering-sering, maaf saya nggak hubungi kamu kemarin-kemarin, pekerjaan kantor saya nggak mungkin saya limpahkan ke orang lain.." jelas Bian panjang kali lebar, ibu menanggapi dengan anggukannya sementara Jihan tertunduk dalam. Bian memandangi Jihan dalam-dalam dari seberang. Jihan menunduk sambil mengulum bibir bawahnya, ia masih malu menatap Bian terlalu lama. "Jihaan...," Panggil Bian. Jihan mengangkat wajahnya. "Dalem mas..." "Maafkan saya..." "Bukan salah mas kok..." Jihan tersenyum. "Bantu saya belajar menjaga kamu..." Kali ini Bian tersenyum manis meminta hal itu pada Jihan. "Iya mas..." "...Ibu, Jihan. Jujur saja, saya serius dengan perjodohan ini.." ucap Bian, ibuk di samping Jihan hanya bisa mengelus punggung Jihan pelan. "Kalau Jihan berkenan, ya mari kita lanjutkan. Tapi maaf Ji, saya belum bisa mengerti kamu sepenuhnya, saya masih belajar..." "Aku juga serius mas. Kita sama-sama belajar. Bantu saya..." Jihan mengangguk pasti mendengar permintaan Bian yang satu ini. Jelas Jihan akan sama-sama belajar juga, ia pun sekarang sedang belajar mengerti kesibukan Bian. "...Ya udah. Mulai sekarang, belajar saling terbukaa ya. Ingatkan saya kalau terlalu cuek.." "Iya mas..." "Jihan, ibuk, saya pamit pulang ya..., Insha Allah nanti saya ke sini lagi sekalian antar undangan pernikahannya Bhima dan Jasmine..." Jihan nampak tak rela saat Bian berpamitan pulang. "Oh iya iya, nanti ibuk sama bapak datang. Salam buat semua ya..." Bian bangkit berdiri menyalami ibuk. "Jihan...,Saya pulang ya..." Pamitnya sambil mengelus lengan Jihan, Jihan mendadak blushing. "Kamu hati-hati ya, mas..." "Yaa..., Assalamualaikum.." "Waalaikumsalam..." Bian segera masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir tampan di tempat semula. Lalu mobil mundur perlahan dan menghilang dari sana seiring menjauhnya mobil dari rumah Jihan. "Jihan..." Ia menoleh ke arah ibu dengan tatapan seolah bertanya mengapa. "Saling memahami satu sama lain. Dengar sendiri pengakuan juga permohonannya kan?" Ucap Ibu, Jihan mengangguk. "Ambil hatinya, banyak cara yang bisa kamu lakukan. Jangan menyerah, dia sayang sama kamu, kamu pun harus tunjukkan. Cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan intensitas kalian berkomunikasi..., Lama kelamaan dia akan luluh.." Jihan mengangguk mantap mendengar penjelasan ibu. Jujur, hati Jihan langsung cerah begitu mendengar penuturan Bian tadi, ia tak pernah menyangka bahwa Bian bisa berbicara seperti itu. Ternyata Bian punya caranya sendiri untuk menunjukkan sayang dan seriusnya terhadap hubungan ini. Keseriusan yang Bian tunjukkan, bukan main-main, ia ingin betul-betul membangun keluarga dengan Jihan. Perjodohan yang di lakukan ini bukan sekedar cari pacar, tapi calon istri juga ibu untuk anak-anaknya kelak. Tapi di balik itu semua ada satu hal yang lebih penting. Karena menurutnya, pernikahan cukup sekali seumur hidup jadi dia harus mencari pasangan yang betul-betul mencintainya juga keluarga kecilnya kelak dan satu hal lagi yang di tanamkan oleh Papa, Bian tak boleh menyakiti hati perempuan, itu sama saja ia menyakiti hati Mamanya sendiri. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Bian terus terbayang wajah Jihan. Diam-diam sudah 3 hari terakhir ini Bian menjalankan shalat istikharah yang salah satu tandanya datang dalam mimpi Bian dan ya, apa yang ia dapati adalah Jihan yang datang di sana. Itu sebab Bian berbicara serius seperti tadi karena yakin, haqul yakin bahwa Jihan memang jodohnya. Mobilnya terus melaju membelah jalanan ibu kota di malam hari walau sesekali tersendat macet. Sampai si hitam kini berhenti di halaman rumah keluarga Prayuda. Rumah yang selalu Bian rindukan karena kehangatan di dalamnya. Bian memasukkan mobil kesayangannya ke dalam garasi dan masuk ke rumah lewat pintu garasi yang terhubung langsung ke ruang tengah. Saat menapaki tangga, Bian masih mendengar suara 3 keponakannya yang masih bermain karena jam memang masih menunjukkan pukul 8 lebih. "Assalamualaikum..." Ucap Bian begitu membuka pintu. "Waalaikumsalam.." jawab semuanya. "Mas Bian darimana lho? Kok baru pulang?" Tanya Mama. "Mampir ke Jihan mam, deket dari proyek yang Bian kerjain sekarang.." jawab Bian sambil mencium tangan lalu pipi Mama. "Oala iya ya, mama baru inget, hehehe..., Maaf ya mas..., Mamamu ini udah tua jadi suka lupa..." Kekeh Mama. "You're never getting old, mam..." Ujar Bian lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ada Kavin di sana sedang bermain dengan lego-lego kesayangannya, juga Bryan dan Bryna yang serius menonton teve. Melihat si Abang, Bian jadi ingat kejadian minggu lalu. Sepertinya Bian harus mengajak Kavin bicara baik-baik, karena tak biasanya abang jadi kasar begitu terlebih pada orang yang baru di kenalnya. "Ajak bicara ponakanmu, mas.., mommy daddy nya ngomong nggak di waro lho mas..." Ucap Mama sambil duduk di samping Bian menatap si Abang yang masih fokus dengan mainannya. "Mom dad nya aja nggak di denger. Apalagi Bian, mam..." "Sok atuh di coba dulu..., Kali aja kalau sama kamu di dengerin..." Bian mengangguk lalu menghampiri abang yang sedang duduk main di karpet. "Bang.." panggilnya, Abang enggan menoleh. "Abang..." Ulangnya. "Abang Kavin Ardhana..." Abang benar-benar tak menoleh sedikit pun. Ia juga kesal pada Bian sepertinya. Sampai saat ini pun tak ada yang tahu alasan mengapa si abang bisa seperti itu karena setiap di tanya pasti seperti ini. Bian ikut duduk di karpet, ikut bermain dengan si abang yang asyik sendiri tidak memperdulikan Om nya yang ikutan main. "Tuut tuutt... Thomas train is coming to you.. tchutchuuu..." Bian meletakkan kereta thomas warna biru ke atas track mainan dan berjalan sendiri dengan baterai. Abang tampak memberengut. "Iihh!! Om Bian!! Ngapain syihh ganggu ajaahhh!!" Pekiknya keras. Bian terpekur melihat abang jadi begini, Oma pun. Bahkan sampai si kembar pun mengalihkan perhatiannya. "Bang, om kan mau ikut main..." Jawab Bian memelas. "Ndak boleyyhhh!! Abang nggak syukaaa!!" Pekiknya lagi lalu menangis keras sampai mommy nya keluar dari kamarnya. "Bi, udah..." Lerai Mama. "Abang kenapa??" Aliya keluar dari kamarnya dengan bingung karena mendengar suara anaknya teriak. Kavin tak menghiraukan pertanyaan mommynya, ia lebih memilih masuk ke kamarnya. "Lho lho, abang..." Aliya hendak mengejar namun Mama melarang. "Al, udah biarin dulu. Kavin lagi sensitif, kalau di paksa ngomong terus yang ada di tertekan..." "Tapi ini udah beberapa hari mam.., Aliya bingung Kavin kenapa..." Bian hanya bisa terpekur diam menatap pintu kamar Kavin.  Bian sebenarnya tahu apa yang membuat Kavin seperti ini, tapi ia belum ingin membahasnya dengan Jihan, takut Jihan akan tersingung. "Bi, maaf ya. Bilang Jihan maafin Kavin.." suara Aliya menyadarkan Bian. "Eh, iya mbak. Nggak apa-apa kali, namanya juga anak kecil. Belum biasa aja sama Jihan. Yaudah ma, mbak, Bian naik ke atas mau istirahat..." Bian bangkit dari duduknya dan menapaki anak tangga menuju kamarnya. tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD