Design 5

2316 Words
Bian sedang menikmati morning coffee nya di teras depan sambil membaca koran pagi hari ini. Ia menyeruput nescafé dolce gusto Latte machiato caramelnya pelan-pelan, ia hirup wanginya lalu kembali di seruputnya. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling  taman di depannya, namun yang terlintas di kepalanya saat ini adalah bagaimana ia menghadapi Jihan hari ini? Obrolan apa yang akan ia bahas nanti dengan Jihan? Hhhh..., Bian menghela napasnya seolah frustrasi. Tapi Bian tak boleh menyerah, ia harus menaklukan hati Jihan, ia harus membuat Jihan takkan bisa berpaling ke lain hati walau ia tahu, dirinya begitu kaku dengan perempuan. Bhima yang sejak tadi memperhatikan gelagat kembarannya. Ia paham, Bian bukan seperti dirinya yang mudah membaur dengan siapa saja. Bian memang pendiam sejak kecil, tapi sepertinya untuk persoalan satu ini Bhima harus membantu Bian. "Bro..!" Bhima menepuk pundak Bian pelan lalu duduk di sampingnya. "Ngape lo?" "Nggak..." Jawab Bian singkat sambil meminum kembali kopinya tadi. "Gue tahu, lo bingung mau ngobrolin apa sama Jihan kan?" Tebak Bhima tepat sasaran. Bian hanya berdeham menanggapi. "Ya gimana, lo tahu gue kan..." "Lo jangan gini, mas. Berusaha dong, ya lo tanya dia kek, sukanya apa, nongkrongnya kemana, nggak sukanya apa. Gitu lho mas, cewek seneng kalau kita peka. Lha eluu apa coba? Terakhir lo di taksir cewek pas SMA, emang pernah lo nanggapi? Nggak kan? Karena lo nggak peka...!" "Menohok, Bhim! Sialan lu! Iyadeh yang bentar lagi married, udah berhasil luluhin hati Jasmine. Udah ah, gue mau jemput Jihan dulu, sana lo jemput Jasmine..." "Iye, bawel lo!" Bhima bangkit menuju garasi sementara Bian ke dalam meletakkan mug kopinya tadibke wastafel sekalian pamit ke Mama. "Ma, mas pamit ya, jemput Jihan dulu..." Pamitnya, mama sedang mencuci bahan-bahan untuk masak nanti di bantu Kani dan keponakan kembarnya. "Ya. Hati-hati ya, salamin buat ibuknya Jihan.." ucap mama lalu mengelap tangannya dan Bian menyalami. "Nggeh ma..." Jawabnya. "Om, dedek ikut dong..." "Adekk..., Om nya mau jemput tante Jihan. Kamu sini aja bantu Oma ya.." sela Mama sebelum Bryna dapat jawaban dari Bian. Bryna mencebik mendengar jawaban omanya barusan. "Iyadeeehhh..." Bian hanya mengulas senyum saja, lalu melipir keluar setelah mencium mama dan menyalami papa. Jihan tengah mematut dirinya di depan cermin besar kamarnya. Ia sedang memoleskan make up tipis agar tak nampak pucat, Jihan sedang menunggu Bian untuk menjemput, padahal semalam Jihan sudah bersikeras akan berangkat sendiri karena menurutnya dari selatan ke barat akan memakan waktu yang lama. Tapi Bian kembali mengungkit cerita Jasmine dan Bhima kemarin jadi mau tak mau Jihan menurut dari pada ia mendengar Bian marah-marah di telepon. Tiiin  tiiinn... Terdengar suara kalkson mobil di luar, Jihan mengintio. Bian datang, ia segera membereskan alat-alat make up nya dan menyambar tasnya lalu mengisinya dengan ponsel dan dompet. Bian mengetuk pintu dan di bukakan bik Sri, ART di rumah Jihan. "Eh, aden..." Sapanya. "Bik, Jihannya ada?" "Non Jihan ada den, masuk dulu..." ajaknya, Bian mengangguk lalu mengikuti Bik Sri ke dalam. Ada Ibuk dan Bapak di sana. "Assalamualaikum, buk, pak..." Sapa Bian "Waalaikumsalam..," "Eh, Bian.." "Buk, pak..." Bian menyalami keduanya bergantian. "Mau jemput Jihan..?" "Iya buk.." "Sebentar ibuk panggil Jihan dulu.." Ibu lalu naik ke atas dan Bian sedikit berbincang dengan bapak sembari menunggu Jihan turun. Tak lama Jihan turun kembali bersama ibu dan beliau melipir ke dapur. "Mas Bian..." Panggil Jihan. "Udah siap?" "Udah mas, yuk.." "Saya bawa Jihannya dulu, ya Pak..." Pamitnya. "Nggeh, monggo, titip ya" pesan Bapak. "Ya pak..." Sahut Bian. "Bian. Nih, ada titipan buat mamamu..." Ibuk memberika kantung plastik pada Bian. "Apa ini, buk?" "Ini ada ikan dori fillet..." "Hoalaah, makasih buk. Nanti saya sampaikan ke mama. Kami jalan dulu, buk..." "Yaa.. hati-hati..." Mereka berdua bergegas masuk mobil agar tak semakin terjebak macetnya Jakarta yang dua kali lebih parah bila weekend tiba. Hanya ada suara radio mobil yang memutarkan lagu Love and War dari Yellow claw, Bian dan Jihan masih diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Apa harus aku lagi yang memulai?" Batin Jihan sambil melirik ke arah Bian yang masih fokus menyetir. "Jih, saya deg-degan. Kamu cantik hari ini. Jih, saya nggak tahu mau ngobrolin apaa!!!" Teriak Bian dalam hatinya. "Mas..." Akhirnya Jihan memulai duluan, mulai tak tahan dengan keheningan yang menyapa sejak setengah jam lalu. "Ya Ji..?" Jawab Bian sambil menoleh ke arah Jihan karena mobil sedang berhenti di lampu merah. "Di sana nanti ada siapa aja?" "Ramai. Keluarganya mb Al lengkap, ada Jasmine calonnya Bhima, Aluna--sepupu saya sama Ayah Bundanya sih..." Jelas Bian sambil menarik turun tuas rem tangannya. "Oalaa ramai ya mas. Aku malu...." "Kenapa..?" Bian mengerutkan dahinya. "Yaaaa malu aja. Gimana sih baru ketemu kan...." "Ada saya. Dan mereka juga nggak semenyeramkan itu kok. Mereka welcome..." Bian menenangkan Jihan yang masih malu-malu karena baru kali ini bertemu dengan keluarga Bian yang lengkap. "Hehehe iya mas..., Sayanya aja yang malu.." Jihan terkekeh lalu menggaruk lengannya yang tak gatal itu. Bian hanya tersenyum saja menanggapi. Civic hitam kembali melaju sedang membelah jalanan Jakarta yang akhirnya bersahabat di hari minggu ini. Entah ada angin apa, jalanan tak seramai biasanya. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah dan Bian memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Adrian. "Tuh, udah sampai. Yuk turun..." Ajak Bian. "Yuk. Mas, belum pada sampai ya?" Tanya Jihan saat masuk ke ruang tamu depan yang sepi-sepi saja. "Udah, tuh ramai di dalam. Yuk masuk..." Mereka semakin masuk ke dalam rumah, semua sudah lengkap itu artinya Bian dan Jihan datang terakhir. "Assalamualaikum. Semuanya, kenalkan ini Jihan..." Ucap Bian lantang membuat semua menghentikan kegiatannya. "Waalaikumsalam" jawab semuanya serentak. "Ini toh Jihan?" Ujar Kani antusias. "Iya.." jawab Jihan pelan. "Aku Kani, adiknya mas Bi..." Kani mengulurkan tangannya, Jihan menyambut. "Ohh iya..." "Santai ajaaaa, Jihan..." "Ehehehe, iya Kan..." Jihan terkekeh lagi. "Hai Jihan, Aluna, sepupu mereka semua.." tiba giliran Aluna menyapa Jihan dengan nada cerianya, Jihan menjabat tangan Luna. "Haiiii tante Jihan, kita ketemu lagi..." Sapa Bryna dari ujung sofa. "Hi dedek..." "Ji, ini mbak Al kakak saya dan ini mas Adri suaminya..." Bian memperkenalkan. "Oh iya, mbak, mas, Jihan.." ucapnya semringah. "Mbak lagi isi ya?" Tanya Jihan saat melihat perut Aliya yang membuncit. "Alhamdulillah. Keliatan banget ya Ji?" "Hehehe iya mbak..." "Have fun yaaa.... Kalau ngumpul emang suka ramai gini..." "Assalamualaikum..." Bhima dan Jasmine sampai. Ralat, bukan Bian dan Jihan yang datang terakhir, tapi Bhima dan Jasmine. "Wa'alaikumsalam.." sahut semuanya, Bryna langsung lari memeluk Jasmine erat. "Sek, bentar tante mau salim oma dulu..." Jasmine langsung menghampiri mama papa dan menyalami bergantian lalu cipika-cipiki ke Jihan dan Mbak Al, juga Kani dan Luna. "Oiya ma, ada titipan dari ibuknya Jihan. Mas ambilin di mobil dulu..." Bian beringsut keluar, ia baru ingat tadi membawa ikan. Bian kembali dan menyerahkannya kepada Mama. "Ikan dori fillet, ma..." Ucap Jihan. "Ehh repot-repot lho ibukmu. Waa, doyanannya abang ini. Makasi yaa bilang ibuk..." "Nggeh ma..." "Abang ke mana ma?" Tanya Jasmine karena abang tak nampak sejak tadi. "Masih bob-... Ehh tuh dia bangun..." Ujar Mama saat melihat abang keluar dengan muka bantal sambil membawa selimutnya. "Abang, sini nak, ada tante Jasmine tuh. Salim tante nak..." Perintah Aliya. Jasmin langsung memeluk abang yang nemplok di tubuhnya. "Tante baru datang?" "Heem..." Abang melihat ada yang asing di antara tante-tantenya semua. Ada satu wajah yang baru ia lihat, Jihan. "Itu syapa tante?" Tanyanya saat melihat Jihan tersenyum ke arahnya. "Bang, itu ada tante baru, kenalan dulu gih. Kenalan dong..." Ajak Jasmine, abang menggeleng. "Loh kenapa?" "Nggak ah! Maunya tante Jasmine aja..." Abang memeluk leher Jasmine lalu gelendotan. "Abang nggak boleh gitu..." "Noooo daddy! Abang maunya ante Jasmine!!" Teriaknya. "Abaaaang, kok gitu syiiiih???" Jasmine makin bingung, tumben-tumbennya Abang begini. Jihan menghampiri Abang yang masih gelendotan dengan Jasmine, ia memberanikan dirinya mendekat. "Hai kamu ganteng namanya siapa??" "Hhhhhh... Nggak mauu!!!" Tolaknya keras. "Yauda yauda, masih ngantuk dia. Maaf ya, Jiih..." Ucap Jasmine. "Iya nggak apa, Jas..., namanya juga anak-anak..." Jihan tersenyum walau canggung, ada rasa teriris di hatinya karena Abang menolaknya mentah-mentah. Jasmine membawa Abang untuk cuci muka di kamar mandi, sementara Jihan kembali duduk di samping Bian dan diam. "Bian, ajak ngobrol dong Jihannya..." Ucap Adrian. "Loh katanya mau masak-masak, ma?" Bian segera mengalihkan topik, ia  belum tahu mau bicara apalagi dengan Jihan. Adrian hanya menggeleng saja melihatnya. Mama lantas membawa pasukannya ke dapur kecuali Aliya lalu memerintahkan semuanya untuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Mulai dari Kani dan Luna yang menggoreng ikan dori tepungnya, lalu Jihan dan Jasmine yang memotong sayur-sayurannya, lalu Bryna mencuci sayuran dan Mama juga Bunda Elle mengeksekusi menu hari ini yaitu sayur capcay telur puyuh, ikan dori tepung saus telur asin dan sambal matah, juga sambal terasi. "Tuh anak dua ngapain ma? Goreng apa cekikikan gitu??" Tanya Jasmine saat melihat Luna dan Kani cekikikan sambil menggoreng ikan di sudut dapur. "Nggak tahu.. Kayaknya lagi ada yg di gosipin. Biarin lah.." jawab mama sambil mengupas bawang dan bumbu lainnya. "Kata mas Bhim, kamu kuliah di Trisakti ya Ji?" "Iya Jasmine. Kamu bareng ya sama mas Bhima?" "Nggak, mas itu kakak tingkat aku. Jarak 3 tahun..." "Ooohh roman-roman di kampus ya..." Goda Jihan. "Hahaha, nooo.  Nggak kayak yang kamu bayangin kok..." Tawa Jasmine. "Lha terus, kalian ketemunya gimana?" "Ketemu di seminar, kenalan terus deket deh.. ya pokoknya gitulah..." Jawab Jasmine, Jihan terkekeh mendengarnya. "Btw gimana mas Bi?? Sekilas bisa bedain mereka nggak?" "Dingin. Bisa kok..." Jawab Jihan yakin. "Emang gitu Bian dari kecil, Jihan..." Sahut Mama. "Maafin yaa..." "Eh.. Mama... Hehehehe..." "Tapi lama kelamaan kamu bakal biasa kok. Kudu sabar, terus kita harus ngalah buat mulai. Gitu aja deh..." "Iya mama, Jihan akan coba..." Jawab Jihan tersenyum. Mama lalu sibuk lagi dengan capcaynya, sementara Bunda Elle sibuk dengan ikan dori telur asinnya. Wangi masakan sudah menguar kemana-mana membuat siapapun lapar di buatnya. Jasmine mengambil cobek untuk mengulek sambal buatannya. "Jihan, bisa nyambel?" Tanya Jasmine sambil mengulek cabai dengan teman-temannya di dalam cobek batu. "Aku nggak bisa masak, hehehehehe..." "Nggak apa-apa Jihan, kan belajar. Tuh anak dua, si Kani sama Luna apa bisa masak?" Sambar mama begitu mendengar obrolan kedua menantunya ini. "Ajarin ya, jas hhehehe. Kayaknya bisa mam.." "Aku pun lagi belajar Ji. Hahaha, kalau minta ajarin mama tuh expert..." "Duhh... Boleh-boleh nanti belajar sama mama ya. Belajar dari sekarang, Jih, Jas, biar nanti suami kalian betah..." Goda Mama membuat keduanya tersipu. Masakan semua sudah matang dan siap di santap. Yang bertugas di dapur semua membawa masing-masing masakannya ke meja, beserta piring dan sendok garpunya. "Ayo Una, Jihan. Biar aja nanti di cuci bareng, kita maem siang dulu.." ajak mama lalu beliau memanggil semua pasukannya yang sudah kelaparan untuk ke ruang makan. "Mam, kayaknya maemnya duduk di karpet aja deh..." Usul papa. "Oala iya ya pap..., Yaudah turunin deh ke karpet. Kita maem duduk di bawah ajaa.." Lalu semuanya pindah ke karpet depan tv setelah mejanya di geser agar semuanya muat. "Wah! Ikan apa tuh oma?" Pekik abang saat melihat ikan tepung di dalam piring saji. "Dori fillet, abang mauuu?" "Mauuuu mom.." Aliya lantas menyendoki nasi dan lauk untuk abang makan sendiri, lalu menyusul yang lain mengambil bagiannya masing-masing dan semua makan dengan khidmat sampai bersih tak tersisa. Selesai makan dan piring sudah kembali pada tempatnya, kini tinggal semuanya bersantai sambil menonton tv. Kumpul keluarga tak harus ke mall atau piknik di luar rumah kan? Di rumah sambil bercengkerama seperti ini juga cukup rasanya. Bahagia itu sederhana. Para laki-laki di sini sedang mengerubungi si abang, ikutan main lego dan yang lain sedang diskusi salah satu penyakit yang sedang mewabah akhir-akhir ini. Difteri. Yang beberapa di antaranya dapat menyebabkan kematian. Penyakit menular yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan yang terinfeksi karena bakteri dengan gejala yang meliputi mual, batuk dan pusing. "Ih kok serem, Oma?" Bryna bergidik ngeri mendengar penjelasan Oma. "Iya kamu makanya hati-hati ya dek..." Peringat Oma, Bryna mengangguk patuh. Sedang asyik yang lain mendengar penjelasan mama, tiba-tiba Abang melemparkan legonya  ke udara dan tepat mengenai kening...., Jihan. Pletukkk!! "Aduh!" Jihan reflek mengaduh. "Jih? Kenapa?" "Eeh, nggak apa-apa ma..., Kena ini nih.." Jihan menunjukkan sesuatu yang tadi mengenai keningnya. "Astaga, lego?" Pekik Aliya melihat lego yang sangat di kenalnya. Ia memutar tubuhnya ke belakang dan melihat si abang tengah berdiri mematung diam tak berdosa dan melihat yang menemani abang main semua terkapar tidur. "...Abang! Nggak boleh gitu, minta maaf sama tante Jihan.." Abang membuang mukanya ke arah lain sambil menyilangkan kedua tangan di d**a. "Nggak mauukk!!" Teriaknya lalu membanting mainannya ke lantai dan masuk ke kamarnya. "Mbak, udah, Jihan nggak apa-apa..." Jihan menenangkan Aliya yang sudah kesal karena kelakuab anak bungsunya hari ini. "Ya nggak sopan aja, Jih..." Aliya bersikukuh. "Mbak, udah nggak apa. Namanya juga anak kecil.." Aliya mengalah akhirnya. "Maaf ya Jih.." "Iya mbak, it's okay.." Bian yang mendengar suara Jihan pun langsung terbangun. "Ji?" Panggilnya setengah mengantuk. "Ada apa?" "Nggak apa mas. Ini kena legonya abang..." "Maaf ya Ji.." Jihan hanya tersenyum saja menanggapi permintaan maaf Bian atas kelakuan Abang. Mama juga jadi tak enak hati karena hal ini tapi ya, mau bagaimana? Namanya juga anak kecil, Jihan pun memakluminya. Mau di marahi juga Aliya tak tega memarahinya. "Ajak bicara Abang baik-baik ya, Al. Nggak sopan, tapi ingat, jangan di bentak ya..." Ujar Mama, Aliya habya mengangguk mengerti. Hari sudah sore, Jihan pamit pulang. Tadinya mama mau menahan hanya saja Jihan beralasan ada tugas kuliah yang harus ia selesaikan dan mama tak bisa menahannya lagi. Sepanjang jalan pulang juga Jihan diam saja, sesekali ia mengusap keningnya yang agak benjol karena lemparan Lego tadi yang ukurannya lumayan besar. Jihan juga jadi iri dengan kedekatan Jasmine dengan Abang, ada apa dengan dirinya? Apa Jihan jahat? Mengobrol saja tidak, main juga tidak, tapi ia seolah musuh besar Abang yang akan merebut Om nya. "Udah Ji, jangan di ambil hati ya..." Ujar  Bian. "Ya mas..., Nggak apa-apa..." Bian tahu, Jihan iri dengan Jasmine, tapi ya mau bagaimana lagi. Bian tak bisa memaksa, biarlah waktu yang akan membuat Abang sayang dengan calon tantenya yang baru ini. Haiii selamat jumat syoreeee yang mendung manja tapi nggak jadi hujan tapi jadinya geraaaahhhhh  Udahlah, ini updatenya mas Bian dan mbak Jihan, orientasi hari ke 2 #dahgituaja #awaatypo #SalamHelmProyek Danke, Ifa    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD