Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang lewat 30 menit, Bian baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Terbersit di kepalanya untuk menghubungi Jihan dan mengajaknya keluar untuk jalan berdua, first date mereka setelah pertemuan keluarga kemarin.
Bian segera mengeluarkan ponselnya dari laci meja kerjanya. Ia mencari kontak Jihan di antara sedikitnya kontak Line yang di miliknya.
Abiandra Satrio
Jihan
Kirana Jihan
Ya mas?
Abiandra Satrio
Kamu pulang kuliah jam berapa?
Kirana Jihan
Ini, 15 menit lagi kok, kenapa mas?
Abiandra Satrio
Waduh, tadinya saya mau jemput
Tapi saya baru bisa keluar kantor jam 3
Kirana Jihan
Yaudah gpp mas kalo gak bisa :)
Kan bisa next time
Abiandra Satrio
Memang ngga ada acara lagi?
Kirana Jihan
Nggak ada mas, saya mau langsung pulang sepertinya...
Abiandra Satrio
Mau ada acara?
Kirana Jihan
Mm..maksudnya mas?
Abiandra Satrio
Kalau saya ajak keluar bisa nggak?
Makan gitu, atau nonton kalau kamu mau?
Saya jemput ke rumah ya?
Kirana Jihan
Hmm.. Bisa.
Saya free kok pulang kuliah ini
Tapi emangnya mas gak sibuk?
Abiandra Satrio
Udah selesai sibuknya
Kirana Jihan
Hmm..., yaudah mas, boleh :)
Balasan terakhir dari Jihan tadi hanya di baca saja oleh Bian. Entah angin apa tiba-tiba senyum Bian mengembang semringah saat membacanya, inikah cinta?
Alamak!
Bian bukan lagi remaja menyek-menyek yang baru belajar deketin gebetan, bukan! Walau pada kenyataannya Bian memang sedang belajar mendekati Jihan, tapi tetap saja, ia bukan lagi 17 tahun yang lagi klepek-klepek cinta! Bian udah tua dan seharusnya tahu bagaimana menghadapi Jihan.
Cinta memang bisa membuat siapa saja jadi menggila. Ya, menggila karenanya, Bian contohnya. Bian yang terkenal dingin bisa tiba-tiba senyam-senyum bloon kayak gini.
Sementara di sisi lain, Jihan sedang berbunga-bunga, Shasya sampai heran kenapa setelah keluar dari lab sahabatnya jadi gesrek begini, senyam-senyum macam orang stress. Shasya tahu, pasti Jihan sedang senang karena Bian pasti mengajaknya ke suatu tempat. Pasti.
"Han, lu ngapa?" Tanyanya sambil menoyor kepala Jihan.
"Aduh! Pelan-pelan dong, Sya! Ntar gue b**o nih..., Ah! Ganggu aja..." Gerutu Jihan.
"Ya elu lagian, senyam senyum kek orang kurang obat apa over dosis bedah anatomy tadi sih? Nih pasti ada apa-apanya nih sama mas Bian nih, mesti ini..." Tebak Shasya asal sambil berjalan keluar menunggu go-jek mereka datang.
"Kalau gue bilang iya, gimana?" Goda Jihan membuat Shasya makin penasaran.
"Ih Jihaaaannn!!"
Jihan terkikik mendengar sahabatnya itu berteriak macam ayam. "Iya iya, gue mau pergi. Dia tadinya mau jemput, cuma baru bisa keluar kantor jam 3 jadinya ya jemput di rumah deh..."
"Ciyeeeeeee..., Mau ngedate nih yee..."
"Apaan sih! Nggak kok orang mau jalan doang, kita belum terikat jadi jangan anggap itu sebagai ngedate, okay!"
"Tapi akan terikat, kan??" Shasya menoel-noel dagu Jihan, menggodanya dengan gemas tanpa bisa Jihan membalas karena tak lama driver ojek mereka datang dan pisah saat di pintu keluar kampus.
Bian sudah di dekat komplek perumahan Jihan, ia buru-buru pergi tadi setelah membereskan pekerjaannya di kantor dan memastikan semuanya sudah beres dan rapi sebelum dirinya pulang tadi. Bian mendial nomor telepon Jihan lewat ponselnya yang terhubung Bluetooth jadi tak membahayakannya menelepon sambil berkendara seperti ini.
Tepat di dering ketiga Jihan menjawab telepon Bian.
"Jihan, sayaa ini di jalan menuju rumah
Ibuk ada?"
"Ibuk? Ada kok mas.." jawab Jihan lembut.
"Oke, kamu siap-siap ya.."
"Nggeh mas"
"Nanti saya pamit dulu ke ibuk..."
"Yaa mas..."
Jiham menutup telepon lalu segera bersiap-siap dan berganti baju. Ia memilih kemeja biru lengan panjang dan celana skinny jeans juga flatshoes hitam berpita lalu mengolesnya bedak warna natural serta lipmatte pink muda yang pas dengan kulit putih Jihan.
Tak lama ada suara derum knalpot, Jihan mengintip dari jendela kamarnya di lantai 2, Bian keluar dari sedan Civic hitamnya dengam kemeja berwarna sama dengan dirinya sore ini. Jihan seketika merona.
Astaga...
Jihan memegang kedua pipinya yang memanas tiba-tiba.
Bian mengetuk pintu cokelat berukiran khas jawa di depannya ini sambil mengucapkan salam. "Assalamualaikum.."
"Wa'alaaikumsalam. Iya, sebentar..." Ternyata ibu yang membuka pintunya. Beliau sudah pulang sejak siang tadi.
"Buk..." Sapa Bian lalu menyalami ibu.
"Eehh, Bian. Masuk nak..." Ibu mempersilakan Bian masuk ke dalam rumah.
"Iya buk..." Bian mengikuti Ibu ke dalam.
"Silakan duduk. Ada janji dengan Jihan?" Bian dan Ibu duduk berseberangan.
"Iya. Saya mau izin sama ibuk. Mau ngajak Jihan keluar, bolehkan, buk?" Izinnya.
"Oohh iya iya. Boleh..., Ibu panggil Jihannya dulu sebentar ya..." Ibuk beranjak dari sofa untuk memanggil Jihan ke atas.
"Nggeh buk..."
Tak lama ibu kembali dengan Jihan di sampingnya nampak cantik, manis. "Nak Bian, ini Jihannya..." Ujar ibu, namun Bian sepertinya sedang melamun, terpesona melihat Jihan.
"Emm..., Mas Bian?" Panggil Jihan.
"Eh iya..." Bian terkesiap. "Mmmm mau langsung jalan?" Ajaknya.
"Mm, boleh..." Sahut Jihan pelan.
"Buk, kalau gitu kami pamit dulu ya..." Bian dan Jiham bergantian menyalami Ibu.
"Oiyaiya..., Hati-hati. Titip ya, Bi..." Pesan ibu sebelum mereka pergi.
"Baik buk..."
Jihan sudah duduk di samping kiri Bian lalu memasang seat beltnya sambil Bian menjalankan mobilnya pelan. Jujur, sebenarnya berdekatan dengan perempuan seperti ini Bian sedang mengalami degdegan akut.
Degup jantungnya bergemuruh, mungkin kalau di periksa dengan stetoskop kini Bian sedang mengalami takikardia. Begitu pun Jihan, ia juga sedang deg-degan, menunggu Bian berbicara, ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, takut-takut tergagap menjawan pertanyaan Bian yang saat ini terlihat seperti dosen pulang mengajar dengan kemejanya yang di gulung sampai sikunya.
"Mau ke mana ini enaknya, Han?" Tanya Bian akhirnya berani setelah menyadari bahwa mereka jalan tanpa tujuan.
"Taman Anggrek aja gimana, Mas?" Sahut Jihan sambil menoleh ke arah Bian yang masih fokus menyetir.
"Boleh. Oiya, kamu semester berapa sih sekarang?"
"Masih semester 7 mas..." Jihan menanggapi.
"Lagi sibuk-sibuknya ya?" Bian mencoba untuk mencairkan suasana agar tidak jadi kaku.
"Ya begitulah mas... Lelah juga..." Jihan menghela napasnya berat.
"Udah nyusun skripsi?"
"Udah mas, nyicil-nyicil..." Jihan tak bisa menghindari pembicaraan soal skripsi ini.
"Kok nyicil? Kenapa nggak diseriusin sekalian?" Bian mengerutkan dahinya dalam saat mendengar Jihan menyicil skripsinya.
"Iya mas, karena saya masih aktif di bem.
Jadinya, yaa mau nggak mau saya nyicil, tapi ini udah 50% kok..." Jawab Jihan, bukan mencari alasan, tapi memang benar Jihan masih aktif di Bem kampusnya
"Good! Kurangin kegiatan bem kamu. Udah saatnya fokus skripsi..." Tegas Bian.
"Iya mas. Nanti saya kurangi..." Lalu Jihan menunduk setelahnya karena malu pada Bian, ia tampak jelas menunda pekerjaannya dengan terlalu fokus pada kegiatan di Bem-nya.
Setelahnya keheningan menyapa, seolah kehabisan bahan pembicaraan, Bian dan Jihan sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai mobil mereka masuk ke dalam parkir basement dan mendapatkan slot parkir.
"Udah sampai, Han. Yuk turun..." Ajak Bian, lalu ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Jihan.
"Makasi mas, yuk..." Jihan keluar lalu melemparkan senyumnya yang berhasil membuat Bian mematung beberapa detik dan kembali ke kenyataan setelah Jihan menutup pintu mobil dengan cukup keras.
"Mau ngapain kita?" Tanya Bian setelah mereka masuk ke dalam mall dan bingung akan kemana.
"Makan?"
"Kamu belum makan?" Bian mengerutkan dahinya lagi, Jihan menggeleng.
"Mas udah?"
"Udah kalau makan siang sih. Ini kan sore, ya makan sore, yuk cari..." Ajak Bian.
"Yuk..., Mas mau makan apa?"
"Pengen apa?"
Mereka bertanya berbarengan. Mereka salah tingkah, fix, Jihan seperti kepiting rebus saat ini.
"Loh?"
"Eh..."
"Bareng" gumam Jihan. "Hmmm saya nggak tahu nih lagi pengen apa?"
"Ada saran? Atau kamu yang milihin buat saya..?" Bian menatap Jihan dari samping, masih terlihat gurat malu-malu dan rona merah dari pipi Jihan yang putih itu.
"Kita ke global food street yuk!" Ajak Jihan antusias. "Di sana ada cafe favorit saya.
Bisa buat makan besar juga.."
"Yuk..."
Mereka langsung menuju eskalator untuk naik ke lantai atas, ke tempat rekomendasi dari Jihan barusan. "Ini mas tempatnya..." Ujar Jihan sambil mereka masuk ke dalam, netranya mencari tempat duduk kosong di tengah ruangan yang kebetulan hanya ada dua bangku di sana. "Gimana mas, suka tempatnya?" Tanya Jihan sambil menarik bangku lalu duduk di hadapan Bian.
Bian mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe ini. "Hmm, lumayan, nyaman sih. Makanan yang enak apa?"
"Aku suka ini" Jihan menunjuk menu spagethi aglio ollio.
"Ada yg lain? Kamu pilihkan saya ya
.?" Pinta Bian. Ia ingin lihat, sejauh mana Jihan bisa membuatnya berselera untuk makan.
Jihan membalik halaman buku menu di tangannya. "Mau ini mas?" Jihan menunjuk Mie Ireng Dori Pedas. "Mas suka pedas kan?
Minumnya es cendol.."
"Boleh..." Jawab Bian singkat, padat, jelas.
Lantas Jihan memanggil waitress untuk mencatat pesanan-pesanannya. Bian memperhatikan Jihan yang sedang menyebutkan apa yang di inginkannya. Entah rasa apa yang mulai tumbuh menggeliat di hati seorang Abiandra, inikah cinta itu? Tapi rasanya terlalu cepat bila di katakan, Cinta.
Oh, suka mungkin. Ala bisa karena terbiasa, cinta tumbuh karena biasa, ya, Bian pasti bisa. Dalam diam ia mencoba berjuang untuk Jihan, tanpa perlu di ketahuinya. Bian tahu, Jihan bukan seperti perempuan pada umumnya, ada yang lain dari Jihannya.
"Jihan..." Panggil Bian setelah waitress tadi pergi.
"Ya mas?" Jawab Jihan serta senyumnya.
"Kamu hobinya apa?"
Pertanyaan yang amat sangat, biasa, dengan tampang yang amat sangat, standar. Kek merk pulpen yang harganya dua ribuan, sering hilang di kelas.
"Mostly aku suka semuanya mas..."
"Semuanya itu apa? Ya masa nggak ada yang lebih condong gitu..." Tanya Bian lagi masih dengan tampang datarnya.
"Hmm.. Apa ya, saya lebih banyak di kampus sih mas. Jadinya yaa, hoby seperti terbengkalai aja..." Jawab Jihan menghela napas lelah, mengingat begitu banyak kegiatannya di kampus akhir-akhir ini, di tambah dengan pengerjaan skripsinya.
"Hmmm..., oke oke..."
"Padahal saya suka jalan-jalan, traveling
Tapi aku nggak ada waktu banyak untuk itu, kalau pun ada, liburanku seperti di kejar-kejar tugas, nggak tenang..." Jawab Jihan panjang lebar.
"Next time kita jalan-jalan ya..." Ajak Bian.
"Wow, pede ya mas nya..." Batin Jihan.
"Hmmm, emangnya kita mau jalan kemana nanti, mas? Kan mas pasti banyak kerjaan di kantor..."
"Bisa diatur..." Sahut Bian seraya menyunggingkan senyum tipisnya. Lalu makanan yang mereka tunggu datang akhirnya. Jihan dengan lahap menyantap makanannya karena memang sejak siang, Jihan belum makan karena mual akibat lab anatomy tadi.
Bian juga segera menyantap mie dan ikan dori krispinya. Tanpa Jihan tahu, ikan ini memang favorite Bian sejak kecil, makanan sehari-harinya apalagi di goreng krispi begini. Bian bisa nambah kalau memang makannya di rumah.
15 menit kemudian piring mereka bersih, tanpa sisa apapun. Dua orang saking kelaparan, sampai saat makan mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.
"Gimana mas, enak kan?" Jihan menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Enak. Selera kamu ok juga..." Jawab Bian lalu menggeser piringnya.
"Saya sering ke sini sama ibuk. Oh iya, gimana mas rasanya tinggal di Jerman?" Kini giliran Jihan menggali informasi tentang calon suaminya.
"Ya gitu. Sama aja sebenernya..."
"Monoton ya?"
"Nggak punya teman.."
"Serius mas gak punya teman?" Jihan kaget mendengarnya, segitu tertutupkah Bian sampai-sampai teman saja di sana tidak punya?
"Itu yg paling mendominasi. Ada sih, satu dua..."
"Orang Indonesia pasti"
"Iya.." sahut Bian singkat.
"Nggak asik ya di sana ternyata..."
"Lagipula jauh dari keluarga pasti nggak enak ya mas?" Tebak Jihan.
"Hahaha iya saya sering homesick" tawa Bian renyah di sambut kekehan juga dari Jihan. "Besok minggu kalau nggak ada kegiatan, main ke rumah, biasanya mama kalau minggu suka ada aja kegiatan. Dan, lagi ramai aja rumah. Kali aja, nanti masak-masak bareng" ajak Bian menggundang Jihan ke rumahnya.
"Oya? Wah boleh mas..." Jihan antusias.
"Lagi demen bikin kue sama Jasmine soalnya. Itu lho, calonnya Bhima. Kamu ikutan coba aja, kamu kan juga belum kenal Kani..."
"Kani? Itu siapa mas?" Tanya Jihan heran, asing mendengar nama Kani.
"Adik saya. Sama mbak Al, ibunya si kembar kemarin..."
"Oohh mas masih punya adik lagi. Seru ya.
Yaudah, nanti minggu aku main ke rumah mas..."
"Saya jemput..."
"Eheh nggak usah mas, saya sendiri aja. Kasian mas nanti bulak-balik..."
"Jangan, saya nggak mau ngambil resiko..." Larang Bian.
"Emang kenapa mas?"
"Nggak apa. Taksi di Jakarta makin nggak aman..."
"Nggak aman?" Ganti Jihan mengerutkan dahinya.
"Ya. Beberapa hari lalu Jasmine dan Bhima kena begal..."
"Astagfirullah. Kapan mas?"
"Baru banget kejadiannya. Jadi yaaa kamu kalau kuliah mending bareng aja sama temen.."
"Saya emang nggak pernah jalan sendirian sih mas.. Yaa.. Ibu sama bapak sediakan supir untuk saya ke kampus, tapi ujungnya selalu ku suruh pulang, dan yaa sayanaik ojek online ke kampus. Kok ngeri ya mas, tapi mereka nggak apa-apa kan?" Jihan makin khawatir.
"Nggak apa-apa. Cuma luka kecil kok..."
"Syukurlah mereka nggak apa-apa saya jadi parno..."
Bian hanya menanggapi dengan anggukan atas reaksi Jihan barusan. Obrolan mereka berdua sudah menjangkau kemana-mana, Jihan senang dengan si kembar keponakan kesayangan Bian yang kemarin ikut datang ke rumahnya, lalu Bian juga bilang kalau akan ada satu keponakan lagi yang akan datang, yang masih di kandungan Aliya saat ini.
"...Makanya kan sekarang mbak Al udah nggak kerja. Nggak dibolehin kerja lebih tepatnya..." Ungkap Bian.
"Mbak Al dokter juga atau kerja kantor?"
"Dokter anak..."
"Oh wow..., kayak mama nya mas ya..."
"Yaa..." Jawab Bian singkat.
"Iya pasti suaminya mbak Al ptotektif banget sama mbak Al..." Diam-diam Jihan juga membayangkan nanti Bian akan seprotektif Adrian.
"..Mas, habis ini mau kemana?" Lanjut Jihan.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau mampir beli sesuatu untuk temanku, lusa dia sidang. Boleh kan, mas?"
"Boleh. Mau cari apa?"
"Rencanaku sih mau belikan dia tas..."
Bian berjalan di samping Jihan, tanpa berani menggandenh tangan Jihan. Mereka menuju salah satu counter tas di sana, membeli hadiah untuk teman Jihan yang lusa akan sidang.
Indonesian typical.
"Jadi beli apa, Han?" Tanya Bian yang sudah duduk di salah satu bangku depan rak berisi tas-tas wanita berjejer.
"Jadi beli ini aja kayaknya mas..." Jihan mengambil tas berwarna hitam elegant.
"Baguss.."
"Yaudah, aku ambil ini aja.." Jihan lalu membawanya ke kasir untuk di bayar, Bian cukup kaget saat melihat harganya. Segini mahal dan sering kah Jihan menghadiahi teman-temannya?
"Emang suka kasih hadiah-hadiah gitu kalau lagi sidang?" Tanya Bian skeptis saat mereka keluar dari counter tadi. "Tiap temenmu kamu kasih itu?"
"Nggak sih mas. Cuma dia aja salah satu temen deketku, kami bertiga, dan dia lusa sidang duluan..." Jawab Jihan.
"Owalah kok saya lihatnya semacam tradisi yang dipaksakan, ya?"
"Kalau ini nggak kok mas. Serius deh..."
"Kalau kita nghak kasih gift jatuhnya kayak nggak pantes. Yaaa saya ini bicara secara umum aja. Selesai sidang pajang foto dengan beragam hadiah di tangan, gitu deh..."
"Iya habis gimana mas,.. Dia kan teman dekat saya. Kalau nggak kasih sayanya gak enak..." Bela Jihan.
"Nah tuh, rasa nggak enak. Nggak apa-apa Jihan, saya nggak melarang kamu kok. Maaf ya, kalau kamu kaget dengan saya yang kayak gini..." Sesal Bian.
"Ehh..., Nggak apa-apa mas. Saya nggak marah kok.." Jihan melempar senyum ke arah Bian.
"Udah? Yuk pulang. Atau masih mau muter?"
"Udah yuk.." Jihan sudah selesai, ia enggan berkeliling lagi, perasaannya sudah tak karuan lagi.
"Sini saya bawain..." Bian hendak mengambil bawaan Jihan namun ia mengelak.
"Nggak usah. Saya aja mas, nggak apa-apa..."
"Latihan. Latihan sweet..." Ucapnya masih dengan nada datar.
*Eheheh mas bisa aja..." Jihan hanya bisa terkekeh mendengar Bian berbicara seperti tadi, walaupun masih ada rasa mengganjal di hati Jihan karena Bian yang masih kurang ekspresif.
Mobil Bian sudah kembali melesaki jalanan Jakarta bersama ribuan kendaraan lainnya. Kelap-kelip lampu dari mobil yang mengantre untuk jalan selalu menghiasi malam di Jakarta, serta gedung tinggi berpuluhan lantai menjadi pemandangan yang tak asing lagi.
"Makasi ya mas. Udah di jemput, anter pulang juga..." Ucap Jihan saat mobil sudah berhenti sempurna di depan rumahnya.
"My pleasure, semoga nggak kapok jalan sama saya..." Sahut Bian.
"Ehehe, nggak kok mas saya nggak kapok.
Hati-hati ya mas.." Jihan melepas seat belt dan bersiap turun.
"Oke. Salam buat ibuk..."pesan Bian.
"Iya mas nanti aku sampein. Assalamualaikum.." Jihan keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumahnya.
"Wa'alaikumsalam..." Bian kembali menjalankab mobilnya dan pulang kembali ke rumah.
Jihan masuk ke dalam rumah yang tampak sepi, hanya ada ibu yang sedang menonton tv di ruang tengah sendirian. "Udah pulang dek?"
"Udah buk" Jihan menyalami ibu lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Gimana nak acara jalannya sama mas mu?" Goda ibu.
"Masmu masmu... Ibuk ih" protes Jihan.
"Emang dia udah mau apa..."
"Lho... Iya tooo??"
"Mas Bian itu kaku buk, nggak asyik..."
"Yaa dia emang gitu, tante lanny juga ngomong ke ibuk kok. Ya laki-laki wajar kalau kaku nak, Bian itu nggak pernah pacaran kata mamanya..."
"Ya tapi Jihan belum biasa buk..."
"Biasakan dong! Ala bisa karena biasa dek..."
"Hmmm. Ya Jihan coba buk. Tapi kalau Jihan doang yang berusaha ya Jihan nggak sanggup buk..."
"Mas Bian akan berusaha pasti dek. Ini kan baru date pertama kalian kan?"
"Date apaan sih buk. Cuma makan doang ih buk..."
"Lho anak-anak jaman sekarang bilangnya date kan?"
"Date mah sweet-sweetan. Ini nggak..."
"Ya sih. Kamu ngeh nggak tadi, pas kamu keluar dari kamar? Mas Bian itu nggak kedip lho dek..." Goda Ibu lagi.
"Ck! Ibuk ih..." Rajuk Jihan.
"Hayoo... Blushing tuuh ciiiyeee..."
"Nggak buk..! Jihan kesel! Ibuk nggak bisa bedain ih..."
"Kesel kenapa to cah ayuuu?? Hmm?"
"Ibuk mah kalau cuma mau melambungkan Jihan nggak mempan buk.
Ya mas bian di luar ekspektasi Jihan. Dingin banget tak terjangkau...."
"Emang ekspektasimu gimana?"
"Sweet..."
"Dia hanya belum terbiasa. Lain mungkin dengan kembarannya. Atau mungkin cara menunjukkan "sweetnya" dia lain caranya.
Sabar-sabar ya.. Dulu bapakmu emang gimana? Sama kayak mas Bian, bahkan lebih dingin..."
Jihan hanya berdeham menanggapi ibu.
"...Ibuk percaya Mas Bian itu bisa jadi yang terbaik di antara yang baik buat Jihan..."
"Iya buk. Insha Allah, ya dijalani aja dulu. Buk, Jihan capek, udahan dulu ya ceritanya, mau ke atas..." Pamitnya.
"Yaudah, kamu istirahat gih. Besok kuliah kan? Gih bobok, udah malam..."
Jihan mengangguk lalu naik ke kamarnya, Jihan lelah, badannya butuh sandaran, kasur cinta pertamanya. Setelah ganti baju Jihan segera menghempaskan tubuhnya ke sana, bergelung dengan selimutnya lalu terpejam masuk ke dalam dunia mimpi.
Syelamat pagiii loveeee
Harusnya mas Bian update semalem, tapi karena capek dan keburu ngantuk baru sekarang deh hehehehe
Oke, selamat menikmati, ramaikan lapak mas Bian yaa
#dahgituaja
#awastypo
#salamhelmproyek
Danke,
Ifa