Design 3

2667 Words
Hari ini sudah hari ke-kesekian Bian bekerja di kantor Papa. Sejauh ini baik-baik saja, belum ada yang aneh-aneh, tapi entahlah bagaimana kedepannya. Bian masih saja jadi bahan perbincangan satu kantor karena ketampanannya, padahal Bian tak pernah merasa tampan, ia biasa saja. Mungkin orang-orang yang berlebihan. Ah sudahlah, Bian tak mau memikirkannya, lebih baik ia segera naik ke lift dan masuk ke ruangannya, mengerjakan sketsa untuk klien keduanya selama bekerja di sini. Ia sudah tak pernah lagi menaiki lift khusus jajaran direksi, ia lebih memilih untuk naik lift karyawan saja. Pasalnya Bian merasa lagi, bahwa dirinya ini bukan apa-apa di kantor Papa, ia masih bawahan, jadi tidak sopan rasanya kalau menaiki lift direksi dengan memanfaatkan statusnya sebagai anak yang punya perusahaan. Seperti saat ini, Bian naik dan berdiri di paling  belakang. Tak ada yang menyadarinya kalau ia naik lift yang sama dengan para karyawan lainnya. "Eh, Pak Bian tuh dingin banget ya.." ujar salah satu karyawan perempuan di depan Bian. "Iya, kemarin juga gue anterin laporan buat di tanda tangani sama dia juga cuma suruh gue masuk, baca sekilas, tanda tangan, terus nyuruh gue keluar..." Sahut teman di sebelahnya. "Samaa, gue juga. Irit bener ngomongnya, senyumnya..., Ganteng sih tapi dingin kayak kulkas" Timpalnya lagi. Bian hanya menggeleng lemah sambil menyunggingkan senyum tipis miringnya mendengar bahwa ia di bicarakan dalam lift padahal dirinya ada di sini juga. Masa bodo. Ting... "Permisi.." Bian menerobos perempuan tadi untuk turun di lantai tujuannya. Dan begitu Bian turun, kedua perempuan tadi tiba-tiba melotot dengan ekspresi kaget karena yang mereka bicarakan ternyata bersama mereka di belakang. Sial!!! Bian berjalan santai sambil menjinjing tas dan menyampirkan tabung panjang hitam di pundaknya berisi lembar-lembar sketsa nya mengarah ke ruangannya. "Pagi, Pak..." Sapa Patricia ramah sambil berdiri menyambut Bian. "Ya, Pagi..." Sahut Bian lalu berlenggang masuk ke ruangan setelah ia menempelkan access card miliknya lalu menyelipkannya pada kotak khusus yang tertempel di dinding agar listriknya menyala dan pintu bisa di buka dari luar. Eh kok serasa di hotel ✌️ Bian duduk di kursinya lalu menyalakan MacBooknya dan mengecek beberapa email yang masuk dari klien dan calon kliennya pagi ini. Tiba-tiba pintu terketuk. "Ya masuk..." Ucapnya tanpa melihat ke arah pintu. "Permisi, Pak..." Oh Patricia. "Ya, ada apa?" Bian lalu mengalihkan pandangannya dan melihat Patricia berdiri dengan file di tangannya. "Ini pak, saya mau menyerahkan file kontrak yang harus bapak tanda tangani dan ini schedule bapak selama seharian ini .." jelas Patricia lalu menyodorkan 1 file dan selembar schedule untuk Bian hari ini. Bian segera membubuhkan tanda tangannya pada file setelah membacanya dengan seksama dan teliti. Lalu menyerahkan kembali pada Patricia untuk di approve oleh Papa. "Terimakasih, Pak..." Ujar Patricia menerima kembali filenya. "Saya permisi, Pak..." "Tunggu, Pat. Sebentar.." Bian membaca seksama schedule di tangannya ini. Ia mengerutkan dahinya dalam-dalam, Patricia mengkeret takut karena takut ada yang salah. "A..ada apa, Pak?" Tanya Patricia takut-takut. "Kamu ini bagaimana sih, Patricia! Ini schedule jam 7 malam ngapain? Ngelobby klien? Kamu udah kerja berapa lama sih jadi Sekretaris!!?" Sarkas Bian kesal saat melihat ada yang out of schedule. "Ma--maaf Pak, tapi pihak klien yang minta. Ya, saya bilang oke, karena bapak nggak ada jadwal juga..." Jawab Patricia takut. Bian mendengus kesal mendengar penjelasan Patricia. "Kenapa kamu nggak tanya saya dulu? Malam ini saya ada acara keluarga yang nggak mungkin saya tinggal! Re-schedule, telepon pihak klien segera..!" Perintahnya lalu menyerahkan lembar schedule tadi kembali ke Patricia untuk di ketik ulang. "Pagi-pagi bikin narik urat aja!" Gerutu Bian sambil membaca dan membalas email-emailnya lagi. Sementara di rumah Jihan.... "Ji, pokoknya nanti kamu nggak boleh pulang telat ya! Ibuk nggak mau tahu pokoknya..." Ancam Ibu saat Jihan melahap roti selai nuttelanya. "Heum buk.." jawabnya sambil kembali mengunyah. Jihan sudah tahu kalau hari ini keluarga Prayuda akan datang ke rumahnya, ibu sudah memberitahunya sejak kemarin dan sudah mewanti-wanti Jihan untuk tidak pulang terlalu sore hari ini, ibu bahkan memilih cuty untuk turun tangan masak sendiri demi menyambut calon keluarga mertuanya. "Ya udah buk, yah, Jihan berangkat ya. Assalamualaikum..." Pamitnya lalu menyalami Ayah dan Ibu nya. "Wa'alaikumsalam..." Jihan lalu keluar rumah dan pergi ke kampus. Sampai hari ini Jihan bahkan tak tahu wajah Bian seperti apa, ibu yang katanya berteman dekat dengan Mama nya Bian bahkan tak bisa menunjukkan fotonya. Jihan jadi menerka-nerka seperti apa wajah Bian, ibu juga cuma bilang kalau Bian itu tampan, selebihnya ibu tak tahu. Ia pasrah saja lah. Kalau memang cocok ya lanjut, nggak juga yaaa... Gimana ya..., Ya pokoknya lihat nanti lah. Jihan enggan memikirkan dan berekspektasi macam-macam. Sudah cukup Jihan kecewa bila terus berkespektasi macam-macam. Sampai di kampus, Jihan langsung masuk ke kelas bersama Shasya karena tadi mereka bertemu di gerbang. "Nanti malam jadi keluarga calon lo datang ke rumah, Han?" "Jadi, Sya dan gue nggak boleh balik sore-sore. Sorry ya gue nggak jadi nemenin lo nyari jurnal ke toko buku..." Sahut Jihan pelan sambil membuka buku catatannya. "Iya, nggak apa-apa, Han. Gue bisa sendiri kok..." Jihan hanya mengangguk-angguk mengerti sambil mulai menyalin catatan dari buku Shasya, catatannya kemarin hilang. Bian baru saja keluar dari ruang meeting bersama Papa juga beberapa orang lainnya. "Bian..." Bian memberhentikan langkahnya dan membiarkan beberapa orang pergi dulu baru ia berbicara dengan Papa. "Yes, Pap?" "Nanti malam jangan lupa..." Papa menepuk pundak  Bian pelan, mengingatkan kalau nanti malam jangan lupa. "Nggam kok, Pa. Bian nggak lupa..." Jawabnya tersenyum sekilas. "Ya udah kalau gitu. Ada sesuatu yang mau di bawa untuk Jihan?" "Ah, nggak, Pa. Bian mau ketemu dulu sama Jihan. Masalah hadiah.. nanti aja..." Papa hanya mengangguk tanda paham, lalu mereka turun dengan lift lalu menuju kantin kantor di belakang. "Pa, boleh ceritain ke Bian nggak, gimana dulu Mama sama Papa? Apa di jodohin juga atau gimana?" Tanya  Bian tiba-tiba saat mereka selesai memesan makanan. Papa tersenyum penuh arti. "Dulu Mama itu bintang di sekolah, banyak laki-laki yang ngejar mama, buat jadi pacarnya. Tapi ternyata justru Papa yang nggak ada usahanya yang berhasil dapatin Mama.." Papa menjeda sebelum melanjutkan ceritanya. "Lulus SMA, mama papa lolos seleksi UI, kuliah bareng beda jurusan. Lulus kuliah, Papa lamar mama, mama mau menikah sambil jalanin koas and our life goes on, having a baby, your sister. Then we have to separate with her for about 17 years, and you know it right?" Bian mengangguk, ia tahu cerita soal itu, akan berjam-jam bila di ceritakan kembali. "...Kamu percaya, mama pernah minta cerai ke papa?" "Hah? Cerai, Pa? Ah papa bercanda nih..." "Serius. Mama dulu minta cerai setelah mbakmu lahir, demi papa bisa dapat anak laki-laki, tapi papa nggak mau. We survive until now..." Papa menutup ceritanya. "Seberat itu kah kehidupan rumah tangga, pa?" Tanya Bian sendu tiba-tiba. "Seperti pohon aja, Bi. Life is never stop learning, Bi... Apalagi setelah kalian punya anak, semuanya akan berubah..." Bian mengangguk pasti lalu makanan mereka datang dan menyantap makan siangnya dalam diam. Saling menyelami isi pikiran masing-masing, Bian sedang menyusun kalimat demi kalimat apa yang akan ia ucapkan saat bertemu Jihan nanti. Semua sudah kumpul di rumah, termasuk Bhima dan Jasmine yang akan ikut menemani Papa, Mama juga Bian ke rumah Jihan. Si kembar pun tak kalah antusias, sejak siang tadi mereka sudah berpesan agar di bawa juga ke rumah calon tante barunya ini. Bian sudah siap dengan setelan batik khas Solo juga celana hitam panjang yang membalut tubuh tingginya serta pantofel hitam  mengkilat di kedua kakinya. Mama dengan kebaya sederhananya, Papa dengan batik yang sama dengan Bian dan Bhima, serta Jasmine dengan kebaya kutu baru nya. Mereka bergegas berangkat setelah maghrib ke rumah Jihan di Jakarta Barat. Bian menyetir mobil Papa, dan si kembar ada di mobil satu lagi bersama Jasmine dan Bhima. Setelah berkutak dengan jalanan Jakarta yang cukup macet karena bertepatan dengan jam pulang kantor akhirnya mereka sampai di depan rumah Jihan. Mama sudah menelepon Tante Fitri tadi saat mobil mereka sudah mendekat ke arah rumah Jihan jadi Tante Fitri dan Om Khafi sudab bersiap menyambut di pintu rumah. Mama langsung cium pipi kiri-kanan dengan Tante Fitri dan Papa menyalami Om Khafi yang sudah menunggu sejak tadi. "Selamat datang, Mai, Hardi..., Duh akhirnya ya.." ujar Tante Fitri "dan Ini pasti Bian ya?" "Assalamualaikum, Tante, Om.." Bian langsung menyalami calon Ibu dan Bapak mertuanya. "Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka kompak. "Eh, ini Bhima sama.. Pacarnya ya, Mai?" Tebaknya, Bhima dan Jasmine ikut menyalami Tante Fitri dan Om Khafi juga lalu di persilakan masuk dan duduk di ruang tengah "Dan ini, Mai?" Tante Fitri menunjuk si kembar yang sejak tadi diam-diam saja. "Ini cucuku, Fit. Anaknya Aliya, sulungku..." Jawab Mama. "Maunya ikut, nggak apa-apa yaa.." "Oalahh, iya nggak apa-apa tho..., Malah seneng rame jadinya..." "Mamas dedek, salim Nenek sama Kakek, nak" perintah Mama. Si kembar lantas menyalami keduanya bergantian. "Kamu cantik banget sayang. Siapa namanya?" "Bryna, nek.." jawab Bryna tersenyum manis. "Aduh, cantik. Yang ini ganteng juga, siapa namamu le?" "Bryan, nek..." "Mai cucunya udah gede-gede yaa..." "Iya Fit, masih ada adeknya tapi lagi sama mommy dan daddynya di rumah. Oh iya, Jihannya mana, Fit?" "Ada-ada. Sebentar, ta panggil anaknya.." Tante Fitri naik ke atas memanggil Jihan yang sudah siap di depan meja rias. Ia sedang ketar-ketir karena akan bertemu Bian untuk pertama  kalinya. Mereka berdua turun dari atas dengan Jihan yang menunduk malu-malu. Dan Bian, sejenak distrak saat matanya bertemu dengan mata Jihan di beberapa detik pertama. "Nah, ini Jihannya..." Ujar Tante Fitri ceria. "Waah ini Jihan..? Cantiknya, Fit.., kok ya aku nggak pernah tahu ya dulu..." Mama meneliti Jihan dari atas hingga bawah, Jihan lalu menyalami Mama dan Papa. "Assalamualaikum tante, om.." sapanya. "Waalaikumsalam sayang..." "Nah, ini mas Bian nya..." Yang di sebut lantas berdiri sejajar dengan Mama dan Papa dan Bian menyalami Jihan. "Yang ini Bhima, jangan ketuker yaaa..." "Hehehe. Iya tante..." Sahut Jihan malu-malu. "Tapi ntar kalau udah biasa nggak bakal ketuker kok..." Seloroh Papa di sambut tawa yang lainnya. "Euumm, Mas Bian yang nggak pakai kacamata ya..?" Tanya Jihan. "Nah iya, cara membedakan dengan mudah ya gitu..." Sahut Mama, Bian masih malu-malu ingin tersenyum. "Dan di sebelahnya mas Bhima itu calonnya mas Bhima..." "Halo Jihan, saya Jasmine.." Jasmine mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jihan. "Haii, Jihan..." Jihan menjabat tangan Jasmine, lalu mereka kembali duduk. "Jasmine cantik ya.." pujinya, Jasmine tiba-tiba tersipu. "Nah, jadi gimana nih Mai, Hardi, enaknya kapan anak-anak kita di resmiin?" "Saya sih terserah anak-anak aja, Fit.." jawab Mama. "Tapi apa nggak sebaiknya mereka biar kenalan dulu?" Kini giliran Om Khafi bicara. "Yaa boleh. Kenalan dulu aja yaa, Jihan, Bian?" Ujar Papa, Bian mengangguk. "Kalau Bhima dan Jasmine November nanti, Fit..." Jelas Mama. "Oiya? Wah.. Udah berapa lama pacaran?" Tanya tante Fitri penasaran. "Nggak pakai pacaran tante.." sahut Bhima. "Eh? Terus?" "Saya nekat langsung lamar dia..." Tegas Bhima. "Wah, apa mau dibarengkan sama mereka, Mai?" "Di barengi? Kayaknya kecepatan yaa, November soalnya. Nggak deh, Fit, biar  Bian dan Jihan kenalan dulu aja, jangan terlalu buru-buru juga..." Sahut Mama. "Ya, ya benar. Kita lihat mereka ke depannya bagaimana ya..." Putus Om Khafi. "Nggg Tante, Om, kalau boleh saya mau bicara dengan Jihan berdua? Di belakang mungkin?" Izin Bian di tengah-tengah para orang tua mereka berdiskusi. "Silakan, Bian. Jihan, temani masmu.."" bisik Tante Fitri. "Ya buk. Yuk mas, kita bicara di belakang..." Ajak Jihan. Mereka berdua lantas pergi ke teras belakang agar punya waktu untuk bicara berdua. "...Duduk mas..." Ajak Jihan di sambut senyum dari Bian. "Ada apa ya mas..?" "Nggak apa-apa Jihan, saya rasa kita butuh waktu untuk bicara berdua..." Jawab Bian. "Iya mas..." Jihan menunduk malu-malu. Bian menarik napasnya panjang sebelum mengutarakan pertanyaannya. "Menurut kamu, soal perjodohan ini. Bagaimana?" "Yaa, saya sih manut aja mas, selama pilihan bapak sama ibu itu terbaik ya kenapa nggak? Menurut mas sendiri?" Jihan balik bertanya. "Setelah lihat saya langsung, bagaimana? Apa yang kamu pikirkan tentang saya?" "Jujur mas, saya sempat distrak tadi..." Jihan belum berani menatap Bian langsung. "Saya juga, Jihan.." batin Bian. "...Mas lebih ganteng dari ekspektasi saya.." gumam Jihan tapi masih terdengar Bian. "Jadi karena tampang?" Sarkas Bian tiba-tiba. "No! Bukan. Jangan salah paham..." Jihan segera meralat kalimatnya tadi. "Lalu apa bedanya saya dengan Bhima? Kami kembar..." "Sekilas saya lihat mas dengan mas Bhima itu lain. Sejak awal, ibuk juga sudah bilang kok kalau kalian kembar, tapi sayang, ibuk belum kasih lihat foto mas ke saya, saya hanya meraba dan menerka saja wajah mas seperti apa selama ini..." Jawab Jihan pelan namun masih terdengar. Bian menautkan jari jemarinya sambil menatap Jihan yang berbicara masih menunduk, tak berani menatapnya. "Jujur, kenalan begini aja belum cukup. Saya tahu kamu baik, saya mau kenal kamu lebih, boleh?" Izin Bian baik-baik. "Boleh mas..." Jihan mengangkat dan menganggukkan kepalanya, Bian tersenyum. "Sayaa juga mau kenal sama mas..," "Kamu kuliah di Trisakti?" "Iya mas.. Mas kuliah dimana?" "Saya kuliah di Jerman. Di Freie, Berlin..." Jawab Bian. "Jurusan apa mas?" Mendadak Jihan jadi amnesia. "Masak ndak tahu?" "Saya lupa, hmm.. Arsitektur ta?" "Yap, saya kerja di kantor papa sekarang. Gimana kuliah kamu?" "Alhamdulillah lancar mas. Gantikan papa ya mas?" "Belum sih, saya masih jauh untuk bisa berada dalam posisi menggantikan papa. Sayaa masih belajar..." "Ya nggak apa-apa mas, pelan-pelan pasti mas bisa seperti papa mas..." Jawab Jihan penuh arti. "Kapan-kapan saya jemput di kampus, bagaimana?" Tawar Bian. "Jemput di kampus? Hmm boleh. Tapi apa mas nggak sibuk?" "Kalau saya nggak sibuk. Oh iya,  boleh minta kontak kamu, like, phone number or line id?" "ID line saya Jihannn , triple N dan nomor saya, +62812-8875-9674" jawab Jihan. "Kenapa harus triple nnn begitu?" Bian mengerutkan dahinya saat mendengar id line Jihan. "Nggak apa-apa, saya suka aja. Biar nggak lupa , hehe.." kekehnya. "Oke, yang ini ya? Saya add.." Bian menemukan line Jihan  akhirnya dan langsung add. "Iya yang itu mas.." "Okee, Yaudah, kita masuk lagi yuk. Nggak enak lama-lama di luar..." Ajak Bian. "Yuk mas.." Mereka masuk kembali ke dalam setelah di rasa cukup puas dengan waktunya berdua di teras tadi. "Udah ngobrolnya?" Sambar Tante Fitri ketika melihat Bian dan Jihan masuk. "Udah tante..." Sahut Bian sambil tersenyum. Tante Fitri langsung mengajak mereka semua makan malam bersama karena jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. "Yawes Fit, saya kira mungkin cukup lah untuk saat ini. Biar selanjutnya mereka kembangkan sendiri. Sepertinya nih, dedek udah mulai ngantuk, kami pamit ya, Fit, Khafi..." Ujar Mama setelah di rasa semuanya sudah cukup. "Oh ya ya..., Nanti kita ketemu lagi.. Oh ya besok sekolah ya? Makasi lho udah jauh-jauh main kemari..." Sahut Tante Fitri semringah. "Sama-sama, Fit. Ayo sayang salim Kakek Nenek dulu..." Perintah Mama meminta si kembar untuk pamit juga. "Duh.. Pinter.. Hati-hati yaa.. cah ayu, bagusku..." "Iya, nek..." Yang lainpun menyusul untuk pamit, Jihan masih malu-malu jadi ya, dia hanya bisa melempar senyum dan menganggukkan kepalanya saat Bian berpamitan padanya. "Mas, gimana? Cantik kan?" Tanya Mama saat mobil mereka sudah keluar dari komplek perumahan Jihan tinggal. "Cantik. Tapi Bian nggak bisa langsung mutusin iya atau tidak, jalani aja dulu.." jawab Bian santai. "Tapi dia masih kuliah lho, mas. Nggak apa-apa kan?" Mama kembali meyakinkan. "Ya nggak apa-apa. Mas tunggu..." Jawabnya lagi. "Kenalan dulu ya, kalo kamu nggak sreg yawes, mama bisa apa? Kan yang menjalani pada akhirnya kan kalian, mama papa tidak memaksa..." "Nggeh ma..." Bian masih menjawab sesantai mungkin dan tetap fokus menyetir. "Bentar lagi dia koas. Perjalanannya masih panjang..." Bian menghela napasnya panjang setelah mengucapkan kalimatnya. "Kenapa mas?" Papa mengerutkan dahinya dalam. "Ya nggak apa, Pap. Semoga aja dia mau nikah sambil koas. Kalau nggak yaa mas harus nunggu..." "Emang kenapa kalau nikah sambil koas? Mas nggak pengin...?" Sergah Papa. "Ya Bian pengin, Pa. Bhima habis ini nikah, nggak munafik lah, menurut papa aja gimana...?" "Iya. Papa ngerti mas, tapi--" "Yaudah. Udah deh nggak usah di bahas di mobil.." lerai Mama memotong perdebatan Papa dan Bian. "Intinya, mas kenalan dulu, masalah mas sreg atau nggak, itu belakangan, mama rasa sih dia mau kok nikah sambil di nyambi koas, wong ibune juga udah kepengin anaknya nikah kok..."  "Kita lihat nanti ma..." Jawab Bian dingin dan seisi mobil kembali hening hingga sampai di depan rumah setelah perdebatan tadi. Hollaaaaa... Syelamat hari senin. Gimana long weekend nya? Pergi kemana aja? Maaf ya harusnya kemarin malam sudah update, tapi tetiba ketiduran  peaceee jangan ngamuk ya ✌️ #dahgituaja #awastypo #SalamHelmProyek Danke, Ifa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD