Kediaman Keluarga Prayuda.
Sepi.
Kegiatan sholat shubuh Jamaah sudah di tunaikan sejak beberapa saat setelah Adzan berkumandang tadi. Namun sepertinya Bian masih lelah dan memilih kembali naik ke kamarnya karena jam 7 nanti ia harus ikut ke kantor bersama Papa.
Walaupun belum resmi bekerja, tapi sepertinya Bian patut mengenal lingkungan kerjanya yang baru. Pasti ada sesuatu yang lain dan berbeda dari kantornya yang lama di Münich, Jerman mulai dari sistem dan jam kerja yang pasti harus Bian sesuaikan di awal agar tak kaget di tengah jalan.
"Mas Bian...!" Seru mama dari lantai bawah membangunkan Bian yang sepertinya baru saja terlelap kini di kagetkan dengan pekikkan Mama memanggilnya untuk segera bangun.
Tak ingin mendengar mama kembali berteriak, Bian segera masuk ke kamar mandi setelah menyahuti panggilan mama tadi. Tidak mandi ala koboy, 15 menit Bian ada di dalam kamar mandi, cukup lah untuk mandi sampai wangi semerbak seperti memakai minyak wangi sebotol-botolnya.
Begitu kelar mandi, ia segera memakai kemeja lengan panjang biru laut cerah, celana bahan hitam serta sepatu pantofel hitam mengkilat dan mengoleskan sedikit pomade di rambutnya agar rapi dan tampak klimis, tak ingin kalah dari Papa yang sudah menua tapi masih necis ala kidz jaman now.
Bian turun dari lantai 2 sambil mengancingi lengan bajunya, di sana sudah ada mama-papa, lengkap dengan Bhima dan Kanika. Krucils serta mommy daddynya bahkan sudah berangkat duluan dan mengantar mereka ke sekolah, hari senin, si kembar ada upacara.
"Pagi mam, pap" sapa Bian sambil menarik kursi dan duduk di antara keluarganya.
"Pagi sayang.." sahut Mama. "Sarapan nasi goreng ya? Mau telur mata sapi atau orak-arik..?" Tanya Mama sambil menyendokkan nasi di piring Bian.
"Orak-arik aja mam..., Makasi" Bian segera menyantap sarapannya di piring.
Suasana pagi itu masih hening dan hanya ada suara sendok dan garpu beradu dengan piring hingga selesai makan barulah Papa membuka percakapan.
"Bian, mau langsung kerja atau pengenalan dulu?" Tanya Papa serius.
"Kayaknya pengenalan dulu deh, Pa. Habis itu Bian mau jalan-jalan dulu, pengen lihat Jakarat kayak apa setelah 4tahun lebih Bian nggak di sini..." Jawabnya setelah meneguk air di gelas hingga tandas.
"Gaya lu.....," Sarkas Bhima.
"Diem lu.."
"Eehh..., Mas kok jadi berantem sih..." Lerai Mama. Bian cemberut. "Udah deh, Mas Bhima kalau mau anterin mama sama Kani mending sekarang deh, terus papa juga mendingan berangkat sekarang. Kayak nggak tahu aja jalanan Jakarta kalau udah siang. Bubar sekarang...!" Tegas Mama.
Serempak.
Semua bangun dari kursinya dan siap-siap ke tempat kerjanya masing-masing, kecuali Bhima yang hari ini jadi supirnya Mama dan Kani.
Papa dan Bian sengaja di antar supir hari ini agar Bian tak lagi nyasar seperti waktu itu. Beberapa tahun lalu saat Bian pulang ke Jakarta, ia nekat jalan-jalan dengan mobil sendirian dan akhirnya nyasar karena gps nya mengarah ke jalan tikus lalu minta pertolongan ojek online yang di pesan lalu di ikuti Bian dari belakang dan berhasil selamat sampai di rumah.
Dan Bian kapok jalan sendirian di Jakarta. Maklum, semasa di sini sebelum kuliah, Bian jarang keluar dan menghafal jalan...
Oke balik lagi ke Bian dan Papa di perjalanan.
"Jadi gimana Bi, kerasan kerja di sana?" Tanya Papa sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Alhamdulillah, kerasan, Pa. Tapi ya lama-lama bosan juga. Hidup Bian di sana monoton, nggak ada teman juga. Sepi sendirian di apartement, mendingan Bian pulang, di sini bantu Papa..." Jawab Bian mengulas senyum mungil bahkan tak seperti terlihat senyum.
Papa mengangguk senang mendengar jawaban putra tertuanya ini. Bian memang terlihat dingin dan kaku tapi bila menyangkut Mama, Papa atau anggota keluarga lainnya, Bian bisa mendadak mellow, se-mellow mellownya.
Bian mengamati setiap gedung yang menjulang tinggi di Jakarta, MRT dan LRT sudah beroperasi, infrastruktur yang makin membaik setiap tahun tak luput dari perhatian Bian saat melintas menuju kantor barunya.
Hingga tak terasa mobil sedan putih Papa sudah berhenti di depan lobby. Ukiran huruf bertuliskan MAHARDI AND CO terpampang jelas saat Bian dan Papa turun dari mobil. "Siap?" Tanya Papa.
Bian mengangguk.
Mereka melangkah masuk ke dalam, beberapa pasang mata tertuju ke arah Bian saat wajah tertunduknya terangkat ke atas, tatapan takjub akan ketampanan Bian terlihat jelas saat Papa membawa Bian masuk ke dalam lift khusus jajaran direksi.
"Itu? Itu anaknya Pak Hardi?" Ujar salah satu karyawati Papa pada teman di sebelahnya setelah Bian menghilang masuk lift.
"Iya.. ya Lord.., ganteng banget..., Bisa di gebet nggak yaa.."
"Hush! Sembarangan lo..., Denger gossip sih katanya udah punya pacar..."
"Aahh, baru gossip..., Belum tentu bener..."
"Ekhemm!" Deham Ibu Siska, HRD di perusahaan ini. "Kalian ini, bukan naik ke atas buru-buru, ke ruang auditorium cepet-cepet malah ngerumpi di sini...! Naik!" Perintahnya tegas.
"I-iya bu,..." Mereka langsung memencet tombol lift agar segera terbuka untuk menghindari amukan Ibu Siska.
---
Ruang auditorium sudah terisi semua karyawan dan karyawati, sebentar lagi Bian akan masuk bersama Papa. Desas desus lagi-lagi akan ketampanan Bian santer terdengar, tak lama yang di tunggu pun datang, masuk ke dalam ruang auditorium, semua pandangan terpesona dari para perempuan-perempuan di sini seolah menghujam Bian namun lain dengan para laki-laki, mereka merasa tersaingi dan terancam saat para perempuan ini membicarakan Bian, Bian dan Bian lagi.
"Selamat pagi semuanya..." Sapa Papa ramah.
"Pagi..." Jawab mereka serentak.
"Ya, seperti yang sudah kalian dengar sebelumnya. Hari ini saya membawa Putra tertua saya, satu-satunya penerus saya di perusahaan ini. Abiandra Satrio..." Tutur Papa dengan bangga saat mengucap nama sang jagoannya di khalayak ramai.
Re- Satu-satunya di sini maksudnya adalah karena hanya Bian yang arsitek, semua anak Papa dokter dan Bidan, hanya Abiandra yang lain sendiri.
Bian membungkukkan badan tanda hormat dan senyum tipisnya.
"Mulai lusa, Abiandra akan bekerja di sini sebagai salah satu arsitek rekomendasi untuk proyek berikutnya. Bukan karena Abiandra anak saya tapi karena memang kemampuannya sudah mumpuni untuk memegang sebuah proyek..." Papa menekankan sekali lagi.
"... Jadi, saya harap kalian semua bisa menerima Abiandra sebagai karyawan, bukan karena Abiandra adalah anak saya. Perlakukan dia sewajarnya, tidak ada yang di istimewakan di sini.." tegasnya. "Abiandra, ada yang mau di sampaikan?" Bisik Papa, Bian mengangguk, ia akan menyampaikan sesuatu.
Ia berdiri tegap berwibawa, Abiandra siap sengan pidato singkatnya. "Pagi semuanya..., Tidak berpanjang lebar, saya hanya ingin menegaskan lagi apa yang Bapak Hardi bilang tadi. Mohon perlakukan saya sewajarnya, saya hanya karyawan biasa, jangan berlebihan. Semoga kalian semua bisa menerima saya di sini..." Tutupnya sambil kembali membungkukkan badannya sedikit.
Riuh tepuk tangan memenuhi ruang auditorium saat Bian menyelesaikan pidato singkat, amat sangat singkatnya tadi. Di antara kerumunan semua orang di sana, banyak di antara mereka yang mengagumi dan banyak juga yanh mencibir bahwa Bian terlalu dingin dan kaku saat hari pertamanya di sini dan ada pula yang sempat tidak suka dengan keputusan atasan mereka yang akan mempekerjakan Bian di hari rabu.
"Katanya perlakukan seperti karyawan biasa, tapi kok kerjanya hari rabu..."
Dan masih banyak cibiran lainnya.
Yeah.
Nyinyir.
Nowadays, kalau nggak nyinyir kayak ada yang kurang ya hidup kalian?
Semua orang membubarkan diri setelah Ibu Siska memberikan komandonya, lalu beliau ikut dengan Bian dan Papa melakukan tour de kantoor membawa Bian mengenali tempat yang akan menjadi kantornya sebentar lagi.
Hingga sampai di ruangan Bian yang ada di lantai 10. Di depannya sudah ada sekretaris ber- name tag Patricia, ia berdiri menyambut kedatangan Bian dan Bapak Hardi. "Pagi, Pak" sapanya dengan senyum ramah dan Bian, jangan tanya, masih dengan wajah dingin dan senyum tipisnya menanggapi sapaan Patricia. Patricia agak terhenyak dengan Bian yang datar-datar saja tanpa ekspresi.
"Pagi Patricia. Ah ya kenalkan, ini arsitek pengganti Pak Winar, anak saya, Abiandra. Abiandra, ini Patricia, sekretarismu..." Jelas Papa, Abiandra menjabat tangan Patricia sekilas.
"Saya Patricia, Pak..." Ucapnya mengenalkan diri.
"Saya Abiandra..." Sahutnya singkat, lalu Papa membawa Bian ke dalam ruang kerjanya yang sudah lengkap dengan meja gambar di sudut ruangan, di dekat jendela besar, berpandangan langsung dengan pemandangan kota Jakarta.
"Ini ruanganmu. Papa harap kamu betah..." Papa menepuk pelan pundak Bian dan tersenyum penuh arti.
"Nggeh, Pa..." Jawab Bian pelan.
"Patricia, tolong kamu rapikan barang-barang yang masih di dalam kotak itu ya..." Perintah Papa.
"Baik, Pak..." Jawabnya lalu berjalan menuju kotak kardus di sudut ruangan.
"Eh nggak usah, Pat.." Bian mencegah, membuat Patricia berhenti. "Biar saya saja nanti, saya minta bantuan OB, kamu sekretaris saya. Nggak pantas rasanya, kamu boleh kembali ke meja kamu..."
Patricia lantas berbalik setelah mendengar Bian melarangnya untuk membereskan barangnya. "Udah pa, biar nanti Bian aja..." Ucap Bian sebelum Papa membuka omongannya.
Papa hanya mengangguk paham. "Ya, sesukamu. Papa akan panggilkan OB nanti untuk beres-beres di sini. Kamu mau jalan ke mana habis ini?"
"Ntahlah, Pa. Ke mana aja nanti ada yang menarik Bian datangi..." Jawabnya.
"Okelah, Papa turun dulu, ya..."
Bian hanya mengangguk pelan saat Papa menepuk pundak dan melangkah keluar dari ruangannya. Bian kembali melirik kardusnya, ah lebih baik dia membereskan dulu barangnya, tak banyak hanya dua kardus sedang berisi buku-buku dan alat gambarnya saja.
Ia buka lakban yang memplester kardusnya, lalu di keluarkan satu-satu isinya. Ada fotonya bersama Mama dan Papa di Brandenburg Gate saat mama papa mengunjunginya saat itu, terbingkai manis di sana. Foto yang wajib ada di meja kerja Bian.
Ia tersenyum melihat foto itu lagi, pengingatnya kala jauh dari orang tuanya. Rumahnya, dunianya.
Selesai Bian membereskan barang dan bumu sudah tersusun rapi di rak buku yang menempel di dinding, Bian segera keluar dan mengunci ruangannya sebelum pergi. "Patricia, siapkan jadwal apa saja dan apa yang harus saya kerjakan. Lusa saya sudah mulai aktif bekerja.." perintahnya.
"Baik, Pak..."
"Dan pastikan, teliti, jangan sampai ada yang bentrok..." Tegasnya sekali lagi.
"Ba-baik Pak..." Patricia terpekur melihatnya perubahan sikap Bian tadi saat menyuruhnya keluar dari ruangan.
Bian meninggalkam Patricia dengan keterpekurannya. Ia paham kalau Patricia kaget dengan perubahan sikapnya, tapi Bian tak masalah. Ia segera turun dengan lift menuju lantai paling dasar.
Tak ayal, saat Bian keluar dari sana, sorot mata terpesona tak lepas hingga Bian keluar dari dalam gedung dan masuk ke dalam mobil.
"Kita ke mana den?" Tanya Pak Amir, supir yang hari ini mengantar Bian dan Papa ke kantor.
"Ke mana aja, Pak. Bawa saya keliling ya..."
"Siap den..." Pak Amir segera melajukan mobil keluar dari lobby.
Mobil sudah kembali menyentuh aspal Jakarta, di sambut dengan kepadatan kota yang seolah tak ada habisnya.
Bian mengamati lagi gedung yang menjulang tinggi, ada beberapa yang ia kagumi arsitekturnya. Lalu mobil terus melaju ke arah Jakarta Barat, melintasi Neo Soho- Central Park Mall, Eco Skywalk yang mirip Jembatan Helix di Singapura.
"Pak, kita ke sini aja..."
"Oke den..."
Bian sengaja minta berhenti di Lobby, ia sudah membawa kameranya yang sengaja ia siapkan tadi di mobil. Ia berjalan ke arah jembatan dan memotretnya.
"Cantik jembatannya..." Gumam Bian sambil melihat hasil jepretannya.
Bian kembali berjalan masuk ke dalam mall, tak belanja, hanya keliling saja. Bian tak pernah jalan-jalan ke mall seperti ini, sendirian pula, ia terlalu malas untuk menjelajah dan tawaf keliling mall kalau bukan acara kumpul keluarga.
Sudah puas, ia keluar dari mall dan menunggu Pak Amir di lobby, begitu mobil sampai di depannya, Bian segera masuk. "Pak, kita ke kota tua ya..."
"Oke den..."
Mobil kembali berkutak dengan kemacetan Jakarta di siang hari ini. Menuju kawasan Kota Tua, Museum Fatahilla. Kawasan kota Tua peninggalan penjajahan Belanda tempo dulu. Atmosfer Belanda masih terasa hingga kini kala siang hari seperti ini.
Bian segera membidik lensa kameranya ke objek yang menurutnya menarik. Ini salah satu hal juga yang membuat Bian enggan pergi ke mall. Ke tempat seperti ini lah yang Bian bisa kagumi arsitekturnya.
Bangunan lama namun menyimpan berjuta cerita, begitu Bian mendeskripsikannya. Hasil jepretannya ia simpan dan akan ia unggah ke akun instagramnya nanti.
Puas berjalan mengelilingi Kota Tua, Bian di landa lapar, segera ia kembali ke mobil dan meminta Pak Amir untuk mengantarnya ke klinik Mama agar bisa makan siang bersama.
Hallooooo, malam-malam ku update menghibur kalian yang baru pulang kerja jam segini
#dahgituaja
#awastypo
#SalamHelmProyek
Danke,
Ifa