Hari sudah sore, semburat jingga mulai menghiasi langit Jakarta sore hari ini. Lautan manusia dan kendaraan mulai memadati jalanan Jakarta yang padat di setiap sudutnya, macet di mana-mana, klakson bersahutan dan tak jarang adu mulut terjadi karena bersinggungan di jalan.
Bian sudah berada di jalan menuju rumah sakit, Jihan sudah memulai koasnya sejak beberapa waktu lalu dan tadi Bian sudah menelepon Jihan untuk menunggu di lobby rumah sakit, Bian jemput hari ini.
Mobil Bian sudah ada di parkiran, ia tidak turun. Menunggu di sini saja, Jihan sedang absen, sebentar lagi keluar. Di kejauhan ada ada wanita mungil yang sedang berjalan ke arahnya sambil tertawa lepas dengan teman-temannya.
Kalau di telisik, Bian kok seperti bapak yang menunggu anaknya pulang sekolah ya? Eh? Ups!
Setelah puas tertawa dan melambaikan tangannya, Jihan mengetuk kaca mobil yang sangat di kenalinya. Bian membuka dari dalam, Jihan masuk lalu cium tangan.
"Lama ya, mas?" tanya Jihan sambil memakai seatbeltnya.
"Nggak kok, baru. Seru banget sih kalian," ujar Bian sambil mengarahkan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.
"Hahaha, iya, biasalah mas. Anak-anak tuh sukanya ngelawak, ya maklum, capek kali serius mulu," kekehnya sambil melirik reaksi Bian yang masih datar-datar saja.
Dasar kulkas! Untung cinta! Coba kalau nggak?
Jalanan sudah macet lagi, bahkan hampir tak bergerak. Oh, indahnya hidup di Jakarta. "Laper," gumam Jihan sambil membuang pandangannya ke arah luar.
"Hm? Apa?" seolah menangkap gumaman Jihan, Bian menyahuti.
"Laper, mas, arep mangan disek tho yooo, mas,"
"Pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa?"
"Makan o, mas!! Aku laper," protesnya sebal karena Bian tak mengerti maksudnya.
Bian hanya ber-oh ria menanggapi, sambil terus matanya awas melihat jalan. "Ya udah, mau makan di mana?"
"Mau bebek goreng, pakai nasi uduk, tahu,tempe, lalap, sambelan. Di Kaleyo, ya Allah enak," terbayang sudah di mata Jihan terhidang menu makanannya sambil mengusap perutnya yang keroncongan sejak tadi.
Bian hanya geleng-geleng kepala melihat Jihan yang mendadak galak dan kalap kalau lagi lapar begini. Ia lantas melajukan mobilnya menuju Tebet, menuruti keinginan Jihan yang ingin makan di rumah makan yang terkenal enak bebeknya, yang selalu ramai apalagi jam pulang kantor begini.
Dan benar saja, ketika sampai di sana, untuk parkir saja sulitnya minta ampun dan saat turun dan masuk ke dalam rumah makan. Ramainya bukan main, yang jualan sampai tidak kelihatan.
"Penuh banget," bibir bawah Jihan maju beberapa senti saat melihat tempat yang ia biasa datangi bersama Shasya ramainya nggak ketulungan.
"Kayak gini? Keburu laper," ujar Bian datar.
"Wait. Aku cari tempat kosong,"
"No! Saya aja," Bian menahan lengan Jihan namun belum sempat, netra Jihan sudah menemukan satu meja kosong dan baru saja di tinggalkan pengunjung sebelumnya.
"Mas Bii... siniii," pekik Jihan, Bian menghampiri. "Dapet kaann," ujar Jihan menepuk dadanya bangga.
"Pinter," sahut Bian lalu duduk di hadapan Jihan.
"Jangan remehin perempuan," Jihan menimpali sambil mengelap meja dengan tisue basah, Jihan nggak betah lihat yang kotor-kotor.
"Pesen yuk! Mau pesen apa?" tawar Bian sambil tangannya memberi kode agar pelayan menghampiri mejanya.
Pelayan berpostur tinggi itu menghampiri meja mereka dan siap mencatat pesanan mereka. "Saya pesen, 2 Nasi uduk, 2 bebek goreng d**a, tahu, tempe, sambel sama es jeruk 2," pesannya. "Ekstra lalap ya,"
"Oke, mbak. Di tunggu ya,"
Jihan mengangguk sebelum pelayan tadi berlalu. "Mas Bhima jadi balik, mas?"
"Jadi, besok pagi sampai, tapi saya nggak ikut ke bandara. Saya jemput kamu aja ya," jawab Bian sekenanya.
"Hmm, ya udah." Jihan tersenyum simpul.
Tak lama, makanan yang di pesan mereka pun datang. Setelah menyeruput es jeruknya, Jihan segera menyantap makanan di hadapannya. Jihan lapat tingkat akut, ia makan lahap-lahap sampai membuat Bian keheranan.
"Enak, Ji?"
Jihan mengangguk, mulutnya masih penuh. Bian geleng kepala melihat Jihan seperti ini. "Kenapa kok lihatin aku gitu?" protesnya karena Bian bukannya makan tapi malah menatapnya.
"Kamu lahap," sahutnya lalu menyuap kembali makanannya.
"Lapeeerrrrr. Dari siang nggak maem," sahutnya polos.
"Nggak apa-apa. Suka saya, kenyangin," perintah Bian, Jihan mengangguk dan kembali melanjutkan makan sorenya yang ke malaman ini.
"Kalau jaim-jaim nanti kelaperan," timpalnya setelah cuci tangan.
Bian hanya mengangguk saja, ia tahu, Jihan lain tak seperti perempuan lain yang ia kenal. Ngeselin, manja, tapi cinta dan ngangenin, gimana dong?
Setelah selesai dan membayar makanan mereka. Bian segera membawa Jihan pulang, padahal niatnya Jihan masih mau mampir ke mall tapi Bian memaksa pulang. Alasannya, sih, Bian sudah lelah jadi ya Jihan menurut saja lah daripada di cuekin. Padahal aslinya Jihan bete luar biasa.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Jihan, tak ada percakapan yang berarti. Hanya ada suara radio yang memutar lagu James Arthur- Say You Won't Let Go, di temani gemericik air hujan yang mulai turun.
Sampai akhirnya hujan deras mengguyur ibu kota dengan lebatnya, Jihan sudah pulas di samping Bian dengan berselimutkan snelli yang ia bawa pulang juga.
Mobil Bian sudah berhenti di pekarangan rumah Jihan. Bian tak tega membangunkannya, Bian tahu kegiatan Jihan akhir-akhir ini penuh dan padat bahkan rasanya untuk mengajak Jihan berlibur keluar kota saja sulit.
Bian menepuk lengan Jihan perlahan agar segera bangun. Jihan mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan fokusnya lalu bangun dari posisi berbaringnya. "Nghh, udah sampai, ya?" Jihan melihat sekelilingnya.
"Udah daritadi, Ji," ucap Bian. "Payungnya di laci dashboard, tolong, Ji."
Jihan membuka laci di depannya dan mengambil payung. Lalu Bian turun memutari mobil dan membuka pintu samping, Bian merapatkan Jihan di rangkulannya agar tak terkena hujan.
Seketika Jihan takikardia!
"Astaga astagaaa... Apa ini?" Batinnya. Jihan melirik ke arah Bian sambil terus berjalan sampai ke teras.
"Sampai sini aja ya, Ji, nggak apa kan?"
Jihan tersenyum. "Ya nggak apa-apa, mas. Makasi udah temenin aku makan ya." Jihan meraih tangan Bian lalu menciumnya. "Hati-hati, jangan ngebut, hujan. Besok jangan lupa jemput,"
Bian mengangguk pasti lalu berbalik ke mobil setelah Jihan masuk ke dalam rumah.
---------
Berkumpul dalam keluarga besar seperti ini membuat Jihan bahagia. Ia yang notabene adalah anak tunggal dalam keluarganya, kini ada di tengah keluarga yang ramai.
Moment seperti ini yang tak pernah Jihan lewatkan semenjak menjadi calon istri Bian, ya, walau sampai hari ini Bian tak memberikannya cincin atau apapun itu tapi ia tahu bahwa Bian serius dengan dirinya.
Kini ia ada dirumah Bian, rumah yang selalu hangat setiap Jihan berkunjung atau menginap sesekali saat dirinya sendirian dirumah.
Ini salah satu impian Jihan, mempunyai keluarga dengan beberapa anak dan saat mereka besar, pasti akan ramai seperti ini kumpul-kumpulnya. Di tambah akan kedatangan anggota keluarga baru yang akan segera lahir dalam beberapa minggu ke depan.
Walau Jihan beberapa kali bertemu Mama atau Adrian di rumahsakit, tapi tetap saja rasanya canggung. Lain bila bertemu di rumah seperti ini, rasanya semua melebur jadi satu. Tapi masih ada yang mengganjal di hati Jihan yaitu abang, ya, abang masih jutek padanya. Entah apa yang membuat si abanh kecil jadi begitu pada calon tantenya, padahal waktu pertama kali bertemu Jasmine abang girang bukan main.
Apa karena semua perempuan di keluarga ini--kecuali Bryna, memakai kerudung semua? Jadi abang agak risih dengannya karena terbiasa melihat Oma, Mommy hingga tantenya semua berhijab?
Mencelos hati Jihan rasanya. Jujur, Jihan juga ingin tapi...,
"Tante! Kok bengong aja?" Bryna mengagetkan.
"Eh, dedek, nggak. Tante lagi serius aja tuh merhatiin abang main lego," jawabnya lalu tersenyum.
"Hmm, abang masih gitu sama tante. Maaf ya?" ujar Bryna tertunduk.
"Nggak apa-apa, sayang. Abang, kan, masih kecil."
Bryna hanya mengangguk mengerti lalu menarik Jihan ke dapur membantu yang lain menyiapkan makan malam, Jasmine dan Bhima sudah sampai sejak tadi.
Saat makan malam sudah siap dan karpet sudah di gelar di pinggir kolam renang, semua makan dengan tenang. Apalagi Aliya yang akhir-akhir ini porsi makannya jadi bertambah, biasa, ini selalu terjadi saat minggu-minggu terakhir kehamilannya.
"Mbak Al, semangat banget makannya," kekeh Jihan saat melihat Aliya begitu semangat menyeruput kuah sayur asem yang berubah merah karena di beri sambal 2 sendok penuh.
"Iya, nih, Ji. Si dedek doyan sayur asem sama sambel buatan Oma-omanya nih," sahut Aliya yang duduk di bangku karena akan sulit bangun kalau dia ikut duduk di lantai.
Maklum, ibu hamil minggu-minggu akhir.
"Mommy mah, makan mulu tante Jihan." sambar Bryan lalu terkikik.
"Eh eh, mamas, awas ya kamu. Nggak dapat jatah sepatu baru dari mommy, ya," ancamnya lalu Bryan mendadak mencebik.
"Nggak elah, mom, candaaaa. Jangan baper, dong. Mommy kan, cantik." Rayunya.
Aliya meliriknya tajam. "Modus! Ada maunya!"
Bryan cengar cengir cengengesan.
"Mas Bryan nggak boleh gituuuu. Mom Aliya cantik tahuuuu," protes Chika tak terima. "Walaupun lebih cantik bundanya aku!" tambahnya tak mau kalah.
Lalu candaan Chika di sambut derai tawa yang lain. Bhima mengacak rambut Chika dengan gemas lalu mencium pipinya dengan sayang.
"Lucu, ya, mas." gumam Jihan pada Bian.
Kode, elah!!!
"Iya, lucu." sahut Bian biasa saja.
Rasanya Jihan mau menimpuk Bian dengan bonggol jagung serta piringnya ke arah Bian. Gila! Lagi kayak gini masih aja dingin kayak kulkas!! Emang dasar polarbear, manusia kutub, susah cairnya!!
Sabar Jihan, sabar. Berulang kali Jihan merapalkan mantra sabar pada dirinya sendiri. Jihan mencebik saat ucapannya hanya di tanggapi singkat begitu oleh Bian.
"Nggak usah manyun," Bian mencubit pipi Jihan yang menggembung itu.
"Males," Jihan memutar bola matanya jengah saat Biam berusaha menenangkannya.
"Kenapa, sih, kenapa?"
Astaga, dia masih nanya kenapa, saudara-saudara!!!
Jihan meliriknya dalam diam namun tatapannya tajam seperti silet. Jiah!
Cukup sudah!!! Jihan bangkit lalu ikut main Bad Dog Prank. Yang kalau kalah bisa di gigit sama bulldognya.
Bian menghela napasnya berat saat Jihan bangkit dari sisinya. Ia tahu, ucapan Jihan saat makan tadi itu sepertinya kode agar nanti segera punya anak.
Ya sudahlah, nanti Jihan juga biasa lagi setelah main. Walau sepertinya si Abang masih enggan berdekatan dengan Jihan, di lihat dari saat Jihan mendekati, eh, si abang malah menjauh. Alamak! Kenapa dengan keponakannya ini??
Sepertinha Bian harus melakukan sesuatu. Berbicara dengan abang dengan cara halus sepertinya patut dicoba. Toh selama ini Bian belum mencoba bertanya pada Abang kenapa bisa dirinya sejutek itu pada Jihan.
"Bang! Sini deh," panggilnya.
"Apa, Om?"
Bian menggendong Kavin menuju kamarnya. Ia duduk di sofa sambil memangku Kavin. "Bang, Om mau tanya." Mulainya.
"Apa, Om?"
"Abang kenapa sama tante Jihan kok jutek gitu?"
Kavin menunduk terdiam. Mencoba meronta turun dari gendongan Omnya namun tak bisa. Dia masih diam. "Bang?"
"Nggak apa-apa!" Pekiknya. Ia meronta turun dari gendongan Bian.
Hyah..., Gagal lagi. Kavin ngacir keluar kamar Bian menuju ruang tengah lagi.
Hhhh...
Bian mendesah lelah menghadapi keponakannya yang satu ini. Ya sudahlah. Bian keluar dari kamarnya menuju ruang tengah lagi. "Ji?"
"Ya, mas?"
Bian mengelus kepala Jihan. "Nginep?"
"Nggak mas, besok ada kondangan sama ibu. Anterin aku pulang, ya," pintanya.
"Ya udah sana pamit dulu,"
Jihan mengangguk lalu pamitan pada yang lain. Padahal mama memaksa Jihan untuk menginap namun ia menolak dengan halus dan dengan berat hati mama memperbolehkannya pulang.
"Hati-hati ya mas Bi. Jangan ngebut!" Pesan Mama.
"Iya, ma..."
.
.
.
.
"Tadi aku mau ngobrol sama Kavin,"
"Terus?"
"Eh kabur,"
Jihan terbahak mendengar keluh kesah Bian. Ia sampai menitikkan air mata mendengar kalimat terakhirnya. "Duh, mas, sabar ya," kekehnya.
"Ya tapi kalau nggak kan jadi keterusan sampai gede, Ji,"
"Mas, abang itu anak kecil. You don't need to worry about him. Dia akan melunak dengan sendirinya," Jihan tersenyum simpul.
"Tapi Ji--"
"Maasss..., Kamu tahu keponakanmu lebih daripada aku. Pasti dia akan baik nanti, oke? Jangam khawatir Om Bian,"
Bian membuang napasnya pasrah mendengar permintaan Jihan supaya tidak khawatir tentang sikap Kavin yang masih saja kaku dan jutek bahkan terkesan angkuh.
"Dia akan baik nanti, mas." Ucapnya sekali lagi.
"Iya, Kirana Jihan."
tbc--