I'd climb every mountain and swim every ocean..
Just to be with you..
And fix what i've broken..
Cause i need you to see..
Yeah you are the reason...
.
.
.
Intensitas hujan di Ibu Kota sedang tinggi-tingginya. Hampir setiap sore hari bisa di pastikan hujan akan datang menyapa dengan derasnya.
Sudah sejak kemarin sebenarnya Jihan merasa tidak enak badan usai pulang dengan gojek dan kehujanan, padahal semalam Ibu juga sudah memberi parasetamol dan hanya bereaksi sebentar dan paginya kembali demam.
Bersin dan batuk tak henti menyerangnya walau sudah memakan permen pedas pereda batuk tapi tetap saja tak berpengaruh apapun padanya.
Untung saja UGD sedang tidak banyak pasien, jadi Jihan bisa sejenak beristirahat di meja pojok ruangan sambil memejamkan mata dan mengenakan masker.
"Jihan?"
Ada suara seseorang yang begitu Jihan kenali. Suara Jasmine. Jihan membuka matanya perlahan dan menemukan sosok Jasmine sedang menatapnya heran.
"Eh, dok." Jihan reflek bangun dan mengerjapkan matanya.
"Kamu kenapa?"
"Lagi gak enak badan, dok. Flu batuk," alibi Jihan, suaranya sudah bindeng sejak semalam.
Jasmine mengerutkan dahinya. "Kok masuk Jih? Harusnya mah izin aja," sarannya lalu punggung tangannya menyentuh kening Jihan. "Kamu demam lho, pulang aja."
"Ya gimana, dok? Saya masih ada tanggung jawab di sini," jawab Jihan sambil melepas maskernya dan tersenyum walau sebetulnya nafasnya sudah satu dua tak karuan namun coba di tahannya agar Jasmine tak menyuruhnya pulang.
"Kamu pulang gih. Izin aja, nggak apa-apa. Kan ada koas yang lain," paksa Jasmine. "Daripada gini lho Ji,"
"Nggak..., Apa-apa, dok," jawabnya lagi. Namun rasanya sesak di dadanya semakin tak karuan karena batuk sejak semalam.
"Astaga!" Jasmine menyadari sesuatu tak beres pada Jihan dan langsung menangkap tubuh Jihan yang limbung ke depan.
Jihan pingsan.
"Dokter Bhima!! Suster!! Tolong!!"
Bhima dan beberapa suster datang menghampiri Jasmine yang sedang menopang tubuh Jihan yang limbung tadi.
"Hei, Jihan! Ya ampun," Bhima langsung menegakkan tubuh Jihan dan membawanya pindah ke brankar.
Jasmine melepaskan jas putih yang di kenakan Jihan sementara Suster membantu Bhima memasang infus juga selang oksigen pada Jihan.
"Panas banget badannya," gumam Bhima.
"Sejak kapan dia gini?"
"Kurang tahu, dok. Kayaknya dia udah ngerasa sejak tadi, cuma ditahan atau malah udah ngerasa sejak di rumah. Entahlah," sahut Jasmine.
"Ck, penyakit koas," Bhima menggelengkan kepalanya saat stetoskop mendarat di d**a Jihan.
"Kenapa?"
"It's okay, Jihan cuma kelelahan aja, flu, batuk. Dahaknya banyak," jelas Bhima sambil melepas eartipsnya, Jasmine hanya mengangguk paham. "Aku hubungin Bian dulu, kabari kalau siuman," pesan Bhima sambil memotret Jihan yang masih pingsan, ia akan kirimkan pada Bian setelah ini.
"Baik dok,"
Bhima melangkah cepat keluar UGD sambil mencari nomor Bian di kontak teleponnya lalu menekan ikon call sampai terdengar dering di seberang sana.
"Bro! Bian," sapa Bhima saat telepon diangkat, akhirnya.
"Ya? Kenapa? Gue sibuk," jawab Bian datar.
"Bini lo nih! Jihan, pingsan, demam tinggi. Lo kesini deh,"
"Apa? Nggak usah bercanda lo! Gue sibuk!"
"Yaelah! Ngapain gue becanda sih, Bi? Belum siuman juga sampai sekarang,"
"Astaga. Gue habis ini meeting, gue titip dulu ya," pesannya.
"Lo mentingin meeting daripada Jihan, bi?Gila lo ya??!!"
Klik.
Bhima segera mengakhiri teleponnya dengan Bian. Bhima kesal bukan main karena Bian lebih mementingkan meeting daripada harus menemani Jihan di UGD saat ini.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, Jihan siuman. Ia masih mengumpulkan fokusnya, ia melirik ke kanan, tangannya sudah tertancap jarum infus.
Ia melihat sekeliling, ada Jasmine yang masih setia menemaninya sampai ia tersadar. "Jihan?" sapa Jasmine
"Mbak?" panggil Jihan pelan.
"Gimana? Apa yang dirasa?"
"Pusing, mata panas," jawab Jihan semakin pelan.
"Mbak panggilin mas Bhima dulu ya," Jasmine segera berlalu setelah mendapat anggukan dari Jihan dan memanggil Bhima yang saat ini masih bertanggung jawab menangani Jihan.
Bhima masuk kembali bersama Suster. Jasmine sedang menangani pasien lain di bed sebelah. "Jihan, mas periksa ya?"
Jihan mengangguk sambil terus meringkuk. "Iya,"
Bhima kembali memakai alat perangnya. "Nafas biasa coba. Sesak?"
"Lumayan mas. Dahaknya nggak bisa keluar. Bisa sih sedikit tapi susah,"
Bhima mengangguk lalu meminta Suster untuk mengecek tekanan darah Jihan. "Sus, tolong ya."
"Siap dok," Suster segera memasang manset tensi sementara Jihan masih lemas dengan kondisi tubuhnya sekarang.
"Kamu habis kehujanan? Atau habis makan sesuatu gitu?" tanya Bhima penasaran.
"Kehujanan mas. Dua hari lalu, pas keluar rs belum hujan, tapi udah di tengah jalan langsung deras." Jelas Jihan pelan-pelan.
"Ya itu. Ibuk kamu udah tahu? Sejak kapan ngerasa begini?"
"Puncaknya semalam. Ibuk udah kasih injek tapi nggak mempan kayaknya," Jihan menjeda kalimatnya. "Nggak perlu opname kan mas? Kerjaan Jihan masih banyak,"
"Observasi di sini aja dulu ya. Tekanan darah berapa sus?"
"100/90 dok" sahut Suster.
"Ambil darahnya bawa ke lab ya," perintahnya.
"Baik, dok." Suster segera mengambil sample darah Jihan.
"Siapa dosen pembimbing kamu? Nanti mas buatkan surat."
"Iya, dr. Irsyad mas."
Bhima mengangguk paham lalu tiba-tiba ada yang menyibak tirai yang setengah tertutup itu. Mama.
"Jihan? Kamu kenapa sayang?" tanya Mama khawatir lalu mendekati Jihan.
"Nggak apa-apa ma. Cuma nggak enak badan aja,"
"Sampai kayak gini? Bhim, kamu dokternya? Gimana Jihan?"
"Tadi saya udah minta suster ambil sample darah. Sekarang masih di lab, akan di observasi dulu, dok. Karena Jihan batuk dan sesak juga," jelas Bhima.
"Ck, kok bisa gini sih, Jihan?"
"Jihan kemarin kehujanan ma," jawabnya lalu bersin.
"Bian, mana?"
"Tadi saya jugabudah kabarin kok. Tapi ya gitu, malah mentingin meeting," sahut Bhima tanpa sadar membuat raut wajah Jihan menjadi semakin sedih.
"Astaga anak itu!" geram Mama.
"Nggak apa-apa, mam. Mungkin mas sibuk," Jihan berusaha tersenyum menanggapi kekesalan calon Ibu mertuanya ini. Ia juga sedang menahan tangisnya, malu bila harus menangis sekarang.
"Opname aja ya, Jihan." putus Mama sepihak. "Biar segera mama urus kamarnya,"
"Jangan mam. Nggak usah, Jihan pulang aja," tolaknya.
"Biar kamu bisa langsung istirahat. Mama teleponkan ibukmu dulu,"
Jihan sudah tak bisa berkutik bila yang di hubungi adalah Ibunya. Beliau pasti marah-marah kalau Jihan tak menurut. Besok pagi ia akan tetap kerja walau badannya sudah tak bisa di ajak kompromi dan akhirnya tumbang.
Mama segera keluar darisana dan menelepon dokter Fitri, ibu dari Jihan dan menjelaskan kondisi Jihan saat ini dan bilang tak perlu khawatir dan buru-buru kesini.
Lalu setelahnya mama mendial nomor ponsel Bian. Ia sudah siap dengan segala amarah dan akan memarahi Bian karena seenak udelnya malah mementingkan meeting di banding Jihan yang sekarang tengah lemas dan tak berdaya.
"Abiandra!" ucap Mama tegas di ujung telepon.
"Assalamualaikum? Kenapa ma?" sahut Bian santai.
"Waalaikumsalam! Kamu dimana?! Bhima tadi telepon kamu kan?" sergah Mama.
"Iya, tadi Bhima telepon. Baru keluar ruang ruang meeting ini," sahutnya masih santai.
"Kenapa nggak segera datang?!! Bisa kan kamu izin sebentar sama, Papa??!
Mama nggak suka lho mas kamu gini.
Sesibuk apapun kamu, seenggaknya datang sebentar, tengok keadaan Jihan, jangan kayak gini!!" Mama sudah tak sabaran lagi menghadapi lelaki sulungnya ini.
"Astagfirullah, maaf ma. Bukan maksud Bian gitu tapi bener-bener nggak bisa ditinggal. Setelah ini rencananya juga Bian langsung ke sana--"
Klik.
Mama memutus telepon sepihak. Tak akan ada habisnya jika ia berdebat dengan Bian yang pasti selalu punya alasan ada apa dan kenapa. Tapi menurut Mama seharusnya Bian bisa datang lebih cepat tanpa menunggu mama sampai marah seperti ini.
Sementara di kantor, Bian hanya bisa mendesah pasrah saat teleponnya diputus sepihak oleh ratunya itu. Saat penjelasannya belum sampai selesai. Mama memang tidak suka Bian begini, tapi apa daya? Meeting pentingnya ini sulit ia tinggalkan.
Menurutnya, jika diundur, akan sia-sia dan repot karena ia harus kembali lagi ke kantor setelah menengok Jihan di rumah sakit.
"Pa, saya duluan ya." ucapnya pada Papa saat semua orang sudah bubar.
"Lho? Kamu mau ke mana? Kita masih ada meeting lagi di luar," sahut Papa.
"Maaf pa, tapi saya nggak bisa. Jihan sakit pa, tadi pingsan katanya di UGD, ini mama udah telepon marahin saya kenapa nggak langsung datang begitu Bhima telepon." jelasnya pada Papa dengan wajah datar.
"Astagfirullah. Kenapa kamu nggak izin sama papa tadi, mas? Kalau tahu gitu kan meetingnya bisa diundur satu atau dua jam."
Skak! Salahnya tak bertanya dulu pada Papa.
Bian terdiam. Papa ada benarnya, harusnya ia bisa mendahului Jihan.
"Udah sana kamu ke rumah sakit," ujar Papa.
"Iya, pa. Makasi," Bian langsung berlari ke arah lift dan turun ke basement. Lalu mengendarai civic hitamnya menuju rumah sakit.
Bian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung saja jalanan sedang tidak macet jadi Bian bisa cepat sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran atas lalu segera masuk ke dalam.
"Permisi, suster. Apa di UGD ada pasien yang namanya Jihan?" tanya Bian setenang mungkin pada Suster di depannya ini.
"Ji-Jihan? Sebentar pak, saya cek. Nama lengkapnya?"
"Kirana Jihan, dia koas di sini. Tadi dia pingsan," jelas Bian.
"Ooh, kalau Koas Jihan baru saja dipindah ke ruang rawat, pak. Ke Vip di lantai 8 tadi sama dr. Lanny dan dr. Bhima,"
Bian mengangguk mengerti, ia tahu di mana ruangannya. "Makasi, sus," ia langsung menuju ke arah lift tepat saat terbuka Bian langsung menekan tombol ke lantai 8.
Lift sedang ramai, ada beberapa suster juga di dalamnya. Bian yang pendengarannya tajam, sesekali mendengar namanya juga Bhima di sebut-sebut.
Hhh. Mereka tidak tahu saja kalau Bian juga ada di dalam lift ini bersama mereka, sudahlah Bian takkan memperdulikannya. Ia segera turun begitu pintu lift terbuka dan menuju ruangan di mana Jihan berada bersama Mama.
276|Kirana Jihan, Nn.
Bian membuka pintu ruang rawat Jihan dan melangkah masuk perlahan. Ia dengar suara Mama dan Jihan sedang meminta pulang pada Mama namun Mama tak berhak memutuskan Jihan untuk bisa pulang sekarang. Hhh, dasar keras kepala.
"Assalamualaikum," ucap Bian lalu menyalami Mama.
"Wa'alaikumsalam," sahut Mama. Jihan nampak tak peduli dengan kehadiran Bian.
Ia hanya melirik sekilas lalu membalikkan badannya memunggungi Bian. Ia kesal, sungguh, saat tahu Bian lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya di sini. Jihan tahu pasti bahwa Mama dan Bhima sudah barang tentu memarahi Bian yang tingkat cueknya sudah melampaui batas normal.
"Kamu nih mas.. mas," ucap Mama sambil geleng kepala.
"Maaf ma. Maaf ya sayang," ujar Bian lalu menunduk hendak mencium kening Jihan namun Jihan menyingkir enggan.
"Yang?" Bian mengerutkan dahi keheranan, ada apa dengan Jihan? Ia menegakkan tubuhnya lagi setelah mendapat penolakan dari Jihan barusan.
Jihan diam saja tak mau bicara sepatah katapun. Ia kadung kesal. Percuma, pasti nanti akan diulangi kembali.
"Ma, apa hasil labnya?"
"Positif gejala typus, yawes, biar Jihan rehat. Kalau nggak di opname pasti besok kerja deh," jelas Mama.
"Ck! Gejala typus banget, ma?"
"Ya hasil labnya gitu," jawab Mama lagi.
Bian mengacak-acak rambut Jihan dengan gemas. Ia juga sudah tahu kalau Jihan sedang tidak fit, tadi pagi saat dijemput untuk berangkat kerja sepanjang jalan juga Jihan bersin-bersin terus, badannya sedikit demam. Tapi ia bersikeras ingin kerja.
Jihan menepis tangan Bian yang berada di kepalanya. Ia tak ingin bercanda atau berdebat sekarang. Ia ingin istirahat dan tidur, itu saja.
Mama yang melihat gelagat Jihan pun memilih untuk keluar dan membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa intervensi dari siapapun.
Kini hanya tinggal mereka berdua yang masih diam tak berbicara apapun. Bian duduk di kursi samping bed Jihan sambil menatap punggung Jihan. Di kepalanya ia sedang berpikir bagaimana caranya ia minta maaf kalau jelas dirinya sudah ditolak dua kali seperti tadi.
"Ji?" panggil Bian.
Jihan masih diam.
"Jihan?"
"Ngapain kamu ke sini, mas?" tanya Jihan.
"Ya temenin kamu. Maaf tadi saya ada meeting,"
"Udah tahu. Kamu balik lagi aja ke kantor kalau masih ada kerjaan, aku nggak apa-apa kok. Nanti juga ada ibuk sama bapak ke sini, kamu pulang aja. Nggak usah peduliin aku," Jihan masih memunggungi Bian saat berbicara.
"Ji, bukan gitu--"
"Halah! Nggak gitu tapi apa kenyataannya?" Jihan memotong penjelasan Bian. "Aku sakit aja kamu masih nggak peduli," gumamnya.
"Kalau saya nggak peduli, buat apa saya datang, Jihan? Saya peduli sama kamu, karena kamu calon istri saya,"
"Terserah!! Aku nggak mau tengkar, duduk aja sana di sofa, nggak usah dekat-dekat. Nanti kamu ketularan," sahutnya sekuat mungkin menahan air matanya.
Bian mendesah pelan saat dirinya ditolak lagi oleh Jihan. Ia tahu ini semua salahnya, seharusnya ia bisa datang lebih awal agar akhirnya tak berakhir Jihan marah padanya.
Akhirnya Bian duduk di sofa dekat jendela, saat dirinya mendarat di sana Jihan langsung memutar tubuhnya lagi menghadap arah lain. Jihan benar-benar marah pada Bian kali ini.
Bian membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Papa bahwa besok ia tidak masuk kantor dan akan menemani Jihan di rumah sakit sampai beberapa hari ke depan.
.
.
.
"Permisi, visit malam." ada Suster juga Bhima masuk ke dalam ruang rawat Jihan.
"Weh, lo di sini juga akhirnya. Sejak kapan?" ujar Bhima saat melihat Bian duduk di sofa. Ia tahu pasti ada yang tak beres terjadi sekarang, buktinya Jihan masih setia menghadap ke arah lain dan Bian ada di sofa.
"Iyalah gue di sini,"
"Ya gitu lah, bini sakit ditungguin," canda Bhima lalu meminta Suster mengecek suhu dan tekanan darah Jihan. "Pecat aja Ji calon suami macam begini,"
Jihan hanya tersenyun sekenannya tanpa memberi tanggapan apapun. Sementara Bian dan Bhima mengobrol, Suster yang sibuk mengecek pun sesekali terdistrak karena ketampanan duo kembar ini.
"Ehm. Sus, sudah?" ujar Bhima.
"Eh, sudah dok,"
Dia malah salah tingkah pemirsah! Bhima hanya geleng-geleng kepala melihat Susternya yang satu ini. "Berapa tekanan darahnya? Suhunya?"
"Udah normal kok 110, dok. Suhu 38,0 dok,"
"Hmm masih tinggi juga ya," Bhima mengambil pergelangan tangan Jihan, mengecek nadinya yang ternyata masih lemah sambil fokus melihat jam yang tertempel di dinding.
"Jih, masih sesek?" tanya Bhima setelah selesai mengecek nadi dan sekarang beralih dengan stetoskopnya.
"Kalau batuk masih sakit. Tadi dahak udah keluar,"
"Buka mulutnya coba," perintah Bhima. Jihan membuka mulutnya, Bhima mengarahkan penlightnya dan menemukan lidah Jihan yang memutih.
"Gimana, Bhim?" tanya Bian penasaran karena melihat raut wajah Bhima yang mengerut keheranan.
"Ck, putih banget. Perut ada sakit?"
Jihan menggeleng saat Bhima bertanya apa perutnya sakit atau tidak lalu di ketuk-ketuk dan ditekan sedikit.
"Oke, emang kudu bedrest dulu ya, Ji. 1 atau 2 hari sambil lihat bagaimana perkembangan ke depannya, makanan langsung dari rs ya,"
Jihan hanya mengangguk pasrah saat Bhima bilang ia hanya boleh makan diet rs yang di sesuaikan dengan obat-obatan yang harus diminumnya.
Bhima pamit pulang setelah selesai dengan visitnya. Sementara Bian mengambil baju ganti di ruangan Bhima lalu kembali dan mandi di kamar mandi ruang rawat Jihan.
Mereka masih saling diam tak berbicara apapun. Jihan kesal, Bian masih tidak peka, masih saja tidak ada usahanya untuk membujuk Jihan yang merajuk.
Seolah biasa saja, Bian membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Sumpah, nyebelin kabeh!!" Jihan bergumam namun masih bisa Bian mendengarnya.
Bian menutup kembali laptopnya dan mendekati Jihan. Ia duduk di kursi sebelah bed lagi lalu menautkan jemarinya dengan jemari Jihan lalu mengelusnya pelan.
"Maafin saya Jihan. Saya tahu, ini salah saya, maaf. Janji nggak akan diulangi lagi," ujar Bian berusaha kembali meminta maaf pada Jihan.
"Aku baru sakit kayak gini aja kamu masih mentingin kerjaan. Aku emang nggak penting sih jadi di nomor duakan terus," sahut Jihan pedas.
"Ji, nggak gitu," kilahnya. "Saya harus apa biar kamu nggak marah lagi sama saya? Saya janji, beneran nggak akan ngulangin lagi,"
Jihan memutar bola matanya jengah. Sudah seperti ini apa bisa tahan? Hhh, mau tak mau, suka tak suka, toh saat ini ia masih sekedar calon, belum sah kan? Jadi akhirnya Jihan mengiyakan saja, ia malas berdebat, dadanya masih sesak.
"Oke oke. Fine. Aku pegang janji kamu mas,"
Bian tersenyum sekilas lalu mengangguk dan mengecup kening Jihan lama dan dalam sampai Jihan memejamkan matanya dan menikmati kecupan itu.