Design 14

2182 Words
Cautions. Typos inside. So sorry if you found it. _________________________________ Ibu yang mendengar kabar bahwa putri tunggalnya pingsan dan sekarang harus menjalani perawatan di rumah sakit semakin merasa bersalah karena tidak memintanya untuk istirahat di rumah tapi malah memintanya tetap bekerja, menjalankan tugasnya sebagai koas. Beliau bersama bapak sudah berada di lobby rumahsakit setelah berdesakan di dalam commuter line dan menerjang macetnya Jakarta. Mereka langsung naik ke lantai 8 dan mencari di ruangan mana putri mereka berada. "Jihan," ucap Ibu saat membuka pintu dan melihat Jihan berbaring dengan lemas di bednya. Di sampingnya ada Bian yang menemani. Jihan dan Bian langsung bergantian salaman dengan Ibu dan Bapak. Jihan masih lemas, batuk terus menderanya "Mas Bian, udah lama?" tanya Ibu sambil mengusap kening putrinya ini. "Udah dari tadi bu," "Hmm.., Bapak," panggil Jihan manja. "Jihan. Ck kok bisa kayak gini sih, nduk?" "Iya tadi. Pingsan kata mbak Jasmine," sahutnya bergelayut manja di lengan Bapak. "Terus kata dokternya apa?" "Bedrest," Bapak mengecup puncak kepala Jihan sementara Ibu dengan spontan langsung mengecek tetesan infus dan nadi Jihan. Otomatis, naluri. Bian hanya nampak tersenyum sekilas dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Gimana bu?" Bian spontan bertanya saat Ibu selesai mengecek Jihan. "Ya udah, kalau dokternya bilang bedrest mah, nurut aja. Ibuk cuma ngecek sekilas doang," sahut Ibu santai lalu duduk di samping bed Jihan. . . . . . Sementara Bian dan Bapak sedang keluar cari makan malam di belakang rs yang tukang nasi gorengnya terkenal enak dan selalu ramai. "Pak, bapak mau makan apa? Biar Bian pesankan?" "Kayaknya mie rebus tektek itu seger deh, Le. Yang agak pedes manis gitu," sahut Bapak saat di tawari makan. "Nggeh, bapak cari duduk aja dulu," Bian segera menuju si penjual dan memesankan mie rebus sementara Bapak mencari bangku yang kosong. "Gimana Pak, kerjaan? Lancar?" tanya Bian saat kembali duduk setelah memesan makanan. "Alhamdulillah.. lancar. Kamu gimana? Proyek lagi ramai ya?" "Lumayan, makanya jarang di rumah. Ya Alhamdulillah, pak. Tapi dapat protes dari mama dan Jihan, karena keramaian itu," kekeh Bian setelahnya. "Yaa.. bapak juga sering di protes Jihan kemarin-kemarin. Tapi kayaknya sekarang gantian nih kamu yang kena protes," timpal Bapak lalu mereka tertawa bersama. "Hehehe, gimana ya, pak? Saya juga bingung, harus belajar bagi waktu." "Yaa pelan-pelan, Le. Jihan memang gitu," "Nggeh pak," Obrolan mereka terpotong karena pesanan mereka sudah dan. Bian dan Bapak menikmati makanan mereka sesekali memuji masakan yang menurut Bapak mantap dan pas di lidahnya. "Masih sering olahraga apa pak?" tanya Bian setelah makanannya tandas. "Masih kalau minggu. Lari bareng ibuk," "Oh Lari. Tenis bisa nggak pak?" "Tenis lapangan? Bisa. Lho Jihan dulu waktu kecil jago lho, bapak kalah terus kalau main bareng," "Nah itu. Loh iya kah pak?" "Adekmu. Ajakin aja," usul Bapak. "Wah kapan-kapan bolehlah adu sama Jihan. Bapak sendiri jago apa?" "Bapak beberapa tahun lalu sempet ikut panahan. Sekarang udah jarang, nanti lah kalau udah pensiun bapak panahan lagi," "Wew, saya nggak pernah panahan pak. Kalau papa itu golf, kalau Bhima renang," "Bapak nggak gitu suka golf sih," Pembicaraan berlanjut tentang beberapa olahraga yang mereka sukai. Jarang Bapak punya teman mengobrol yang seperti ini, maklumlah, hanya Jihan anak Bapak dan Ibuk. Jadilah beliau nyambung mengobrol dengan calon menantunya ini. "Pak," panggil Bian. "Ya?" "Bapak ada waktu luang kapan?" "Sabtu-minggu. Kenapa?" "Saya mau ngajak papa dan mama ke rumah. Silahturahmi lagi pak," "Oalaaa..., Bisa bisa" "Sekalian membicarakan keseriusan saya," ujar Bian serius. Tampak ulasan senyum di wajah Bapak. Beliau sudah tahu bahwa memang Bian serius dengan Jihan sejak awal mereka di pertemukan hari itu. "Saya sudah ngomong personal ke Jihan tentang niatan saya, pak dan Jihan setuju," "Yaa..., kalau Jihan sudah setuju , bapak ibuk ya ndukung. Dari awal juga kan kami udah setuju," Bian tersenyum saat mendengar jawaban Bapak barusan. Memang sudah saatnya ia kembali membicarakan untuk hal yang lebih serius dari sekedar 'pacaran' dan menghabiskan waktu tak jelas. Jihan juga sudah lulus dari kuliahnya, alangkah lebih baiknya memang Bian buru-buru meresmikannya. Agar semua halal baginya. "Lebih baik memamg seperti itu. Ya kalian sesuaikan dengan waktu dan pekerjaan kalian," "Nggeh pak, itu juga yang akan kami pertimbangkan," "Ya..., mbakmu juga baru lahiran kan?" "Nggeh, monggo dirembug bareng-bareng. Makanya saya butuh mempertemukan bapak ibuk dengan papa dan mama, minggu depan begitu ya pak?" "Iya, bapak ibuk ada di rumah kok. Datang aja," bapak mempersilakan. "Nggeh pak," Sesi man talk sudah selesai, kini saatnya mereka kembali ke kamar rawat Jihan. Sambil berjalan ke atas, sesekali mereka membicarakan beberapa isu yang tengah hangat dan viral akhir-akhir ini. Mulai dari politik hingga kasus-kasus receh yang membuat gelak tawa Bapak pecah saat menceritakannya pada Bian yang akhirnya juga si Polar Bear ini ikut tertawa. Sementara di ruang rawat, Jihan tengah disuapi Ibu untuk makan. Jihan enggan sebenarnya, makanan rs tidak ada rasanya, ya memang begitu adanya. Namanya juga diet rs, rasa-rasa kurang garam, kurang manis dan segalanya tak pernah terasa pas di lidahnya. Padahal, menu makan yang tersaji di hadapan Jihan adalah tuna steam dan kentang halus yang memang nampaknya lezat tapi rupa mengelabui rasa.  Jihan menolak dengan berbagai alasan, ya pahit lah, ya mual lah hingga akhirnya Ibu menyerah menyuapinya dan menjauhkan meja beserta nampan di atasnya agar nanti bisa kembali di angkut oleh staf Poli Gizi. Bian dan Bapak kembali saat Jihan uring-uringan setelah makan dan minum obat. Ia ingin makanan lain, lidahnya menolak keras makanan rs. Tak berhasil merengek pada Ibu, ia beralih pada Bian namun akhirnya tak berhasil juga. "Yang ngurusin kamar siapa, le?" tanya Ibu pada Bian yang sedang membujuk Jihan agar tak merajuk. "Mama, buk. Katanya langsung urus kamar ini pas Jihan siuman," "Yaudah, besok ibuk biar ketemu mama," Bian mengangguk mengerti. "Yang, kamu nggak mau bobok?" Bian mengelus lengan Jihan yang bebas dari infus dan menatapnya sekilas. "Istirahat. Biar cepet pulih," "Daritadi juga tidur terus," sahut Jihan tanpa menatap Bian. Lama Bian terdiam. Jihan masih merajuk rupanya karena tidak di izinkan Bian memakan makanan lain selain diet rs. Setelahnya Bapak pamit pulang karena Ibu memaksanya pulang. Ibu dan Bian yang menjaga Jihan malam ini. Bapak mencium kening Jihan sebelum ia keluar dari sana dan di sambut cebikan bibir Jihan yang mau Bapak disini namun ia tak ingin memaksa karena tahu Ibu pasti tetap meminta Bapak untuk pulang. "Sini mas," pinta Jihan. "Ke mana?" "Deketan," Bian menuruti dan mendekat ke arah Jihan lalu duduk di atas bed. Tiba-tiba saja Jihan menyurukkan kepalanya ke d**a Bian, lalu menyadarkan kepalanya di lengan Bian yang di jadikannya bantal. "Kenapa? Hm? Ndusel," "Hmmm," "Aslinya nggak boleh lho gini," ujar Bian namun sesekali tangannya mengelus kepala Jihan. Mata Jihan sudah 5 watt dan akhirnya pulas tertidur, Bian menggeser tangannya lalu memindahkan kepala Jihan kembali ke atas bantal. Ibu sudah terlelap juga di atas sofa, Bian menggelar matras dan ikut terlelap dalam alam mimpi, sejenak lupa dengan segala kemelut dan drama yang terjadi hari ini. . . . . . Dua hari sudah Jihan berada di ruang rawat ini. Sesekali ia merengek minta pulang namun malam sebelumnya saat visit terakhir, tekanan darahnya masih rendah. Sudah berulang kali juga Bian melarang namun sepertinya Jihan memiliki seribu alasan untuk pulang paksa dan menjadikan hal ini bahan perdebatannya dengan Bian. "Mas Abi. Mau pulang, tugasku mas, numpuk." rengeknya dengan wajah memelas dan puppy eyes nya. "Kamu enak bisa kerjain di sini, lha aku? Laporan, presentasi. Terbengkalai semua," lanjutnya kesal. Bian menghela napasnya pelan."Mau kamu kerjain di sini juga? Saya ambilin laptop di rumah?" "Udahlah nggak usah," Jihan membalik tubuhnya membelakangi Bian. Bian hanya bisa menatap punggung itu sambil sesekali bergumam. "Ck! Ngambek," gumamnya lalu mencubit pipi Jihan yang menggembung dan mencium kepalanya. Pukul 8 tepat. Bhima masuk bersama Suster untuk melakukan visit pagi, seperti biasanya. Segera saja Jihan mengutarakan keinginannya untuk segera pulang setelah ini. "Dok, saya mau pulang," pintanya santai. "Saya belum selesai periksa lho," Jihan memutar bola matanya jengah. "Yaelah," "Bini lo ngambekan banget Bi," canda Bhima. "Kata ibuk kalo sakit emang gini," sahut Bian sambil menatap Jihan yang masih cemberut  dan diam tak peduli saat Bhima melakukan pemeriksaan. "Kamu mau janji nggak, Ji? Kalau dibolehin pulang bisa sembuh? Nanti belum sehari tepar lagi?" papar Bhima sambil memasukkan kembali stetoskopnya ke dalam saku snellinya. "Iya janji," sahutnya. "Tekanan darah, sih, udah normal lagi. Tapi semalem sempat drop gitu, yakin nggak apa-apa?" "Nggak apa-apa dok, kan ada ibuk. I know what i have to do kok," ucap Jihan kembali berusaha meyakinkan Bhima. "Yaudah, over all udah lebih baik sih. Tapi belum begitu baik batuknya ya, Ji," "Iya dok, paham." "Oke. Habis infus bisa pulang," sahut Bhima sambil melirik infus Jihan yang menggantung, masih ada sisa sedikit. "Yaudah nggak apa. Makasi ya, dok," Bhima mengangguk. "Urus administrasinya, Bi. Sama tebus obat, gue balik Ugd dulu." pamitnya. "Sip. Makasi bro," ucap Bian sebelum Bhima dan Susternya berlalu keluar dari ruang rawat Jihan. Lalu Bian segera mengu Tepat saat kantung infus Jihan sudah kempis, ia menekan bel dan memanggil Suster untuk melepaskan jarum infus yang sejak dua hari lalu tertancap di sana. "Langsung pulang ya?" tanya Bian saat Jihan masih menunggu infusnya terlepas. "Iyaa, aku juga mau nugas," sahut Jihan pelan. "Tapi habis anter kamu saya ke kantor boleh?" "Nggak apa-apa. Ya kamu ke kantor ajaa sih," "Oke," jawab Bian pendek. "Dasar nggak peka," Jihan misuh-misuh saat Bian tengah membereskan barang-barang yang tercecer. . . . . Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Jihan lebih banyak diam, sesekali terbatuk saat tenggorokannya terasa gatal. Jihan menatap jalanan dari balik jendela mobil dengan wajah dan tatapan yang masih sulit di artikan. Sesekali ia memilin-milin baju yang di kenakannya. Ia menunggu Bian untuk bicara namun sepertinya Bian tak memiliki inisiatif untuk bicara. Hhh..., Nasib punya calon suami nggak peka ya macam ini. Hingga tak terasa saat Jihan tersadar dari melamunnya, ia sudah tiba di depan rumahnya. Bian membantunya turun dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam. "Makasih, mas" ujar Jihan saat sudah duduk di sofa ruang tengah. "Istirahat ya," pinta Bian sesaat setelah meletakkan tas bawaan Jihan lalu duduk di sampingnya. "Heumm," "Obat, makan, jangan lupa." Bian mengingatkan lalu meletakkan plastik berisi obat-obatan di atas meja. "Iya pak dokter," ledek Jihan. "Saya kasihin resep makan ke bibik, biar kamu minta macam-macam," paparnya lalu meuju ke arah dapur dan memberikan catatan makanan untuk Jihan ke Bik Sri. "Jahad ih!" "Saya nggak bisa lama-lama. Saya langsung balik ya?" "Sana," "Lah, ngusir? Nggak salim?" Jihan langsung meraih punggung tangan Bian lalu Bian mencium puncak kepala Jihan. "Hati-hati," "Yaa, kamu juga, telepon, wa atau line kalau ada apa-apa," pesannya, Jihan mengangguk patuh. "Assalamualaikum," ucap Bian sambil berjalan ke arah pintu. "Wa'alaikumsalam," sahut Jihan lalu ia buru-buru ke dapur karena penasaran kertas resep apa yang di berikan Bian. Hhh, macan dokter aja pak arsitek ini. "Biiiiiii..., di kasih apa sama mas Abi?" tanyanya penasaran melihat kertas yang sedang dibaca bik Sri. "Ini non," Bik Sri menunjukkan kertasnya lalu dibaca Jihan. Yang boleh dimakan: -Nasi tim/ bubur -Kentang halus -Puding -Buah (melon, pepaya, semangka, pisang) Beserta sebangsanya yang lembek-lembek. No mecin, garam dan gula sedikit aja. No gorengan, maksimal makanannya di kukus, nggak boleh makanan bersantan, nasi, juga kopi dan teh. Sincerely Abiandra. S (Bukan dokter) Geh! Bukan dokter tapi larangannya mirip dokter. Lha piye? Jihan menatap kertas berisi tulisan tangan Bian dengan nanar. "Makanan enak semuaaa," rengeknya lalu merebahkan kepalanya di atas meja makan dan merengut. "Mas Abi jahat," gumamnya. "Mau makan apa non?" tanya Bik Sri. "Puding, tolong buatin, bik. Nggak selera yang lain," keluhnya. "Yaudah bibik buatin puding s**u biskuit regal aja ya non. Kalau udah selesai bibik anterin," "Heum," sahutnya lalu bangkit dari kursi makan dan berjalan pelan masuk ke kamarnya. Segera saja ia duduk di depan meja belajarnya dan menyambar laptop, lembaran laporan dan diktatnya lalu memulai tugasnya. Setidaknya lusa ia sudah bisa masuk kerja lagi dan mengejar ketertinggalannya. . . . . . Hari sudah sore, Jihan juga sudah menandaskan 3 potong pudding s**u yang dimintanya tadi. Ia masih berada di kamarnya, enggan keluar setelah menyelesaikan tugasnya yang terbengkalai dan merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur. Sayup-sayup Jihan mendengar suara Ibu di lantai bawah. Beliau baru saja sampai rumah. Astaga Jihan lupa! Bisa habis ia di marahi Ibunya kalau tahu dirinya meminta pulang paksa dari rumahsakit. Ceklek. "Jihan," Ibu membuka pintu kamar Jihan dan melihat putrinya di sana sedang menutupi dirinya dengan selimut sampai hanya kepalanya saja yang terlihat. Entah Jihan sungguhan tidur atau hanya pura-pura agar tak di marahi Ibu. "Hhhh, Jihan, Jihan. Bangun, nggak usah pura-pura bobok," Ibu menyingkap selimut Jihan namun putrinya itu tetap bergeming tak begerak. "...ibuk udah tanya masmu. Kenapa pulang paksa? Pasti kamu merengek minta pulang kan?" Mau tak mau Jihan membuka kedua netranya. Ia tertangkap basah. Tercebur saja sekalian. "Iya, Jihan yang paksa minta pulang," akunya lalu duduk tertunduk, ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri satu-satunya ini. "Perawatan dari ibuk. Nggak ada penolakan, pokoknya weekend ini kamu di rumah, nggak boleh keluar. Ibuk kurung aja disini sekalian," titahnya keras. Beliau kadung kesal, setiap kali sakit pasti ada saja tingkahnya. Salah satunya ya begini. Manja dan keras kepalanya bertambah berkali-kali lipat. Pada akhirnya, Jihan hanya mengangguk, menurut pasrah dengan titah sang ibunda ratu. Ia sudah tidak kuat berdebat lebih baik menurut daripada masalah semakin panjang tak karuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD