Bab 8: Nazhwa dan Kehidupannya

2158 Words
Dalam hidup tidak pernah namanya bebas dari masalah. Nazhwa berusaha terbiasa dengan itu semua sejak dia duduk di bangku kelas dua SD. Nazhwa sadar betul dia saat itu belum tahu apa-apa tapi dia ingat setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Saat itu dia harus berpisah sama ayah untuk pertama kalinya, banyak orang yang menenangkannya dan mengatakan padanya bahwa ayah akan segera pulang namun pada kenyataanya, satu tahun sampai dua tahun ayah tidak pernah kembali. Memasuki tahun ketiga tepat Nahzwa akan naik kelas empat ayah kembali tapi bukan untuk menetap bersamanya tapi untuk membawa ibu dan kedua adiknya ikut serta ke perantauan. Mereka semua menawarkan Nazhwa untuk ikut pergi namun pada akhirnya Nazhwa memilih tinggal bersama dengan Ayek— artinya sama dengan kakek dalam bahasa Indonesia dan Mak gaek— nenek dalam bahasa Indonesia. Nazhwa melewati banyak hal buruk sepanjang masa sekolah dasar. Ada kalanya dia hanya makan nasi mengunakan minyak kelapa yang di buat oleh Mak gaek yang di campur dengan garam karena tidak memiliki uang untuk membeli lauk pauk yang layak di makan. Ada harapan kedua orang tuanya akan segera kembali bersama kedua adiknya namun mereka tidak kunjung kembali. Belum lagi kata-kata orang yang dia dengar tentang orangtuanya dan teman-teman yang menjahuinya karena Nazhwa tidak bisa mengikuti gaya mereka dengan segala keterbatasan ekonomi yang di alami oleh keluarganya. Kadang Nazhwa selalu menangis sepanjang malam karena keadaan sama sekali tidak pernah berubah, dia belajar dengan sangat keras sampai jadi yang pertama di kelasnya, berharap dapat ucapan selamat dari kedua orangtuanya atau mereka akan kembali untuk mengunjunginya namun itu semua juga berakhir sia-sia. Mereka sama sekali tidak datang. Ayek dan Mak gaek selalu mengatakan pada Nazhwa, bahwa tidak pernah mudah untuk hidup di daeran orang lain, dengan segala perbedaan budaya, bahasa apalagi ketika itu orangtuanya berangkat dengan modal yang sangat pas-pasan. Nazhwa lagi-lagi berusaha mengerti dengan keadaanya. Sampai pada akhirnya ketika dia lulus Sekolah Dasar. Dia termasuk lulusan terbaik saat itu. Nazhwa pada akhirnya memutuskan untuk ikut kedua orangtuanya, hidup bersama kembali dengan kedua adiknya. Saat itu Nazhwa benar-benar mengerti bahwa hidup itu tidak mudah. Banyak sekali problem yang terjadi dalam keluarganya sampai pada akhirnya Nazhwa menjadi Nazhwa yang kalian kenal hari ini. Nazhwa yang selalu bekerja keras, Nazhwa yang selalu menekan kuat-kuat egonya. “Iya, Ma—“ Nazhwa menarik napasnya pelan. Menjauhkan ponselnya dari telinga. Setelah mendengar suara Mama-nya di sana. “Wa… Kata Nam dan Nay, kamu masih bekerja sampai larut malam bahkan sampai pagi. Nak, berapa kali Mama bilang. Keadaan kita sekarang sudah jauh lebih baik. Mama dan Papa udah kembali ke kampung untuk merawat Ayek dan Mak Gaek sesuai dengan keinginan kamu. Mama dan Papa juga udah banyak istirahat dan nggak kerja keras lagi seperti dulu. Semuanya sudah seimbang sekarang, Nak. Ayo, Nazh, berhenti keras pada diri kamu sendiri. Tolong percaya sama Mama dan Papa. Kita nggak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.” Nazhwa menengadah, menarik napas dalam-dalam. Berusaha keras untuk tidak menangis. “Wawa tahu, Ma. Aku perca—ya—“ napas Nazhwa mendadak tercekat. Dia benci pada dirinya sendiri, selalu gagal untuk percaya pada kedua orangtuanya sendiri walau keduanya sudah meyakinkan Nazhwa tapi tetap saja sulit, mengingat kejadian yang dia lalui dari SMP sampai dia dua tahun masa kuliah S1-nya berlangsung. “Kamu sudah makan?” Pertanyaan Mamanya kembali terdengar. Sejujurnya sang Mama sangat jarang bertanya hal semacam ini padanya sehingga hal sederhana menurut orang lain itu terasa sangat asing untuk Nazhwa. “Ini baru mau cari makan—“ ada jeda beberapa saat ketika Nazhwa kembali berusaha menarik napasnya, menormalkan suaranya yang sudah bergetar, “ Wawa tutup ya telponnya. Wawa pergi makan. Assalamualaikum.” Setelah telpon itu benar-benar tertutup. Nazhwa memeluk kakinya sendiri. Tangis gadis itu kembali pecah. Bayangan semua rasa sakit itu kembali berputar di dalam ingatannya. Nazhwa selau berusaha untuk menganggap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sudah membaik namun Nazhwa gagal dengan semua itu. Nazhwa mengusap air matanya dengan cukup kasar, gadis itu memilih menyalakan laptopnya. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan di bandingkan dia harus terus larut dalam kesedihan, namun ketika jemari Nazhwa ingin bergerak di atas keyboard-nya, air mata itu kembali mengalir. “Wa— please jangan nangis. Ini nggak akan menyelesaikan apapun!” seru Nazhwa pada dirinya sendiri. Tidak salah jika orang-orang mengatakan pada Nazhwa untuk tidak keras pada diri sendiri karena memang Nazhwa memang sekeras itu pada dirinya sendiri. Nazhwa kembali menarik napasnya dalam-dalam, dia melirik pada jam yang ada di dinding kamar indekosnya. Jam malam hampir habis. Jika Nazhwa pergi keluar, sudah di pastikan, saat dia kembali pintu gerbang indekos-nya sudah terkunci. Nazhwa terlihat berpikir lebih keras, dia kembali mematikan laptopnya. Ingin menghubungi Oca tapi sekarang Oca bukan gadis lagi bahkan wanita itu sudah hamil anak pertama, akan menjadi sangat aneh jika Nazhwa bertamu di jam sepuluh malam. Anita. Pada akhirnya gadis itulah yang di hubungi Nazhwa. Untung saja Anita mengatakan dia akan akan di apartemen saat pukul sebelas nanti. Jadilah Nazhwa memilih untuk keluar malam ini untuk menghirup udara malam, menenangkan pikirannya yang terasa sangat kusut. Dengan berbekal celana jeans dan sweater yang cukup kedodoran dengan warna yang sudah pudar karena saking seringnya kena air, sabun dan sinar matahari. Rambut yang di cepol asal dan sling bag untuk menaruh ponsel, beberapa lembar uang dan beberapa kartu yang mungkin akan dia butuhkan. Nazhwa mulai meninggalkan indekosnya. Gadis itu memilih memesan gojek dengan tujuannya adalah alun-alun Kidul Yogyakarta. Nazhwa ingin menyantap sate-satean di sana dan juga wedang ronde yang mungkin bisa membuat dirinya merasa jauh lebih baik. Di perjalan, kalau bukan malu sama abang driver ojeknya, Nazhwa mungkin akan kembali menangis tersedu-sedu. Namun pada akhirnya dia memilih untuk menahannya. *** “Kalau bukan karena ada aunty Lila dan Uncle Angga, gue ogah banget pergi sama mereka berdua!” Khaibar hanya menghembuskan napasnya pasrah ketika mendengar keluhan Arsyana di sampingnya walau sebenarnya Khaibar juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda dari Arsyana. “Yang sabar, Na,” ucap Khaibar sambil memberikan satu tusuk sate pada Arsyana. Tatapan mereka tidak lepas sedikitpun dari kembar Lakeswara yang sedang asik mainan balon di tengah alun-alun kayak bocah umur tiga tahun padahal Levino dan Lavina sudah mau dua puluh empat tahun, tahun ini. Jarak umur keduanya dengan Khaibar dan Arsyana memang hampir enam tahun. “Heran banget gue, kata orang kalau anak kembar tuh pasti ada beda sikapnya, nah ini astagfirullah, sebelas dua belas banget, mas Khai.” Arsyana kembali mengeluh. Khaibar hanya mengangguk sebagai tanggapan, karena apa yang di katakan Arsyana lagi-lagi benar. Sikap si kembar Lakeswara itu memang hampir sama, oh tidak lebih tepatnya sama persis, sama-sama sok polosnya, dramatisnya, nyablaknya dan malasnya tapi ketika si kembar itu mulai menunjukkan jiwa ambisnya, maka berarti dunia sedang tidak baik-baik saja. Contohnya setahun lalu, ketika kedua orang tua mereka menjanjikan, jika si kembar itu lulus setengah tahun lebih cepat dari Harvard University maka mereka akan dapat hadiah mobil sport dan apa yang terjadi, si kembar itu kompak lulus satu tahun lebih cepat yang membuat dua mobil sport keluaran terbaru terparkir dengan manis di halaman kediaman mereka. “Mas Khai, gue balik ya, ada janji.” Arsyana menatap Khaibar sambil mesem. Khaibar memicingkan matanya, menatap gadis itu dengan curiga membuat Arsyana semakin mesem. “Jangan ngadu sama siapa-siapa, Khai. Awas lo! Janji gue nggak balik larut malam!” Khaibar hanya menggelengkan kepalanya kemudian menjitak kepala Arsyana. “Kalau sampai bocor itu bukan saah gue ya. Lo tahu sendiri walaupun itu para orangtua lagi keliling Eropa, mata mereka ada di mana-mana,” ucap Khaibar. Arsyana mengangguk sembari tersenyum lebar, gadis itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Khaibar duduk sendirian sembari menatap si kembar Lakeswara yang sudah berganti membeli mainan yang lain. Mereka berangkat ke Alun-alun memang menggunakan mobil sendiri-sendiri kecuali si kembar yang dagang dengan satu mobil jadi sebenarnya nggak masalah jika pulang duluan. “Lav…Lev… Balik yuk!” seru Khaibar ketika melihat ICW yang melingkar di pergelangan tangannya terus bergerak maju. Lavino dan Lavina langsung melangkah keaah Khaibar. “Lo duluan deh, Mas. Gue sama Lav ada janji di tempat lain sama teman. Jangan bilang ayah sama bunda.” Lavino menepuk pundak Khaibar sembari mengedipkan sebelah matanya kemudian si kembar yang memang berangkat pakai mobil yang sama itu langsung pergi begitu sana meninggalkan Khaibar yang terlihat sangat tertekan. Hal yang sama terus saja terulang berkali-kali. Khaibar selalu berusaha untuk meluangkan waktunya untuk tiga orang yang sudah dia kenal sejak orok tapi hal semacam ini selalu terjadi. Khaibar akan di tinggal sendirian. Karena sejak dulu Khaibar adalah orang yang jarang punya janji nongki atau janji lainnya seperti Arsyana, Levino dan Lavina. “Awas aja, setelah ini kalian bertiga yang akan selalu gue tinggal!” seru Khaibar dengan kesal. Pria itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sembarangan arah, mobil Arsyana benar-bena sudah tidak terlihat begitu juga dengan mobil si kembar namun tatapan Khaibar terhenti ketika melihat sosok yang cukup familiar untuknya duduk di sisi lain alun-alun sendirian. Khaibar lagi-lagi melirik ke ICW yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jam malam di indekosnya udah nggak berlaku?” gumam Khaibar sendirian sebelum dia melangkah ke arah gadis yang duduk di sana sembari memeluk kakinya sendiri. “Nazh—“ Khaibar memanggil nama itu dengan sedikit ragu, ngeri-ngeri salah orang yang berakhir akan membuatnya malu sendiri. Namun saat gadis itu menoleh, syukurlah gadis itu benar-benar Nazhwa namun ada hal yang membuat Khaibar langsung menunduk ketika melihat mata Nazhwa yang memerah dan air mata yang mengalir di sudut mata gadis itu. Nazhwa terlihat langsung buru-buru menghapusnya ketika Khaibar akhirnya ikut duduk di samping Nazhwa. Khaibar tidak membuka suara. Dia juga tidak bertanya kenapa Nazhwa menangis tapi ada hal lain yang Khaibar lakukan, hal yang membuat dia sudah bersiap untuk dapat makian dari Nazhwa yaitu membawa kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya. Beberapa detik hanya hening yang terjadi di antara mereka namun pada akhirnya isakan tangis Nazhwa terdengar. Khaibar diam-diam menghembuskan napasnya lega. Nazhwa tidak menolak. Ini lebih baik walau tidak bisa di bilang, Khaibar sudah selangkah lebih maju. Makin lama Khaibar merasa bahunya terasa hangat. Entah berapa banyak air mata yang di keluarkan oleh Nazhwa dan entah apa yang membuat gadis itu menangis dalam kegelapan dan tempat umum seperti ini. Khaibar ingin bertanya tapi pada akhirnya dia memilih mengurungkan. Itu bukan hak-nya. Di terima saja untuk menjadi tempat Nazhwa bersandar malam ini sudah jauh dari cukup. “Sudah?” tanya Khaibar ketika Nazhwa kembali duduk sembari memeluk kakinya sendiri. Isakan tangisnya sudah mulai reda walau tidak benar-benar reda. Gadis itu terlihat mengangguk pelan sebelum akhirnya menoleh pada Khaibar. “Sorry, hoodie bapak basah gara-gara saya,” ucap Nazhwa dengan suara serak. Wajah gadis itu benar-benar terlihat sembab. Khaibar tersenyum mendengar itu. “It’s oke, Nazh. Ini akan kering dalam beberapa waktu. Kalau kamu mau pinjam bahu saya lagi juga oke. Udah kebiasaan nganggur soalnya.” Khaibar setelah mengucapkan kalimat itu memaki-maki dirinya sendiri dalam hati, cringe banget astagah, Khaibar Chakra Winata! “Curhat?” tanya Nazhwa masih dengan suara serak, “bukannya orang seperti bapak seharusnya nggak pernah nganggur. Setiap hari juga pasti ketempelan,” lanjut Nazhwa. Khaibar tiba-tiba mengerdik ngeri. Tatapannya jadi kesana-kemari. Merasa keadaan mendadak horror. “Nazh, bahasa kamu. Ketempelan. Ngeri, Nazh,” ucap Khaibar, ketempelan itu adalah hal yang menyeramkan. Itu ada hubungannya dengan makhluk-makhluk tak kasat mata. Nazhwa tersenyum geli, ternyata orang seperti Khaibar juga memiliki ketakutan pada hal semacam itu. “Nahz, tadi senyum?” tanya Khaibar ketika menyadari ekspresi yang belum pernah Nazhwa perlihatkan ketika bersama dengannya. “Nangis.” Nahzwa menjawab dengan ekspresi yang kembali datar. Kini gantian Khaibar yang terkekeh. Khaibar kembali melihat ICW yang melingkar di pergelangan tangannya, “ini sudah jam sebelas lewat, peraturan jam malam indekos kamu sudah berubah?” tanya Khaibar. Kening Nazhwa terlihat berkerut, seolah sedang bertanya kenapa Khaibar bisa tahu tentang jam malam. “Oh, saya nggak sengaja baca waktu antar kamu waktu itu,” ucap Khaibar, nggak sengaja baca— itu jelas hanya alibi, bisa ngamuk Nazhwa kalau tahu Khaibar memotret spanduk indekos gadis itu dan membacanya berkali-kali. “Peraturannya nggak berubah cuma saya yang lagi malas di sana— sendirian,” jawab Nazhwa jujur. “Mau pulang kemana setelah ini. Nggak mungkin kamu di sini sampai pagi,” ucap Khaibar. “Ke apartemen Anit—“ ucapan Nazhwa tiba-tiba terhenti ketika ada telpon masuk dan itu dari Anita. Gadis itu buru-buru mengangkat. Raut wajah Nazhwa langsung berubah ketika Anita mengatakan dia tidak kembali ke apartemen malam ini karena temannya mabuk. “Gimana? Anita ada?” tanya Khaibar. Nazhwa langsung menggeleng. “Temannya mabuk, dia nggak pulang ke apartemen,” ucap Nazhwa. Raut wajah gadis itu terlihat berubah sedikit panik walau itu tidak terlalu terlihat. “Pulang ke apartemen saya kalau gitu.” Khaibar terlihat terkejut sendiri ketika mengatakannya tanpa pikir panjang, Nazhwa apa lagi, gadis itu terlihat jauh-jauh lebih terkejut di bandingkan Khaibar. Namun setelah Khaibar menjelaskan tentang apartemen dan meyakinkan Nazhwa bahwa dia tidak memiliki niatan yang tidak-tidak pada akhirnya Nazhwa menerima uluran tangan Khaibar untuk pertama kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD