Saat malam yang kian larut, Nazhwa tidak banyak bicara bahkan setelah mobil Khaibar terparkir di basement sebuah gedung Apartemen yang cukup Nazhwa kenali karena apartemen ini berada tidak jauh dari kampusnya dan kebanyakan teman-temannya atau mahasiswa yang memiliki uang lebih akan memilih untuk tinggal di apartemen ini.
“Nazh ayo turun.” Nazhwa terkesiap dari lamunannya kemudian saat menoleh ke samping ternyata Khaibar sudah membukakan pintu mobil untuknya. Nazhwa pernah beberapa kali menuliskan adegan seperti ini di novelnya namun Nazhwa tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa dia akan mengalami hal semacam itu di dunia nyata.
Mengangguk dengan sangat kaku, Nazhwa akhirnya turun dari mobil Khaibar. Tatapan matanya menjelajahi sekitarnya. Apartemen ini termasuk dalam kategori bangunan lama, menurut beberapa orang yang sudah lama tinggal di apartemen ini tidak ada pembaruan pada desain apartemen hanya ada perbaikan tertentu agar penghuninya tetap nyaman. Jadinya apartemen ini seperti bangunan lama yang jatuhnya klasik gitu tapi kesannya di Nazhwa adalah bangunan tua. Nazhwa tidak tahu kenapa seorang Khaibar Chakra Winata yang mobilnya bahkan terlihat sangat mencolok dibandingkan mobil-mobil lain di apartemen ini justru datang ke sini.
“Nazh, unit saya ada di atas. Ayo naik,” ucap Khaibar. Nazhwa langsung mengangguk saja walau dia tetap merasa sedikit was-was. Dia tahu Khaibar adalah orang yang berasal dari keluarga baik-baik, berpendidikan tinggi dan juga terkenal baik di lingkungannya namun ada aja perasaan dalam diri Nazhwa yang mengatakan bahwa orang baik belum tentu baik, Nahzwa tidak punya kewajiban untuk percaya seratus persen pada seseorang.
Saat lift membawa mereka naik. Nazhwa berdiri selangkah di belakang Khaibar. Jelas Nazhwa lagi-lagi melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia tetap sedang menjaga dirinya. Walau tidak ada tanda-tanda Khaibar akan melakukan sesuatu yang buruk tapi Nazhwa merasa bahwa dia tetap harus seperti ini. Beberapa kali Nazhwa menatap Khaibar dari sudut matanya tetap saja tidak ada hal yang perlu dicurigai pada Khaibar.
Pintu lift itu terbuka. Khaibar keluar kemudian Nazhwa juga ikut menyusul. Khaibar tersenyum singkat pada Nazhwa ketika menoleh namun Nazhwa hanya membalasnya dengan senyum segaris. Dia tidak tahu kenapa dia harus tersenyum. Di mata Nazhwa, Khaibar itu tetap bapak manajer marketing super nyebelin, galak, sok ngatur sampai Nazhwa memberikan gelar Paduka Shantha pada Khaibar. Jadi ketika Khaibar bersikap baik dan bahkan kelewatan ramah padanya, Nazhwa mikirnya jadi aneh, semacam— apaan sih nih orang!
Khaibar berhenti di depan salah satu unit yang membuat Nazhwa juga ikut berhenti. Nazhwa menatap sepanjang lorong yang sepi. Mungkin karena ini sudah tengah malam jadinya lorong-lorong itu memang sepi. Bunyi pintu terbuka membuat Nazhwa memutuskan tatapannya pada lorong itu, tatapannya kini beralih pada pintu apartemen yang sudah terbuka dan Khaibar yang berdiri di ambang pintu.
“Nazh, masuk,” ucap Khaibar. Menatap Khaibar sekali lagi— lagi-lagi untuk memastikan tidak ada hal yang mencurigakan dari Khaibar.
Nahzwa masuk ke dalam. Matanya langsung bertemu dengan berbagai macam lukisan yang membuatnya sulit untuk berkedip. Ruang apartemen ini sudah semacam ruang seni.
“Jangan terlalu terkejut dengan wajah Ibu saya yang ada di setiap sudut apartemen ya, kamu boleh lihat-lihat dulu atau langsung duduk di sofa juga nggak masalah. Saya ambilkan minum dan beberapa makanan untuk kamu.” Nazhwa hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Khaibar. Tatapannya tetap tertuju pada lukisan-lukisan yang di tata sedemikian rupa di dinding, di rak dan di beberapa tempat yang Nazhwa kurang tahu namanya namun itu justru membuat lukisan itu terkesan lebih menarik.
Setiap lukisan yang ada pasti memiliki tulisan kecil dipojokkan bawahnya atau di sebuah kertas semacam note yang menerangkan apa maksud lukisan itu. Salah satunya yang membuat kedua sudut bibir Nazhwa terangkat dan perasaannya menghangat adalah tulisan pada sebuah lukisan ibu Rindu Hafsyahu muda ‘kamu tetap menjadi yang tercantik walau beberapa jerawat datang bulan itu kembali lagi’. Nazhwa sekarang semakin percaya dengan cerita yang berkembang di Shantha bahwa Bhanu Winata dan Rindu Hafshayu adalah pasangan bersejarah, pasangan yang sangat-sangat cocok dijadikan role mode karena keduanya memang pantas.
Puas dengan melihat lukisan di dinding dan rak. Nazhwa kemudian melangkah ke sofa. Duduk di sana dan di sekitar sofa itu juga ada semacam meja pajangan yang ada di dekat kaca yang jika tirainya dibuka, Nazhwa yakin akan memperlihatkan pemandangan kota dan langit yang terbentang luas.
Nazhwa lagi-lagi terpaku pada sebuah lukisan yang terlihat cukup berantakan dengan tulisan tangan yang juga terlihat sangat berantakan. ‘Khai menang lomba melukis dari bapak dan mendapatkan ciuman dan pelukan ibu’. Nahzwa kemudian sadar bahwa itu adalah lukisan dan tulisan tangan Khaibar kecil.
Puas melihat semuanya, Nazhwa tiba-tiba terdiam. Entah kenapa perasaan kosong dan hampa tiba-tiba menyelimutinya namun sebelum dia benar-benar larut dalam pikirannya sendiri, Khaibar datang dengan nampan yang berisi cemilan ringan dan cokelat hangat yang Nazhwa tidak tahu didapat pria itu dari mana.
“Maaf Nazh, ternyata cuma ada ini dibelakang. Biasanya di hari ini akan ada banana cake disini tapi karena ibu dan bapak lagi tidak ada di Indonesia jadi hanya ini. Oh, saya juga sudah memastikan bahwa ini layak dimakan,” ucap Khaibar. Kening Nazhwa sedikit berkerut.
“Banana cake?” tanya Nazhwa. Khaibar tersenyum sambil mengangguk. Lagi-lagi Nazhwa merasa tidak terbisa dengan senyum Khaibar yang seramah itu.
“Kue favorit bapak, ibu sudah membuat kue itu sejak mereka masih pacaran,” jawab Khaibar. Nazhwa mengangguk mengerti. Banyak hal yang tiba-tiba ingin dia tanyakan pada Khaibar tentang apartemen ini namun Nazhwa merasa ragu untuk semuanya.
“Ini apartemen bapak sejak dia jaman kuliah S1 kalau saya nggak salah ingat. Dia kuliah di kampus yang sama seperti kamu,” ucap Khaibar tiba-tiba membuat Nazhwa menoleh dan dia yakin sekarang tatapannya terlihat sangat antusias namun persetan dengan semuanya. Nazhwa kali ini benar-benar sangat tertarik apalagi ini menyangkut pasangan idola di Shantha.
“Disaat semua orang memilih untuk menjual unit milik mereka. Bapak memilih untuk tetap mempertahankannya. Dia bilang ini apartemen kenangan. Terlalu banyak kenangan bersama dengan ibu disini. Dulu mereka memang sering menghabiskan waktu disini. Salah satu hal yang menurut saya paling romantis adalah bapak akan selalu menjadikan ibu sebagai objek lukisannya, dia akan selalu mengabadikan setiap ekspresi yang ibu sendiri tidak sadari dalam sebuah lukisan sedangkan ibu akan bermain piano disana—“ Khaibar menunjuk piano yang tidak jauh dari sofa, “jadi kamu nggak perlu kaget kalau lihat banyak sekali wajah ibu disini,” lanjut Khaibar. Sekarang Nazhwa semakin berdecak kagum. Dia tidak mengerti bagaimana orang bisa saling mencintai sebesar itu. Nazhwa pikir itu hanya akan terjadi di dalam dongeng saja atau di dalam cerita fiksi lainnya.
“Dimana kencan pertama mereka?” tanya Nazhwa.
“Kencan?” Khaibar terlihat berpikir namun pada akhirnya tersenyum, “mungkin di lampu merah. Ibu sering membicarakan itu. Bapak pernah ngajak ibu ngamen di lampu merah untuk kencan mereka.” Bibir Nazhwa langsung terbuka, dia sama sekali tidak pernah memikirkan itu namun kencan di lampu merah sepertinya akan menjadi hal yang cukup menarik namun Nazhwa tidak ingin mencobanya.
“Apartemen ini ditempati?” tanya Nazhwa, Khaibar menggelengkan kepalanya. Untuk jenis apartemen yang tidak ditempati, apartemen ini terlampau bersih bahkan mereka menyediakan makanan disini.
“Ibu dan bapak setiap weekend pasti akan menyempatkan datang kesini dan juga akan yang bersih-bersih disini karena mereka nggak mau lukisan yang ada disini rusak,” jawab Khaibar. Nazhwa mengangguk. Gadis itu kemudian terdiam sambil melingkupi gelas cokelat hangatnya dengan kedua tangan.
Pikiran Nazhwa mendadak berkelana jauh. Matanya menolak untuk menngantuk bahkan mungkin sekarang wajahnya sembab karena banyak menangis. Satu hal yang Nazhwa sadari malam ini— ah tidak-tidak maksudnya sesuatu yang sudah Nazhwa sadari namun hari ini justru membuatnya semakin sadar bahwa dia dan Khaibar adalah orang yang sangat berbeda.
Nazhwa juga tidak bodoh-bodoh banget untuk mengartikan kenapa Khaibar sampai menawarkan untuk menginap di apartemen ini padanya setelah Nazhwa menolak dengan kasar makan siang pemberian Khaibar hari itu. Khaibar sedang mencoba mendekatinya dengan cara yang lain.
“Pak,” ucap Nazhwa. Entah kenapa Nazhwa merasa dia perlu membicarakan hal ini untuk memastikan apa yang dia pikirkan akhir-akhir ini benar atau tidak. Dia mengenal Khaibar memang sudah dari beberapa bulan yang lalu namun Khaibar terkesan mendekatinya secara terang-terangan itu sekitar sebulan atau tiga minggu yang lalu walau itu tidak rutin setiap hari tapi di waktu tertentu atau kesempatan tertentu Khaibar akan melakukannya.
“Ya, Nazh?” tanya Khaibar. Pria yang ternyata juga sedang sibuk dengan cokelat hangatnya itu menatap Nazhwa.
“Kenapa bapak lebih memilih memanggil saya Nazh dibandingkan Wawa seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang bahkan keluarga saya sendiri memanggil saya dengan Wawa?” Khaibar terlihat tersenyum dan menaruh cangkir cokelat nya di atas meja. Nazhwa tahu pertanyaanya itu sedikit nggak berfaedah tapi itu salah satu hal penting untuk Nazhwa.
“Karena saya lebih suka Nazh dibandingkan Wawa,” jawab Khaibar santai. Walau tidak benar-benar tahu maksud Khaibar tapi Nazhwa tidak ingin bertanya lebih lagi tentang alasan pria itu memanggilnya Nazh.
“Bapak lagi mencoba untuk mendekati saya?” tanya Nazhwa, Khaibar terlihat cukup terkejut mendengar pertanyaan Nazhwa itu. Sepanjang hidupnya ini untuk pertama kalinya Nazhwa seterang-terangan ini menanyakan hal seperti ini.
“Kamu baru sadar?” tanya Khairbar. Nazhwa terkesiap. Dia yakin obrolan tengah malam yang sudah larut ini akan menjadi obrolan yang tidak akan selesai dengan cepat.
“Kenapa harus saya?” tanya Nazhwa. Dia juga memilih untuk meletakkan cangkir cokelat hangatnya yang sudah tinggal setengah. Dia dan Khaibar sekarang duduk sedikit menyamping di sofa untuk bisa saling menatap satu sama lain. Sebenarnya itu juga salah satu kelemahan Nazhwa, dia tidak berani secara terang-terangan untuk menatap mata lawan bicaranya entah siapapun itu.
“Kenapa bukan kamu?” tanya Khaibar lagi. Nazhwa merapatkan bibirnya. Khaibar mungkin salah satu orang yang selalu bersemangat untuk mencapai tujuannya. Namun Nazhwa akan meminta Khaibar untuk berhenti sebelum pria itu memiliki rencana-rencana yang semakin matang, rencana-rencana yang akan berakhir menyulitkan Nazhwa atau menyulitkan Khaibar sendiri.
“Saya nggak ingin disukai siapapun, saya tidak ingin memulai hubungan, saya tidak ingin menerima orang baru dalam hidup saya. Jadi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, tolong berhenti sebelum kejauhan, bapak bisa cari yang lain,” ucap Nazhwa. Khaibar terdiam cukup lama, menatap Nazhwa dengan sangat lekat.
“Apa yang kamu takutkan, Nazh?” tanya Khaibar dengan suara cukup serak, suara khas pria itu memang. Suara yang terdengar selalu menyebalkan di rapat akhir bulan. Entah kenapa, dari banyaknya pertanyaan, justru pertanyaan itu yang Khaibar tanyakan padanya.
“Pertemuan, kepergian dan pertemuan kembali adalah hal yang akan selalu terjadi dalam kehidupan, Nazh. Jangan takut untuk menghadapinya. Kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami siklus itu dan buktinya orang-orang diluar sana masih bertahan dengan kehidupan mereka walau mereka hampir sekarat dengan siklus itu,” ucap Khairbar. Nazhwa bungkam, alarm di kepalanya berbunyi dengan sangat nyaring. Perasaannya menjadi berkecamuk. Nazhwa tiba-tiba takut pada Khaibar. Dia takut bahwa pria dihadapannya ini akan semakin bisa membaca isi kepalanya disaat mereka terus saling berhubungan satu sama lain.
“Mereka yang Bapak lihat sedang bertahan belum tentu mereka benar-benar bertahan. Bapak tidak bisa menyimpulkan sesuatu hanya dengan apa yang bapak lihat. Bapak juga nggak akan benar-benar mengerti jika bapak sendiri bahkan nggak pernah ada di siklus itu,” ucap Nazhwa dengan sedikit penekanan.
Orang yang hidup dengan sangat sempurna seperti Khaibar mana tahu rasanya ditinggalkan, tidak dianggap, direndahkan atau hal-hal mengerikan lainnya yang dialami oleh manusia-manusia tidak beruntung.
Melihat Khaibar terdiam, Nazhwa terkekeh pelan, “saya sangat bersyukur memiliki seorang atasan yang sangat baik, yang membawa saya ke tempat sebagus ini yang saya tahu bukan hal yang mudah untuk didatangi oleh sembarangan orang namun saya benar-benar tidak ingin lebih jauh dari mendatangi tempat ini. Pak Khaibar tolong berhenti untuk mendekati saya,” ucap Nazhwa kali ini dengan nada sedikit penuh permohonan. Khaibar tetap terdiam dengan tatapan yang tidak lepas dari Nazhwa.
“Nazhwa, saya nggak tahu kenapa kamu bersikeras untuk menolak kehadiran saya dalam hidup kamu. Apakah sekarang kamu sedang berusaha untuk terlihat jahat di hadapan saya seperti yang sering kamu lakukan pada orang-orang disekitar kamu?” tanya Khaibar. Nazhwa lagi-lagi dibuat terkejut dengan pertanyaan itu, alarm bawah sadarnya lagi-lagi berbunyi penuh peringatan.
“Jika hal itu benar adanya, berarti kali ini kamu salah orang. Kamu nggak akan pernah terlihat jahat dimata saya, Nazh. Alih-alih terlihat jahat, kamu justru terlihat sangat manis dimata saya. Saya bisa merasakan betapa tulusnya kamu dengan orang-orang disekitar kamu.” Nazhwa semakin bungkam. Sekarang yang Nazhwa rasakan adalah sesak yang menyelimuti dirinya.
“Itu hanya bagian dari analisis bapak tanpa landasan dan sesuatu yang dilakukan tanpa landasan tidak akan pernah bertahan lama,” ucap Nazhwa. Khaibar merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Matanya masih saja menyorot Nazhwa dengan begitu lekat.
“Nazh kamu tidak perlu untuk memaksakan dirimu sendiri untuk berjuang— Nazh I understand you and if you need a place to rest. You have me as home.” Dan disisa malam itu bahkan ketika Khaibar mengizinkannya untuk menempati salah satu kamar di apartemen itu yang Nazhwa lakukan hanya diam. Diam sembari memeluk kedua kakinya. Dia tidak tahu harus pergi dengan cara seperti apa. Otaknya benar-benar sulit untuk berpikir dengan benar.