Nazhwa tahu hari ini pasti akan datang. Hari yang membuatnya hanya bisa terus berharap pak Prasetyo Adipura akan segera kembali ke Indonesia. Ini sudah jadwalnya Nazhwa menyerahkan revisian proposal tugas akhirnya pada dosen pembimbingnya supaya dia bisa lanjut ke tahap selanjutnya yaitu ujian proposal tesis. Namun kemarin hal yang tidak pernah Nazhwa harapkan terjadi. Email yang sudah Nazhwa kirim beberapa hari yang lalu pada pak Prasetyo Adipura pada akhirnya mendapatkan balasan. Nazhwa senang dengan email-nya yang pada akhirnya mendapatkan balasan namun Nazhwa sama sekali tidak senang dengan isi email itu. Kurang lebih jawaban pak Prasetyo seperti ini kamu serahkan hasil revisian kamu pada dosen pengganti ya, apapun pendapat beliau berarti itu juga pendapat saya.
Nazhwa rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok saking frustasi. Baru kemarin Nazhwa meminta Khaibar untuk menjauh darinya namun sekarang justru keadaan yang membuatnya harus berada di sekitar pria itu. Keadaan membuatnya harus membangun komunikasi yang baik dengan Khaibar supaya dia cepat lulus. Keadaan yang membuatnya harus bersikap sangat sopan pada pria itu. Mengingat bagaimana dia bicara pada Khaibar semalam kemudian penolakannya pada makan siang yang pernah pria itu belikan untuknya membuat Nazhwa meringis. Jika Khaibar sampai memiliki dendam pribadi padanya, sudah dipastikan proposalnya akan mendapatkan penolakan dari pria itu dengan berbagai alasan, walau Nazhwa membuat argumen untuk tetap memperthankan proposalnya namun argumen Khaibar pasti tetap akan jadi pemenang.
Nazhwa berdiri di depan gerbang kosnya, menunggu ojek pesanannya. Tadi setelah subuh Nazhwa memang memilih untuk meninggalkan apartemen Khaibar dan dia memiliki kelas hari ini pukul sebelas pagi. Pria itu sempat ingin mengantarnya pulang namun karena alasan Nazhwa tidak ingin merepotkan Khaibar lebih jauh lagi Nazhwa menolak tawaran pria itu. Lagian Nazhwa benar-benar tidak ingin Khaibar mengenalnya lebih jauh lagi. Nahzwa tidak ingin isi kepalanya dibaca oleh Khaibar dengan mudah. Itu sangat menakutkan untuk Nazhwa.
Nazhwa memiliki satu kelas hari ini dan itu bukan kelas Khaibar jadilah Nazhwa bisa sedikit bernapas lega. Dia memilih duduk di kursi nomor dua paling depan. Keadaan kelas masih cukup sepi. Nazhwa melihat dua nomor yang ada di atas dan bawah di daftar kontaknya. Yang paling atas dengan nama bapak Khaibar Chakra Winata (Manager) dan yang di bawah Bapak Khaibar Chakra Winata (Dosen). Jemari Nazhwa bergerak untuk menyentuh salah satu nomor itu yang langsung membawa Nazhwa ke ruang obrolan.
Ruang obrolannya dan Khaibar masih kosong karena sebelumnya dia dan Khaibar berkomunikasi menggunakan email untuk mengumpulkan tugas teman-teman kelasnya. Nazhwa menatap ruang obrolan itu dengan sangat ragu. Tatapan gadis itu kemudian menjelajahi isi kelas yang sudah mulai ramai. Saat Nazhwa sudah memiliki keyakinan untuk mengetikkan pesan untuk Khaibar, dosen yang mengisi kelasnya hari ini masuk dan jadilah Nazhwa memilih untuk menutup ruang obrolan itu dan mulai fokus pada forum diskusi yang baru saja di buka oleh dosennya.
***
Kelas Nazhwa pada akhirnya selesai sekitar sepuluh menit yang lalu. Nazhwa sekarang sedang duduk di bangku kantin fakultasnya. Dia tidak akan pergi ke Shantha hari ini karena sisa pekerjaan Nazhwa hari bisa dia selesaikan tanpa dia harus pergi ke Shantha. Pekerjaan inti Nazhwa untuk hari ini sudah dia selesaikan kemarin.
Mata gadis itu lagi-lagi fokus pada ruang obrolannya yang masih kosong dengan Khaibar. Nazhwa tidak tahu Khaibar itu sebenarnya memiliki berapa nomor ponsel.
“Ini pasti bukan nomor pribadinya sih, ini pasti khusus buat pekerjaan dia sebagai dosen,” ucap Nazhwa pada dirinya sendiri. Gadis itu mulai mengetikkan pesan untuk Khaibar.
Nazhwa Zahira
Assalamualaikum Pak,
sebelumnya saya minta maaf karena mengganggu waktunya
Saya Nazhwa Zahira mahasiswa bimbingan pak Prasetyo.
Beliau meminta saya untuk menghubungi bapak untuk menyerahkan hasil revisian proposal saya.
Kira-kira saya bisa menyerahkan proposal saya kapan ya pak?
Nazhwa diam-diam menahan napasnya ketika pesan itu berhasil terkirim pada Khaibar. Membacanya sekali lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan ketik. Setelah itu Nazhwa benar-benar menutup ruang obrolan bertepatan dengan ayam bakar pesanannya datang. Di kantin fakultasnya ayam bakarnya memang yang paling juara menurut Nazhwa. Jika dia memiliki waktu dan kesempatan Nazhwa akan selalu menyempatkan diri untuk makan kesini.
Saat sedang menikmati ayam bakarnya, suara notifikasi dari ponselnya membuat Nazhwa cepat-cepat meraih benda itu. Ketika melihat pop up Nazhwa dengan refleks menahan napasnya sendiri. Khaibar membalas pesannya.
Nazhwa buru-buru membuka ponselnya dengan sensor jempolnya untuk bisa membaca pesan balasan dari Khaibar dengan bena.
Bapak Khaibar Chakra Winata (Dosen)
Waalaikumsalam. Saya ada waktu kosong sepulang kantor
Ketemu sama saya di warung lesehan bambu
Nazhwa Zahira
Baik pak, terimakasih
Setelah membalas pesan Khaibar, Nazhwa kembali melanjutkan kegiatan makannya. Dia masih memiliki waktu yang sangat panjang sampai Khaiba pulang kantor. Nazhwa bisa melakukan hal lain kalau begitu. Hari ini Nazhwa akan memberikan reward pada dirinya sendiri. Bersenang-senang versi Nazhwa.
***
Setelah puas menghirup aroma-aroma buku di toko buku dan mendapatkan salah satu buku yang sudah dia inginkan dari lama. Kini Nazhwa memilih berpindah ke kafe yang sudah sangat terkenal di Jogja— B&W Coffe. Kafe yang seolah tidak pernah pernah tertinggal oleh zaman, semakin hari justru semakin ramai. Nazhwa sekarang ada di B&W Coffe Kotabaru yang memang jaraknya tidak terlampau jauh dengan toko buku yang Nazhwa kunjungi tadi.
Setelah mendapatkan pesanannya, Nazhwa mulai sibuk dengan bacaanya hari. Begini salah satu cara Nazhwa menikmati waktu santainya. Membaca buku di kafe dengan desain klasik nan nyaman dengan kopi dan musik yang memang diputar di kafe itu. Musik-musik relaksasi yang selalu diputar di kafe ini sama sekali tidak pernah mengecewakan di telinga Nazhwa. Nazhwa sangat mengakui bahwa barista di kafe ini memiliki selera musik yang cocok dengan selera musiknya.
Beranjak dari novel halaman pertama kemudian beralih ke halaman berikutnya. Gilak ini benar-benar sesuai dengan harapan gue banget begitulah kira-kira teriakan batin Nazhwa penuh dengan kepuasan. Nazhwa merasa waktunya tidak terbuang sia-sia setelah dia menunggu hampir tiga tahun novel ini. Gaya bahasa yang santai sesuai dengan selera Nazhwa begitu juga dengan tema yang diangkat dalam novel ini yang memang Nazhwa banget membuat Nazhwa rasanya tidak ingin berhenti dengan novel ini sampai dia menemukan endingnya.
Hampir dua jam Nazhwa habiskan di kafe itu dengan mata yang fokus pada novel dengan beberapa piring cemilan yang sudah kosong begitu juga dengan dua cup kopi yang sudah kosong. Nazhwa memang tipe orang yang sangat tahu diri. Berjam-jam di kafe maka Nazhwa akan bolak-balik pesan makanan. Barista kafe itu yang pernah ngobrol cukup lama dengannya membahas tentang buku motivasi yang pernah Nazhwa baca kala itu seolah sudah mengerti dengan kebiasaan Nazhwa itu. Jadi Barista itu akan datang dengan sendirinya ke meja Nazhwa untuk bertanya tentang cemilan apa yang Nazhwa inginkan dan kopi apa yang Nazhwa inginkan.
Jika menurut beberapa orang Nazhwa sangat egois pada dirinya sendiri tapi menurut Nazhwa sendiri dia tidak seegois itu kok, Nazhwa juga bisa meluangkan waktu untuk melakukan apa yang dia sukai, walau hal seperti ini tidak sering terjadi bahkan sebulan sekalipun belum tentu tapi Nazhwa benar-benar merasa sangat senang jika dia bisa melakukan hal ini.
Melirik jam di pergelangan tangannya. Jam yang selalu Nazhwa gunakan setiap hari karena itu satu-satunya yang dia miliki untuk saat ini, setengah jam lagi adalah jam pulang kantor. Nazhwa baru sadar ternyata dia tadi menghabiskan waktu yang cukup lama di toko buku. Berkeliling toko buku memang selalu jadi hal menyenangkan dan tidak membosankan untuk Nazhwa. Dia selalu suka tempat yang tertata dengan sangat sangat rapi seperti itu.
Menutup novel yang baru saja selesai Nazhwa baca setengah. Nazhwa mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam totebag yang selalu dia bawa kemana-mana. Sebelum benar-benar meninggalkan kafe. Nazhwa menyempatkan diri untuk menggunakan toilet kafe. Merapikan ikatan rambumbutnya yang sudah kedodoran. Nazhwa kembali mengikat tinggi rambut setengah punggungnya. Dia memang tipe orang yang senang mengikat rambut karena itu membuat Nazhwa lebih nyaman dan lebih penting pekerjaanya jadi tidak terganggu.
Setelah memastikan penampilannya cukup rapi. Nazhwa memilih untuk meninggalkan kafe. Lagi-lagi dia memilih menggunakan ojek online karena ingin menghemat waktunya. Dia tahu Khaibar termasuk dalam kategori orang yang sangat disiplin dan menghargai waktu dan benar saja ketika Nazhwa sampai di warung lesehan bambu, Khaibar sudah ada di sana sambil melambaikan tangan padanya.
Nazhwa mengangguk pelan kemudian dia segera melangkah kearahKhaibar dan menaruh totebag-nya di atas meja.
“Maaf Pak, saya terlambat,” ucap Nazhwa. Khaibar yang terlihat masih menggunakan pakaian kantor dengan wangi parfum yang seolah enggan meninggalkan tubuh pria itu mengangguk ke arahnya sembari tersenyum.
“Saya juga baru duduk waktu kamu nyampe Nazh,” jawab Khaibar. Nazhwa diam-diam menghembuskan napasnya lega. Saat dia ingin mengeluarkan proposalnya yang memang sengaja Nazhwa cetak supaya dia lebih leluasa untuk memberikan tanda mana yang harus dia perbaiki namun suara Khaibar langsung menahannya.
“Nazh, pesan makan dulu. Nanti baru kita bahas proposalnya. Saya belum sempat makan sejak siang,” ucap Khaibar. Nazhwa pada akhirnya mengangguk. Sepertinya jadwal Khaibar memang sepadat itu sampai-sampai pria itu tidak sempat makan. Nazhwa tidak banyak bicara atau protes pada Khaibar karena peran pria itu sekarang adalah sebagai dosennya yang berarti Nazhwa harus menghargai dan menghormati Khaibar secara penuh.
“Bapak sudah pesan?” tanya Nazhwa. Khaibar menggeleng. Nazhwa kemudian mengambil kertas menu dan pulpen yang memang disediakan di meja itu. Yang bisa dia tandai di bagian yang ingin dia pesan.
“Mau pesan apa kalau gitu?” tanya Nazhwa. Khaibar mengambil kertas menu itu. Dia memilih beberapa menu berat sedangkan Nazhwa lagi-lagi hanya memilih cemilan. Tentu saja yang wajib dan tidak boleh ketinggalan yaitu mendoan.
“Sudah Pak?” tanya Nazhwa. Khaibar mengangguk. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang , Nazhwa yang sudah tahu untuk apa fungsi uang itu langsung mengambilnya saja. Nazhwa juga mengeluarkan uangnya sendiri. Bayar makan sendiri-sendiri karena mereka adalah dua orang yang berbeda. Tidak punya kewajiban untuk membayarkan makanan satu sama lain.
“Kembalian uang Bapak,” ucap Nazhwa sembari menaruh uang di atas meja. Kening Khaibar terlihat berkerut ketika melihat kembalian uangnya.
“Saya bayar makanan saya sendiri Pak,” ucap Nazhwa setelah itu barulah kerutan di kening Khaibar hilang. Pria itu mengangguk tanpa mengatakan apapun. Sepertinya dia mengerti dengan konsep bayar makanan sendiri-sendiri.
“Kamu nggak ke kantor hari ini?” tanya Khaibar. Nazhwa menggeleng sembari menatap lurus pada Khaibar.
“Pekerjaan saya hari ini sejak kemarin dan sisanya cuma lihat feedback dari konsumen yang akan saya rangkum dan bicarakan di rapat akhir bulan nanti,” jawab Nazhwa. Khaibar mengangguk.
“Tesis kamu ngomong-ngomong tentang apa Nazh?” tanya Khaibar. Nahzwa refleks duduk dengan tegap. Dia tahu kesan pertanyaan Khaibar memang santai tapi semua jawaban yang keluar dari mulut Nazhwa akan menjadi pertimbangan untuk pria itu untuk meloloskan atau tidak proposal tesisnya. Jika pak Prasetyo tidak kembali dengan cepat berarti orang yang akan menguji proposal tesisnya adala Khaibar sendiri.
“Tentang sponsorship Pak,” jawab Nazhwa. Khaibar terlihat menganggukkan kepalanya.
“Ini sponsor perusahaan apa terhadap apa? Kamu sudah dapat data dan persetujuan perusahaanya?” tanya Khaibar
“Saya pakai Shantha Pak yang mensponsori pekan olahraga Yogyakarta sejak tiga tahun yang lalu dan saya sudah dapat izin dari ibu Rindu dan Karlita saat itu. Beberapa waktu hari yang lalu saya jua sudah kirim email ke bu Arsyana untuk mendapatkan izinnya tapi saya belum dapat feedback-nya,” jawab Nazhwa. Khaibar lagi-lagi terlihat mengangguk bertepatan dengan pesanan mereka yang sudah datang.
“Nazh nggak makan nasi?” tanya Khaibar ketika melihat Nazhwa hanya memesan beberapa cemilan saja.
“Saya kebanyakan makan hari ini. Ini udah cukup banget kok Pak,” jawab Nazhwa.
“Memangnya kamu ada kegiatan dimana aja hari ini?”
“Kampus,toko buku, dan B&W Coffe,” jawab Nahwa seadanya, dia mulai makan mendoannya yang masih hangat di cocol saus kecap dan cabe rasanya jadi sangat luar biasa.
“Kamu ke B&W Coffe yang mana?”tanya Khaibar. Nazhwa sudah menduga ini akan menjadi pertanyaan.
“Kotabaru Pak.” Pria dihadapannya itu kelihatan mangut-mangut. Nazhwa sekarang jadi sedikit penasaran. Dari seluruh bisnis yang dimiliki oleh keluarga, mengapa Khaibar justru memilih jadi manajer marketing dan dosen pengganti. Pria itu sebenarnya bisa saja dengan mudah untuk di puncak tertinggi perusahaan yaitu menjadi pemimpin tapi Khaibar justru tidak mengisi posisi itu.
“Kamu sering datang ke sana?”
“Sesekali kalau saya memang memiliki waktu luang yang panjang seperti hari ini. Duduk di sana lama-lama adalah salah satu yang saya sukai.”
Khaibar terlihat berpindah dari ikan bakar ke udang saus mentega. Pria itu benar-benar kelihatan kelaparan. Nazhwa hanya tetap memakan mendoannya.
“Sambil baca buku yang kamu beli?” tanya Khaibar di sela-sela kegiatan makan. Nazhwa mengangguk setelah mereka benar-benar menghabiskan makanan dan proposal tesis Nazhwa sudah ada di tangan Khaibar bahkan pria itu terlihat membaca proposal itu dengan seksama. Nazhwa sendiri hanya menopang dagunya sembari mengamati setiap perubahan ekspresi Khaibar. Ketika melihat kening Khaiba berkerut dan pulpen yang ada di tangan pria itu bergerak di atas proposal tesisnya. Saat itu jantung Nazhwa berpacu lebih cepat dari standar normal.
“Jadi menurut pengamatan kamu, sponsorship yang dilakukan oleh Shantha pada pekan olahraga memberikan feedback yang baik nggak, brand awareness meningkat?”
“Kalau lihat dari pengamatan langsungnya itu sangat berpengaruh untuk meningkatkan brand awareness Shantha Pak tapi untung atau enggak saya belum tahu karena saya belum masuk ke olah data,” jawab Nazhwa dengan cepat.
Khaibar menutup proposal itu kemudian memberikannya pada Nazhwa, “perbaiki yang saya tandai ya Nazh, ada beberapa jurnal yang kurang tepat untuk kamu jadikan landasan dan pembanding. Nanti kalau sudah selesai diperbaiki bagian itu, langsung aja kirim ke email saya.” Nazhwa mengangguk cepat. Dia kemudian melihat beberapa tanda yang Khaibar berikan dilembaran proposal tesisnya. Satu hal yang terlintas di otak Nazhwa saat melihat tulisan tangan Khaibar adalah for the first time I see a man’s writing as good this! Tulisan tangan Khaibar yang sekarang ternyata benar-benar jauh berbeda dengan tulisan tangan Khaibar kecil yang Nazhwa lihat di apartemen kemarin.
Berhenti larut dengan kekagumannya melihat tulisan tangan Khaibar. Nazhwa kembali menaruh proposalnya ke dalam totebag-nya. Tatapan gadis itu kembali pada Khaibar yang ternyata juga menatap ke arahnya.
“Your handwriting is very good, Pak,” ucap Nazhwa tanpa menyembunyikan kekagumannya. Khaibar terlihat terkejut namun tidak lama kemudian dia tersenyum mendengar pujian Nazhwa. Lagian siapa yang tidak senang jika dipuji.
“Thank you, Nazh.” Hening kembali menyelimuti mereka. Namun pertanyaan Nazhwa berikutnya membuat perasaan antusias meletup-letup dalam diri Khaibar. Khaibar pikir Nazhwa mungkin sedang ikut mencoba masuk namun bagi Nazhwa itu hanya pertanyaan sederhana yang sangat wajar namun entah sampai kapan Nazhwa akan mampu menganggap itu adalah hal sederhana dan wajar ketika Khaibar menyihirnya dengan jawaban super menakjubkan yang selalu Nazhwa harapkan dia dengar dari seseorang.