Bab 11: Makna Pilihan

2370 Words
“Pak, what do you think about life choices?” Nazhwa benar-benar sudah berusaha menahan diri untuk nggak bertanya pada Khaibar. Seharusnya pertanyaan Nazhwa setelah dia memasukkan semua barang-barangnya ke dalam totebag miliknya bukan itu. Seharusnya Nazhwa bertanya Pak, bolehkah saya pulang? Tapi rasa penasaran Nazhwa tentang ini sangat besar. Ini pertanyaan yang sering Nazhwa tanyakan pada orang-orang yang dia kenal— terutama orang yang menurut Nazhwa memiliki hidup yang sangat teratur. Khaibar yang sedang menghabiskan sisa es tehya terlihat cukup terkejut. Warung lesehan bambu sudah cukup ramai. Ini sudah sudah memasuki waktu maghrib. Baru saja Khaibar ingin membuka mulutnya. Suara adzan terdengar sayup-sayup. “Saya akan jawab pertanyaan nya nanti. Kamu sedang shalat, Nazh?” tanya Khaibar. Nazhwa menggeleng, dia sedang kedatangan tamu bulanannya. “Ya sudah kalau gitu, kamu tunggu disini sebentar ya, saya shalat dulu,” ucap Khaibar. Nazhwa langsung mengangguk saja, dia menatap punggung Khaibar yang sedang melangkah ke arah Mushola yang ada di warung lesehan bambu. Nazhwa jadi berpikir, mungkin ini alasan mengapa keluarga Winata memiliki rezeki berlimpah dan hidup bahagia karena mereka bahkan tidak pernah meninggalkan pencipta mereka. Pemilik mereka yang sesungguhnya. Nazhwa pernah mendengar kalimat Tuhanmu tidak pernah meninggalkanmu, dia tetap ada ditempatnya namun kamu yang kerap kali melupakannya, menyepelekan keberadaanya, menunda-nunda waktu untuk bertemu dengannya, bagaimana kamu bisa mendapatkan cintanya yang besar ketika kamu selalu melakukan hal seperti itu. Manusia saja jika kamu abaikan akan memilih pergi apalagi Tuhanmu. Cintailah Tuhanmu ketika kamu ingin mendapatkan cinta yang besar darinya. Sayangnya memang sangat sulit untuk melakukan itu. Manusia sangat senang dengan kata ‘nanti’ jadi lah semua harapan mereka juga jadi menunggu nanti untuk terkabul. Ini termasuk Nazhwa sendiri. Kadang dia merasa kecewa pada dirinya sendiri namun namanya merubah sebuah kebiasaan itu sangat sulit sekali. Nazhwa mengaduk es tehnya yang masih tinggal setengah. Matanya menatap pada gelas es teh milik Khaibar yang berembun. Tetesan embun di gelas itu perlahan-lahan mengalir pelan dan jatuh ke meja seolah waktunya bertahan di gelas sudah usai. Sudah saatnya dia jatuh ke tempat yang membuatnya bisa mengalir lebih jauh. “Nazh.” Suara serak nan berat itu langsung membuat Nazhwa mengangkat kepalanya. Senyum tipisnya langsung mengembang ketika melihat Khaibar sudah kembali dengan rambut yang sedikit basah dan kedua lengan kemeja yang digulung sampai siku. Nazhwa tidak bisa menyangkal sama sekali bahwa Khaibar benar-benar kelihatan tampan dalam keadaan seperti itu. “Pak, you look so handsome, saya sekarang percaya kalau cowok habis shalat dengan rambut setengah basah dan lengan kemeja digulung sampai siku itu punya pesona yang luar biasa,” ucap Nazhwa. Lagi-lagi dengan terang-terangan. Nazhwa memang tipe orang yang selalu berkomentar jujur dengan apa yang dia lihat. Gadis itu tidak akan menyembunyikan apapun. Sangat jujur untuk hal seperti ini. Khaibar lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia sekarang jadi sedikit bingung tentang gadis yang duduk di hadapannya. Nazhwa hari ini seolah memperlihatkan sisi yang lain padanya. “Thank you, Nazh. “ Nazhwa menganggukan kepalanya dari atas ke bawah beberapa kali. Tatapan gadis itu kembali berubah menjadi serius, “back to topic ya Pak, what do you think about life choices?” tanya Nazhwa. “Life choices?” tanya Khaibar. “Yes,” jawab Nazhwa dengan cepat. Biasanya ketika Nazhwa mendengar jawabam seseorang tentang pertanyaan ini, Nazhwa bisa langsung menilai karakter orang itu. Dia bisa langsung bisa menangkap dengan jelas bagaimana prinsip hidup orang itu dan Nazhwa juga bisa memperkirakan tujuan hidup orang itu. “Itu adalah hal yang harus dimiliki oleh seseorang. Setiap orang harus memiliki yang namanya pilihan hidup Nazh. Ketika seseorang bahkan tidak bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri bagaimana dia bisa menjalankan hidupnya— maksud saya, ketika seseorang memiliki pilihan hidup dia akan tahu kemana dia harus melangkah, dia tahu apa tujuanya. Dengan begitu nggak akan ada waktu yang sia-sia Nazh. Orang yang memiliki pilihan hidup adalah salah satu orang yang saya kagumi dan patut untuk mendapatkan apresiasi dan dukungan— kayak wow, dia bahkan sudah berusaha keras untuk dirinya sendiri dan dia pasti juga tahu apa yang harus dia lakukan untuk lingkungannya,” ucap Khaibar. Nazhwa mengangguk, itu sangat masuk akal dan Nazhwa cukup merasa puas dengan jawaban itu karena selama ini beberapa orang atau temannya hanya menjawab seperti ini lah apaan sih Nazh, tinggal dijalani aja kok repot nanti juga ketemu jalannya sendiri. Jawaban seperti itu benar-benar sulit sekali untuk Nazhwa terima. “Saya setuju, terus bagaimana menurut bapak tentang pendapat beberapa orang yang berpikir kalau hidup itu dijalani saja, nggak usah terlalu dipikirkan karena nanti juga ketemu jalannya?” tanya Nazhwa. Berdiskusi dengan Khaibar ternyata nggak buruk-buruk juga. “Karena itu adalah sebuah mendapat jadi saya nggak bisa mengatakan itu benar atau salah, tapi menurut saya, orang-orang seperti itu mungkin orang yang memang nggak memiliki motivasi untuk kehidupan mereka tapi yang lebih sering terjadi adalah orang itu memiliki motivasi untuk hidupnya namun dia tidak berniat untuk melakukannya, semacam menunda-nunda waktu dengan kata ‘nanti’ yang pada akhirnya motivasi yang tanpa eksekusi berakhir dengan sia-sia karena kita nggak pernah bisa mengendalikan waktu Nazh kita hanya bisa mengatur diri kita supaya nggak ketinggalan dengan perputaran waktu.” “Good answers!” seru Nazhwa sembari berdecak kagum. Dia sekarang seolah menemukan seseorang yang benar-benar dia harapkan dari lama. Teman diskusi yang jalan pikirannya hampir satu aliran dengannya. Cara berpikir yang membuat Nazhwa akan mengagumi orang itu. “What do you think about life Nazh?” tanya Khaibar. Nazhwa tiba-tiba diam. “Saya selalu berpikir kehidupan adalah sebuah proses Pak. Proses yang sangat tidak mudah. Sebuah proses yang membuat kebanyakan orang memilih pasrah menerima takdir mereka namun menurut saya, takdir itu masih bisa diusahakan— maksudnya, ketika kita masih memiliki kekuatan untuk berubah kenapa kita harus terus bertahan dalam sebuah lingkaran yang tidak kita sukai. Hidup tentang sebuah pilihan dan perjuangan keras. Orang yang berjuang dengan keras dan selalu memiliki keyakinan dalam dirinya bahwa dia akan berkembang dan mencapai tujuannya di waktu yang tepat untuknya menurut saya adalah orang yang patut dikagumi,” jawab Nazhwa. Khaibar mengangguk pelan. Jawaban Nazhwa bisa diterima oleh otaknya. “Pak.” “Ya?” tanya Khaibar. Dia juga terlihat sangat tertarik dengan obrolannya dan Nazhwa malam ini. “Maaf kalau pertanyaan saya mengganggu, bapak boleh jawab atau enggak. Apakah menjadi manajer marketing dan dosen pengganti adalah pilihan hidup Bapak? Kenapa Bapak memilih untuk menjadi seorang manajer marketing dan dosen pengganti di saat bapak bisa duduk di puncak tertinggi perusahaan keluarga?” tanya Nazhwa. Ekspresi Khaibar terlihat sedikit berubah namun kembali normal lagi namun Nazhwa sangat-sangat menyadari bahwa pertanyaan itu cukup menyentil sesuatu yang mungkin selama ini tersembunyi dalam diri Khaibar yang paling dalam. Menyadari Khaibar yang masih diam. Nazhwa kemudian tersenyum kecil. “Pak, saya nggak menuntut jawaban, nggak perlu dijawab kalau memang nggak mau,” ucap Nazhwa namun Khaibar langsung menggeleng. “Oh sorry, Nazh. Itu adalah bagian yang saya sukai. Saya senang memasarkan produk dan saya senang berdiskusi dalam sebuah forum. Jadi saya memilih untuk melakukan itu sekarang,” jawab Khaibar, tapi Nazhwa tidak benar-benar bisa menerima jawaban Khaibar dengan baik. Dia merasa bahwa pria ini memang sedang menutupi sesuatu. Nazhwa merapatkan bibirnya kuat-kuat untuk menjaga dirinya untuk tidak mengatakan apa yang ada di kepalanya pada Khaibar, Nazhwa takut itu justru akan menyinggung Khaibar nanti. “Pak, punya kegiatan lain hari ini? Saya izin mau pulang ya,” ucap Nazhwa, dia melirik jam di pergelangan tangannya, ini sudah mau jam setengah delapan malam, selama itu dia saling berbicara dengan Khaibar. Khaibar terlihat tersentak kemudian tersenyum pada Nazhwa. “Saya harus datang kepesta kolega bapak hari ini untuk mewakilkan beliau. Kamu tadi kesini naik apa, Nazh?” tanya Khaibar. “Ojek online Pak, tapi setelah ini saya mau coba naik trans Jogja. Mau gabung sama penumpang lain,” jawab Nazhwa, dia menyampirkan totebag-nya di bahu kemudian berdiri dari tempat duduknya, Khaibar juga ikut berdiri. “Haltenya ada di depan kan?” tanya Khaibar. Nazhwa mengangguk. “Bareng saya kalau gitu ke halte-nya ya, supaya kamu nggak perlu jalan lagi,” ucap Khaibar, Nazhwa pada akhirnya mengangguk tanpa penolakan. Walau sebenarnya Nazhwa masih penasaran tentang pilihan Khaibar untuk menjadi seorang manajer marketing dan juga seorang dosen pengganti yang hanya akan bertahan beberapa saat sampai Prasetyo kembali kecuali Khaibar akan menggantikan dosen yang lain. “Dari halte dekat indekos kamu, nanti kamu jalan lagi ke dalam?” tanya Khaiar ketika mobil pria itu sudah bergerak meninggalkan warung lesehan bambu yang parkirannya sangat padat. “Iya Pak, udah biasa juga kok,” jawab Nazhwa, Khaibar mengangguk, mobil pria itu bergerak ke kiri kemudian berhenti sekitar sepuluh meter dari halte karena kondisi halte cukup ramai “Nazh,” panggil Khaibar ketika Nazhwa bersiap untuk turun. Nazhwa menoleh dengan tatapan lurus pada Khaibar. “Next time, temenin saya ngobrol ya,” ucap Khaibar dan entah kenapa Nazhwa langsung mengangguk mendengar permintaan Khaibar itu. “Kabari saya aja kalau begitu Pak, makasih udah antar saya sampai sini, hati-hati dijalan dan have fun at the party,” ucap Nazhwa sambil tersenyum singkat. Beberapa kali terlibat dengan Nazhwa dan mungkin ini kata perpisahan paling manis yang pernah gadis tunjukkan pada Khaibar. Biasanya Nazhwa akan memilih mengakhiri pertemuan itu dengan kalimat sarkas. Nazhwa bahkan masih melambaikan tangannya ketika Khaibar membunyikan klakson mobil. Khaibar tersenyum singkat. Gadis itu tidak pernah tidak terlihat menarik baginya, setiap kali Khaibar bicara dengan Nazhwa kemudian saat itu juga Khaibar akan menemukan sisi-sisi lain yang tidak terduga dari Nazhwa. Khaibar melirik layar ponselnya yang bergetar. Nama Arsyana tertera di sana, dia sudah tahu kenapa gadis itu menelpon tanpa harus mengangkat telepon itu. Khaibar menambah sedikit kecepatan mobilnya. Dia harus segera sampai di pesta itu lebih cepat walau sebenarnya Khaibar tidak terlalu menyukai pesta seperti Arsyana namun dia mau tidak mau menyukainya karena dia memang hidup dilingkungan yang seperti itu. *** “Gimana tesis lo?” Nazhwa tidak jadi benar-benar pulang karena tiba-tiba ibu hamil yang kini duduk di hadapannya meminta Nazhwa untuk mampir ke salah satu kafe tempat wanita itu nongkrong. Katanya sih lagi bosan sendirian di tinggal suami dinas. Jadi karena Nazhwa niatnya hari ini memang untuk bersantai, jadilah dia dengan penuh kerendahan hati duduk di hadapan Oca. “Masih ada beberapa yang harus gue perbaiki, kata Paduka, ada beberapa jurnal yang gue pakai nggak cocok dijadikan landasan dan pembanding untuk tesis gue,” jawab Nazhwa. “Paduka?— pak Khaibar, kok bisa tiba-tiba dia?” tanya Oca dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat terkejut namun wanita itu juga kelihatan sangat antusias penuh dengan rasa penasaran. “Dia dosen pengganti gue. Pak Prasetyo sedang pergi liburan bersama bu Karlita. Nah Paduka gantiin pak Prasetyo otomatis semua urusan gue sama pak Prasetyo jadi dilimpahkan ke Paduka” jawab Nazwa. Oca menganggukkan kepalanya mengerti. “Terus tadi berarti lo abis bimbingan sama pak Khaibar dong?” tanya Oca. Nazhwa mengangguk, dia kemudian menerima jus yang sudah dipesankan oleh Oca untuknya. “Bimbinangan dimana lo Sis sama pak Khaibar?” “Warung lesehan bambu.” “Berdua aja?” Nazhwa mengangguk. Senyum Oca melebar. “Sis, sudah berapa kali lo pernah ngobrol berdua sama pak Khaibar tanpa embel-embel pekerjaan?” “Beberapa kali, itu nggak sengaja.” “Lo ngerasa nggak sih kalau tatapan pak Khaibar itu lain dari pada yang lain sama lo, kek ada something gitu loh, dia pernah bilang sesuatu nggak sama lo?” tanya Oca. Nazhwa refleks menggigit sedotannya. Salah satu orang yang benar-benar mengerti Nazhwa selain dirinya sendiri ya Oca ini, wanita ini seolah selalu tahu apa yang terjadi dengan Nazhwa tanpa Nazhwa perlu repot-repot memberitahu. “Something gimana? Perasaan biasa aja.” Terkutuklah Nazhwa yang berani-beraninya bersikap bodoh di depan orang yang akan menyadari kebodohannya dengan mudah. Dan itu ternyata memang benar, detik berikutnya dia mendengar Oca mendengus. Wanita itu melipat tangannya di atas meja. “Sister, I know you so well. Belum ada orang yang gue temuin yang sepeka lo. Jadi gue sangat tahu dan paham kalau lo sendiri juga sadar dengan maksud pak Khaibar, termasuk dia yang tiba-tiba beliin lo makan siang tapi gue yakin lo balikin lagi ke orangnya!” seru Oca. Nazhwa meneguk jusnya dengan pasrah. Dia memang tidak akan pernah diizinkan untuk berbohong pada Oca. “Emang nggak bisa gue bohong sama lo!” seru Nazhwa. Oca tersenyum bangga. “Jadi gimana? Pak Khaibar benar-benar lagi berusaha untuk mendekati lo, kan?” tanya Oca. Nazhwa kali ini memilih untuk langsung mengangguk. “Gimana dia bilangnya?” Oca menatap Nazhwa antusias, sepertinya bumil satu ini memang tertarik dengan ceritanya— ya walaupun biasanya juga Oca sangat antusias ketika ada cowok yang berusaha mendekati Nazhwa namun kali ini Oca terlihat jauh-jauh lebih antusias mungkin karena orang yang sedang mendekati Nazhwa kali ini adalah Khaibar Chakra Winata— pria yang pasti selalu masuk kategori calon menantu potensial ibu mertua. “Gue yang nanya sama dia. Lagian itu jelas banget Oca. Ketika gue nanya, dia jawab kamu baru sadar, gitu,” ucap Nazhwa. Oca semakin berdecak. “Gue kadang emang nggak habis pikir ya sama lo, bisa-bisanya lo nanya itu langsung ke orangnya.” Oca berdecak. “Gue nggak mau dia mendekati gue terlalu jauh makanya gue memberanikan diri nanya kayak gitu.” “Terus tanggapan dia ketika lo bilang lo nggak mau terlibat dalam suatu hubungan dengan seseorang, pak Khaibar bilang apa?” “Dia fine tapi dia mengatakan pertanyaan yang selalu takut gue dengar dari seseorang—“ “Dia tanya apa yang lo takutkan?” “Bahkan dia juga langsung tahu jawaban dari pertanyaan itu walau nggak benar-benar tepat tapi dia dapat poinnya,” jawab Nazhwa. “Kenapa kali ini lo nggak coba sama pak Khaibar. Kasih aja dulu jalan buat dia, siapa tahu memang masuk dalam kriteria lo kan.” “Gue benar-benar lagi malas, Ca.” “Goals lo buat segera lulus S2 bentar lagi kesampaian, nah bukannya lo pernah bilang setelah itu goals lo adalah menikah. Ini kesempatan buat lo buka pintu lagi lebar-lebar, kalau lo emang nggak merasa cocok sama pak Khaibar setelah lo mencoba mengenali dia, lo bisa mempersilahkan orang lain untuk masuk. Kalau dalam masa pedekate mah kita sah-sah aja buat dekat sama siapa aja Sis, let’s go lah!” seru Oca. Nazhwa terdiam, apakah dia benar-benar harus memberikan kesempatan kepada beberapa orang untuk mencapai goals-nya yang berikutnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD