Bab 12: Sekilas

2308 Words
Entah sudah berapa lama Nazhwa menopang kedua dagunya sambil menatap daftar buku rekeningnya. Kedua adiknya akan segera kembali kuliah yang artinya Nazhwa harus mempersiapakan uang untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka yang paling penting adalah untuk membayar UKT. UKT Nayla terutama karena Namzah sejak semester lima lalu sudah kuliah dengan beasiswa jadilah Nazhwa hanya perlu mengirimkan uang jajan. Sejak kuliah S1, Nazhwa memang sudah terbiasa untuk membiayai kebutuhan kedua adik perempuannya. Keadaan ekonomi keluarganya tidak terlalu baik dulu. Naik turunnya terasa begitu nyata sehingga Nazhwa dan kedua adiknya benar-benar sudah tahu bagaimana pahitnya nggak punya uang— gimana mereka tidak bisa membayar uang sekolah dan bolak-balik minta dispensasi pada sekolah untuk tetap diizinkan ujian. Sesulit apapun hidup mereka dulu bahkan mereka pernah ada di posisi dimana mereka untuk makan saja nggak punya uang belum lagi pertengkaran kedua orang tua yang tidak ada habisnya. Mereka bertiga pernah ada diposisi paling pahit dan menyakitkan dimana mereka harus melihat kedua orang tua mereka bertengkar, mama menangis keras karena seolah kerja kerasnya berakhir dengan sia-sia kemudian papa akan ada di posisi serba salah karena nggak menemukan jalan keluar dari masalah. Mereka bertiga pernah diteriaki dan diminta untuk berhenti sekolah namun sekolah adalah hal yang selalu berusaha Nazhwa dan kedua adiknya pertahankan karena bagi mereka— yang memang sadar diri tidak memiliki tempat untuk menggantungkan hidup mereka selain diri mereka sendiri. Jadi dengan tetap sekolah setidaknya mereka bisa menemukan jalan untuk mengubah kehidupan mereka dan itu jelas terbukti sekarang. Kehidupan mereka perlahan membaik secara keseluruhan walau masih banyak luka yang sulit disembuhkan. Kenangan buruk yang sulit untuk dilupakan. Nazhwa membuka ponselnya, jemarinya bergerak menuju M-banking, mulai mencari daftar nama di daftar transfer rekeningnya. Setelah merincikan semua kebutuhan kedua adiknya, Nazhwa kemudian mulai mengirimkan uang. Dia selalu berusaha untuk tidak membuat adiknya banyak menunggu seperti dulu. Sudah cukup untuk semua waktu menunggu itu. Nazhwa bahkan terkadang lebih memilih untuk mengabaikan kebutuhannya sendiri asalkan kebutuhan kedua adiknya terpenuhi dengan baik. Nahzwa tidak ingin merasa adiknya berbeda dengan teman-teman sebaya mereka. Nazhwa ingin kedua adiknya tumbuh selayaknya orang seumuran mereka. Nazhwa tidak benar-benar menikmati masa mudanya, itu benar, kadang rasanya sangat menyedihkan namun ketika melihat kedua adiknya tersenyum padanya dan terus mengucapkan terimakasih dengan segala pembuktian membuat Nazhwa merasa bahwa apa yang dia lakukan selama ini tidak pernah sia-sia. Dua adik kecil yang berusaha dia bebaskan dari segala hal yang membuat mereka terasa tercekik kini sudah tumbuh dewasa. Siap untuk masuk ke kehidupan yang baru. Namzah Khalizah Thank you kak Wawa, setelah Nam lulus nanti dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Nam akan melakukan yang terbaik. Nam nggak akan lagi membiarkan kak Wawa untuk memenuhi kebutuhan Nam. Nam akan berusaha memenuhi kebutuhan Nam sendiri dengan baik seperti yang selalu kakak harapkan. Jika nanti cukup Nam juga akan membantu kak Wawa untuk bantu bayar biaya kuliah Nay. Kak sekarang keadaan kita sudah mulai membaik, mama dan papa hidup dengan baik disini. Kak Wawa juga harus lebih memperhatikan hal-hal yang ingin kakak lakukan. Kakak wajib banget untuk bahagia kak. Kakak sudah berusaha dengan keras selama ini. Hari ini weekend kan? Coba tinggalkan kamar indekos dan coba cari suasana yang lain diluar. With you Love Nam Nazhwa tersenyum membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Namzah padanya. Mata Nazhwa mendadak berkaca-kaca. Namun sebelum benar-benar larut pesan dari Nayla menyusul Nayla Khaila Kak jangan kirim Nay uang terlalu banyak. Nay transfer balik lagi ya. Nay akan ambil sesuai kebutuhan aja lagian kemarin juga di kasih sama mama dan papa. Uang kak Wawa, simpan aja dulu. Bukannya kakak juga lagi butuh banyak uang untuk tugas akhir? Kak thank you. Semester ini Nay juga akan coba daftar beberapa beasiswa, doakan salah satunya bisa jadi rejeki biar kak Wawa nggak perlu lagi mikirin uang UKT Nay, siapa tahu nanti juga beasiswanya dapat sekalian buat jajan. Doain akuh ya bestiee. Lope you. Pergilah kencan hari ini Nahwa terkekeh pelan seiring dengan air matanya yang mengalir begitu saja. Kadang Nazhwa sulit percaya bahwa dua adiknya itu sekarang sudah beranjak dewasa dan selalu berusaha untuk mengerti keadaan Nazhwa. Setelah membalas pesan kedua adiknya. Nazhwa melangkah untuk mengambil laptopnya di atas kasur. Hari ini weekend dan seperti biasa Nazhwa harus mencicil untuk mengerjakan novelnya yang akan segera terbit dan juga harus melanjutkan salah satu ceritanya yang sedang ongoing disebuah platform berbayar. Namun baru saja Nazhwa menekan tombol power pada laptop-nya sebuah pesan yang muncul di layar pop up ponselnya membuat perhatian Nazhwa teralih. Pak Khaibar Chakra Winata (Dosen) Nazh, kamu sibuk? I want to talk some things with you Nazhwa merapatkan bibirnya. Ucapan Oca beberapa hari yang lalu dan pesan kedua adiknya beberapa waktu yang lalu tiba-tiba berputar dalam benak Nazhwa. Otaknya berpikir dengan sangat keras kemudian akal sehatnya berusaha berdamai dengan segala hal yang ada dalam dirinya. Nazhwa membuka keamanan ponselnya dengan sensor jempolnya kemudian bergerak untuk membuka pesan dari Khaibar. Nazhwa berulang kali melihat antara laptop-nya dan juga ruang obrolannya dengan Khaibar. Berbagai pertimbangan kemudian muncul di benak Nazhwa sampai pada akhirnya jemarinya mulai bergerak di atas keyboard ponselnya. Nazhwa Zahira Pak, ini weekend, saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan saya akan free setelah maghrib. Jika bapak juga memiliki waktu saat itu. Kita bisa pergi untuk ngobrol Nazhwa menarik napasnya, semoga keputusannya kali ini tidak salah. Dia berharap bahwa ini salah satu perjalanan untuk menuju sesuatu yang baru dalam hidupnya entah untuk sebuah tujuan yang jelas adanya atau hanya utuk sebuah hal yang membuatnya tumbuh jauh lebih dewasa untuk mencapai tujuannya yang lain. Pak Khaibar Chakra Winata (Dosen) Kamu sedang menulis? Saya tahu tempat yang bagus untuk mendapatkan banyak inspirasi? Kita bisa pergi sekarang. Saya juga memiliki urusan di sana. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dan kamu bisa menyelesaikan pekerjaan kamu sampai waktunya kita bisa ngobrol. Mau ikut? Nazhwa kembali menimang-nimang penawaran itu. Kedengaran sangat menarik dan mungkin apa yang Khaibar katakan memang benar. Nazhwa kemudian menatap kamar kos-nya. Tatapannya bertemu dengan dinding yang kosong. Itu pemandangan yang sangat membosankan namun dengan kebosanan itulah Nazhwa bertahan untuk selalu bernapas. Nazhwa Zahira Saya pikir itu bukan tawaran yang buruk, ayo pergi Pak Pak Khaibar Chakra Winata (Dosen) Nazh saya jemput sekarang. Saya pakai motor Setelah membaca pesan Khaibar, Nazhwa memilih untuk bersiap. Mengganti pakaiannya dan juga memasukkan barang-barang yang kira-kira akan dia butuhkan ke dalam totebag-nya. Nazhwa memilih membawa iPad-nya beserta keyboard wireless miliknya supaya jauh lebih simpel. Dia juga memasukkan note miliknya yang bersisi tentang alur ceritanya. Kemudian beberapa keperluan lainnya seperti charger dan juga topi. Nazhwa pikir mungkin dia akan membutuhkan itu nanti. Setelah semuanya siap. Nazhwa memilih menunggu di lobi indekosnya, tidak terlalu besar memang namun banyak teman-temannya yang biasanya nongkrong di sana entah itu ngobrol sama teman atau justru sama pacar. Indekos Nazhwa memang punya jam malam dan karena memang indekos khusus putri jadi tamu cowok hanya boleh sampai lobi yang di isi beberapa kursi dan meja itu. Hampir lima belas menit Nazhwa duduk di lobi dan sempat bertegur sapa dengan dua orang di sana yang lagi ngobrol sama pacar mereka, suara motor menarik perhatian Nazhwa. Khaibar melambaikan tangan padanya membuat Nazhwa langsung berdiri dan menghampiri Khaibar. “Bapak tipe yang suka motor klasik ya?” tanya Nazhwa. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang marketing dan memiliki teman yang bekerja di showroom motor jelas Nazhwa tidak asing dengan motor yang dikendarai oleh Khaibar sekarang. Itu motor yang dengan desain klasik dan body yang ramping. Mirip harley davidson namun yang dipakai Khaibar kali ini bukan produk brand tersebut. “Kurang lebih seperti itu, lebih nyaman aja, Nazh,” jawab Khaibar, dia memberikan helm pada Nazhwa yang langsung disambut oleh gadis itu dengan baik. “Tapi memang modelnya bagus-bagus banget sih Pak, saya pikir tadi masuk dalam jenis harley davidson eh pas dilihat lagi ternyata bukan,” ucap Nazhwa. Gadis itu kemudian naik ke boncengan motor Khaibar. Pria itu menoleh kebelakang sembari tersenyum singkat pada Nazhwa dan juga memastikan bahwa gadis itu sudah duduk dengan baik di boncengan motornya. “Nazh kamu termasuk orang yang tertarik sama dunia otomotif?” tanya Khaibar saat dia mulai melajukan motornya. Mengobrol di atas motor itu sebenarnya tidak baik bahkan tidak boleh tapi yang terjadi pada kenyataanya ngobrol di atas motor itu vibes-nya beda aja— sulit dijelaskan intinya pokoknya beda aja kayak jauh lebih seru walau harus bolak balik memajukan sedikit tubuh supaya omongan yang driver terdengar lebih jelas. “Nggak juga sih sebenarnya Pak tapi karena dulu papa saya termasuk orang yang ngikutin perkembangan dunia otomotif jadilah saya sedikit-sedikit tahu,” jawab Nazhwa jujur. Sepanjang jalan sesekali mereka berkomentar tentang sesuatu yang mereka lewati sampai akhirnya motor Khaibar berhenti disebuah restoran yang ada di daerah Kulonprogo. Nazhwa langsung mengamati restoran dengan desain sangat menarik itu. Mirip warung lesehan bambu tapi restoran ini lebih terkonsep dengan sentuhan klasiknya. Nazhwa yakin ketika dia masuk ke dalam restoran view alam yang sangat menakjubkan pasti akan langsung menyambut matanya. Udara disini juga terasa sejuk mengantarkan rasa nyaman. Nazhwa sangat yakin dia akan betah berlama-lama disini. “Nazh ayok masuk,” ucap Khaibar. Nazhwa langsung mengangguk sembari merapikan sedikit ikatan rambutnya. Seseorang langsung menyambut mereka ketika masuk ke dalam restoran itu. Nazhwa melirik ke arah Khaibar. “Akhirnya datang juga lo, tumben ada yang nemenin, siapa nih?” tanya seorang cowok dengan rambut gondrong di ikat itu. Dari wajahnya dan penampilannya Nazhwa yakin bahwa pria yang menepuk-nepuk lengan Khaibar itu adalah orang yang memiliki jiwa seni yang yang sangat tinggi. “Perkenalkan ini Nazhwa dan Nazh, kenalin ini Tito teman SMA saya,” ucap Khaibar. Nazhwa dan Tito langsung berjabat tangan dan menyapa satu sama lain. “Nazh, nggak di paksa-paksa kan sama Khaibar buat nemenin dia datang kesini?” tanya Tito dengan ekspresi ngeledek kearah Khaibar. “Berisik kamu tuh To, sekarang coba carikan tempat yang bagus untuk Nazhwa, dia mau kerja,” ucap Khaibar. Tito nyengir. Dia kemudian membawa Khaibar dan Nazhwa untuk masuk lebih jauh ke dalam restoran itu. Semakin masuk ke dalam Nazhwa semakin menyadari bahwa Tito pasti memang orang yang memiliki jiwa seni yang kuat dan sangat mencintai kebudayaan terlihat dari ornamen-ornamen yang ada di restoran ini. “Nazh duduk disini kalau gitu ya, view-nya udah paling oke disini,” ucap Tito. Nahzwa melihat sekitarnya kemudian dia langsung mengangguk. Hijaunya alam yang terbentang jauh terlihat sangat jelas dari sini. Nazhwa meletakkan totebag-nya di atas meja kemudian tersenyum singkat. Tito pamit pada Khaibar seolah tahu kalau temannya itu butuh ruang berdua saja untuk mengobrol dengan Nazhwa. “Kamu nikmatin aja waktu disini, nanti saya suruh salah satu karyawan Tito buat tanya kamu mau pesan apa. Pesan aja semau kamu. Saya mau meeting sama Tito di dalam,” ucap Khaibar. Nazhwa langsung mengangguk, gadis itu langsung duduk di kursi yang ada di sana. “Pak Khaibar,” panggil Nazhwa ketika Khaibar siap meninggalkannya. Pria itu kembali menatap Nazhwa lurus. “Thank you ya,” ucap Nazhwa sembari tersenyum, Khaibar mengangguk. “Enjoy for you work kalau gitu ya, Nazh. Saya masuk ke dalam,” ucap Khaibar, Nazhwa mengangguk. Setelah Khaibar masuk ke dalam Nazhwa mulai sibuk dengan pekerjaannya di temani beberapa cemilan, musik dari earbuds yang menyumpal telinganya dan juga pemandangan yang sangat indah di hadapannya. *** “Udah sampai mana?” tanya Tito. Setelah meeting mereka selesai. Tito selain pemilik restoran sebenarnya juga seorang Arsitek. Khaibar memilih Tito untuk mendesain rumah yang rencana akan dia bangun. Khaibar sebentar lagi akan berusia tiga puluh tahun dan membangun rumah adalah goals-nya diumur itu. Toto memiliki selera yang unik dan Khaibar sangat suka dengan bangunan-bangunan yang sudah didesain oleh pria itu. “Apanya?” tanya Khaibar. “Sama Nazhwa, terakhir gandengan lo bule Amerika tapi kayaknya cuma kejebak dalam friendzone sama yang ini mau friendzone juga?” tanya Tito. Khaibar menggeleng. “Sama yang ini gue serius, lagian To, lo aja udah mau married bulan depan,” jawab Khaibar. “Jadi sekarang lo jadi punya target nikah? Bukannya lo dulu selalu jawab belum kepikiran?” tanya Tito. Pria itu menyadarkan tubuhnya ke teralis pembatas dekat jendela sambil menghisap rokoknya. “Waktu dulu gue belum ketemu sama orang yang isi kepalanya sama kayak gue, yang tujuan hidupnya jelas—“ “Dan sekarang lo menemukan itu semua di Nazhwa?” “Yes she has!” jawab Khaibar penuh keyakinan. Tito menganggukkan kepalanya. Dia juga belum pernah melihat Khaibar setertarik itu sama perempuan, Khaibar termasuk orang yang terbuka dan beberapa kali juga terlihat pedekate sama perempuan. Semua hubungan itu Khaibar mulai dengan tujuan yang jelas namun semuanya pada akhirnya berakhir di tegah jalan tanpa pencapaian tujuan. “Tapi kayaknya dia tipe yang sulit untuk di dekati, gue ngerinya lo cuma penasaran dan berakhir bosan,” ucap Tito. Khaibar terdiam. “Dia memang sulit tapi dia sangat menarik, kalau bosan gue nggak tahu— tapi kayaknya enggak karena dia itu tipe yang kalau di ajak ngobrol cukup enak asalnya gue bisa masuk dalam topik diskusinya.” “Ibar?” “Apa?” “Lo nggak sedang berupaya merubah diri lo atau merubah standar lo untuk bisa seiring dengan dia kan? Kalau lo sedang melakukan itu, lo pikirin lagi deh. Bar, lo nggak perlu merubah standar lo, prinsip hidup lo atau apapun itu yang berkaitan dengan dengan diri lo secara pribadi untuk membuat orang yang lo suka juga ikutan tertarik sama lo atau untuk membuat orang yang lo suka jadi merasa bahwa lo nggak ketinggian untuk di capai. Kalau dia memang mau lo dia juga pasti akan berusaha untuk menjadi pantas untuk lo." Tito mematikan rokoknya. "Tapi ini cewek kayaknya emang agak beda. Dia bahkan akan dengan mudah pergi meninggalkan lo kalau sampai dia sadar kalau lo berusaha merendah untuk bisa dia lihat. Dia akan kesinggung banget Bar jadi sebelum lo melakukan apa yang lo pikirkan sekarang, lebih baik berhenti. Tetap jadi diri lo aja. " Khaibar bungkam. Jika Nazhwa memiliki Oca yang bisa membacanya dengan mudah maka Khaibar memiliki Tito yang bisa melakukan itu. Menebaknya dengan sangat tepat sasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD