Bab 6: Strategi Yang Berubah

2203 Words
"Anak ganteng bapak dan ibukk, mas Ibar wajahnya kenapa? Jelek amat!" seruan penuh ledekan itu membuat Khaibar langsung melempar bantal sofa ke arah Arsyana sebelum akhirnya ikut duduk di samping gadis itu. "Kenapa, Mas?" Rindu menatap Khaibar dengan sangat lekat. Malam ini mereka sedang berkumpul bersama sebelum nanti Rindu dan Bhanu juga ikut menyusul Karlita dan Prasetyo untuk liburan. Para orangtua itu berniat untuk mengunjungi tempat-tempat bagus yang sudah mereka impikan sejak lama. "Buk," ucap Khaibar, dia menatap Rindu dengan sangat lekat. Mempertimbangkan apakah dia harus bicara dengan ibunya atau tidak. "Jangan lihat istri bapak kayak gitu Khai!" seru Bhanu yang sedari tadi terlihat fokus pada layar ponselnya dengan kaca mata yang bertengger di hidung. "Bapak tuh nggak di ajak, diam aja dulu!" seru Khaibar dengan cukup sinis. Dari kecil merebutkan Rindu adalah hal yang selalu di lakukan oleh dua pria itu. "Yakin kamu? Kayaknya kamu lebih butuh saran bapak di bandingkan ibuk," ucap Bhanu. Pria itu melepaskan kacamatanya dan menaruh ponsel di atas meja. Pertanda dia sudah siap bergabung dengan obrolan malam ini. "Kenapa sih lo? Nggak enak banget wajah lo?!" seru Arsyana. Semenjak orangtuanya pergi berlibur, Arsyana terkadang memang menginap di sini atau justru tetap di rumahnya. Arsyana dan Khaibar memang lebih memilih tetap tinggal bersama dengan orangtua mereka di bandingkan apartemen. Suasana apartemen terlalu sepi untuk mereka. Jadi mereka tidak terlalu menyukainya. Khaibar terlihat kembali berpikir seolah dia kembali mempertimbangkan, tentang apakah dia harus meminta saran pada orang-orang ini atau justru sebaliknya "Nazhwa?" tanya Rindu tiba-tiba membuat Khaibar akhirnya mengangguk. "Kenapa orang seperti Nazhwa sangat sulit untuk di dekati, Ibuk?" tanya Khaibar. Pria itu sekarang terlihat seperti anak kecil yang merengek pada ibunya tentang sesuatu yang sangat sulit untuknya. "Lo di tolak?" tanya Arsyana dengan geli, Khaibar kembali menepuk paha Arsyana menggunakan bantal sofa. Gadis ini sungguh menyebalkan di saat-saat seperti ini. "Nana Nanol lo tuh nggak di ajak. Diam!" seru Khaibar. Arsyana langsung tertawa dengan geli. Baru kali ini Arsyana melihat seorang Khaibar Chakra Winata merengek tentang seorang wanita pada ibunya. "Kenali dulu karakter orangnya baru bertindak jangan sampai ke balik yang ada kamu nggak akan berhasil," ucap Bhanu. Rindu mengangguk mendengar ucapan suaminya. "Benar kata bapak, sebelum kamu bertindak terlampau jelas, kenali dulu karakter orang yang ingin kamu dekati. Nggak semua orang bisa dekat begitu saja sama orang lain, Khai" ucap Rindu. Khaibar terlihat mengangguk. "Emang kenapa sih mas Khai? Coba cerita dulu coba, biar jelas dan ibu sama bapak juga bisa kasih saran yang jelas," ucap Arsyana. Dia sangat yakin perjalanan cinta Khaibar akan sangat menarik. Arsyana sangat senang melihat Khaibar yang uring-uringan seperti itu bahkan mengeluh, itu sangat jarang terjadi selama ini. Terkadang rasanya Arsyana ingin sungkem sama Nazhwa. "Cerita dari awal," ucap Bhanu. Khaibar langsung mengangguk. Dia menceritakan tentang pertemuannya dan Nazhwa di ruang meeting, kemudian tentang Nazhwa yang menolak di antar pulang dan meminta Khaibar untuk tidak melakukannya lagi kemudian tentang tadi siang, Nazhwa menolak makan siang yang Khaibar belikan dan mengatakan secara tidak langsung jika tujuan Khaibar adalah untuk dekat dengan Nazhwa, lebih baik jangan. Nazhwa meminta Khaibar untuk mencari orang lain. "Serius Nazhwa ngomong kayak gitu?" tanya Arsyana cukup syok. Dia tidak menyangka bahwa ada gadis yang sangat peka namun juga sangat tegas. "Hm, dia bilang, jika apa yang gue pikirkan sama dengan apa yang dia pikirkan, jangan lanjutkan. Dia meminta gue untuk mencari orang lain. Dia hanya ingin hubungan profesional dengan gue. Kalau di pikir-pikir itu aneh nggak sih, Na? Maksud gue kenapa ada orang sekeras itu?" tanya Khaibar, dia terlihat semakin frustasi. Nazhwa benar-benar serumit itu. Dari kejauhan gadis itu terlihat sangat mudah untuk di tebus namun ketika melangkah semakin dekat banyak sekali tembok besar yang menjadi penghalang. Semua ruang yang ada di sisi gadis itu sangat gelap sampai Khaibar tidak menemukan setitik penerangan yang bisa membantunya untuk melangkah semakin dekat. "Nazhwa yang kamu lihat sekarang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Nazhwa yang pertama kali ibu lihat dua tahun yang lalu," ucap Rindu. Diantara banyak karyawan seumuran Nazhwa atau yang lebih muda. Nazhwa adalah yang paling menarik di mata Rindu. Gadis itu sangat berbeda dari yang lain. Saat melihat Nazhwa sambil lalu atau tidak mengenal dia lebih jauh, Nazhwa akan terlihat seperti gadis menyebalkan dan membosankan karena Nazhwa tidak banyak bicara namun ketika mengenal gadis itu lebih jauh, Nazhwa adalah gadis yang hangat, periang dan cukup banyak bicara. "Emang seperti apa Bu?" tanya Arsyana. Gadis itu justru yang terlihat benar-benar tertarik dengan obrolan. "Tetap pendiam, penuh tekad, tidak terlalu suka bermain dan memiliki tujuan yang sangat jelas dalam hidupnya. Dia sudah memiliki rencana jangka panjang dalam hidupnya. Dia berusaha tetap ada di rencana yang sudah dia buat. Akan memilih menyingkirkan orang-orang yang berupaya membuat rencananya berantakan. Jika kamu bisa membuat dia merasa nyaman, Nazhwa mungkin saja memberikan tempat untuk kamu. Jangan terburu-buru dengan Nazhwa karena dia adalah seorang gadis yang percaya dengan semua proses. Ibu sarankan kamu tidak melompati langkah demi langkahnya," ucap Rindu. "Maksudnya?" tanya Khaibar, dia merasa sedikit tidak paham dengan apa yang Rindu katakan. "Maksudnya jangan langsung di antar pulang atau di kasih makan siang. Itu akan terlihat sangat aneh dan tidak wajar untuk Nazhwa, Khai. Kamu ngerti yang namanya main halus nggak sih? Nah itu hal yang harus kamu lakukan saat mau dekat sama Nazhwa. Jangan lewati tahap untuk saling mengenal satu sama lain. Ajakin dia ngobrol topik yang memang menarik untuk dia, kayak tentang pekerjaan atau kuliah. Ketika dia mulai berbicara tentang itu kemudian perluas dengan pertanyaan ke arah yang lebih pribadi kayak makanan yang dia suka atau kegiatan lain yang dia lakukan. Ketika kamu berhasil dengan tahap itu, itu berarti kamu sudah membuat dia merasa nyaman dengan adanya kamu di sekitar dia. Kamu harus ingat satu hal, Nazhwa mungkin termasuk orang yang sulit suka sama orang lain atau sulit untuk merubah status dari teman menjadi pacar, atau status atasan atau dosen jadi pacar karena sejak awal dia sudah menegaskan pada diri dia sendiri kalau hubungan itu akan profesional selamanya," ucap Bhanu. Khaibar mengangguk. Yang di katakan oleh bapaknya cukup masuk akal. Nazhwa langsung menolaknya ketika Khaibar terburu-buru, gadis itu sepertinya memang lebih senang dengan sebuah proses, saling mengenal, jika ternyata menemukan kecocokan satu sama lain mungkin Nazhwa bisa mempertimbangkan kembali untuk tidak menolaknya. "Khai, calon mantu idaman semua orang emang sulit untuk diraih kayaknya. Lo harus butuh tenaga lebih untuk itu. Yang semangat aja lah ya!" seru Arsyana. Gadis itu kemudian bangkit dari sofa dan mengecup pipi Rindu. "Ibukk... Bapak... Syana pulang, nggak jadi nginep. Lupa kalau Syana ada kerjaan," ucap Arsyana. Rindu dan Bhanu langsung mengangguk. "Bilang sama Satpam dan Bibi untuk cek pintu dan jendela, Nak. Kabarin bapak dan ibuk kalau butuh sesuatu," ucap Bhanu. Arsyana langsung mengangguk dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Winata setelah melempar bantal sofa pada Khaibar. "Ingat, pelan-pelan supaya nggak lari-larian Nazhwa nya, " ucap Rindu sambil mengusap rambut Khaibar setelah itu wanita itu juga bangkit dari sofa di ikuti oleh Bhanu. Ini sudah malam dan waktunya untuk beristirahat. *** "Nazhwa?" Nazhwa terlihat cukup terkejut mendengar namanya di panggil termasuk dua orang gadis yang sedari tadi duduk dengan Nazhwa di dalam kereta untuk kembali ke Stasiun Yogyakarta. "Pak Khaibar!" seru Nazhwa dengan wajah super terkejutnya, gadis itu langsung menatap dua orang gadis yang duduk tepat di hadapannya. Tatapan penuh peringatan tentu saja, seolah mengatakan bahwa itu tidak seperti yang mereka pikirkan. "Saya boleh gabung duduk di sini?" tanya Khaibar, kursi tepat di sebelah Nazhwa memang kosong. Nazhwa lagi-lagi menatap dua orang gadis yang duduk di hadapannya. Sangat berharap kedua adik perempuannya itu menggelengkan kepala atau alasan lain yang membuat Khaibar tidak perlu bergabung di sini. Masalahnya dari bandara ke stasiun membutuhkan waktu yang cukup lama. Nazhwa tidak ingin terjebak dalam suasana super awkward selama kurang lebih tiga puluh menit. "Boleh kak, silahkan aja!" seru salah satu adik Nazhwa membuat Nazhwa langsung mengangguk. "Silahkan, Pak," ucap Nazhwa, dia menggeser sedikit tubuhnya seolah sedang memberikan ruang yang cukup banyak untuk Khaibar padahal itu tidak berpengaruh sama sekali. "Kakak temannya kak Nazhwa?" tanya seorang gadis yang duduk tepat di depan Khaibar. Hidungnya terlihat lebih bangir di bandingkan hidung Nazhwa. Kalau di perhatikan, tiga gadis yang sedang bersamanya ini sangat mirip satu sama lain. "Teman kantor," jawab Khaibar dengan ramah. "Kenalin Kak, aku Namzah Khalizah biasa di panggil Namzah dan ini Nayla Khaila biasa di panggil Nayla, kita adiknya kak Nazhwa," ucap Namzah dengan semangat. Gadis itu tersenyum cukup lebar. Khaibar ikut tersenyum mendengar itu. Sekarang Khaibar menemukan jawaban kenapa ketiga gadis ini mirip satu sama lain. "Saya Khaibar Chakra Winata. Kalian bisa panggil Khaibar," ucap Khaibar, Namzah dan Nayla terlihat mengangguk sembari tersenyum. "Aku baru tahu kak Nazhwa punya teman cowok," ucap Namzah. "Nam!" tegur Nazhwa, namun yang di tegur cuma nyengir. "Bukan teman tapi pak Khaibar adalah atasan sekaligus dosen ku. Bersikap lebih baik," lanjut Nazhwa. "Nazh, bersikap lebih santai. Kita nggak sedang di kantor ataupun di dalam kelas," ucap Khaibar. Nazhwa pada akhirnya memilih kembali diam dan memejamkan matanya. Semalam dia baru bisa tidur larut malam namun harus terbangun di pagi hari karena harus menjemput dua adiknya yang ingin menghabiskan waktu liburan kuliah di Yogyakarta. "Kak Khai tahu nggak, dulu aku sama kak Wawa sering banget naik kereta. Salah satu impian kak Wawa adalah naik kereta bersama seseorang yang spesial dalam hidupnya dalam artian pasangan. Membayangkan suasana dan perjalanan dengan kereta selalu menjadi hal yang sangat romantis bagi kak Wawa. Aku nggak tahu akan ada berapa ribu ide yang tiba-tiba datang menghampiri otak kak Wawa," ucap Namzah. "Sekarang lagi kayak simulasi nggak sih kak Wa. Sekarang ada cowok loh yang duduk di sampingnya. Bukan Ibu-ibu atau bapak-bapak lagi. Buka dong matanya, ngobrol! Katanya kalau ketemu jodoh di kereta itu bakal sweet banget, siapa tahu emang kak Khaibar jodohnya!" seru Nayla dengan suara menggoda. Nazhwa tetap bertahan dengan memejamkan matanya sedangkan Khaibar tersenyum geli mendengar itu. Dia tidak menyangka bahwa orang seperti Nazhwa juga memiliki sisi seperti itu. "Nam... Nay... diam atau aku pulangin kalian ke Semarang dan Surabaya!" seru Nazhwa namun mata gadis itu tetap terpejam membuat tiga orang yang bersama Nazhwa terkekeh. "Kak Khai, jangan kaget ya kalau kak Wawa sinisan dan galak. Emang udah kayak gitu dari sananya," ucap Namzah. Khaibar mengangguk mengerti. Lagi-lagi dia tersenyum geli mendengar itu. Ternyata gadis yang berpura-pura tetap memejamkan mata itu memang sudah seperti itu dari sananya. "Ini udah termasuk dalam versi beruntung sih, kak Khai di pertemukan dengan versi yang sekarang karena beberapa tahun yang lalu dia bahkan lebih galak, lebih sinis dan lebih moodian di bandingkan sekarang," lanjut Nayla. "Nam... Nay. Orang yang kalian bicarakan sedang ada bersama kalian. Bisa diam nggak?" tanya Nazhwa. Gadis itu kini membuka matanya dan langsung melihat pada Khaibar yang wajahnya terlihat sangat cerah sekali. Nazhwa juga baru menyadari bahwa Khaibar sekarang menggunakan pakaian kasual. Tidak ada kemeja seperti biasa, Khaibar justru hari ini menggunakan kaus, celana bahan yang biasa pria itu gunakan juga sudah berganti dengan celana jeans, tidak heran kalau Namzah dan Nayla memanggil pria ini kakak. "Nazh, kenapa sih? Jangan galak," ucap Khaibar. Mata Nazhwa langsung membola mendengar itu apalagi mendengar kekehan dua adiknya. Tanpa Nazhwa harus bertanya pada mereka, Nazhwa sudah tahu bahwa kedua adiknya sekarang ada di pihak Khaibar. "Bapak kenapa sih, bapak nggak di ajak!" seru Nazhwa. "Kak Khaibar di ajak, kak Wawa!" seru Nayla. Nazhwa pada akhirnya kembali diam. Dia akan kalah berdebat. *** "Aku benar-benar kangen tempat ini, makasih kak Khai udah ajakin kita makan di sini," ucap Namzah. Mereka sekarang ada di warung pecel lele yang terkenal cukup enak. Nazhwa biasanya akan mengajak Namzah dan Nayla untuk makan di sini ketika keduanya berkunjung ke Jogja. "Kalian harus makan yang banyak kalau begitu. Bukannya kuliah semester tua sangat menyita waktu?" tanya Khaibar. Di saat perjalanan tadi, mereka memang banyak mengobrol. Kedua adik Nazhwa jauh lebih terbuka di bandingkan Nazhwa. Namzah adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di Semarang sedangkan Nayla adalah seorang mahasiswa di semester enam di Surabaya. Ketiga perempuan yang sedang bersamanya sungguh terlihat sangat keren di mata Khaibar. Sangat jarang dia melihat saudara perempuan memilih menghabiskan waktu seperti ini. Biasanya mereka akan memilih pergi liburan bersama teman. "Pasti, Kakak kalau gitu harus gabung lagi pergi jalan-jalan sama kita sebelum aku dan Nayla pulang ke Padang," ucap Namzah. "Padang?" "Kita asli Padang kak. Kedua orangtua kita sekarang menetap di sana. Kak Nazhwa juga tahun kemarin pulang tapi tahun ini nggak makanya kita ke Jogja dulu baru ke Padang, " jawab Nayla. Khaibar mengangguk. Hari ini dia cukup banyak tahu tentang Nazhwa. Dua adiknya dan sekarang ternyata Nazhwa adalah orang Padang asli. Khaibar yakin ketiga gadis ini memang sudah di ajarkan hidup mandiri sejak kecil terlihat dari mereka yang terlihat sangat santai berada di tempat baru. "Kamu nggak mau ikut pulang?" tanya Khaibar. Nazhwa yang sibuk dengan bebek bakarnya langsung menggeleng. "Saya harus kerja dan kuliah, Pak, lagian saya nggak mau atasan saya tiba-tiba marah-marah karena sana bolos kerja, atasan saya nyebelin kalau bapak mau tahu," jawab Nazhwa. "Saya nggak senyebelin itu, Nazh." "Itu kata bapak." "Berarti kita harus makan bareng lagi lain kali," ucap Khaibar. Namzah dan Nayla langsung berseru mengiyakan sedangkan Nazhwa memasang wajah pasrah, gadis ini sepertinya tidak bisa menolak permintaan adiknya. Selanjutnya perdebatan kakak dan adik itu berlanjut. Khaibar hanya menikmati itu. Entah, dia sangat senang berada di antara tiga gadis ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD