Nazhwa akhirnya berakhir dalam satu mobil yang sama dengan Khaibar. Nazhwa pikir dia adalah orang paling keras kepala tapi ternyata ada Khaibar yang jauh lebih keras di bandingkan dirinya. Pria itu tidak menyerah tentang keinginannya akan mengantarkannya Nazhwa pulang.
"Kenapa kamu selalu memilih untuk sendiri? Saya lihat kamu jarang ikut acara anak-anak kantor." Khaibar menoleh sebentar pada Nazhwa yang memasang wajah super serius sembari memeluk tasnya.
"Saya nggak bisa seperti mereka dan berhenti untuk memperhatikan hal yang nggak penting untuk hidup bapak," jawab Nazhwa dengan raut wajah datar. Malam ini padahal langit cukup cerah namun sepertinya hal itu sama sekali tidak membuat Nazhwa merasa lebih baik.
"Nazh, mood kamu benar-benar sering seperti ini ya?" tanya Khaibar lagi. Nazhwa terlihat menarik napasnya. Dia menoleh pada Khaibar. Nazhwa sebenarnya bisa bersikap ramah namun entah mengapa saat bersama Khaibar dia tidak bisa melakukan itu.
"Pak, mood saya adalah urusan saya. Kalau itu membuat bapak nggak nyaman, saya minta maaf. Bapak bisa turunkan saya sekarang juga," ucap Nazhwa, dia tidak tahan lagi untuk berpura-pura dalam mobil ini.
"Saya akan antar kamu sampai indekos," jawab Khaibar. Nazhwa tidak protes lagi. Dia lebih memilih untuk menatap keluar jendela, menikmati keramaian jalanan. Diam bukan berarti otak Nazhwa juga ikut diam. Banyak hal yang yang menari-nari dalam benaknya. Tugas kuliah yang harus di selesaikan, revisian novel yang menunggu antrian, pekerjaan yang tidak boleh ada kesalahan.
Nazhwa sebenarnya adalah orang yang senang berpergian sendirian karena itu membuat otaknya mampu berpikir lebih liar, bukan liar dalam artian negatif namun liar mengarah kepada kebebasan, otaknya akan bekerja jauh lebih cepat menghasilkan berbagai ide yang siap dia kembangkan tanpa merasa tertekan karena dia sedang bersama dengan orang lain di sisinya.
"Nazh, ini kemana lagi?" tanya Khaibar. Laju mobilnya mulai melambat.
"Belok kiri di depan, Pak, jalannya akan semakin kecil, saya bisa turun di sini," ucap Nazhwa. Dia tidak ingin merepotkan Khaibar lebih jauh lagi yang membuat Nazhwa merasa memiliki hutang budi pada pria itu, Nazhwa tidak suka perasaan semacam itu.
"Bisa masuk mobil kan?" tanya Khaibar. Nazhwa mengangguk. Indekos Nazhwa itu terletak di pemukiman warga bukan sebuah perumahan yang jalannya lebar seperti kediaman keluarga Khaibar. Di sini rata-rata rumah memang di jadikan kosan oleh pemiliknya.
"Pak, kosan saya ada di depan, bapak bisa berhenti di sini," ucap Nazhwa. Khaibar langsung mengangguk dan menghentikan mobilnya.
"Indekos kamu ramai kan, Nazh?" tanya Khaibar ketika Nazhwa sibuk melepaskan seatbelt- nya.
"Ramai Pak kalau kegiatan kampus aktif," jawab Nazhwa seadanya. Sebelum benar-benar turun dari mobil Khaibar, Nazhwa kembali menatap Khaibar.
"Terimakasih atas tumpangannya. Lain kali bapak nggak usah melakukan ini lagi," ucap Nazhwa, gadis itu sedikit menunduk sopan kemudian turun dari mobil Khaibar.
"Nazh langsung masuk aja, nggak usah nunggu saya pergi," ucap Khaibar sembari menurunkan kaca mobilnya. Nazhwa langsung mengangguk dan tanpa basa-basi yang merepotkan gadis itu langsung masuk ke dalam indekos. Menutup gerbang indekos itu dengan sangat rapat.
Khaibar tersenyum tipis bahkan lebih terlihat seperti senyum gemas. Beberapa kali Khaibar dekat sama seseorang. Semuanya nyaris merepotkan dan selalu ingin di perhatikan secara berlebihan. Namun Nahzwa sama sekali tidak menunjukkan sikap seperti itu, alih-alih minta di perhatikan, gadis itu justru menolak semu perhatian Khaibar secara terang-terangan.
Khaibar sedikit memajukan mobilnya ke depan, kemudian berhenti tepat di depan gerbang indekos Nazhwa. Pria itu memotret spanduk yang menempel di gerbang cukup tinggi itu.
Diam-diam Khaibar menghembuskan napasnya lega ketika membaca spanduk itu. Indekos khusus putri dan ada batas jam malam sampai pukul 23.00 WIB. Setidaknya dengan seperti ini keamanan Nazhwa lebih terjaga. Gadis itu juga tidak akan pernah pulang ke kosan di atas jam 23.00 karena gerbangnya otomatis sudah di kunci.
Membaca spanduk itu sekali lagi, Khaibar akhirnya meninggalkan lingkungan indekos itu. Mobil pria itu jelas terlihat sangat mencolok di jalan yang cukup sempit. Tapi Khaibar terlihat tidak masalah tentang itu. Kaca mobil masih dia biarkan turun saat dia melewati jalan, masih menyempatkan menyapa pejalan kaki dengan ramah atau membunyikan klason mobilnya sembari mengangguk ramah pada pengendara motor. Sejak kecil orangtuanya selalu mengajarkan Khaibar cara menghargai orang lain dan menghormati orang lain. Salah satu contohnya adalah seperti sekarang. Menurut Khaibar melakukan hal seperti ini sangat menyenangkan. Khaibar selalu merasa jauh lebih baik ketika ada di tengah masyarakat. berinteraksi dengan banyak orang.
Image Khaibar yang seperti ini jelas tidak pernah terlihat ketika dia sedang bekerja. Khaibar pikir, dia perlu membedakan mana lingkungan masyarakat dan mana lingkungan kerja. Walau itu membuatnya sedikit kesulitan, karyawan semacam Nazhwa sangat tidak menyukainya.
***
Tidak ada jadwal kuliah hari ini, Nazhwa sudah berada di kantor sejak pagi. Berkutat dengan komputernya, meyelesaikan proposal promosi mereka untuk minggu depan.
"Mbak Wawa, ada pemotretan sama model kita hari ini untuk brand tas yang akan launching bulan depan. Mbak Oca nggak bisa mendampingi karena tiba-tiba nggak enak badan. Gue curiga dia hamil. Nggak ada lagi yang tahu maunya model itu selain mbak Wawa. Mbak Wawa gantiin ya. Yang lain nggak mau ambil resiko," ucap Anita.
Nazhwa langsung mengangguk saja. Biasanya perwakilan dari mereka untuk mendampingi sesi pemotretan adalah Oca atau nggak ya Nazhwa. Mereka harus memastikan hasil pemotretan itu cocok untuk promosi mereka. Setelah pemotretan, anak Marketing akan melanjutkan ke proses editing, memposting di akun sosial media dan marketplace resmi milik mereka.
"Oca sekarang dimana?" tanya Nazhwa.
"Udah pulang di antar mas Heru," jawab Anita. Nazhwa langsung mengangguk. Setelah memindahkan file proposal yang baru saja dia kerjakan ke iPad-nya, Nazhwa langsung beranjak dari kursinya. Melangkah ke studio tempat mereka biasanya melakukan pemotretan.
"Bi, ada masalah?" tanya Nazhwa ketika keadaan studio cukup gaduh. Orang-orang terlihat panik. Dua orang yang baru masuk ke dam studio juga terlihat bingung.
"Akhirnya lo datang juga Wa, Zee nggak mau siap-siap sejak tadi karena nggak ada lo atau Oca. Heran banget gue sama itu anak. Gih lo susulin dulu dia di ruang makeup. Waktu kita mepet," ucap Bintang, dia adalah salah satu photografer yang bekerja dengan Shantha. Zeerina adalah salah satu selebgram yang bekerja sama dengan Shantha. Gadis itu memang sangat pemilih dan cukup menyebalkan. Tidak banyak orang yang tahan dengan sikap gadis itu.
"Yaudah gue ke sana dulu, lo siap-siap sekarang," ucap Nazhwa. Dia menepuk bahu Bintang dan melangkah ke arah ruang makeup.
"Kalau lo penasaran kenapa orang-orang rumah menyebut dia menantu potensial? Salah satunya adalah ini," bisik Arsyana pada Khaibar yang berdiri di sampingnya. Mereka memang sengaja untuk melihat langsung sesi pemotretan apalagi tas yang akan launching bulan depan adalah hasil desain Arsyana yang akan diperjual belikan untuk pertama kalinya.
Khaibar tetap diam, dia mengamati bagaimana cara karyawan Shantha bekerja. Secara keseluruhan mereka terlihat profesional. Ketika mereka lewat di hadapannya dan Arsyana, mereka akan menyapa dengan sangat sopan.
Beberapa menit berlalu, sosok Nazhwa kembali terlihat. Gadis itu sudah tidak sendiri lagi, melainkan bersama dengan seseorang yang Khaibar yakin adalah model mereka.
Dua orang itu melangkah ke arahnya dan Arsyana.
"Siapa, mbak?" tanya Zeerina pada Nazhwa. Gadis itu terlihat tersenyum cukup ramah dan mulai memperkenalkan Khaibar dan Arsyana pada Zeelina.
"Ibu Arsyana Pramantha Adipura CEO Shantha dan Bapak Khaibar Chakra Winata, Manajer Marketing Shantha," ucap Nazhwa sembari tersenyum. Zeelina terlihat mengangguk namun raut wajahnya kemudian berubah.
"Saya pikir bapak Khaibar adalah CEO-nya," ucap Zeelina, "ternyata bukan ya, laki-laki jaman sekarang memang tidak ada yang meyakinkan dan bisa di andalkan," lanjut gadis itu dengan sangat sadis. Khaibar langsung terbatuk sedangkan Arsyana dan Nazhwa mati-matian menahan tawa mereka.
"Wa, bawa Zee ke sini. Kita mulai pemotretanya!" seru Bintang, Nazhwa langsung mengangguk. Meninggalkan Khaibar yang masih terlihat syok mendengar ucapan Zeelina.
Saat sesi pemotretan itu di mulai, Nazhwa bergabung dengan Khaibar dan Arsyana untuk melihat hasilnya.
"Saya minta maaf atas ucapan Zeelina, dia memang seperti itu, " ucap Nazhwa pada Khaibar. Pria berkemeja slim fit itu langsung menoleh pada Nazhwa.
"Sudah berapa lama dia bekerja dengan kita?" tanya Khaibar.
"Hampir satu tahun, Pak," jawab Nazhwa dengan sopan. Khaibar menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kamu kesulitan untuk menghadapi dia?" Saat Nazhwa ingin menjawab, Zeelina melambaikan tangannya pada Nazhwa membuat Nazhwa harus menghampiri Zee. Gadis itu mengeluh mulai tidak nyaman dan Nazhwa mulai bicara pada Bintang untuk menyelesaikan lebih cepat pemotretan itu. Setelah memastikan tidak ada lagi keluhan Zeerina, Nazhwa kembali berdiri di samping Khaibar.
"Sangat sulit bisa bekerja sama dengan Zeelina, dia menolak banyak penawaran yang perusahaan tawarkan sampai akhirnya dengan negosiasi yang cukup pelik, perusahaan mendapatkan dia sebagai model. Bisa di bilang ini adalah pemotretan terakhirnya bersama kita, setelah itu kontraknya habis. Saya nggak tahu perusahaan mau perpanjangan kontrak atau tidak."
"Apa yang kamu lakukan sampai dia hanya ingin kamu yang urus dia di sini?" tanya Khaibar. Dia cukup penasaran. Arsyana tersenyum tipis mendengar percakapan Khaibar dan Nazhwa, dia pamit meninggalkan studio karena memiliki meeting.
"Bukan sama saya aja tapi juga Oca." Nazhwa memperjelas. "Nggak banyak yang kami lakukan hanya mencoba untuk menuruti apa yang dia inginkan dan berharap pekerjaan cepat selesai, " lanjut Nazhwa. Khaibar terkekeh mendengar jawaban Nazhwa yang terlampau jujur. Gadis itu sama sekali tidak menambah bumbu supaya dia terdengar sangat luar biasa.
"Nazh, kamu terlalu jujur." Khaibar masih terkekeh, dia sungguh tidak bisa berhenti takjub dengan gadis yang berdiri di sampingnya. Besok entah kejutan apalagi yang dia lihat dari Nazhwa.
"Pak," ucap Nazhwa, dia memberikan iPadnya pada Khaibar, "proposal untuk promosi minggu depan, bapak bisa cek dulu, kalau ada yang harus di perbaiki, saya akan menyelesaikannya dengan cepat," ucap Nazhwa. Khaibar langsung melihat proposal itu. Membacanya dengan seksama, menandai apa yang harus di perbaiki dan menjelaskan pada Nazhwa.
Nazhwa memperhatikan dengan baik kemudian mengangguk mengerti.
"Saya akan kirim revisiannya setelah makan siang," ucap Nazhwa bertepatan dengan sesi pemotretan itu selesai. Nazhwa kembali mengurus Zeelina. Khaibar mengangguk saja kemudian dia juga memilih meninggal studio. Khaibar memiliki pekerjaan lain yang harus dia selesaikan.
***
"Mbak Wawa!" seruan itu membuat Nazhwa yang ingin menaiki anak tangga langsung menghentikan langkahnya, Anita melambai ke arahnya sembari membawa kantong belanjaan berlogo restoran yang cukup asing bagi Nazhwa.
"Ada di titipan buat lo nih mbak," ucap Anita sembari memberikan kantong restoran itu pada Nazhwa membuat Nazhwa menatap kantong belanjaan itu bingung.
"Buat gue?" tanya Nazhwa. Anita langsung mengangguk antusias. Ini memang jam istirahat makan siang namun Nazhwa tidak berniat untuk makan makanya dia tidak ikut dengan yang lain ke kantin.
"Iya, itu titipan dari resepsionis, dia bilang ada paket buat mbak Wawa. Yaudah ya mbak, pantes nggak mau gabung di kantin buat makan siang ternyata udah pesan makan," ucap Anita, gadis itu langsung meninggalkan Nazhwa yang menatap kantong belanjaan itu dengan bingung. Dia tidak memesan makanan.
Nazhwa mempercepat langkahnya menaiki anak tangga, sampai di meja kerjanya, dia langsung mengeluarkan makanannya itu. Nazhwa baru tahu ternyata restoran ini menyediakan masakan Jepang. Semua menu makan siang yang di kirim untuk Nazhwa adalah hal yang tidak dia sukai. Jujur Nazhwa tidak suka ikan mentah, sushi dan berbagai jenis sayuran yang ada di menu makan siang ini. Porsinya cukup banyak membuat Nazhaa mengerdik ngeri.
Nazhwa mengambil sebuah note yang ternyata terselip di sana. Ekspresi wajah Nazhwa langsung berubah.
Selamat makan siang, Nazh
Happy lunch dan tersenyumlah lebih banyak
Khaibar C. W
Nazhwa menghembuskan napasnya, gadis itu kembali membereskan makan siang yang belum tersentuh itu ke tempatnya. Gadis itu juga mengambil iPadnya dan melangkah meninggalkan mejanya, menuju ruangan tidak jauh dari ruangan para staf marketing. Pintu ruangan itu tertutup. Nazhwa langsung saja mengetuk pintu. Tidak peduli ini adalah jam istirahat. Nazhwa merasa Khaibar mengusik ketenangannya. Dia tidak suka dengan perlakukan seperti ini. Ini tidak wajar terjadi antara atasan dan bawahan.
"Nazh?" suara berat itu berasal dari belakang Nazhwa. Gadis itu langsung memutar tubuhnya. Tatapannya langung bertemu dengan Khaibar. Untuk beberapa saat Nazhwa terdiam saat melihat rambut Khaibar sedikit basah, lengan kemeja yang di gulung dan sendal jepit. Nazhwa yakin pria itu baru saja selesai shalat berjamaah di mushola yang ada di Shantha. Nazhwa langsung menggeser tubuhnya.
"Kamu mau bicara soal proposal?" tanya Khaibar. Nazhwa langsung saja mengangguk dengan cepat walau itu bukan satu-satunya tujuan Nazhwa menghampiri Khaibar langsung ke ruangan pria itu.
"Kita bicara di dalam," ucap Khaibar. Dia membuka pintu dan mempersilahkan Nazhwa untuk masuk ke dalam.
"Coba lihat proposal nya," ucap Khaibar sembari mengulurkan tangannya, alih-alih langsung memberikan iPad miliknya, Nazhwa justru memberikan kantong yang berisi makan siang itu pada Khaibar.
"Saya nggak tahu kenapa bapak beliin saya makan siang. Saya berterima kasih untuk itu. Tapi saya nggak suka di perlakuan secara berbeda dengan yang lain dan saya juga tidak suka makanan Jepang atau makanan luar lainnya. Jangan lakukan itu lagi untuk saya," ucap Nazhwa dalam satu tarikan napas, gadis itu terdengar sangat tegas. Khaibar lagi-lagi di buat terkejut oleh itu.
"Nazh... "
"Kalau apa yang bapak inginkan sama dengan apa yang saya pikirkan sekarang maka saya ingin mengatakan, jangan saya, Pak. Saya bukan orang seperti yang bapak pikirkan. Jangan saya. Berhenti sekarang," ucap Nazhwa. Khaibar semakin bungkam. Apa dia sekarang sedang di tolak sebelum berjuang?
"Saya tidak ingin terlibat dalam hubungan apapun dengan seseorang. Saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti yang di harapkan. Ayo bekerja secara profesional dan saya juga akan menjadi mahasiswa yang baik, " lanjut Nazhwa. Gadis itu kemudian memberikan iPadnya pada Khaibar. Ketika Khaibar mengangguk setelah memeriksa proposal itu, Nazhwa langsung pamit meninggalkan Khaibar begitu saja.
Bukan Nazhwa... Jangan Nazhwa... Nazhwa tidak ingin terlibat dalam hubungan dengan siapapun.