"Mbak Wawa!" seruan itu membuat Nazhwa yang sadari tadi sudah ada di lobi Shantha, menunggu ojek online pesanannya langsung menoleh ke sumber suara. Anita dan Heru sedang melangkah kearahnya. Nazhwa pikir keduanya sudah meninggalkan Shantha sejak tadi.
"Mbak, gue dan mas Heru mau pergi ke festival musik di tengah kota, mbak Wawa ikut yuk," ucap Anita. Gadis ini memang memiliki jiwa yang bebas, senang bermain dan bertemu banyak orang. Jelas hal itu sangat berbanding terbalik dengan Nazhwa. Dia tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu. Lebih tepatnya banyak hal yang membuat Nazhwa tidak mau melakukan hal seperti itu.
"Gue mendapatkan setumpuk tugas hari ini dan harus segera selesai. Jadi lo pergi sama mas Heru aja," ucap Nazhwa dengan sangat jujur. Bibir Anita langsung melengkung ke bawah, tetap saja kecewa walau ini bukan penolakan pertama Nazhwa.
"Gue bilang juga apa, Wawa pasti sibuk," ucap Heru. "Ngomong-ngomong Wa, gue dengar pak Khaibar jadi dosen pengganti di fakultas lo, benar nggak?" Si lambenya anak Marketing. Heru itu seolah tahu apapun yang berhubungan dengan orang-orang Shantha. Informasi yang di sampaikan oleh pria itu bisa dikatakan delapan puluh persen akurat.
"Demi apa lo, Mas? Beruntung banget orang yang di ajar pak Khaibar!" seru Anita dengan gaya super histeris nya, gaya fangirl garis keras memang.
"Gue dengar dari divisi sebelah tapi nggak tahu dosen jurusan apa," ucap Heru. Nazhwa memilih tidak menanggapi ucapan Heru. Kalau dia bicara sekarang yang ada dua orang ini tidak akan melepaskannya sedangakan driver Nazhwa sudah hampir sampai.
"Gue kesana ya, driver gue udah mau sampai," ucap Nazhwa sembari menunjukkan ponselnya pada dua rekan kerjanya itu. Namun saat Nazhwa ingin melanjutkan langkahnya, tatapannya langsung tertuju pada dua orang yang selalu menarik perhatian di Shantha. Khaibar Chakra Winata dan Arsyana Pramantha Adipura. Dua orang itu terlihat melangkah saling beriringan. Jelas lagi-lagi terlihat menjadi pusat perhatian apalagi ketika keduanya masuk ke dalam mobil yang sama.
"Gue penasaran, mereka pernah nggak ya saling suka satu sama lain," ucap Heru. Nazhwa dan Anita langsung menatap ke arah Heru, percayalah, Heru memiliki wajah yang cukup menarik hanya saja mulutnya itu sama sekali tidak menarik.
"Maksud lo, Mas?" tanya Anita. Sebagai karyawan baru jelas Anita tidak terlalu banyak tentang orang-orang Shantha. Nazhwa walaupun sudah di tahun kedua berada di perusahaan ini namun dia tidak terlalu banyak tahu tentang Khaibar dan Arsyana karena sebelumnya identitas dua orang itu seolah di tutup rapat. Orang tua keduanya sangat menjaga privasi anaknya.
"Mereka tumbuh bersama sejak kecil, gue dengar bahkan tidak pernah terpisahkan sampai akhirnya mereka berdua kuliah di negara yang berbeda namun setiap liburan, keluarga mereka akan selalu bersama. Menurut kalian dengan kondisi seperti itu mereka nggak saling tertarik satu sama lain?" tanya Heru. Anita terdengar antusias memberikan jawabannya dan mulai perbadutan tentang hubungan Khaibar dan Nazhwa sedangkan Nazhwa memilih mempercepat langkahnya ketika driver-nya sudah sampai.
Mata Nazhwa sempat melirik mobil Khaibar yang bersiap meninggalkan gedung Shantha, gadis itu sama sekali tidak terlihat tertarik. Nazhwa tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadi atasannya bukan?
***
"Udah!" seruan lembut itu membuat Khaibar dan Arsyana yang sedari tadi saling sikut satu sama lain untuk berebut bisa duduk di samping Rindu saat makan malam akhirnya berhenti. Image penuh karismatik yang selalu mereka jaga di kantor langsung lenyap begitu saja.
"Aku duduk di sebelah ibuk, mas Khai!" seru Arsyana penuh penekanan, jelas itu adalah kalimat sarkas karena sampai sekarang Arsyana sangat anti memanggil Khaibar dengan embel-embek mas.
"Nggak ada, gue yang duduk di samping ibuk!" seru Khaibar. Rindu menarik napasnya, wanita itu langsung melirik pada suaminya, Bhanu Winata yang sejak tadi ada di posisi yang di rebutkan oleh dua anak ini. Entahlah kadang Rindu bingung, Khaibar bahkan akan tiga puluh tahun sebentar lagi sedangkan Arsyana akan menyusul beberapa bulan berikutnya namun keduanya masih saja bertingkah seperti saat mereka masih di taman kanak-kanak.
"Berhenti bertengkar, kalian di lihatin beberapa pengunjung yang lain. Bapak yang pindah," ucap Bhanu, pria itu terlihat cukup keberatan namun ketika mendapatkan senyum manis dari istrinya baru lah Bhanu juga ikut tersenyum sedangkan dua oknum yang membuat keributan itu tersenyum lebar dan mencium pipi Rindu secara bergantian.
"Kalian benar-benar nggak malu? Kalau ada salah satu karyawan kalian yang melihat tingkah kalian yang seperti ini, ibu yakin mereka akan merasa sangat geli," ucap Rindu. Bagaimanapun tempat mereka makan malam kali ini ada di warung lesehan yang sangat ramai karena terkenal sangat lezat dan jelas murah kemudian juga sangat nyaman. Siapapun bisa datang ke tempat ini.
"Nggak ada yang kenal, Buk. Ibu nggak lihat, penampilan kita sudah berubah santai. Lagian sekarang kita adalah anak bapak dan ibuk bukan lagi CEO atau manajer Shantha," ucap Arsyana. Khaibar mengangguk setuju mendengar itu. Yang terpenting di kantor mereka bisa bersikap profesional.
"Gimana rasanya jadi dosen pengganti di hari pertama?" tanya Bhanu. Rindu dan Arsyana ikut menatap Khaibar. Mereka juga terlihat ikut penasaran.
"Menarik," jawab Khaibar. Tiba-tiba bayangan wajah super judes dan jutek Nazhwa melintas begitu saja di ingatannya. Menarik, benar-benar sangat menarik.
"Apanya yang menarik? Suasana kelasnya atau salah satu mahasiswanya?" tanya Arsyana. Dia menatap Khaibar penuh dengan selidik. Dalam dunia percintaan, Arsyana jelas lebih unggul di bandingkan Khaibar. Jadi gadis itu jauh lebih mengerti.
Bhanu dan Rindu semakin menatap putra mereka dengan lekat, "mas Pra bilang, ada salah satu mahasiswa yang menarik di kelas yang kamu ajar hari ini. Dia kah yang menarik?" tanya Rindu. Khaibar terbatuk.
"Dia juga salah satu karyawan di perusahaan kalian," ucap Bhanu menambahkan, tatapan Bhanu terlihat sangat menggoda pada Khaibar.
"Namanya Nazhwa Zahira, anak divisi lo!' seru Arsyana memperjelas semuanya, Khaibar sekarang kehilangan semua kata-katanya. Bagaimana semua orang bisa tahu tentang Nazhwa?
"Benar Nazhwa yang menarik?" tanya Rindu. Khaibar memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa lari lagi sekarang.
"Gimana kalian bisa tahu Nazhwa?" tanya Khaibar akhirnya menyerah. Sangat percuma bersembunyi dan pura-pura tidak mengenal Nazhwa di hadapan orang-orang ini. Mereka semua sepertinya bahkan sudah menandai Nazhwa sejak sebelum Khaibar bertemu dengan gadis itu.
"Tidak hanya gue, bapak dan ibuk yang tahu Nazhwa tapi juga Daddy, Mima, tante Lila dan Om Angga. Kalau lagi ngomongin Shantha pasti nama Nazhwa sering keseret dalam obrolan. Kalau lo bisa dapetin hati Nazhwa gue yakin sih keluarga kita langsung syukuran besar-besaran. Katanya Nazhwa itu benar-benar calon menantu potensial!" seru Arsyana sambil menaik-turunkan alisnya, menggoda Khaibar tentu saja. Bhanu dan Rindu kompak mengangguk. Khaibar terlihat semakin tidak percaya.
"Kalau suka ya kamu kejar aja walau ibuk nggak yakin kamu akan berhasil menaklukkan orang sekeras Nazhwa," ucap Rindu.
"Bapak yakin kamu bisa!" seru Bhanu sembari menepuk pundak Khaibar. Bhanu memang paling suportif tentang hal semacam ini. Sejak Khaibar kecil bahkan pria itu selalu mengatakan, cinta adalah hal yang sangat penting dalam hidup.
"Ingat apa?" tanya. Bhanu.
"Word hard, love number one, life with you forever," ucap Khaibar. Bhanu tersenyum mendengar itu.
"Yang terakhir baru boleh di pakai kalau lo bisa dapetin Nazhwa," ucap Arsyana. Khaibar langsung menatap gadis itu penuh permusuhan. Merusak suasana.
"Berisik lo ya!" Arsyana menjulurkan lidahnya pada pria itu, saat Khaibar siap membalas Arsyana dengan bangkit dari tempat duduknya. Arsyana langsung memeluk Rindu dengan erat. Bhanu dan Rindu hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah dua orang ini. Gelak tawa, canda tawa antara keluarga itu terus berlanjut bahkan ketika makanan pesanan mereka susah tersaji di meja. Khaibar dan Arsyana, mereka memang selalu sesantai ini ketika di luar kantor. Mereka seperti tidak memiliki batasan apapun namun ketika di kantor mereka selalu bersikap sangat formal.
Di sisi lain, seorang tidak melepaskan pandangannya dari interaksi keluarga bahagia itu. Nazhwa Zahira. Hari ini sepulang dari kantor, Nazhwa memang memiliki janji dengan editornya. Mereka membicarakan salah satu naskah Nazhwa yang berencana akan di luncurkan dalam bentuk versi cetak dan Nazhwa tidak percaya sedikitpun bahwa dia akan bertemu dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekaligus CEO-nya yang baru beserta dengan manajer marketing yang super ngeselin di mata Nazhwa. Gosip Heru bisa jadi benar, Arsyana dan Khaibar mungkin saja memiliki hubungan yang lebih dari apa yang di bayangkan oleh anak-anak Shantha selama ini melihat bagaimana dekatnya dua orang itu bahkan tidak terlihat canggung sedikitpun walau di sana ada kedua orangtua Khaibar.
"Wa." Nazhwa tersentak, dia langsung menatap pada mas Rizwan, editor Nazhwa di platform tempat dia menulis selama ini.
"Ya, Mas?" tanya Nazhwa. Jarak umur Nazhwa dan Rizwan adalah dua tahun. Rizwan lebih tua dari Nazhwa. Rizwan bukan orang yang bermukim di Yogyakarta, pria itu tinggal di Jakarta. Rizwan datang ke Jogja karena harus membicarakan pekerjaan dengan Nazhwa sekalian mencuri waktu liburan, pria itu juga sedang mendapatkan cuti dari kantor tempatnya bekerja. Ya Rizwan memiliki dua pekerjaan seperti Nazhwa. Menjadi editor karena kegemaran pria itu terhadap novel sedangkan pekerjaan dia adalah sebagai human risk di salah satu bank swasta terkenal di Jakarta.
"Jadi setuju ya kalau novel Bertaut adalah novel yang akan kita angkat cetak. Perusahaan mau banget sama novel ini. Lo harus bekerja keras," ucap Rizwan. Nazhwa langsung mengangguk. Ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa untuk Nazhwa, dia bekerja dengan perusahaan, editor dan juga penerbit. Mereka akan menjadi satu-kesatuan. Nazhwa harus berusaha dengan sangat keras.
"Tapi gue tidak bisa menjamin waktunya ya, Mas. Bentar lagi gue tesis, pekerjaan gue di perusahaan sekarang juga lagi padat banget dan gue pasti butuh waktu lama untuk memperbaiki alur dan merevisi bagian naskah," ucap Nazhwa. Lebih baik terang-terangan seperti sekarang, Nazhwa tidak suka jika harus di buru-buru. Dia ingin mengerjakan dan menyelesaikan karyanya dengan hati.
"Setuju, gue akan membicarakan hal ini ke pusat, nanti gue akan menghubungi lo lagi," ucap Nazhwa. Bertaut adalah novel yang akan menjadi bagian besar dalam hidup Nazhwa bahkan memuat bagian nyata dari dirinya.
"Itu bapak Bhanu Winata bukan?" tanya Rizwan tiba-tiba ketika pria itu tidak sengaja menoleh kebelakang. Nazhwa terlihat cukup terkejut dengan ucapan Rizwan.
"Lo kenal?" tanya Nazhwa. Dia semakin bingung. Kenapa orang-orang di sekitarnya mengenal keliarga itu.
"Dia sangat terkenal di Jakarta. Beberapa kali bahkan gue melihat fotonya dan istrinya terpampang di majalah bisnis. Gue pikir semua hanya gosip kalau keluarga mereka sangat senang makan di tempat-tempat sederhana seperti ini tapi nyatanya memang benar. Mereka bahkan terlihat sangat enjoy di tengah keramaian. Keluarga panutan banget?! " seru Rizwan. Nazhwa terdiam, dia kembali melihat ke arah keluarga Winata itu. Rindu terlihat sedang menyuapi Arsyana kemudian di rebut oleh Khaibar yang membuat gadis itu merenggut kesal. Senyum tipis Nazhwa terbentuk. Keadaan itu terlihat sangat berbeda dengannya. Nazhwa bisa merasakan kesenjangan itu nyata adanya.
"Gue bekerja di perusahaan istrinya," ucap Nazhwa tiba-tiba. Rizwan terlihat terkejut.
"Shantha?!"
"Hm," jawab Nazhwa. Rizwan terlihat semakin bersemangat setelah mendengar jawaban Nazhwa, pria itu sepertinya benar-benar tertarik pada keluarga itu.
"Setiap perusahaan kalian meliris koleksi terbaru, semuanya selalu habis dalam beberapa menit. Gue nggak ngerti lagi. Tapi memang produknya sebagus itu. Lo tahu, gue bahkan memakai kaus koleksi perusahaan kalian yang rilis bulan lalu," ucap Rizwan. Nazhwa langsung menunduk dan ternyata benar. Itu koleksi Shantha bulan lalu untuk kaus. Mereka bisa memperbarui koleksi kaus itu tiga bulan sekali atau bahkan enam bulan sekali setelah pre order pertama. Kadang kaus itu di restock namun kebanyakan hanya sekali pre order saja. Begitu cara Shantha menjaga kualitas sejauh ini.
Setelah obrolan mereka yang cukup panjang, pada akhirnya Rizwan harus berpamitan karena teman yang ingin pria itu temui di sini sudah menunggunya di depan warung lesehan ini. Demi sopan santun, Nazhwa memilih untuk mengantarkan Rizwan ke depan karena Nazhwa belum berniat kembali ke kosannya. Dia ingin memeriksa pekerjaannya di tempat ini sembari menikmati mendoan hangat.
"Gue akan menghubungi lo lagi," ucap Rizwan setelah pria itu naik ke atas motor temannya. Nazhwa mengangguk sembari melambaikan tangannya.
Nazhwa menarik napasnya pelan. Hari ini sungguh sangat padat. Kuliah di pagi hari, kerja di siang hari sampai sore kemudian harus meeting bersama dengan editornya di malam hari.
"Semangat!" gumam Nazhwa pelan, namun langkah gadis itu langsung terhenti ketika keluarga yang sedari tadi menarik perhatiannya keluar dari warung lesehan. Mereka tepat ada di depan Nazhwa. Mau menghindar sudah tidak bisa lagi.
"Nazh!" seru Rindu, wanita itu adalah orang yang menyadari kehadiran Nazhwa terlebih dahulu. Nazhwa langsung melebarkan senyumnya.
"Selamat malam, Buk," ucap Nazhwa. Dia langsung salim pada Rindu kemudian pada Bhanu yang berdiri di samping Rindu. Benar-benar salim seperti yang di lakukan seorang anak pada orangtua. Rindu yang meminta itu pada Nazhwa dulu.
"Kamu ngapain di sini? Kenapa saya nggak lihat?" tanya Rindu, wanita itu benar-benar terlihat antusias. Arsyana yang berdiri di samping Khaibar, mengikut perut Khaibar dengan tatapan menggoda. Khaibar jelas saja mengabaikan Arsyana. Dia harus stay cool walau dia juga tidak percaya bahwa Nazhwa akan salim pada ibu dan bapaknya seperti itu. Mereka sepertinya benar kenal dengan baik bahkan jauh dari ekspektasi Khaibar sebelumnya.
"Ketemu sama teman, Buk," jawab Nazhwa, tidak ada orang-orang di kantor yang tahu Nazhwa ada seorang penulis. Nazhwa ingin itu hanya jadi bagian dirinya dan penikmat karyanya.
"Sudah mau pulang? Mau saya antar?" tanya Rindu. Nazhwa langsung melihat pada Khaibar dan Arsyana, gadis itu tersenyum tipis tentu saja sebagai bentuk sopan santunnya.
"Terimakasih, Bu, tapi saya masih memiliki beberapa hal yang harus di selesaikan di sini," ucap Nazhwa. Rindu tersenyum. Tangan wanita itu terulur dan mengusap lengan Nazhwa.
"Ibu dan bapak duluan kalau begitu ya, kamu jangan pulang terlalu larut dan hati-hati di jalan," ucap Rindu. Nazhwa mengangguk, gadis itu menggeser tubuhnya, memberi jalan pada keluarga itu. Setelah itu Nazhwa kembali masuk ke dalam warung dengan konsep lesehan.
"Teman kamu ganteng," ucapan tiba-tiba itu membuat Nazhwa yang ingin kembali duduk di tempat sebelumnya langsung tersentak. Mata gadis itu membola ketika melihat Khaibar duduk di depannya.
"Bapak, ngapain?" tanya Nazhwa. Seharusnya Khaibar kembali bersama dengan orangtua pria itu dan Arsyana.
"Di suruh antar kamu pulang sama Ibuk," jawab Khaibar kalem. Dia menarik piring mendoan Nazhwa lebih dekat dan mulai menikmatinya tanpa izin.
"Nggak usah bohong, sana pulang. Bapak ganggu!" seru Nazhwa, gadis itu duduk di depan Khaibar.
"Saya pikir kamu nggak dekat sama siapapun, tapi ternyata kamu bisa akrab juga ya sama cowok. Saya lihat kamu ketawa-ketaaa tadi. Kenapa kalau sama saya wajah kamu harus sejutek sekarang?" tanya Khaibar, dia menunjuk Nazhwa dengan tangan yang memegang mendoan. Nazhwa mengeryit bingung. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan iPad-nya dari dalam tas.
"Bagaimana saya bersikap pada orang lain itu adalah hak saya, jadi suka-suka saya," ucap Nazhwa. Khaibar menarik napasnya. Dia tidak tahu bagaimana cara mendekati orang seperti Nazhwa.
"Jadi yang tadi itu beneran pacar kamu?"
"Apa itu penting?" tanya Nazhwa, dia menarik piring mendoan nya, takut Khaibar menghabiskannya.
"Penting," jawab Khaibar. Nazhwa menghela napasnya mendengar jawaban tanpa landasan Khaibar.
"Lebih baik bapak pulang sekarang dan tinggalkan saya sendiri. Saya mau menyelesaikan pekerjaan!" Nazhwa pada akhirnya mengeluarkan iPad-nya. Menyalakannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
"Saya akan menunggu dan mengantar kamu pulang!"
Nazhwa kembali menarik napasnya, "terserah!" seru gadis itu. Khaibar diam, dia memesan makanan yang lain. Pria itu mungkin berpikir nggak papa makan banyak malam ini asalkan bisa lebih dekat dengan mantu incaran semua ibunya.
"Nazh," panggil Khaibar ketika Nazhwa benar-benar sudah larut dalam pekerjaannya.
"Nazh," ucap Khaibar sekali lagi ketika Nazhwa mengabaikannya
"Hm."
"Saya akan membuat kamu bersikap jauh lebih ramah kepada saya. "