Bab 3: Dosen Pengganti

1608 Words
Memiliki tempat kerja yang sangat mendukung pendidikan para karyawannya adalah hal yang sangat Nazhwa syukuri. Hari ini Nazhwa memiliki satu mata kuliah di pagi hari yang langsung membuat dia harus sudah stay di kelasnya pagi ini. Nanti setelah kelas ini selesai Nazhwa akan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya. Selalu seperti itu. Nazhwa tahu ini cukup melelahkan seolah dia tidak memiliki waktu untuk bernapas tapi Nazhwa bersyukur dia masih bisa menjalani semuanya sebaik yang dia bisa. Nazhwa tahu, dia terlihat sangat egois pada dirinya sendiri dan ambisius terhadap segala tujuan hidupnya tapi sejak dia memilih melangkah maju, Nazhwa memilih untuk hanya fokus pada tujuan hidupnya dan menyingkirkan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Terkadang Nazhwa juga merasa kesepian karena circle pertemanannya yang sangat sempit tapi semakin umurnya bertambah dan mendengarkan keluhan teman-temannya tentang dunia pertemanan yang menyeramkan bahkan sangat toxic membuat Nazhwa lagi-lagi bersyukur akan pilihannya. Dia bersyukur di jauhkan dari orang-orang yang terlihat sangat baik padanya namjn di belakang siap menjatuhkannya. Selain Tuhan hal yang Nazhwa percaya dalam hidupnya adalah dirinya sendiri. Nazhwa tahu people come and go, jadi tidak bisa banyak berharap pada orang lain. Cukup seadanya dan sewajarnya saja. Keadaan kelas mulai ramai. Nazhwa memilih untuk menutup layar iPadnya untuk sementara waktu. Dosennya marketingnya adalah tipe dosen yang sangat tegas namun realistis. Kebanyakan orang tidak menyukainya tapi Nazhwa justru suka dosen killer seperti itu. Terdengar aneh memang namun Nazhwa selalu menyukai tipe guru seperti itu sejak jaman dia sekolah dulu. Terasa benar-benar belajar dan pikiran Nazhwa jauh lebih terbuka. Di kelas ini Nazhwa juga tidak dekat dengan siapapun. Ada satu, namun mereka tidak ada di kelas yang sama hari ini. "Pak Prasetyo di gantiin sama dosen pengganti!" seru salah satu teman kelas Nazhwa dengan sangat bersemangat, "gue dengar orangnya masih sangat muda namun sagat berbakat," lanjut teman Nazhwa yang lain. Percayalah, untuk mahasiswa S2, perbedaan umur sudah bukan lagi hal yang aneh. Berbagai orang dengan umur yang berbeda ada di kelas ini dengan tujuan untuk memperluas ilmu mereka mungkin itu juga yang membuat Nazhwa jadi kurang akrab sama mereka. Di ruang kelas bisa saja menjadi teman diskusi namun jika di luar, ketika sudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat atau kehidupan dunia kerja semuanya akan berubah. Mereka harus saling menghormati satu sama lain. Nazhwa tidak terlalu peduli dengan apa yang di katakan oleh teman kelasnya. Siapapun dosennya itu tidak pernah jadi masalah jika dia bisa mengikuti kelas dosen itu dengan baik. Suasananya kelas itu berubah menjadi sangat berisik ketika seseorang masuk ke dalam kelas. Nazhwa yang sedari tadi sudah kembali fokus pada layar iPadnya langsung mengangkat kepalanya. Mencoba mencari sesuatu yang membuat teman kelasnya menjadi sangat berisik. Mata Nazhwa membola, gadis itu otomatis menutup wajahnya sendiri ketika menyadari seseorang yang menjadi pembicaraan hangat sejak di tadi di kelasnya adalah seorang yang dia kenal. Nazhwa kembali menunduk, berusaha untuk tidak terlihat. Kenapa Khaibar Chakra Winata, bagindanya Shantha yang super nyebelin itu tiba-tiba muncul di kelasnya? "Selamat pagi semuanya!" seruan suara berat yang paling malas Nazhwa dengar itu mengalun, entah kenapa Nazhwa selalu merasa kesal ketika mendengar suara Khaibar. Semua orang menjawab ucapan selamat pagi itu dengan sangat semangat, beberapa teman kelasnya yang seumuran Nazhwa bahkan yang lebih muda dari Nazhwa terlihat mendadak bersemangat. Nazhwa sangat tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Tentu saja sedang berandai-andai bagaimana menjadi kekasih Khaibar atau orang yang dekat dengan pria itu. "Saya disini untuk menggantikan bapak Prasetyo Adipura. Semua keperluan kalian dengan beliau bisa kalian lanjutkan ke saya untuk beberapa waktu sampai beliau kembali dari perjalanan liburannya bersama sang istri," ucap Khaibar, ucapan pria itu kembali di sambut dengan begitu semangat oleh penghuni kelas. Kehadiran Khaibar di kelas ini jelas memberikan warna baru, Prasetyo walau sudah berumur tapi pria itu tetap tampan tapi melihat seseorang yang berusia matang dan mapan seperti Khaibar tentu saja lebih menarik. "Jadi siapa perwakilan kelas ini yang bisa saya hubungi ketika ada tugas atau hal penting lainnya yang berkaitan dengan mata kuliah saya?" tanya Khaibar setelah pria itu memperkenalkan dirinya. Nazhwa yang sudah tahu cukup banyak tentang manajer marketing di kantornya itu yang kini mendadak menjadi dosennya yang mengangguk saja, tidak merasa terlalu tertarik. "Wa!" salah satu teman kelasnya menyikut lengan Nazhwa membuat gadis itu langsung mengangkat kepalanya. Nazhwa cukup terkejut ketika semua tatapan mata tertuju padanya termasuk juga Khaibar yang terlihat menatapnya dengan mata menyipit. Mungkin pria itu sedang berusaha mengenalinya. Nazhwa berharap Khaibar mendadak lupa ingatan. Dia tidak ingin pria itu mengingatnya. "Kamu perwakilan kelas pak Prasetyo untuk mata kuliah ini?" tanya Khaibar. Nazhwa mengangguk pelan-pelan. Perasaan Nazhwa mendadak menjadi tidak enak, otaknya langsung bekerja cepat memikirkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi. Saat Prasetyo menjadi dosennya dan bisa mengobrol serta bertukar banyak pikiran dengan dosen favoritnya itu jelas membuat Nazhwa merasa sangat senang. Namun jika itu dia lakukan dengan Khaibar, Nazhwa yakin harinya akan berubah menjadi sangat buruk. "Iya, Pak," jawab Nazhwa dengan sangat ragu. Khaibar terlihat mengangguk. "Temui saya setelah kelasnya selesai. Ada beberapa file yang harus saya kirim dan bagikan kepada teman kamu beserta dengan tugasnya," ucap Khaibar. Nazhwa hanya mengangguk saja. Semoga Khaibar benar-benar tidak mengenalnya. Kelas itu kemudian berjalan dengan sangat kondusif. Cara mengajar Khaibar ternyata tidak jauh berbeda dengan Prasetyo. Pria itu juga memiliki pengetahuan yang cukup luas namun hal itu benar-benar tidak berhasil mengubah cara Nazhwa memandang Khaibar. Di mata Nazhwa Khaibar masih saja manajer marketing yang sangat menyebalkan. Setelah kelas itu selesai. Nazhwa buru-buru membereskan barang-barangnya. Dia tidak bisa membuang waktunya. Setelah kelasnya selesai, Nazhwa melangkah ke depan. Khaibar masih duduk di sana. "Saya baru tahu kamu salah satu mahasiswa disini," ucap Khaibar ketika Nazhwa berdiri di hadapannya. Terakhir kali bicara secara langsung dengan Khaibar, saat mereka tidak sengaja bertemu di acara pernikahan Oca. "Sekarang bapak tahu," jawab Nazhwa dengan cepat. Khaibar mengangguk, dia kemudian memberikan selembaran kertas pada Nazhwa yang berisi profil pria itu secara keseluruhan bahkan ada kontak yang bisa di hubungi. "Tolong hubungi salah satu kontak di sana sesegera mungkin, saya akan kirim semua file nya ke kamu," ucap Khaibar, Nazhwa meneliti kontak itu. Semuanya berbeda dengan kontak yang Khaibar gunakan untuk urusan pekerjaan di kantor. Ini sangat wajar sih. Supaya file-file tidak tercampur satu sama lain. Nazhwa segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kemudian mengirim sebuah email pada Khaibar. "Saya sudah kirim email ke bapak, sekarang bisa kirim semua filenya ke saya," ucap Nazhwa. Gadis itu melirik jam tangannya. Untuk masih ada beberapa waktu lagi sebelum dia kembali ke kantor untuk bekerja. "Kamu ternyata di mana-mana emang seserius ini ya orangnya?" tanya Khaibar. Dia menatap Nazhwa dengan senyum tipis tapi senyum itu justru terlihat sangat menyebalkan di mata Nazhwa. "Saya nggak butuh di nilai. Kalau sudah, saya permisi. Saya harus kembali ke kantor," ucap Nazhwa, gadis itu bersikap sangat formal. Khaibar menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu kenapa Daddy-nya, Prasetyo Adipura bisa memilih Nazhwa sebagai perwakilan. Mengingat sikap dingin Prasetyo kemudian sikap Nazhwa yang seperti ini, bagaimana keduanya bisa berkomunikasi? "Kamu ke kantor?" tanya Khaibar, dia selesai mengirim file-file yang akan sangat di butuhkan dalam dalam kegiatan perkuliahan nanti. "Menurut Bapak? Saya rasa bapak bahkan lebih tahu tentang aturan perusahaan di bandingkan saya," jawab Nazhwa dengan cepat. Gadis itu sedikit menunduk ke arah Khaibar kemudian melangkah meninggalkan ruangan kelas. "Nazhwa Zahira!" seru Khaibar membuat Nazhwa langsung menghendaki langkahnya, dia langsung memutar tubuhnya untuk menatap Khaibar. "Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nazhwa. Berusaha bersikap dengan sangat sopan, kedua sudut bibir Nazhwa tertarik, berusaha membentuk senyuman namjn sepertinya itu gagal total karena sangat terlihat terpaksa. "Saya juga ingin kembali ke kantor, kamu bisa pergi bareng saya," ucao Khaibar. Pria itu juga bangkit dari kursinya. Nazhwa langsung menoleh ke kanan dan kiri. Memeriksa keadaan sekitarnya. Dia tidak ingin ada orang yang mendengar ucapan Khaibar, takut orang-orang itu akan berpikir yang tidak-tidak yang jelas akan berdampak buruk pada reputasi dan nama baik dirinya maupun Khaibar. "Saya bisa berangkat sendiri, terimkasih atas tawarannya," ucap Nazhwa, gadis itu mempercepat langkahnya. Meninggalkan Khaibar yang lagi-lagi terlihat sangat terkejut dengan ucapan Nazhwa. Khaibar lagi-lagi di tolak oleh Nazhwa. Khaibar lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya, staf sekaligus mahasiswanya itu benar-benar sangat berbeda. Semakin tahu tentang apa yang di lakukan oleh Nazhwa Zahira, gadis itu semakin terlihat sangat menarik di mata Khaibar. Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya. Satu jam lagi Khaibar memiliki jadwal meeting bersama dengan klien Shantha kemudian akan makan bersama dengan bapak dan ibunya berserta dengan Arsyana yang menjadi korban di tinggal liburan oleh Daddy dan Mimanya. *** "Kamu benar-benar nggak mau berangkat bareng saya? Kita satu tujuan loh Nazh? " Mata Nazhwa membola ketika sebuah mobil berhenti di hadapannya. Nazhwa sedang menunggumu pesaana ojek online-nya. "Saya bisa berangkat sendiri, Pak, " jawab Nazhwa, kembali berusaha sangat sopan. "Nggak ada yang akan lihat kamu pulang bareng saya kalau udah di sini, jadi nggak akan ada gosip apapun," ucap Khaibar. Nazhwa menarik napasnya dan menatap Khaibar dengan sangat malas. "Tapi di kantor semua orang mengenal bapak dan ada beberapa yang mengenal saya, jadi bagaimana cara menghindari gosip? Saya tidak ingin masalah apapun, permisi," ucap Nazhwa dia langsung naik ke boncengan ojek online yang dia pesan. Memasang helm dan mulai bercengkrama dengan sangat ramah dengan driver ojek online-nya. Senyum gadis itu bahkan terlihat terkembang ramah. Khaibar yang melihat itu hanya bisa melongo. "Dia bukan orang yang memiliki dua kepribadian bukan? Kenapa moodnya cepat sekali berubah?" tanya Khaibar. Pria itu kemudian juga mengendarai mobilnya. Ojek yang membawa Nazhwa sudah tidak terlihat lagi. Khaibar tiba-tiba terkekeh pelan, sejak pertama bertemu dengan Nazhwa, Khaibar sepertinya memberikan kesan yang buruk pada gadis itu sehingga Nazhwa selalu bersikap tidak ramah padanya. "Haruskah gue memperbaiki citra dan cara pandang dia ke gue?" gumam Khaibar tiba-tiba. Sepertinya dia memang harus melakukan itu. Nazhwa sangat menarik untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD