Khalid tersenyum, tak membalas. Masih fokusnya terletak pada pernyataan rindu Khumaira bukan sahut di belakang yang menyebutnya tak berguna. “Maaf, Saleha.” Khumaira menyeka rambutnya karena resah. “Apa yang dihadiahkan Rahman?” “Kau sedang menginterogasi Windi?” Khumaira berbaring menghempas punggungnya. Khalid tahu apa yang tengah dirasakan Khumaira, bahkan apa yang dilakukannya sementara Khumaira tak punya gambaran apa-apa tentang keberadaan Khalid di sana. “Kau harus menjawab bukan bertanya. Kau harusnya memikirkan aku bukan wanita lain!” Khalid tersenyum saja mendengar keluhan istrinya. “Rahman memberimu pakaian dalam. Bukan, bikini, kurasa begitu Nasila menyebutnya dulu.” Khalid mengingat isi kotak yang Rahman tinggalkan waktu itu. “Kau memberikan benda semacam itu di masa bulan

