Khalid mengerjap tak menyangka. Kelu lidahnya sampai tak bisa berkata-kata. Hujan yang ada bukan penghalang bagi telinganya untuk mendengar jelas ungkapan kasih Khumaira. “Kau kenapa?” tanya Khumaira menaik satu alisnya. “Kau tidak suka aku mencintaimu juga?!” “B---bukan begitu. Khumaira---“ “Kau sangat tinggi hati, Khalid. Bagaimana kau bisa tak mau dicintai olehku? Cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyenangkan?” tanya Khumaira heran. Khalid mencium bibir Khumaira. “Diam!” Khalid hanya ingin Khumaira berhenti bicara dan otaknya kembali bekerja. Sayang, otak Khalid masih terpaku pada momen Khumaira menyatakan perasaannya. Khumaira sendiri memejamkan mata, menikmati tautan bibir mereka. Perlahan Khalid menjauh, masih tergugu juga. “Mimpikah aku?” “Coba bangun kalau begitu,” sahut

